Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
HARI TANPA SENYUMAN MU


__ADS_3

Annisa masuk kedalam ruang operasi dengan perasaan yang sangat gugup dan takut, padahal ketika ia masuk tadi perasaannya biasa saja tidak ada kegugupan sedikitpun yang ia rasakan hanya perasaan sedih saja yang begitu tega berlama lama tinggal dihatinya.


Annisa melangkahkan kakinya seirama dengan langkah kedua orang yang sedang berjalan didepannya yaitu siapa lagi kalau bukan dokter Bobby dan perawat perempuan yang cantik tadi. Annisa sampai didepan ranjang tempat Sarah yaitu mertua Annisa sedang terkapar lemah tak berdaya.


Entah sejak kapan kah air mata yang selama ini ia pendam mengalir deras dan jatuh tanpa permisi terlebih dahulu ketangan sang ibu mertuanya yang sedang ia pegang sekarang.


Annisa mulai menangis namun dengan suara yang pelan seperti ia berusaha untuk menahan tangisnya agar tidak pecah dan terdengar nyaring didalam ruangan itu. Annisa masih erat memegang tangan sang ibu mertua dengan menggunakan kedua tangannya yang ia satukan bersama dan mencium tangan ibu mertuanya yang berada ditengah kedua tangannya itu.


Annisa :


"Mah maafkan Annisa ya selama ini belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mamah, maaf juga Annisa hanya bisa membuat mamah kecewa terus menerus tanpa bisa membuat mamah tersenyum. Annisa ngga bisa berbuat banyak untuk mamah sekarang tapi Annisa janji jika kita berdua masih dipertemukan kembali setelah operasi ini dan diberi umur panjang, Annisa ingin membahagiakan mamah dan membuat senyuman selalu terukir dibibir indah mamah. Annisa janji" ucap Annisa pelan sembari terus mencium tangan sang ibu mertua dan air mata yang sedari tadi tidak bisa dibendung lagi.


Dokter Bobby berjalan mendekati Annisa dan menepuk pundak Annisa seperti ingin memberitahukan untuk tidak bersedih terus menerus.


Bobby :


"Semua penderitaan mu akan berakhir dengan cepat dan kamu pun harus kuat menjalaninya agar dapat melihat hari yang indah setelah ini" ucap dokter Bobby kepada Annisa untuk menguatkannya.


Annisa memandang kearah dokter Bobby tanpa berkata kata ataupun membalas ucapan dokter tersebut namun senyuman manis yang dikeluarkan Annisa dapat menjadi perwakilan jika dirinya masih bisa tersenyum dan bahagia meskipun sedang berada dalam cobaan seperti sekarang ini yang begitu memilukan untuk hatinya.


Dokter Bobby pergi berlalu meninggalkan Annisa yang masih berada disebelah sang mertuanya. Setelah dokter Bobby melihat senyuman manis dari bibir Annisa, ia pun merasa tenang sedikit karena jika boleh dikatakan dokter Bobby juga takut terjadi apa apa kepada salah satu diantara mereka.


"Kamu beruntung za mendapatkan istri seperti dia, jika aku bisa memohon akankah aku bisa memiliki pasangan hidup seperti dia juga yang sangat mencintai mu dan juga orang tua mu bahkan rela bertaruh nyawa untuknya. Aku salut za, ternyata sepeninggal ku kau telah bisa mencari pasangan yang begitu sempurna" batin dokter Bobby sembari berjalan pergi meninggalkan Annisa dan berjalan menuju ranjang yang tepat berada disebelah ranjang Sarah.


Perawat :


"Permisi, silahkan ibu ikut kami. Karena waktu kita tidak banyak lagi" kata perawat itu kepada Annisa agar Annisa segera bersiap karena operasi untuk ibu mertuanya akan segera dilakukan.


Annisa :


"Baiklah" jawab Annisa singkat.


Annisa pun mengikuti perawat tadi dengan berjalan dibelakangnya dan hanya beberapa langkah Annisa telah sampai diranjang rumah sakit yang kosong seperti telah disediakan untuknya. Terlihat disitu ada dokter Bobby dan perawat cantik yang tadi sudah berdiri disamping ranjang dan menatap kearah Annisa yang datang berjalan menghampiri mereka.


Bobby :


"Apakah kamu sudah siap" tanya dokter Bobby kepada Annisa.


Annisa :


"Iya dok, saya sudah siap" jawab Annisa dengan senyumannya yang seakan tidak pernah luntur sedikitpun.


"Aku mencintaimu mas" batin Annisa.

__ADS_1


Annisa direbahkan diatas ranjang yang telah tersedia tadi, Annisa menatap langit-langit ruang operasi itu tidak beberapa lama matanya mulai sedikit demi sedikit terpejam seperti kantuk yang tiba tiba melandanya. Pandangan Annisa mulai buram dan kelopak mata cantiknya pun telah menutup dengan sempurna.


***


Di Luar Ruang Operasi


Lampu indikator menyala pertanda jika operasi telah dimulai dan akan padam jika operasi telah selesai.


Terlihat Reza dan Citra yang sedang menunggu diluar ruang operasi. Citra masih setia duduk dikursi yang letaknya berada didepan tempat duduk Reza atau bisa dibilang tempat duduk mereka bersebrangan. Citra duduk dengan biasa tanpa menampakkan wajah yang cemas atau khawatir tentang apa yang akan terjadi didalam ruangan yang sekarang berada disamping mereka itu.


