
Satu minggu sudah berlalu semenjak ayah Annisa memilih untuk tinggal di satu rumah yang sama bersama anak dan menantunya yaitu di kediama keluarga Pratama. Semenjak satu minggu itu juga usia kandungan Annisa semakin mendekati waktu melahirkan, bahkan Sarah dan Jhonny dibuat was-was tiap kali Annisa merasakan sakit di bagian perutnya.
Padahal itu hanya sakit perut biasa namun kedua orang tua itu sangat ketakutan dibuatnya. Hingga Annisa kadang tertawa melihat kepanikan yang terjadi.
Dasar Annisa tidak tahu situasi, dirinya malah menertawakan orang tuanya sendiri.
* * *
Seperti biasa pagi ini dibuka dengan sebuah pelukan hangat dari sepasang tangan kekar yang memeluk sang istri Annisa sepanjang malam, tidak lupa juga terkadang tangan itu bergerak lembut mengelus perut buncit Annisa yang sebentar lagi akan melahirkan.
" Mas bangun, udah jam setengah tujuh "
Annisa membangunkan sang suami setelah beberapa saat yang lalu dirinya membalikkan badan secara perlahan agar dapat menghadap kearah Reza.
" Emhh.. " bukannya bangun Reza malah hanya berdehem saja bahkan matanya pun tidak terbuka sama sekali.
Annisa menggelengkan kepalanya melihat perilaku suaminya yang setiap hari semakin malas untuk pergi bekerja yang bila setiap ditanya jawabannya adalah karena takut meninggalkan sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan.
" Mas bangun, kalau kamu ngga bangun gimana Annisa bisa bangun?? " ucap Annisa lagi.
" Sebentar lagi sayang "..
Reza semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya dibawah leher sang istri seperti seorang anak kecil yang takut ditinggalkan oleh sang ibu.
Akhirnya Annisa mengalah.
" Oke, 10 menit " Dan hanya dibalas anggukan oleh Reza.
Setelah selesai mandi dan bersiap Annisa dan Reza pun keluar dari kamar untuk menuju ke ruang makan yang berada dilantai bawah.
Dengan perlahan Reza menggandeng dan menuntun sang istri untuk berjalan menuruni anak tangga rumah mereka secara hati-hati, dirinya padahal dari jauh-jauh hari sudah memberi saran kepada sang istri untuk pindah kamar ke lantai bawah saja namun saran itu ditolak Annisa dikarenakan dirinya yang sudah begitu nyaman dengan kamar mereka tersebut.
Sesampainya di ruang makan sepasang suami istri tersebut disambut oleh senyuman hangat dari kedua orang tua mereka yaitu Sarah dan Jhonny.
Reza kemudian menarik kursi dan membantu istrinya tersebut untuk duduk dan dengan cekatan Reza mengambilkan sarapan untuk istrinya. Hal tersebut padahal Annisa sudah melarangnya dikarenakan mengambilkan makanan itu adalah tugasnya sebagai seorang istri namun apa mau dikata karena suaminya itu adalah seseorang yang tidak suka dibantah.
Mereka berempat pun memakan sarapannya dengan kesunyian yang mengambil alih.
Selesai sarapan Annisa mengantarkan Reza ke depan rumah untuk berangkat bekerja seperti rutinitas biasanya Annisa akan mencium tangan sang suami dan dibalas oleh Reza dengan sebuah ciuman di kening dan perut buncit Annisa yang sebentar lagi akan meledak dan mengeluarkan calon penerus keluarga Pratama.
"Hati-hati dirumah ya, kalau ada keluhan meskipun sedikit kamu langsung hubungin mas kalau ngga minta tolong sama mamah, mengerti sayang" nasihat Reza kepada sang istri.
Annisa menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Iya mas, Annisa bakal jaga diri baik-baik kok, mas tenang aja ngga usah khawatir disini kan udah banyak orang yang menjaga Annisa"
"Iya kamu benar, tapi mas tetap aja ngga bisa tenang kalau jauh dari kamu" Reza mencubit hidung mancung Annisa saking gemasnya dengan sang istri.
