Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
HARI BERLALU BEGITU LAMBAT


__ADS_3

Aku mencoba untuk meluapkan kesedihanku. Tapi, jika hanya ada aku disini apa gunanya? Ketika pagi tiba, aku takut untuk membuka mataku. Bahkan, aku sangat takut hanya untuk sekedar bernafas.


***


Pagi hari ini sangat cerah, terlihat matahari yang bersinar dengan begitu terangnya. Langit biru berdiri dengan tegak didampingi oleh awan awan kecil disekitarnya. Kicauan burung burung seperti penambah suasana pagi yang begitu damai dan indah.


Nampak lah seorang pria yang sedang tertidur sendiri dikasur yang begitu luas dengan nyamannya selimut yang menutupi setengah badannya, namun matahari yang bersinar begitu cerah menampakkan silaunya yang langsung mengenai wajah pria tampan tersebut.


Arghhhhh..


Pria itu nampak membuka matanya yang sedari tadi ia tutup, menggercapnya berulang kali dan bangun dengan posisi duduk dikasurnya, merenggangkan otot otot tubuhnya yang telah kaku sehabis tidur.


Reza melirik kearah meja disamping tempat tidurnya tu dan melihat jam.


"Ahhhh aku telat" teriak Reza sambil cepat bangkit dari tempat tidurnya dan segera pergi menuju kamar mandi. Setelah memakan waktu beberapa lama akhirnya Reza keluar dari kamarnya dan turun kelantai bawah dengan sudah berpakaian rapi dan formal. Dia melajukan mobilnya yang telah siap menuju kearah kantor.


Dipertengahan perjalanan Reza memberhentikan mobilnya ditepi jalan didepan disebuah toko yang berukuran minimalis namun tata ruang dan letaknya membuat toko tersebut kelihatan lumayan luas. Terlihat dari depan toko tersebut dihiasi dengan beraneka ragam jenis bunga, warna warni dari bunga bunga itu yang membuat toko tersebut hidup ditambah lagi dengan aroma wangi khas dari macam macam bunga yang membuat siapa saja yang lewat jadi terpikat.


Kringggg.


Suara lonceng yang digantung diatas pintu masuk tersebut berbunyi pertanda seorang pelanggan datang dan masuk toko bunga itu.


"Selamat datang" ucap seorang karyawan wanita toko bunga yang kelihatan masih sangat muda.


Reza :


"Saya mau pesan bunga seperti biasa" kata Reza berbicara pesanan bunga seperti yang ia pernah pesan sebelumnya.


Karyawati :


"Maaf pak, saya tidak tau pesanan apa yang sebelumnya apa" jawabnya polos sambil menundukkan pandangannya takut kena marah oleh pelanggannya.


Tak.. Takk..


Suara langkah kaki menggema diruangan toko bunga tersebut, terlihat seorang wanita paruh baya namun aura kecantikannya masih terpancar sedang berjalan mendekati mereka.


"Oh Pak Reza, mau pesan bunga seperti biasa ya" tanya wanita itu yang tidak lain adalah pemilik toko bunga tersebut.


"Iya" jawab Reza singkat padat dan jelas.


"Dinda, kamu tolong bungkuskan bunga mawar orange untuk pelanggan kita ini. Jangan lama ya" ucap pemilik toko bunga itu kepada karyawatinya tadi.


Dinda langsung mengangguk tanda mengerti kepada bosnya dan pergi berlalu dengan cepat untuk melaksanakan perintah dari atasannya tadi.


Karena suasana masih pagi jadi pelanggan yang ada ditoko itu hanya Reza saja, sekarang tersisa Reza dan pemilik toko bunga itu sedang duduk dikursi yang tersedia diruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya pemilik toko itu kepada Reza.


"Masih sama, tidak ada perkembangan. Mereka sepertinya masih betah untuk tidur lama" jawab Reza dengan wajah datar namun nada bicaranya bisa menggambarkan kalau hatinya sangat sakit untuk mengakui kalau keadaan Annisa istrinya dan ibunya tidak ada kemajuan sedikitpun setelah operasi yang terjadi dua minggu yang lalu.

__ADS_1


Ya sekarang sudah dua minggu berlalu sejak Sarah dan Annisa selesai dioperasi, keadaan mereka masih sama yaitu tetap tertidur lelap dikamar rumah sakit.


"Ini tuan bunganya" kata karyawati muda tadi sembari mengarahkan bunga mawar orange kepada Reza.


Reza menyambut mawar itu dan mengeluarkan kartu kreditnya untuk pembayaran, tidak selang beberapa lama karyawati itu sudah kembali dan memberikan kartu kreditnya lagi kepada Reza dan Reza beranjak pergi setelah itu.


Setelah dirasa Reza telah pergi dari depan toko mereka, karyawati muda tadi pun bertanya kepada atasannya.


Dinda :


"Madam, apakah dia sering membeli bunga disini?" tanya Dinda kepada pemilik toko yang dia panggil madam itu.


Madam :


"Iya, dia sudah menjadi pelanggan tetap kita semenjak dua minggu yang lalu" jawab pemilik toko itu dengan raut wajah yang sedih.


Dinda :


"Madam kenapa, apakah kata kata saya ada yang salah?" tanya Dinda dengan wajah yang bingung menatap atasannya itu karena tiba tiba wajah atasannya langsung terlihat sedih.


Madam :


"Aku tidak apa apa, aku hanya merasa kasihan dengannya"


Dinda :


"Dengannya siapa madam? Dinda ngga ngerti" jawab Dinda bingung.


Madam :


Dinda :


"Memangnya kenapa dengan pembeli tadi madam, Dinda merasa tidak ada yang aneh dengannya" jawab Dinda polos.


