
Keesokan harinya, Annisa sudah dipindahkan keruang perawatan biasa namun masih berkelas VVIP, Annisa masih terlihat lemah di ranjang pasien tersebut namun senyumannya sedari tadi tidak lah surut. Apalagi saat ini ketika dirinya sudah bisa melihat sang buah hati secara langsung sungguh membuat perjuangannya seakan terbayarkan dan tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan dirinya saat ini.
Ceklek...
Suara pintu ruangan Annisa terbuka dan menampakkan sosok yang begitu ia cintai, yaitu suaminya sendiri sekaligus ayah dari anak mereka sekarang.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Reza serasa duduk di kursi yang tersedia disamping ranjang pasien. Tangan terulur begitu ringan untuk membelai rambut dan pipi sang istri.
Annisa mengangguk.
"Iya mas. Oh iya, kamu dari mana?" tanya Annisa kepada sang suami.
"Oh itu, mas tadi lagi menerima telpon dari Perusahaan karena takut mengganggu jadinya mas keluar aja dulu dari ruangan kamu, dan juga tadi Doni memberi kabar jika dia tidak bisa menjenguk kita disini karena sekarang dia sedang menggantikan mas keluar negeri untuk melihat pembangunan cabang kita disana" Reza tersenyum dan mengecup kening Annisa mesra.
Annisa hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan sang suami.
"Oh iya mas, Annisa juga ingin menghubungi Amel dan Andre untuk memberitahu mereka kalau sekarang Annisa sudah melahirka mas" sahut Annisa.
"Iya sayang, nanti mas hubungin mereka biar mereka bisa kesini buat jengukin kamu".
* * *
Sementara di World Hotel berita tentang kelahiran anak dari Pimpinan mereka yaitu Reza Pratama sudah diumumkan oleh pihak Perusahaan. Semua karyawan bersuka cita mendengar kabar tersebut, sebagian ada yang tidak menyangka jika bos besar mereka akhirnya mempunyai seorang anak.
Padahal dulu sekali mereka tidak ada yang berani membayangkan hal tersebut. Karena mereka tahu jangankan untuk mempunyai istri dan anak, bahkan pacar saja bos mereka itu tidak mempunyainya.
Namun takdir berkata lain, dengan sebuah keajaiban bos mereka yang terkenal dingin dan sangat disiplin itu telah menemukan kebahagiaannya dari sebuah ikatan Pernikahan.
Keesokan harinya.
Reza terlihat begitu telaten dan sabar dalam membantu sang istri yang saat ini tengah dalam kondisi lemah selepas melahirkan, dirinya juga membantu sang istri mengelap tubuhnya dan membantunya makan, dari wajahnya dapat dilihat jika dia sangat senang dengan hal tersebut. Membantu istrinya, ya mungkin bisa dikatakan begitu. Karena hanya hal-hal sederhana seperti ini saja yang bisa Reza berikan kepada istri dan keluarganya.
Ketika menikah dia dengan bangganya selalu merasa bisa membahagiakan anak orang yang dia nikahi, karena apa?? karena dirinya kaya raya, Reza berpikir semua kebutuhan istri dan keluarganya nanti dapat selalu ia penuhi tanpa membuat istri dan keluarganya nanti merasa kekurangan sedikitpun.
Ternyata semua salah, ya hal yang selama ini pernah ia pikirkan diawal pernikahan sungguh sebuah kesalahan yang besar. Karena uang tidak dapat membeli segalanya, buktinya dengan uang sebanyak apapun dirinya tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang istrinya derita ketika melakukan proses persalinan tadi.
Bahkan dengan tenaga medis yang handal dan profesional serta didukung peralatan rumah sakit yang lengkap dan berkualitas itu semua tidak dapat sedikitpun mengurangi rasa sakit yang istrinya derita tadi. Sungguh ketika mengingat kejadian kemarin membuat Reza seakan menjadi seorang suami yang sangat tidak berguna.
Satu minggu sudah Annisa dirawat dirumah sakit pasca ia melahirkan, selama itu juga Reza menjadi suami yang siaga dan selalu ada disaat Annisa maupun bayinya membutuhkan dirinya.
