Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
TERGANGGU


__ADS_3

Dian menjadi salah tingkah ketika berhadapan langsung dengan atasannya yang tidak lain adalah Reza, karena dalam pandangan Dian atasannya tersebut bukan seseorang yang mudah diajak berbicara panjang lebar apalagi bercanda.


Apalagi sejak tadi aura yang dipancarkan Reza sangatlah menakutkan dan dingin bahkan baru sebentar saja Dian berada didekatnya sudah tidak tahan ingin cepat cepat pergi dari situ.


Kalau seandainya mereka di hadapkan satu lawan satu, Dian akan dengan senang hati menyerah lebih dulu karena dilihat dari berbagai sudut pandang manapun dirinya kalah jauh dengan sang atasan itulah yang membuat nyali nya langsung ciut jika berhadapan langsung dengan Reza atasannya itu.


Sejenak mereka terdiam karena tidak ada pembahasan lagi.


Reza :


"Apakah istrimu juga akan ikut hadir di acara ini??"


Dian :


"Iya pak, istri saya akan menemani saya. Dan lagi pula tidak ada larangan untuk membawa pasangan di acara reuni ini"


Reza menganggukkan kepalanya.


Reza :


"Bekerja keras lah" ucap Reza menepuk bahu Dian sebelum dia berjalan pergi meninggalkannya.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dibalik kata kata pak Reza barusan. Ahh.. mungkin hanya perasaan ku saja"


Batin Dian.


Reza melanjutkan perjalanan kakinya untuk menyusuri setiap petak hotel miliknya sembari memikirkan percakapan yang barusan ia lakukan dengan Dian.


"Sebenarnya dia adalah orang yang baik dan mempunyai kualitas yang mempuni, namun perilakunya yang membuat dirinya menjadi buruk sebagai seorang pria"


Batin Reza.


Ditengah pikirannya tentang Dian dengan kaki yang masih melangkah, Reza dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya. Reza pun membalikkan badannya dan melihat Angela berdiri disana.


Angela menghampiri atasannya itu.


Angela :


"Maaf pak, saya ingin memberitahukan bahwa sebentar lagi waktunya rapat" ucap Angela mengingatkan sang atasan.


Reza menepuk jidatnya pelan.


Reza :


"Astaga aku baru ingat, terima kasih sudah mengingatkan" jawab Reza tersenyum tulus.


Angela :


"Memang sudah menjadi tugas saya pak" Angela pun mengikuti arah kaki sang atasan yang terlebih dahulu berjalan didepannya untuk menuju ruang rapat.


***


Ruang Rapat.


Reza sebagai CEO hotel menjadi pemimpin rapat tersebut, dia memberikan penjelasan kepada para pegawai yang mengikuti rapat tersebut bagaimana cara agar hotel mereka tetap berada diurutan pertama dari hotel pesaing lainnya.


Reza juga menjelaskan dengan begitu serius dan gagahnya tanpa ada celah sedikitpun bahkan dapat dilihat pancaran wibawanya dapat terlihat dari saat ia berjalan sekalipun, apalagi disaat menjelaskan seperti ini membuat lelaki mana saja bisa iri terhadapnya.


Ditengah keseriusannya dalam memimpin rapat, handphone didalam saku celananya bergetar yang menandakan bahwa dia sedang menerima telpon.


Reza :


"Maaf, tunggu sebentar" ucap Reza menghentikan rapat sebentar untuk melihat siapakah yang menelpon dirinya.


Apakah orang penting yang begitu berani menelepon dirinya secara pribadi tanpa melewati kedua sekertarisnya.


Dan benar saja, yang menelpon Reza ialah orang yang penting, sangat teramat penting bagi hidupnya yaitu istrinya sendiri.


Annisa :


"Massss..???" panggil Annisa manja.


Baru juga Reza mengangkat telepon itu, suara manja istrinya langsung terdengar memanggil dirinya.


"Astaga istriku begitu menggemaskan, hanya mendengar suaranya saja membuat ku seperti ingin menerkamnya. Mempunyai istri seperti dirinya memang menggoda imanku"


Batin Reza.


Senyum cerah merekah terpancarkan dari wajah dingin Reza.