Madam :


"Aku juga berpikir begitu sebelumnya ketika pertama kali ku melihat dia membeli bunga disini hingga setiap hari dia pun selalu membeli jenis bunga yang sama. Aku pun penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya kepadanya alasan dibalik dia membeli bunga yang sama terus.."


Pemilik toko bunga itu menjeda sebentar perkataannya, dia menghela nafas terlebih dahulu seperti mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan nasib yang tengah diderita pelanggannya itu.


Dinda :


"Madam kenapa, jika madam tidak bisa melanjutkannya lebih baik tidak usah, Dinda ngga mau lihat madam ikut sedih" ucap Dinda dengan kepolosannya seperti anak kecil.


Madam :


"Tidak, aku masih bisa melanjutkannya" Ucap atasannya itu.


Dinda pun mengangguk sambil terus menatap atasannya dengan intens.

__ADS_1


"Tepat dua minggu yang lalu ibu laki-laki itu sedang melakukan operasi yang melibatkan sang istri karena harus mendonorkan darahnya untuk menolong sang ibu, namun hingga sekarang kedua wanita itu belum juga terbangun dari kondisi tidurnya setelah selesai operasi.."


"Tahukah kamu mengapa dia selalu memesan mawar orange tidak merah seperti kebanyakan orang biasa" tanya madam kepada Dinda.


Dinda pun menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mengetahui apa alasan dibalik pelanggannya itu lebih memilih mawar orange dari pada merah padahal mawar merah lebih terkenal dibandingkan yang lain.


Madam pun melanjutkan perkataannya.


"Dia memilih mawar orange karena ia percaya makna dibalik bunga itu adalah antusiasme atau semangat. Bunga mawar orange itu merupakan simbol dari semangatnya seseorang, kehangatan cinta dari yang memberi maupun yang menerimanya. Dia percaya bahwa dengan dia memberikan mawar orange setiap hari kepada ibu dan istrinya adalah seperti dia sedang memberikan semangat kepada mereka berdua sekaligus dirinya sendiri agar mereka dapat bertahan melalui cobaan yang sedang mereka hadapi sekarang" jelas madam panjang lebar kepada pegawainya itu.


Dinda yang mendengar penjelasan atasannya itu serasa hatinya pun ikut sakit meskipun bukan dia yang berada diposisi laki laki itu. Dia bahkan kagum dengan sosok lelaki itu karena ia dapat bertahan dengan cobaan yang sebegitu berat.


***


Di Rumah Sakit.


Reza telah sampai kerumah sakit tempat ibu dan istrinya itu dirawat tanpa tertinggal bunga mawar orange yang senantiasa dia bawa setiap harinya untuk ia berikan kepada sang ibu dan istrinya itu.


Ceklek..


Pintu kamar VVIP itu terbuka oleh Reza dan nampak lah dua orang perempuan yang dia cintai masih setia tertidur tanpa menghiraukan kedatangannya setiap hari. Kadang setiap kali reza datang dan membuka pintu itu, ia sangat berharap ketika pintu itu terbuka dia akan melihat ibu dan istrinya itu bangun dan menyapa kedatangannya. Namun harapan hanya tinggal harapan, sekarang yang dia butuhkan adalah kekuatan agar dapat terus bertahan dan bertahan karena kata itulah yang perlu dia pegang sekarang.


"Hai mah, hai sayang.. Aku datang, lihat aku membawa bunga mawar orange lagi untuk kalian aku harap kalian menyukainya karena aku tidak mengetahui bunga apa yang kalian sukai" ucap Reza kepada ibu dan istrinya yang masih terbujur kaku diatas ranjang tersebut.


Reza berjalan ketempat tidur ibunya dan mencium kening serta tangan kanan sang ibu.


"Maafkan Reza mah, maafkan Reza. aku mohon bangunlah, aku mohon" batin Reza yang matanya sudah mulai berkaca kaca.


Reza pun beralih keranjang istrinya dan mengecup kening sang istri lalu duduk dikursi yang tersedia disisi ranjang Annisa.


"Sayang kenapa kamu belum bangun juga, bukannya kamu hanya mendonorkan darah saja. Lagi pula apa maksud dokter itu bicara tentang kami yang saat ini tidak memiliki semangat untuk bangun. Itu konyolkan sayang? Bagaimana mungkin kamu tidak ada semangat untuk bangun dan hidup sedangkan disini aku dengan setia menunggumu" lirih Reza dengan nada bergetar, sungguh hatinya sangat sakit mendengar penuturan sang dokter yang berbicara jika sebenarnya kondisi sang istri tidak apa-apa namun alam bawah sadarnya membuat Annisa tidak ingin terbangun dari kondisinya sekarang


"Aku adalah suami yang tidak berguna sayang, aku bahkan belum memberimu kebahagiaan sedikitpun namun kamu sudah harus melewati penderitaan seperti ini. Aku mohon berikan aku waktu untuk menebus semuanya, kembalilah sayang aku mohon kembalilah, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Aku mohon" ucap Reza dan saat itu pula ia tidak bisa lagi menahan suara tangisannya, suara itu lolos begitu saja dari mulutnya.


*******


Ayo kita bantu Reza agar tetap tegar dan semangat menjalani harinya.


Semoga kalian suka dengan kelanjutan episodenya, aku harap kalian ngga akan bosan untuk selalu menunggu dan membaca novel author.


Terima kasih atas segala bentuk dukungan yang selama ini selalu kalian berikan 🙏🙏🙏


Jangan lupa ya buat Like, Komen, Favoritkan dan Vote sebanyak banyaknya buat author.


Segala saran dan kritik dapat kalian tinggalkan dikolom komentar.


Happy Reading


**27 Februari 2020

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️**


__ADS_2