
Hari itu juga Arin segera ke kediaman Rey, setelah mendapat ijin dari suaminya Arin segera diantar oleh sopir pribadinya.
Sudah sejak Kedatangn Rey ke tanah air Arin ingin menengok sahabat nya itu. Tapi karena kondisi di rumah nya tidak memungkinkan akhirnya baru kali ini dia bisa menjenguk Rey.
Ibu Sri segera mengajak Arin ke kamar Rey.
"Rin.. maaf ya ibu sudah mengganggu waktu mu".
" ibu kok bilang begitu, Arin senang bisa ke sini, sudah kangen sama ibu dan Rey.."Bagaimana kondisi kaki Rey bu? " Arin memang sudah diberi tahu sebelumnya mengenai kabar Rey sepulang dari Singapura.
"Rey sudah ngga mau ikut terapi lagi, mogok dan sekarang sering marah-marah dan sulit diajak ngobrol Rin.. makanya ibu minta kamu ke sini".
Ibu meninggalkan Arin dan Rey di kamar.
"Assalamualaikum.. Rey sholihah".
Rey yang sedang duduk di balkon segera menoleh ke asal suara.
"Wa'alaikumussalam.. arinn". Rey terlihat senang, segera mereka saling melepas rindu, saling memeluk erat.
Rey dan Arin pun tampak bahagia setelah sekian lama tidak berjumpa, mereka asik ngobrol di balkon kamar Rey. Setelah agak lam berbincang...
__ADS_1
"Rey.. apa kamu baik-baik saja? "
"Maksudmu? "
"Pasti sulit Rey, menerima kondisi mu saat ini bukan? kamu seorang petualang Rey, pandai melakukan apapun, dan sekarang ...". Arin menggantung ucapan nya.
Rwy menghembuskan nafas nya , " Aku merasa tidak berguna Rin, aku tidak boleh melakukan apapun, mereka melarangku melakukan apapun".
"Mereka sayang kamu Rey.. mereka tidak ingin kamu makin terluka".
"Tapi.. aku Meras tidak di anggap Rin aku merasa tidak di inginkan lagi oleh suamiku" Rey tidak bisa membendung lagi air matanya.
"Hei.. kenapa kamu bicara begitu? "
Arin memeluk erat sahabat nya itu, Rey adalah wanita kuat. Arin tidak pernah melihat Rey menangis seperti ini. Arin sadar ujian kali ini pasti berat di rasakan oleh sahabatnya. Pasti akan berbeda ceritanya jika Rey itu anak manja dan anak rumahan yang selalu diam di rumah. Tapi Rey? Dia dibesarkan dengan didikan keras, harus bisa mandiri dan kuat sedari kecil. Tidak boleh menjadi lemah bahkan di saat Rey bangun dari koma. Didikan Jendral Danu dan Pak Panji selalu menjadikan Rey wanita kuat . Tapi kini? Semua itu terasa hilang begitu saja. Rey tidak bisa melakukan apapun bahkan dilarang melakukan apapun. Rey merasa cacat.. dan tidak berguna.
Tanpa mereka sadari, Rayn sudah sedari tadi berada di balik pintu kamar, dengan jelas Ryan bisa mendengar semua keluhan Rey. Ryan tidak bisa membendungnair matanya.
Kenapa aku bodoh sekali.. aku tidak bisa membahagiakan istriku sendiri, aku malah membuatnya terluka. lahir dan batin nya terluka karena aku.
Ryan pergi menuju ruang kerja nya, tanpa disadarinya, Pak Panji sedang menunggunya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ryan... "
"Om.. kapan pulang ?" Ryan mencium punggung tangan mertuanya.
"Om baru sampe.. duduklah, om mau bicara".
"Gimana kabar Lily dan Adam om?"
"Mereka baik.. perusahaan mu juga sudah kembali stabil, ...... bagaimana kondisi Rey"?
"Hmmmm.. aku bingung om, aku kira aku bisa mengatasi hal ini, karena aku merasa sudah berpengalaman merawat Lily, dulu Lily bisa aku jaga dan dia nyaman dengan cara ku memperlakukan nya". Ryan menghembuskan nafas nya kasar.
"Ryan... Ryan... kamu gimana sih.. seperti tidak mengenal Rey saja. Lily dan Rey itu sangat berbeda. Lily sudah terbiassa hidup nya dilayani sejak kecil, sedangkan Rey? om dan ayah nya Rey mendidik Rey dengan keras, bahkan saat bangun dari koma pun, om tidak memanjakan nya" .
Ryan merenung, ingin memahami setiap perkataan Pak Panji. "Jadi aku harus gimana om?"
"Biarkan Rey menjadi dirinya sendiri .. selama itu tidak membahayakan dirinya, ijinkan Rey beraktifitas seperti biasa, jangan biarkan Rey seperti orang cacat yang pesakitan Ryan.. Rey itu kuat, " Pak Panji meyakinkan Ryan.
"Baik om.. aku ngerti sekarang, kalau gitu aku permisi om, aku harus mengurus sesuatu".
Ryan pergi dari rumah, ada banyak hal yang harus dilakukan nya .
__ADS_1
...💛💛💛...
Mau crazy up??? ayo ramein kolom komentar nya