Mengusap hidungnya yang terasa sedikit sakit akibat perbuatan sang suami.
"Sakit mas" rengek Annisa.
"Makin lucu deh kalau lagi manja kaya gini" goda Reza lagi.
"Udah deh mas, berangkat sana nanti telat lagi kerjanya" usir Annisa.
Dan akhirnya setelah saling melempar candaan, Reza pun berangkat dengan perasaan khawatir meninggalkan sang istri dirumah meskipun dengan banyaknya orang berada dirumah itu namun hal itu tidak serta merta membuat Reza tenang.
Entahlah semenjak bangun tidur pagi tadi ada perasaan yang tidak enak ia rasakan namun Reza tidak ingin berbicara kepada sang istri karena hanya akan membuat beban pikiran untuk istri tercintanya itu.
***
Diwaktu siang hari yang sangat nyaman dipakai untuk tidur siang ini malah diperuntukkan annisa dan Sarah mertuanya untuk duduk bersantai dipekarangan rumah mereka. Rumah yang besar dengan halaman yang sangat luas itu tidak akan disia-siakan oleh kedua perempuan penghuni rumah tersebut.
Apalagi sekarang dalam keadaan teduh dan sejuk yang mereka rasakan ketika mendudukkan tubuh mereka dibawah pepohonan yang sangat rimbun hasil dari campur tangan para asisten rumah tangga yang bekerja ditempat mereka.
"Enak ya mah disini, adem gitu hawanya bikin betah" ucap Annisa sesaat setelah meletakkan cangkir yang berisi es teh yang baru saja ia minum sedikit.
Entahlah sekarang mengapa dirinya begitu mudah sekali merasa kegerahan hingga kadang-kadang di malam hari pun dirinya sangat menginginkan minum air es.
"Iya sayang, mamah juga suka lama-lama disini, hati juga rasanya ikut adem" canda Sarah.
Annisa mengiyakan. "Bener banget mah, kadang suasana sekitar juga ikut mempengaruhi mood kita, jadi ngga ada salahnya kan perempuan itu kadang-kadang mencari suasana baru" ucap Annisa.
"Asal ngga nyari pasangan baru aja" sahut sang mertua.
Sontak saja keduanya langsung tertawa setelah beberapa detik saling bertatapan tadi.
__ADS_1
Ibu mertuanya itu bisa saja membuat suatu lelucon seperti itu. Pikir Annisa.
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu bersama sang mertua, Annisa pun kembali kekamar utama yang ia tempati bersama sang suami.
Melangkahkan kaki kedalam kamar tersebut Annisa jadi mengingat kenangan awal-awal pernikahan dirinya dan Reza yang memang tidak ada cinta didalamnya.
Namun benar apa kata orang, cinta bisa tumbuh karena seringnya bersama, saling berbagi dan saling merasa membutuhkan satu sama lain. Begitupun dirinya dan sang suami yang tidak memerlukan waktu lama untuk saling mencintai, hingga sekarang Annisa masih saja berterima kasih atas kebahagiaan yang selama ini diberikan kepada dirinya.
Berjalan perlahan merangkak keatas tempat tidur untuk merebahkan dirinya yang memang begitu lelah belakangan ini, mungkin karena waktu melahirkannya semakin dekat.
Tidak seberapa lama Annisa merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk itu, dirinya tiba-tiba saja meringis kesakitan akan perutnya yang seperti kram tidak berkesudahan.
Annisa tidak tahan lagi dan ia pun mencoba berdiri untuk bangun dari tempat tidur sembari memegangi perutnya yang begitu sakit bukan main, berbagai pertanyaan muncul dibenak Annisa. Seperti apakah sudah waktunya ia melahirkan, tapi bukan kah kata dokter beberapa hari lagi.
