
Peter sudah berada di kediaman Rey ditemani oleh kedua orangtuanya. Pak Panji tidak ada di rumah karena sedang melakukan perjalanan bisnis ditemani oleh ibu Sri Ayu.
Di ruang tamu tampak Rey dan Ryan yang sudah menyambut kedatangan Peter dan orangtuanya.
"Terimaksih sudah mau menerima kami Rey" Ucap Clara mama nya Peter.
"Ga pa pa tante,, saya senang tante berkenan hadir, karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada kalian".
"Mengenai permohonan maaf ku Rey, apa kamu bersedia memaafkanku? "
"Bukankah aku sudah bilang aku harus memberi mu hukuman sebelum memaafkan mu, bagaimana? kamu sanggup? "
"Baiklah Rey.. katakanlah! ". Suara Peter terdengar bergetar
"Benarkah kamu ingin aku maafkan Peter? Kamu siap menerima hukuman dariku".
"Tentu Rey.. aku bersungguh-sungguh".
"Aku akan maafkan kamu, asalkan kamu mau bertanggung jawab atas seseorang, ..... putri kandungmu, berikan dia keluarga yang utuh".
"APAA??
"APAA?? "
ucap Bobi dan Clara bersamaan.
"Kamu sudah memiliki seorang putri sayang?". Clara menatap Peter tak percaya.
"Kenapa kamu begitu yakin jika dia putriku Rey?" Peter mengabaikan pertanyaan ibunya, malah balik bertanya pada Rey.
"Tentu saja kami yakin,, dia mirip sekali dengan mu Peter". Ucap Ryan
"Kalau kamu tidak yakin lakukan tes DNA.... Simpel kan!". Ucap Rey ketus.
Peter tertunduk lesu, di hatinya masih terisi nama Rey, tapi kini justru Rey menyuruhnya memberikan keluarga utuh untuk Mini, itu berarti Peter harus menikah dengan Gwen.
"Benarkah anak itu mirip Peter? " Clara terlihat bersemangat.
"Tentu.. tante boleh memastikan nya, Mini ada di halaman belakang sekarang, silahkan tante melihatnya sendiri". Ryan menunjukkan arah halaman belakang kepada Bobi dan Clara.
__ADS_1
Clara dan Bobi bergegas mendatangi tempat yang Ryan tunjukkan. Di taman itu terlihat seorang anak kecil yang sangat cantik dengan wajah blasteran dan rambut yang agak kecoklatan sedang bermain dengan Adam dan Lily.
"Paah...lihat anak itu,, dia memang sangat mirip Peter ya pah".
"Iya Maah.. dia mirip kamu ".
kedua orang tua itu segera menghampiri Mini.
"Halo anak cantik" Clara membelai rambut panjang Mini.
Mini mendongakkan kepalanya,mencari arah suara. Memandang takut kepada kedua orang asing dihadapan nya. "Onty.. aku takut". Mini memeluk Lily yang ada di dekatnya.
"Ga pa pa Mini, sekarang kita lihat bunga itu dulu yuk.. biar Uncle Adam Adam menemani mereka". Lily membawa Mini menjauh,
"Maaf Pak Bobi, Mini punya trauma terhadap orang asing, karena di pernah diculik ".
"Apaaa? siapa yang berani menculiknya? " Bobi terlihat geram.
"Huuhh... Putra anda Pak". Adam menghembuskan nafasnya kesal. Adam menceritakan kronologis kejadian penyanderaan Mini oleh Peter.
"Ya Tuhaaan.... anak itu,, Pah.. gimana niih? " Clara terlihat cemas, sepertinya,Clara sudah jatuh cinta pada Mini.
Adam bergegas menuju Mini, tanpa sepengetahuan Mini, Adam mengambil beberapa helai rambut Mini.
Dari kejauhan Clara dan Bobi mengamati Mini yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Pah.. aku yakin kalau dia cucu kita, mama seneng banget pah, sekarang aku sudah jadi nenek". Mata Clara sampai berkaca-kaca melihat Mini.
"Iya mah.. tapi walau bagaimanapun kita harus melakukan tes ini agar kita dan Peter semakin yakin".
"Tapi siapa ibu nya Mini, kalau permintaan Rey adalah memberi keluarga utuh untuk Mini berarti Peter harus menikahi ibunya Mini kan pah?".
"Iyaa.. kita harus cari tahu dulu mah, ". tiba-tiba dari arah dapur datang Gwen membawa minuman untuk Bobi dan Clara yang sedang duduk di kursi taman.