Seperti tadi, sekitar pukul 4 subuh Reza terbangun dari tidurnya ketika mendengar sang anak menangis. Diapun dengan cepat mengambil sang buah hati dari dalam box bayi dan menggendongnya untuk membuat anaknya tersebut berhenti menangis namun hal tersebut tidaklah berguna karena anaknya masih saja menangis.
Reza pun dibuat bingung.
"Apa kamu lapar sayang, tapi ibumu sedang tidur ayah tidak tega membangunkannya. Bagaimana kalau nanti pagi saja kamu minum susunya sayang" Reza mengajak sang anak untuk bernegosiasi namun kiranya anak mereka sedang tidak ingin bernegosiasi dengan sang ayah.
Hingga tangisannya membangunkan Annisa dari tidurnya.
"Mas??" panggil Annisa dengan suara seraknya ciri khas orang bangun tidur.
Reza menoleh ke sumber suara dan ditatapnya sang istri yang saat ini tengah duduk di kasur sambil mengucek-ngucek matanya seperti sedang mengembalikan nyawanya selepas tidur.
"Maaf sayang, mas pasti membangunkan mu, tidurlah lagi, mas bisa kok mengatasi bayi kita" ucap Reza namun dibalas gelengan oleh Annisa.
"Tidak mas, anak kita sepertinya lapar dan haur, sini biar Annisa beri asi dulu, mas kembali tidur aja lagi" jawab Annisa.
"Baiklah sayang" Reza pun memberikan sang anak kepada Annisa namun dirinya tidak kembali tidur dan memilih duduk di kursi yang berada disamping tempat tidur Annisa untuk menemani istrinya yang sedang memberi asi kepada anak mereka.
Dan benar saja anak mereka itu langsung diam setelah sang istri memberinya asi, bahkan dengan kuat dan cepat anak mereka menyedot asi itu dari tempatnya membuat sang ayah yang sedang menemani mereka meneguk air ludahnya sendiri.
"Aku juga ingin seperti dia. Aarrgghhh anak ku sendiri sungguh membuatku frustasi, dia tahu betul mana yang enak" Reza menatap iri kepada anaknya sendiri dan kembali meneguk air ludahnya lagi.
Sungguh kasihan...
Setelah selesai memberi asi kepada anak mereka Annisa pun memberikan anak mereka kepada Reza untuk ditaruh kembali ke tempat tidurnya karena memang anak mereka sekarang sudah tertidur pulas.
Reza telah menaruh anak mereka ditempatnya dan berbalik badan melihat sang istri yang saat ini tengah memasukan kembali alat pemberi asi tadi kedalam bajunya. Sungguh Reza tidak dapat berhenti memandang hal tersebut karena memang sudah seminggu dirinya berpuasa batin.
"Sayang" panggil Reza kepada sang istri yang saat ini pakaiannya telah rapi, lantas Reza pun kembali duduk ditempatnya semula tadi.
"Iya mas" jawab Annisa.
__ADS_1
Reza terlihat bingung ingin bertanya apa tidak. "Ada apa mas, apa ada hal yang ingin kamu bicarakan" Annisa kembali bertanya kepada sang suami yang tak kunjung berbicara sedari tadi.
"Kapan kita bisa melakukannya sayang?" pertanyaan itupun akhirnya ia ucapkan.
"Melakukan apa mas??" tanya balik Annisa seraya berpura-pura bodoh. sebenarnya Annisa tau kemana arah pembicaraannya suaminya itu namun dia malah membuat Reza semakin frustasi.
Lihat saja sekarang wajahnya itu sungguh membuat Annisa ingin tertawa namun Annisa sebisa mungkin menahannya agar suaminya itu tidak marah.
"Melakukan hubungan suami istri sayang"
"Oh itu yang dari tadi mas tanyakan". Annisa tampak berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan sang suami. "Ngga lama sih mas, minimal 40 hari, tapi alangkah lebih baiknya 3 bulan" tutur Annisa.
Lihatlah sekarang wajah suaminya itu begitu sangat terkejut ketika mendengar penuturan istrinya sendiri.