Entahlah, sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Annisa dapat membawa dirinya ini untuk mencapai rumah sakit secepatnya karena sekarang sakit yang ia rasakan makin menjadi-jadi dari sebelumnya.
Ketika Annisa sudah berhasil keluar kamar ia pun dengan tenaga yang tersisa berusaha untuk berteriak meminta bantuan kepada siapapun yang mendengarnya.
"Mah.. mamahh, tolong Annisa" teriak Annisa dengan suara seadanya yang bisa ia keluarkan.
"Ayah, ayah dimana.. Ayah ??..."
Berteriak memanggil kedua orangtuanya pun tidak ada yang mendengarnya hingga sekarang.
"Bii.. bibi tolong Annisa, siapapun tolong Annisa" Suaranya semakin lirih dan bahkan sekarang Annisa sudah terduduk lemas dilantai rumah tersebut.
"Sayang, kamu kenapa" ucap sang mertua Sarah.
Annisa pun dapat bernafas lega karena sekarang ada seseorang disampingnya.
"Mah.. tolong Annisa, antar Annisa kerumah sakit sekarang. Sepertinya Annisa akan melahirkan" ucap Annisa dengan sambil berusaha menahan rasa sakit tersebut.
Sarah menganggukkan kepalanya dengan wajah yang cemas.
"Iya sayang, mamah akan membawamu kerumah sakit tapi ingat kamu tetap harus sadar jangan sampai kehilangan kesadaranmu, oke sayang, mamah mohon bertahan lah"
Sarah pun kemudian berteriak untuk memanggil semua orang yang ada dirumah mereka, ketika mendengar suara panggilan yang cukup keras akhirnya para asisten rumah tangga mereka beserta ayah Annisa pun datang menghampiri.
Betapa sang ayah terkejut melihat anak semata wayangnya kini sedang terduduk lemas dilantai, tanpa banyak bicara ayah Annisa meminta pekerja untuk membantunya membawa anaknya tersebut kedalam mobil yang sudah disiapkan supir karena Sarah sudah terlebih dahulu menyuruh supir tersebut untuk menyiapkan mobil.
Dengan perasaan yang tidak tenang dan panik Jhonny maupun Sarah menemani Annisa didalam mobil yang membawa mereka kearah rumah sakit.
Sarah tidak ingin ketika sampai disana pihak rumah sakit tidak siap siaga untuk melayani mereka karena pertaruhan disini ialah menantu dan calon cucunya. Jika hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Annisa maupun calon bayi nya, Sarah tidak akan segan-segan untuk menarik semua saham milik keluarganya dari rumah sakit tersebut dan membuat rumah sakit itu menjadi bangkrut saat itu juga.
Karena memang pada dasarnya rumah sakit itu memang milik sang suami bersama sahabatnya yang kemudian saham mendiang sang suami lah yang lebih banyak berada disana, maka bukan tidak mungkin Sarah dapat menghancurkan rumah sakit itu dalam sekejap.
Annisa masih meringis menahan sakit sambil sedikit menarik baju Sarah, sepertinya ada yang ingin ia bicarakan kepada Sarah.
Sarah pun menengok kearah Annisa yang berada tepat disebelahnya.
"Iya sayang, ada apa?.. Sebentar lagi kita sampai kok, kamu yang kuat ya" ucap Sarah dengan perasaan khawatir.
Annisa menggelengkan kepalanya pertanda jika bukan itu yang ingin ia bicarakan.
"Mah, mas Reza mana, Annisa mau melahirkan ditemani oleh mas Reza" Begitulah permintaan sang menantunya tersebut.
Sarah menepuk jidatnya.
"Astaga sayang, mamah hampir lupa memberitahu suami mu kalau kamu akan segera melahirkan, sebentar ya mama telpon Reza sebentar"
Perjalanan dari kediaman keluarga Pratama begitu terasa sangat lama dengan diiringi suatu kecemasan dan kepanikan.