"Selamat siang om tante... silahkan di minum dulu teh nya, perkenalkan saya Gwen mommy nya Mini ". Gwen mencium punggung tangan Clara dan Bobi.
Gwen tentu saja tau siapa kedua orang tsb, Krena Rey sudah menjelaskan sebelumnya akan datangnya Peter dan kedua orangtuanya, dan Gwen bertekad akan berubah agar bisa memberikan kebahagiaan kepada Mini dan bisa diterima oleh keluarga Peter.
"Kamu mommy nya Mini? Waah cantik ya pah". Clara tampak ramah pada Gwen. "Sini duduk sama tante, ada yang mau tante tanyakan".
__ADS_1
Gwen pun duduk di samping Clara.
"Gwen.. kami tidak mau berbasa basi, jujur saja kami sangat terkejut ketika Rey bilang kalau Peter memiliki seorang putri, apa benar Mini putri kandung Peter? ".
Gwen memandang wanita paruh baya di sampingnya, ada rasa takut kalau keberadaan Mini ditolak oleh keluarga Peter.
"Saya yakin kalau Peter adalah ayah dari Mini tante, 6 tahun yang lalu kami menjalin hubungan, dan dia lah yang pertama tidur dengan saya tante". Gwen menundukkan pandangan nya, merasa malu mengingat kelakuan nya yang penuh dosa.
"Tapi... kenapa kamu tidak pernah meminta Peter tanggung jawab?" tanya Bobi penasaran.
"Hubungan kami saat itu hanya sebatas saling membutuhkan dan tanpa cinta,"
"Lalu bagaimana rencana mu kedepan, jika Peter mau menikahimu, apakah kamu mau menerimanya? ".
"Saya ingin berubah tante, saya ingin Mini memiliki keluarga utuh , saya akan merasa senang jika Peter bersedia menikahi saya dan mengakui Mini". Gwen tidak bisa membendung air matanya.
Clara memeluk Gwen, entah kenapa Clara merasa sayang pada Gwen, Clara merasa memiliki seorang putri saat memeluk Gwen.
"Gwen.. saat ini kami harus memastikan status Mini, kami harap kamu tidak tersinggung, karena semunya terasa seperti mimpi bagi kami, ".
"Jika hasil tes DNA nya sdh keluar.. dan ternyata Mini benar putri Peter, maka om akan pastikan kalian menikah secepat nya".
"Terimakasih tante, om... " Gwen kembali memeluk Clara. Hatinya merasa nyaman berada di pelukan wanita paruh baya itu, sudah sangat lama Gwen kehilangan ibu nya, rasanya Gwen seperti sedang memeluk ibunya.
Di ruang tamu, Peter tak bergeming, enggan untuk melihat anak yang bernama Mini itu, tidak ada sedikit pun keinginan untuk menikah dengan Gwen. Setidaknya jika harus bertanggung jawab, cukup memberi nafkah setiap bulan untuk kebutuhan Mini saja kan? Tidak mesti menikahi Gwen, pikir Peter.
"Rey.. aku bersedia memberi Gwen biaya bulanan jika memang Mini adalah putri ku, tapi tidak perlu harus menikahi nya kan? ".
"Kenapa? " Rey masih terlihat ketus pada Peter.
"Aku tidak mencintai Gwen".
"Peter.. kamu lihat kaki ku ini? aku sudah tidak mampu berjalan lagi sekarang, apa kamu pikir aku akan dengan mudah memaafkan mu jika kamu menolak keinginan ku, GARA-GARA KAMU AKU JADI WANITA CACAT ".Rey berbicara dengan penuh emosi hingga berlinang air mata.
Hah.. sandiwara ini sungguh menyenangkan.. seharusnya aku dapet piala oskar Kalau sampai Peter mengikuti keinginan ku. Dalam hati Rey tersenyum puas melihat wajah Peter .
Ingin rasanya Peter memeluk Rey, atau setidaknya menggenggam tangan nya. Rasa sesal di hatinya begitu besar. Andai bisa.. aku ingin menggantikan deritamu Rey, biar aku saja yang cacat.
"Baiklah.. demi kamu aku akan menerima Mereka Rey.. hanya demi kamu".
__ADS_1
Hati Ryan merasa terbakar mendengar ucapan Peter. Apa?? Aku tidak menyangka sebesar itu perasaan Peter untuk istriku.