
Sepanjang perjalanan pulang, reza dengan senantiasa setia menggenggam tangan indah annisa tanpa sekalipun ingin melepasnya, sesekali reza mengecup punggung tangan istrinya itu. Senyuman selalu mengembang indah dibibir keduanya.
Setelah beberapa lama berkendara akhirnya mereka telah sampai dirumah, rumah yang telah mereka tinggalkan selama seminggu untuk menenangkan diri dan membenahi lagi hubungan mereka.
Kepulangan mereka pun tidak lupa disambut oleh BI Ati, pengurus rumah mereka.
Bi Ati :
"Selamat datang kembali Tuan dan Nona" kata sambutan pertama yang keluar dari mulut bi ati yang tidak lupa dengan senyuman mengiringinya.
Annisa :
"Iya bi, makasih ya udah jagain dan urus rumah selama kami pergi kemarin" jawab annisa dengan tidak lupa juga membalas senyuman bi ati.
Bi Ati :
"Itu sudah tugas bibi non"
Annisa :
"Ya udah bi, annisa sama mas reza permisi kekamar dulu ya" pamit annisa.
Reza dan annisa pun berjalan pergi kekamar mereka yang ada dilantai atas, reza yang sedari tadi masih setia menggenggam tangan annisa meskipun dihadapan pembantu mereka dan lagi lagi annisa dibuat malu oleh tingkah laku reza yang seakan sedang berpegangan dengan sang ibu karena takut terpisah.
Annisa :
"Mas lepasin, udah dirumah masa masih dipegang tangan akunya" pinta annisa kepada reza karena sedari tadi tangan mereka masih berpegangan.
Reza :
"Untuk hari ini aku ngga mau pisah sama kamu sayang" jawab reza dengan mengecup punggung tangan istrinya lagi.
Annisa hanya bisa terdiam sambil merasa malu sekaligus bahagia karena sikap suaminya yang begitu romantis menurutnya.
Reza :
"Kok malah bengong sih sayang, ayo cepat jalannya" kata Reza sembari menarik pelan tangan annisa.
Annisa :
"Ngapain jalan cepat sih mas, itu kamarnya juga udah didepan kita tinggal beberapa langkah aja" kata Annisa yang merasa bingung dan aneh dengan tingkah suaminya.
Reza :
"Biar cepat bikin anak sayang" jawab reza dengan mencubit pelan hidung Annisa.
Annisa yang melihat tingkah laku suaminya itu hanya bisa senyum senyum sendiri. Annisa berjalan mengikuti langkah Reza yang memang agak dipercepatnya.
Sampailah didepan pintu kamar mereka, Reza menarik ganggang pintu itu dan mendorongnya kedalam agar terbuka.
Masuklah Reza terlebih dahulu dan disusul Annisa dibelakangnya, Reza kembali menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya.
Annisa yang merasa heran tumben sekali suaminya itu mengunci kamar padahal masih siang begini.
Annisa lalu teringat perkataan sang suami jika dia ingin membuat anak, sontak Annisa meruntuki dirinya sendiri.
"Ini nih kalau suami udah mesum malah gue ladenin, kena batunya kan gue" batin Annisa berbicara.
"Tapi masa sih Reza mau melakukan itu sekarang, kan masih siang gini" batin Annisa kembali berbicara.
__ADS_1
Reza menghampiri Annisa yang tengah berdiri didepannya dengan jarak beberapa langkah.
Dengan cepat tanpa aba aba Reza langsung mencium bibir Annisa, Annisa yang awalnya terkejut akhirnya ikut membalas ciuman Reza.
Reza yang merasa bahwa Annisa ikut menikmati permainannya pun dengan cepat tangan Reza sudah berada didalam baju Annisa. Dengan lincahnya Reza memainkan tangannya dengan gerakan mengelus bahkan memeras yang membuat annisa terbakar gairah.
"Aaahhhhhhhh....." Desahan Annisa terdengar ditelinga Reza.
Reza mengeluarkan tangannya dari balik baju Annisa dan mulai membuka kancing baju Annisa satu per satu. Belum selesai membuka tangan Reza kembali memegang wajah Annisa untuk memperdalam ciumannya.
Annisa pun tidak mau kalah, tangan yang sedari tadi cuman dipinggang Reza sekarang sudah ia naikkan untuk mengalungkan keleher Reza.
Entah sejak kapan sekarang keduanya sudah berada diatas tempat tidur dengan posisi Reza diatas tubuh annisa dengan badan mereka berdua yang sudah polos tanpa busana.