Lain halnya dengan Reza yang tidak bisa diam sedari tadi. Kadang ia duduk tetapi tidak beberapa lama ia akan bangkit dari tempat duduknya dan mondar mandir didepan pintu ruang operasi itu. Yah seperti itu lah keadaan Reza sekarang yang tidak pernah tenang sedikitpun bahkan hanya untuk duduk diam saja dia tidak bisa seperti ada api dibawah tempat duduknya itu yang akan membuatnya kepanasan jika duduk terlalu lama disitu.


10 menit...


20 menit...


30 menit...


1 jam...


Setelah beberapa waktu yang telah dilewati terlihat lampu indikator diruang operasi itu padam yang menandakan kalau operasi telah selesai. Reza yang menyadari jika lampu indikator itu padam, ia langsung bangun dan berlari kearah pintu ruangan itu.


(Suara keras pintu ruang operasi dibuka)


Terlihatlah Bobby dan perawat yang dari awal membantu membujuk Reza berdiri dihadapannya sekarang dengan sambil melepas masker yang sedari tadi ia gunakan.


Reza :


"Bagaimana keadaan istri dan ibu ku??" tanya Reza sambil menggoyangkan badan Bobby.


Bobby memegang kedua tangan Reza yang sedang bertengger dikedua buah bahunya itu.


Bobby :


"Tenang lah, istri dan ibumu selamat tidak terjadi apa apa kepada mereka berdua hanya saja.." perkataan Bobby terhenti sebentar.


Reza :


"Apa??? Hanya saja apa??. Kau jangan macam macam dengan ku, bukankah kau berjanji akan menyelamatkan mereka berdua lalu apa yang kau lakukan!!!!!" teriak Reza dihadapan wajah Bobby.


Hahhaaaaa terdengar tawa yang begitu keras keluar dari mulut Bobby yang terbuka. Reza menaikkan sebelah alisnya yang nampak bingung dengan ekspresi yang diperlihatkan temannya itu.


Reza :

__ADS_1


"Mengapa kau tertawa, apakah disini ada yang lucu???" tanya Reza yang masih menatap Bobby dengan bingung.


Bobby menghentikan tawanya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Reza temannya itu.


Bobby :


"Apakah kau sebegitu takutnya kehilangan mereka berdua hingga kau tidak bisa dibawa bercanda sedikit" jawab Bobby dengan wajah yang masih terulas senyuman.


Reza :


"Apakah wajah ku sekarang masih ada waktu untuk bercanda" tungkas Reza.


Bobby :


"Santai bro, istri dan ibumu baik baik saja hanya saja mereka sedang dalam keadaan yang belum sadar. Ibu dan istrimu belum sadar karena pengaruh obat bius sehabis operasi" jawab Bobby yang merasa tidak enak dengan perkataannya yang bisa saja membuat temannya itu sakit mendengarnya.


Akhirnya Reza sedikit dapat bernafas lega setelah mendengar penuturan dari sahabat sekaligus dokter tersebut.


Ibu dan Annisa dibawa keruangan rawat VVIP setelah selesai melakukan operasi tersebut.


Reza dan Bobby pun berjalan dibelakang mengikuti para perawat yang sedang memindahkan ibu dan istrinya itu keruangan pribadi namun Reza meminta agar ibu dan istrinya itu ditaruh dikamar yang sama saja agar lebih memudahkan Reza untuk mengawasi mereka.


Sekarang Reza bersama Citra sudah berada didalam ruangan yang begitu luas tempat Sarah dan Annisa istrinya menginap. Reza berjalan mendekati ibunya terlebih dahulu dan mencium tangan Sarah.


"Reza harap mamah mau berubah setelah ini, Reza selalu berharap yang terbaik untuk mamah meskipun Reza tau mamah tidak menyukai aku dan Annisa tetapi kami akan selalu menyayangi mu mah, cepat bangun ya mah" batin Reza berucap sambil tangannya yang masih memegang tangan Sarah dengan sesekali mengecupnya.


setelah itu Reza berjalan menuju ketempat sekarang istrinya yang berada disebelah Sarah. Reza masih berdiri disamping tempat tidur Annisa, mengamati wajah istrinya itu sebentar dan mengecup kening istrinya agak lama. Reza duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur istrinya dan menggenggam tangan sebelah kanan sang istri dengan menggunakan kedua tangannya.


Sesekali reza mengelus kepala sang istri, mengecup tangannya berulang kali tanpa ada rasa bosan sedikitpun.


"Sayang cepatlah bangun, baru satu jam lebih kamu tinggalkan aku sudah begitu merindukanmu"


Reza masih setia duduk dan menatap sang istri dengan tatapan yang memilukan, mata indah itu seakan enggan untuk terbuka, bibir manisnya sekarang terhalang oleh alat bantu untuk pernafasan.


"Aku tidak bisa membayangkan hari yang akan aku lalui nanti tanpa senyuman mu" batin Reza.


*******


Hai semuanya, semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya ya.


Jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote ya 🙏🙏🙏


Terima Kasih dan

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘


27 Februari 2020


__ADS_2