Istriku Gagah Jelita

Istriku Gagah Jelita
Kedatangan Mini


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah mereka di kediaman Rey, Gwen tampak ragu saat akan memasuki rumah mewah itu.


Sedangkan Mini dengan semangat menarik narik tangan Lily dan Adam, "Onty.. Uncle Adam ayoo cepeet , Mini udah gak sabar mau ketemu daddy". Mini memang sudah diberitahu oleh Lily bahwa mereka akan mengunjungi Ryan. Tentu saja Mini sangat girang. Karena walau bagaimanapun juga Mini masih mengira Ryan adalah Daddy nya.


Seperti biasa Ryan dam Rey sedang berada di taman belakang, Rey memang sangat antusias sekali melatih kakinya, banyak kemajuan yang Rey rasakan. Kaki nya sudah bisa berdiri cukup lama, tapi memang masih terasa sakit saat harus melangkah.


"Daddy... Daddy....." Suara seorang anak kecil mengejutkan keduanya.


Anak kecil itu berlari berhambur memeluk Ryan.


"Miniiii.. " Ryan memeluk Mini mengangkatnya dalam pelukan nya.


"Daddy kemana aja.. Mini kangen sama daddy". Mini menatap Ryan sambil cemberut.


"Mini.. Daddy juga kangen sama Mini.. kasih Daddy kiss.." Ryan menunjuk pipi nya.


"Muaachh.. muach.. muach" Mini menghujani Ryan dengan ciuman. Ryan tertawa geli menerima serangan ciuman dari Mini.


Tidak jauh dari mereka Rey menatap kedekatan kedua orang yang tidak memiliki hubungan darah itu. Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena sudah membuat Mini dan Ryan terpisah.

__ADS_1


Maafkan aku Ryan.. pasti kamu kangen banget sama Mini. Sepertinya kamu juga sudah sangat menginginkan seorang anak. Apakah aku bisa memberikan keturunan untuk mu?


Ryan melirik istrinya, raut sedih sangat tampak di wajah Rey. "Mini.. ayo kamu salim dulu sama bunda Rey".


Mini menghampiri Rey, "Halo bunda Rey, ". Mini mengecup punggung tangan Rey.


"Hai Mini.. Gimana kabar mu? kamu pasti lelah".


"Aku lelah bunda.. tapi aku senang bisa naik pesawat dan bertemu daddy ". Mata Mini berbinar senang.


"Oh iya.. bunda punya hadiah buat kamu lho.. ". Rey memanggil seorang pelayan yang membawa bingkisan cukup besar.


"Ini untuk mu Mini ". Rey menyerahkan bingkisan itu.


"Mini sekarang istirahat dulu ya.. biar Uncle Adam antar Mini ke kamar". Ryan menyerahkan Mini ke Adam.


Gwen yang sedari tadi melihat keakraban Mini dan pasangan suami istri itu, tidak berani mendekat, Gwen sangat kaget melihat Rey yang memakai kursi roda.


Adam mebawa Mini dan Gwen menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Adam.. apa yang terjadi pada Rey? "


"Rey tertembak saat di villa Leon. dan dia lumpuh". Ada rasa kesal dari nada bicara Adam.


"Apaa? " Gwen sungguh tidak menyangka, demi menyelamatkan Mini Rey akhirnya mengalami kelumpuhan. Sungguh Gwen merasa sangat bersalah.


Sementar itu Ryan melihat kesedihan di raut wajah istrinya.


"Dinda sayang .. kenapa Hmm? " Ryan mengelus mesra kepala istrinya.


"Ryan.. maafkan aku, karena aku, kamu harus berpisah dengan Mini.. kamu pasti sangat merindukan nya bukan? "


"Heeeiii.. apa maksudmu ?.. kenapa harus meminta maaf? kamu adalah istriku dan sudah seharusnya aku selalu berada di samping mu"


"Aku takut Ryan.. aku takut tidak bisa memberimu keturunan , sepertinya kamu sudah sangat merindukan kehadiran seorang anak diantara kita".


"Sayaaang... aku tidak mau kamu sedih karena memikirkan hal yang bukan menjadi urusan kita. Urusan anak adalah rezeki dari Allah, kita hanya bisa berusaha dan berdo'a". Ryan menangkup kedua pipi istrinya.


"Dinda sayang.. lebih baik kita sekarang berusaha dengan maksimal agar segera diberi momongan.. yuuk kita lets go to work". Ryan menggendong Rey menuju kamar nya.

__ADS_1


"Kandaaaaa... ini kan masih siaang" Rey merajuk manja.


"Siang malam dong dinda kita berusahanya .. jangan nanggung" .


__ADS_2