* * *
Sementara di World Hotel Reza masih sibuk berkutat dengan pekerjaan dan beberapa dokumen hasil rapat yang telah ia lakukan bersama para Pimpinan tiap Divisi tadi pagi.
Suasana senyap menyelimuti ruangan luas sang CEO World Hotel tersebut hingga suara deringan handphone sang pemilik membuyarkan konsentrasi yang sedari tadi ia dapatkan.
Menengok ke sebelah kanan tempat ia menaruh handphone tersebut dan melirik untuk mengetahui siapa yang menelpon dirinya pada saat jam kerja seperti ini.
Dan nama sang ibunda lah yang tertera di handphone tersebut.
"Mamah, ada apa memangnya menelpon pada jam kerja seperti ini" batin Reza.
Reza pun langsung mengambil handphone tersebut dan menggeser ikon berwarna hijau tanda menerima panggilan sang ibunda.
Belum juga Reza bertanya sang ibunda sudah terlebih dahulu bersuara.
__ADS_1
"Reza, kamu cepatlah kerumah sakit keluarga kita sekarang, Annisa istrimu sepertinya akan melahirkan hari ini, cepat mamah dan ayah mertua mu sekarang sedang didalam perjalanan untuk mengantarkan istrimu kesana. Kamu cepat temui kami"
Begitulah suara sang ibunda terdengar dari seberang telpon sana.
Tutt.. tutt... Tut
Panggilan diputuskan sepihak begitu saja oleh sang ibunda tanpa mau mendengarkan balasan dari sang anak.
Reza masih berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh ibu nya tadi hingga beberapa detik kemudian kesadarannya seakan telah kembali dan dengan cepat ia melangkah pergi meninggalkan pekerjaan dan kantor tempat dirinya bekerja itu.
Dengan langkah panik dan terkesan tergesa-gesa Reza tidak bisa lagi menyembunyikan wajah khawatirnya, ia mengusap kasar wajahnya tersebut dan berlari dengan sekuat tenaga agar dapat dengan cepat sampai ke tempat ia memarkirkan mobilnya tadi pagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tiada henti-hentinya Reza memanjatkan doa untuk keselamatan sang istri dan calon anak mereka.
Beberapa kali Reza mengumpat kala lampu merah yang menyala hingga membuat dirinya semakin lama menuju tempat tujuannya tersebut.
Sedangkan dirumah sakit, Annisa sudah dilarikan keruang operasi untuk melakukan persalinan, semenjak dijalan hingga sampai didalam ruangan tersebut Annisa tidak henti bertanya dimana suaminya.
Bahkan para dokter dan suster pun sudah mengatakan kalau sang suami sedang dalam perjalanan menuju kesini, namun jawaban itu tidak membuat Annisa puas.
Beberapa saat kemudian terlihatlah seorang lelaki tampan yang lengkap dengan pakaian kerjanya berlari begitu kencang, ya dia adalah Reza. Setelah menginjakkan kakinya dihalaman rumah sakit, dengan sekuat tenaga Reza berlari kearah ruangan sang istri berada.
Sang ibunda yaitu Sarah sudah sedari tadi menelpon Reza untuk menanyakan dimana dirinya berada karena Annisa selalu mencari suaminya sedari tadi.
Setelah mengabari pihak dokter jika Reza sudah datang langsung saja Reza diberikan beberapa atribut sebelum memasuki ruangan bersalin.
Baru beberapa langkah Reza memasuki ruangan tersebut, dirinya sudah disuguhkan pemandangan yang sangat menusuk hati, Reza melihat sang istri tengah berjuang untuk mengeluarkan anak mereka, bahkan untuk bernafas saja sang istri terlihat kesusahan.
Tanpa disadari air matanya mengalir begitu saja, sungguh ia tidak tega melihat keadaan sang istri yang seperti ini. Rintihan suara Annisa ketika memanggil nama suaminya membuat Reza tersadar dari lamunannya dan segera meneruskan langkah kakinya untuk menghampiri Annisa yang berada di ranjang persalinan.