"Apaaa...??!!! Kamu ngga bercanda kan sayang, masa sampai 3 bulan, apa ngga ada cara lain biar bisa dipercepat" tanya Reza lagi, wajahnya sungguh membuat siapa saja yang melihatnya merasa kasihan, lihatlah matanya yang penuh harap itu.
"Bisa sih mas"
"Beneran sayang??"
"Iya beneran, tapi mungkin setelah kita melakukannya nanti aku bisa dilarikan kerumah sakit lagi karena kondisi tubuhku yang tidak siap" Kena kau Reza, sungguh sebuah kesempatan yang akan Annisa manfaatkan sebisa mungkin untuk mengerjai suaminya itu.
"Jangan, jangan. Mas ngga mau kamu kenapa-kenapa lagi apalagi sampai masuk rumah sakit, yasudah mas akan menahannya sampai 3 bulan ke depan" jawab Reza dengan wajah yang khawatir akan keselamatan sang istri.
Dirinya harus bisa melawan hasratnya sendiri dari pada membuat sang istri tercinta terluka.
"Makasih ya mas kamu udah mau ngertiin Annisa, dan maaf juga Annisa malah membuat mas jadi tersiksa kaya gini" Annisa membuat wajahnya seperti orang yang merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya.
Reza pun langsung berdiri dari tempat duduknya semula dan memeluk Annisa yang saat ini duduk dengan kepala yang menunduk.
Reza membawa Annisa kedalam pelukannya hingga wajah sang istri menempel sempurna di dada bidangnya.
"Udah ngga papa sayang, mas ngga keberatan kok, lagian ini juga kan untuk kebaikan kamu dan mas paling ngga bisa melihat dirimu sakit" tutur Reza.
Annisa hanya menganggukkan kepalanya didalam pelukan Reza namun senyuman kemenangan sangat jelas tercetak diwajah dan bibir cantiknya.
* * *
Angela dan Doni saat ini sudah berada diruang inap Annisa istri atasan mereka, begitupun dengan atasan mereka yaitu Reza yang juga sedang berada didalam ruangan tersebut.
"Selamat ya Bu, akhirnya lahirannya lancar dan bayinya juga sangat tampan dan sehat" Angela memberikan selamat kepada Annisa beserta beberapa bingkisan keperluan sang bayi sebagai buah tangan untuk kedatangan mereka.
Annisa menerima hadiah tersebut. "Iya sama-sama dan terimakasih telah menyempatkan diri untuk menjenguk saya" sahut Annisa.
"Oh iya, kamu kapan nyusul" Angela bingung mendengar pertanyaan Annisa, menyusul dalam hal apa maksudnya.
Annisa yang mengerti pun langsung kembali melanjutkan perkataannya. "Maksud saya menyusul untuk menikah, karena saya lihat usia kita tidak jauh berbeda dan sepertinya kamu juga sudah siap untuk melangsungkan kejenjang tersebut" Angela malu diberi pertanyaan seperti itu lalu Angela membuka tasnya dan memberikan sebuah undangan kepada Annisa.
"Apa ini??" tanya Annisa bingung.
"Ibu baca saja" Angela masih merasa malu memberikan undangan tersebut.
"Wahh selamat Angela" teriak Annisa dengan begitu kencangnya dan langsung memeluk tubuh wanita yang sedang duduk disampingnya tersebut.
Teriakan Annisa itupun membuat Reza dan Doni yang sedari tadi duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut jadi mengalihkan pandangannya kepada kedua wanita yang tengah berpelukan tersebut.
"Mas, Angela dan Doni akan menikah" teriak Annisa kepada suaminya setelah pelukannya tadi terlepas.
Reza yang masih bingung pun menoleh kearah Doni sebentar yang berada tepat disampingnya dan berjalan menuju ranjang sang istri, Reza pun lantas mengambil sebuah undangan yang istrinya itu berikan kepadanya dan membaca dengan seksama.