Suasana diruang rapat menjadi ribut karena bisikan bisikan para pegawai yang berada di dalamnya, terdengar dari bisikan tersebut sepertinya atasan mereka sendiri yang tengah menjadi topik pembahasan.


"Apa yang membuat pak Reza jadi tersenyum manis seperti itu, sungguh kejadian yang langka"


"Kalau seperti ini terus, aku ngga bosen deh ikut rapat"

__ADS_1


"Wah ternyata pak Reza bisa juga menjadi seorang pria yang murah senyum"


Begitulah isi bisikan demi bisikan yang memenuhi ruang rapat tersebut.


Sedangkan Doni dan Angela hanya berdiam diri saja mendengarkannya.


"Kalian tidak tahu saja, bahkan bos kalian itu bisa menjadi pria yang sangat mesum"


Batin Doni.


Doni tertawa mengingat kejadian kemarin, Angela yang melihat temannya itu tertawa sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


Reza masih terdiam mendengar suara sang istri diseberang telpon sana.


Annisa :


"Mas.. halo mas, kamu masih disana?" ulang Annisa karena sedari tadi tidak mendapat jawaban.


Reza tersadar.


Reza :


"Eehhh iya sayang, mas masih disini. Tumben sayang nelpon mas di jam segini, ada apa sayang, ada yang kamu perlukan??" tanya Reza panjang lebar.


Annisa :


"Ahh mas kamu memang belahan jiwaku cintaku seluruh hidupku, kamu tau aja sekarang bahwa Istri mu ini sedang memerlukan sesuatu" jawab Annisa.


Reza terkekeh mendengar gombalan sang istri.


Reza :


"Wah wah sudah bisa menggombal ya sekarang. Memangnya istri tersayang mas ini sedang memerlukan apa?" tanya Reza antusias.


Annisa terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu.


Annisa :


"Mas, Annisa pengen jus buah naga, pizza buah, sama cheese cake" jawab Annisa cepat.


Bukannya terkejut namun Reza malah senang mendengar permintaan istrinya itu, ia merasa sedikit berguna menjadi seorang suami yang dapat membantu meringankan beban istrinya yang sedang hamil muda tersebut. Karena Reza tau bagaimana sulitnya seorang wanita ketika hamil dan melahirkan.


Tetapi Reza lebih bersyukur lagi ketika istrinya itu tidak menjauhinya ketika hamil seperti kebanyakan wanita hamil lainnya yang malah tidak mau berdekatan dengan suaminya sendiri.


Reza :


"Baiklah sayang, mas pesankan online ya"


Annisa :


"Ngga mau, Annisa pengennya mas yang beliin dan mas juga yang nganterin kesini, Annisa ngga mau lewat orang lain pokoknya"


Keinginan Annisa ialah segala sesuatu harus dari sang suami tidak boleh melewati orang lain.


Reza :


"Tapi sayang, mas lagi rapat sekarang. Gimana kalau mas selesaikan dulu rapatnya baru mas berangkat membelikan pesanan kamu"


Annisa :


"Annisa pengennya sekarang, kalau mas ngga berangkat sekarang juga nanti malam mas tidur diluar, ngga ada tidur bareng lagi apalagi minta jatah" ancam Annisa.


Annisa masih tetap pada pendiriannya tidak ingin mengalah sedikitpun terhadap sang suami.


Reza :


"Oke oke sayang, mas berangkat sekarang ya beliin pesanan kamu. Kamu tunggu ya"


Reza pasrah. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus menuruti permintaan sang istri, jika tidak ingin berakhir dengan tidur hanya memeluk guling tanpa kehangatan tubuh sang istri.


Reza dengan segera melangkahkan kakinya setelah mematikan telpon dari sang istri, ia bahkan sudah lupa kalau dirinya sekarang sedang berada ditengah tengah jalannya rapat, hingga suara dari salah satu sekertarisnya berhasil membuat Reza sadar dan menghentikan langkahnya.


Doni :


"Anda mau kemana pak?" tanya Doni yang seketika membuat Reza langsung berhenti melangkah.


"Astaga aku lupa kalau sekarang sedang rapat, gara gara memikirkan harus tidur diluar ditemani guling membuatku jadi hilang akal"


Batin Reza.