Reza menggenggam salah satu tangan Annisa dan menggunakan satu tangannya lagi untuk mengelus kepala sang istri.
"Sayang, mas disini, mas tidak akan meninggalkan kamu. Kamu harus kuat sayang demi keluarga kita dan calon anak kita" Reza memberi semangat kepada sang istri.
Annisa menganggukkan kepalanya pelan, terbitlah sedikit senyum dari wajah letihnya ketika melihat sang suami yang sedari tadi ia tunggu telah berada disampingnya.
"Annisa akan berjuang mas demi kita semua dan anak kita"
Annisa pun kembali berjuang untuk melahirkan sang buah hati dengan sekuat tenaga, Reza yang mendampingi sedari tadi merasa sangat kasihan dan sakit. Ini adalah pengalaman pertamanya menyaksikan seorang wanita yang melahirkan terlebih lagi itu adalah istrinya sendiri.
Sedari tadi Reza tidak lepas menggenggam tangan Annisa, mencium tangan dan kening sang istri lalu membelai kepala sang istri dengan lembut.
Didalam ruangan ini Reza merasa seakan tidak berguna sebagai seorang suami, dia tidak berguna karena tidak bisa menolong sang istri yang saat ini tengah berjuang hidup dan mati untuk anak mereka. Seandainya, seandainya saja sakit itu bisa dipindah kepada dirinya pasti Reza akan menerimanya dengan senang hati dari pada harus melihat istrinya itu sangat kesakitan seperti ini.
Beberapa jam sudah dilewati, semua orang yang berada diluar ruang persalinan dibuat tegang oleh pasangan suami istri tersebut. Hingga sebuah suara tangisan bayi membuat mereka bisa bernafas lega dan menitikkan air mata bahagia.
Sedangkan didalam ruangan tersebut Reza sangat bahagia sekali, dirinya sangat berterima kasih kepada sang istri yang telah berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah berjuang untuk anak kita. Mas sangat mencintai mu sayang" ucap reza.
Seorang dokter wanita pun menghampiri Reza dan Annisa sembari menggendong anak mereka.
"Selamat Pak, anak bapak laki-laki dan wajahnya sangat tampan seperti bapak" ucap dokter perempuan tersebut.
Senyum Reza maupun Annisa pun kembali merekah ketika mendengar penuturan dokter tersebut.
Setelah urusan didalam ruang persalinan itu selesai, Reza kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk menghampiri ibu dan ayah mertuanya.
"Mamah, ayah.. Anak aku sudah lahir, anak aku. Istri ku berjuang hidup dan mati didalam sana tadi tapi aku malah hanya bisa menjadi bisa diam tanpa bisa membantu sedikitpun. Aku benar-benar suami ya g tidak berguna" lirih Reza.
Runtuh lah pertahanan dirinya yang sedari tadi ia tahan, sungguh Reza sangat sakit melihat keadaan sang istri selama proses melahirkan tadi.
"Tidak sayang, kamu ngga salah. Kamu juga telah berjuang untuk mendampingi istri kamu didalam sana" ucap Sarah menyemangati sang anak dan memeluknya.
Kemudian Pak Jhonny selaku mertua juga memberi semangat kepada menantunya itu.
"Terima kasih nak, kamu telah menemani anak saya disana, terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk anak saya" sang mertua juga ikut memberi semangat kepada Reza.
Sungguh, Reza sangat menyayangi mereka semua apalagi sang istri dan buah hati mereka yang baru saja lahir.
* * *
Sebentar lagi novel ini akan tamat.
Dan author minta maaf karena hiatus dalam waktu yang sangat lama, sekali lagi author sungguh minta maaf 🙏🙏🙏
Terima kasih atas dukungannya selama ini dan selalu dukung author untuk berkarya 😁😁
__ADS_1
Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya readers 😘😘😘