Setelah membaca undangan tersebut Reza langsung saja menghampiri Doni kembali dan memberikan pukulan di lengan sekertarisnya tersebut. "Akhirnya kamu menikah juga, selamat karena sudah bisa menaklukkan perempuan dingin itu" tawa Reza mengolok Doni sekertarisnya sendiri.
Angela pun memberengut mendengar candaan atasannya sedangkan mereka bertiga puas sekali menertawakan Angela termasuk Doni yang notabenenya calon suami Angela.
Ketika sedang asyik tertawa pintu ruangan tersebut terbuka menampakkan kedua sahabat Annisa yaitu Amelia dan Andre yang juga datang untuk menjenguk Annisa dan anaknya.
"Amel??.." teriak Annisa ketika melihat sahabatnya itu dan mereka pun langsung berpelukan meninggalkan Andre sendiri. Sementara Andre pun menjabat tangan orang-orang yang berada di ruangan tersebut termasuk Reza serta tidak lupa juga Andre memberikan ucapan selamat untuk Reza atas kelahiran anak mereka.
Setelah puas berbincang Amel pun menyodorkan sebuah kertas segi empat kepada Annisa yang membuat Annisa membelalakkan matanya.
"Lo seriusan mau nikah, sama si Andre??" tunjuk Annisa kepada salah satu sahabatnya itu yang terlihat tengah berbincang dan berbaur bersama Reza, Doni dan Angela.
__ADS_1
Amel menganggukkan kepalanya dengan senyuman bahagia yang terpancar penuh diwajahnya, Annisa pun dapat melihat jika sahabatnya itu sangat bahagia atas pernikahan yang sebentar lagi mereka adakan.
"Selamat sayang ku, setelah sekian purnama kamu akhirnya ngga jomblo lagi" ledek Annisa yang langsung mendapatkan cubitan ditangannya.
"Ihhh apaan sih suka banget ngejekin sahabat sendiri" sahut Angela dengan wajah yang cemberut.
Rupanya bukan hanya Angela yang jadi bahan tertawaan mereka semua namun Amelia pun terkena imbasnya.
Para perempuan pun berkumpul sendiri memisahkan dengan para lelaki yang sedang duduk di sofa panjang itu entah apa yang mereka bicarakan namun sesekali mereka terdengar menertawakan Reza.
Sedangkan Annisa, Angela dan Amelia yaitu triple A itu terlihat sedang membahas sesuatu yang serius.
"Annisa, kira-kira Lo pas malam pertama rasanya gimana,sakit ngga??" tanya Amel kepada sahabatnya itu sedangkan Angela hanya mendengarkan saja namun dengan serius karena dirinya pun sangat penasaran akan hal tersebut.
Annisa menggelengkan kepalanya. "Engga kok, malahan enak" goda Annisa.
"Beneran, tapi kata ibu-ibu kompleks gue rasanya itu sakit tapi habis itu enak banget bikin ketagihan, masa bener kaya gitu sih??" Amel menjadi bingung sendiri.
"Nah bener tuh apa kata ibu-ibu kompleks Lo, memang bikin ketagihan, entar kalian juga pada ngerasain" goda Annisa lagi.
Wajah Angela dan Amelia pun menjadi merah entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan.
Ketika sedang asyik menggoda kedua temannya itu, pintu ruangan Annisa terbuka lagi entahlah siapa yang akan bertamu lagi atau mungkin para dokter dan perawat yang ingin memeriksa keadaan Annisa.
Namun hal tidak terduga terjadi karena orang yang membuka pintu tersebut adalah Dian dan Indah, Annisa pun dibuat terkejut olehnya. Terlihat Indah yang begitu ragu untuk memasuki ruangan tersebut sehingga membuat Dian menggandeng tangan Indah untuk ikut masuk bersama dirinya.
"Selamat siang Pak Reza, Pak Doni, semuanya" sapa Dian namun Indah masih saja berdiam diri.
Reza yang seakan paham dengan hal itupun lantas menyuruh Doni dan Angela beserta Amel dan Andre untuk keluar sebentar meninggalkan mereka tanpa terkecuali Reza. Karena Reza pun ikut keluar dengan membawa anak mereka yang saat ini masih saja terlelap dalam tidurnya.