Reza melepaskan ciuman mereka sebentar untuk membiarkan Annisa dan dirinya menghirup oksigen, Reza mengamati tubuh Annisa dengan begitu teliti yang membuat annisa malu dan menutup mukanya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Sayang, ayo kita main perlahan" kata Reza dengan suara yang agak berat
Tidak ada suara sahutan dari Annisa, yang ada hanya anggukan tanda menyetujui ajakan suaminya.
Reza mendekatkan badannya kebadan Annisa agar tidak ada lagi jarak diantara mereka meski sejengkal sekalipun.
"Aku mulai ya sayang" kata Reza dengan senyuman manisnya..
Tangan reza sudah menyentuh bagian depan Annisa dan hendak memerasnya.
Kringggggg....
(Suara telpon)
Kringggggg....
(Suara telpon)
"Mas ada telpon" kata Annisa yang mendengar suara handphone Reza yang berbunyi.
"Udah biarin aja sayang, paling cuman urusan yang ngga penting" jawab reza tanpa mau melepaskan kegiatannya itu..
Kringggg...
(Suara telpon)
"Mas diangkat aja dulu telponnya siapa tau penting" kata Annisa gara gara inya mendengar handphone suaminya berbunyi lagi.
"Damn" kata Reza dengan wajah yang amat kesal karena mau tidak mau inya harus melepas kegiatannya dahulu untuk mengangkat telpon.
"Apakah tidak ada hari esok makanya kamu menelpon berulang kali, katakan saja besok aku akan mengurusnya" kata Reza dengan nada yang meninggi karena kesal.
"Maaf pak, ada kabar buruk dari pembangunan cabang hotel kita yang berada di Bali, mereka meminta bapak untuk langsung datang kesana mengurusnya" jawab Doni.
Ya seseorang yang menelpon berulang kali tadi ialah Doni sekertaris Reza.
Reza :
"Apakah kau tidak bisa mengurusnya sendiri"
__ADS_1
Doni :
"Bukan seperti itu pak, pihak dari sana ingin bertemu dengan bapak langsung dan tidak ingin diwakilkan"
Reza :
"Apa apaan mereka itu, yasudah baiklah bilang kepada mereka bahwa saya akan kesana besok"
Doni :
"Tidak bisa pak, bapak harus berada disana hari ini juga"
Reza yang sudah mulai terbakar emosi sejak tadi mau tidak mau harus mengalah dan mengikuti arahan sekertaris nya itu dengan berat hati ia harus pergi meninggalkan Annisa dan mengubur hasratnya terlebih dahulu.
Setelah menutup telponnya, Reza berjalan menghampiri Annisa yang dilihatnya sudah tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Reza berjongkok didepan Annisa dan mengelus wajah istrinya itu.
Annisa yang merasakan wajahnya disentuh akhirnya membuka mata perlahan dan mendapati Reza yang tepat berada didepan wajahnya.
Annisa :
"Ada apa mas? Sudah ya telponannya" Tanya Annisa
CUP...
bukannya menjawab, Reza malah mencium kening Annisa, namun bukan sekali melainkan beberapa kali.
Annisa :
"Kenapa mas??" Tanya Annisa lagi kepada Reza.
Reza :
"Maaf ya sayang, mas harus pergi sekarang juga kebali untuk mengurus permasalahan pembangunan cabang hotel kita yang berada disana" jawab reza dengan wajah yang sendu.
Annisa :
"Berapa lama mas?"
Reza :
"Mas juga ngga tau sayang, tapi mas usahain buat pulang cepat. Maafin mas ya sayang"
Annisa :
"Iya ngga papa mas, Annisa ngerti kok mas harus pergi karena pekerjaan" kata Annisa meyakinkan Reza kalau dirinya tidak apa apa meskipun ditinggal pergi Reza.
Sebenarnya Annisa saat ini sedang tidak ingin berada berjauhan dengan Reza, entah mengapa Annisa saat ini sedang ingin selalu berada didekat Reza, menghabiskan waktu bersamanya sebelum akhirnya nanti dia akan sibuk lagi dengan pekerjaannya.
Tapi apalah hak Annisa meskipun ia sekarang adalah istri nya namun Annisa sadar jika orang lain juga membutuhkan keberadaan suaminya sekarang.
Cuman mau sharing aja mengapa beberapa hari ini author ngga up novelnya karena handphone author rusak ngga bisa dipencet pencet lagi karena lcd handphone nya pecah, bayangin aja data author semua ada disitu dan beberapa episode yang sudah author ketik hilang, lenyap seketika πππ
Author sedih banget waktu itu πππdan yang bikin author sedih lagi adalah kok likenya makin sedikit ya..
Untuk semuanya yang masih setia sama novel author, terima kasih banyak ya πππ
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya buat author, juga jangan lupa ditambahkan ke favorit ya teman teman πππ
__ADS_1
Maaf jika banyak typo dan selamat membaca πππ