Reza pun kemudian mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan rapat tersebut, terlihat semua pegawainya diam dengan wajah yang bingung sedang menatap dirinya.


Reza :


"Maaf, rapat hari ini kita hentikan sampai disini saja" ucap Reza dengan langsung melangkahkan kakinya cepat meninggalkan ruangan rapat tersebut.

__ADS_1


Berbagai macam tanda tanya dipikiran semua anak buah Reza karena tidak biasanya Reza menghentikan rapat ditengah jalan, namun berbeda dengan Angela dan Doni yang sudah mengetahui alasannya bosnya itu.


***


Dan disini lah Reza sekarang, disebuah cafe yang menyediakan semua pesanan sang istri tercinta tanpa harus ia cari kesana kemari. Sambil menunggu pesanannya datang, Reza duduk sebentar dimeja yang tersedia untuk pengunjung.


Reza memainkan ponselnya sambil menunggu hingga ia dibuat terkejut dengan sapaan seorang perempuan yang menyapa dirinya. Ya, perempuan itu adalah Indah istri dari pegawainya yang bernama Dian yang tidak lain adalah laki laki yang pernah membuat istrinya begitu mencintai lelaki itu dulu.


Indah :


"Pak Reza, apakah ini benar pak Reza??"


Indah menyapa Reza berpura pura seolah terkejut melihat Reza yang juga berada di cafe yang sama dengan dirinya dan teman teman sosialitanya.


Padahal sejak awal kedatangan Reza di cafe tersebut indah sudah langsung mengenalinya dan hanya menunggu saat yang tepat untuk menyapanya.


Reza :


"Iya benar, maaf .." belum sempat Reza meneruskan kata katanya untuk menanyakan siapa perempuan yang menyapanya itu.


Indah :


"Saya indah pak, istri dari Manager hotel bapak yang bernama Dian Saputra" jawab indah memperkenalkan dirinya dengan menyodorkan tangannya kearah Reza.


Dengan agak berat hati Reza mau tidak mau menyambut uluran tangan istri pegawainya tersebut.


Setelah salaman berakhir, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut indah apalagi Reza yang seakan tidak peduli dengan kehadiran perempuan itu.


Indah tak kehabisan akal, ia pun memikirkan cara agar dapat berlama lama bersama Reza yang begitu tampan dan kaya raya itu, sungguh suatu harapannya selama ini bisa memiliki suami seperti Reza. Jika ada peluang untuknya mendekati Reza, maka tidak akan indah biarkan peluang itu lolos begitu saja. Dirinya akan bersuka rela meninggalkan Dian demi Reza.


Indah :


"Ah iya pak, apakah bapak mau makan siang disini?" tanya indah basa basi.


Reza :


"Tidak" jawab Reza seadanya.


Lagi pula memang benar jika dirinya memang tidak sedang mau makan siang disini.


Tidak habis akal, indah pun kembali bertanya kepada Reza.


Indah :


"Oh apakah bapak sedang menunggu seseorang disini"


Reza :


"Tidak" jawab Reza cuek.


Wajah indah berubah masam karena sedari tadi dia seperti diacuhkan saja oleh Reza.


Indah :


"Kalau tidak untuk makan siang dan menunggu seseorang, lalu bapak ngapain" tanya indah lagi dan lagi.


Reza mulai kesal karena merasa ketenangannya terganggu sedari tadi.


Reza :


"Saya sedang menunggu pesanan istri saya, istri saya sedang hamil muda dan meminta untuk dibelikan berbagai macam makanan"


Jawaban panjang Reza berikan kepada indah agar perempuan itu puas mendengar jawaban darinya dan akan pergi meninggalkan dirinya begitu pikir Reza.


Wajah indah seakan hilang karena malu, ia melupakan sesuatu hal yaitu Reza sudah mempunyai istri.


"Siapa sih istrinya sampai segitunya dia bisa menolak diriku ini"


Batin indah.


*******


Jangan bilang sedikit lagi ya karena ini udah 1500++ kata lebih.


Hargai dan beri author semangat terus ya.


Jangan lupa like dan votenya ya. Komennya juga banyakin 😁😁😁


Dukung author terus untuk berkarya dan semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya.


Terima kasih 🙏🙏🙏


Happy Reading.


16 April 2020.

__ADS_1


__ADS_2