Setelah hanya tertinggal mereka bertiga didalam ruangan tersebut suasana menjadi sepi senyap.
"Annisa, ada yang ingin kami berdua bicarakan kepadamu" ucap Dian.
"Bicaralah" Doni menyuruh Indah untuk berbicara kepada Annisa.
Dengan langkah ragu Indah pun mendekati ranjang tempat Annisa sekarang berada dan langsung memeluknya.
"Annisa, aku mohon maafkan aku. Maafkan kesalahan ku selama ini kepadamu dan keluarga mu, aku tidak tahu lagi bagaimana cara meminta maaf atas segala perbuatan buruk ku. Kamu bisa menghujatku atau bahkan memukul ku, aku akan menerimanya dengan senang hati asalkan kamu mau memaafkan diriku yang hina ini" Indah sudah mengutarakan isi hatinya dengan iringan air mata dan suara tangisnya.
Annisa yang dipeluk Indah sekarang ini malah tersenyum, dirinya pun membalas pelukan mantan sahabatnya itu. Annisa benar-benar bahagia mendapatkan sahabatnya yang sudah kembali seperti dulu lagi dan yang pastinya tidak ada lagi pertengkaran diantara mereka berdua.
"Aku sudah memaafkan kamu bahkan dari dulu karena sampai kapanpun aku masih menganggap dirimu itu sahabat ku. Dan aku mau kita dapat kembali seperti dulu lagi selalu bersama dalam suka maupun duka, gimana??" mereka pun melepas pelukannya sebentar dan Indah menatap lekat wajah sahabatnya sejak jaman sekolah itu, Indah tersenyum dan kembali memeluk Annisa.
"Tentu saja aku mau, aku mau menjadi sahabatmu lagi" sahut Indah dengan penuh kebahagiaan.
Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama serta meredakan tangisan Indah, kini mereka semua berkumpul kembali di kamar inap Annisa.
Serta kejadian yang sama pun terulang kembali secara beruntun yaitu ketika Indah memberikan Annisa sebuah undangan dirinya dan Dian yang akan kembali rujuk.
Annisa sangat bahagia mendengar berita tersebut, karena dirinya pun sangat mendukung hubungan Indah dan Dian yang ia rasa sangat cocok.
"Oh iya, kami sampai lupa niat awal kedatangan kami kesini ingin mengetahui nama anak kalian calon Penerus dari Pratama Group" tanya Dian yang diangguki oleh mereka berlima yaitu Indah, Angela, Doni, Amelia dan Andre.
Sedangkan yang mendapat pertanyaan pun saling memandang dan langsung tersenyum.
"Namanya adalah Reynand Shakeel Pratama, yang artinya anak laki-laki yang tampan, bijaksana, besar, berani dan kuat. Aku ingin dia nanti dapat membuat seseorang yang berada didekatnya selalu merasa bahagia dan terlindungi oleh jiwa-jiwa kepemimpinannya nanti" tutur Reza.
"Nama yang bagus dan bahkan sangat bagus" sahut Dian.
"Iya benar, cocok untuk dirinya yang memang sudah tampan dari lahir" puji Amelia.
"Sekali lagi selamat untuk kalian yang telah menjadi kedua orang tua" serempak mereka berenam mengucapkan selamat kepada Reza dan Annisa.
* * * * * * *
Terima kasih untuk kalian yang selama ini masih setia membaca novel ini, segala bentuk dukungan kalian selama ini sangat membantu saya dalam mengerjakan novel ini.
Saya memohon maaf kalau ada banyak terjadi kesalahan dalam penulisan dan pembuatan novel ini, sekali lagi saya minta maaf.
Terima kasih kepada kalian pembaca setia 🙏🙏🙏😘😘😘
__ADS_1
Setelah novel ini tamat akan ada novel terbaru yang akan saya buat namun saya tidak dapat memastikan kapan akan saya rilis, doakan saja semoga dalam waktu dekat novel terbaru saya akan rilis dan saya harap kalian semua berkenan untuk membacanya.
Terima kasih, salam cinta dari saya ♥️♥️♥️