Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
UNDANGAN


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit setelah pengecekan dan mendapat kabar yang sangat menggembirakan sekaligus sangat membahagiakan dalam hidupnya, Reza masih seakan tidak percaya bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Keinginan yang selama ini ia harapkan akhirnya terkabul, keinginannya untuk mempunyai seorang anak.


Reza akan memberikan seluruh harta, waktu dan hidupnya untuk istri dan calon anaknya kelak, ia tidak akan membiarkan anaknya kekurangan apapun nanti apalagi kasih sayang orang tua. Dirinya masih ingat sewaktu kecil ia merasakan bagaimana rasa kesepian karena tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya karena sang ayah yang sibuk bekerja dan sang ibu yang sibuk dengan dunia luarnya. Dirinya berjanji tidak akan pernah membuat sang anak menderita barang sedikitpun.


Namun sebelum tiba dirumah, Annisa terlebih dahulu mengajak Reza untuk mampir sebentar ke supermarket karena ada sesuatu yang sedang ingin ia beli dan Reza akan dengan senang hati menuruti apa kata istri tercintanya itu sekaligus calon ibu dari anak anaknya yang tidak lama lagi akan lahir ke dunia ini.


Memasuki supermarket Annisa dengan refleksnya mengambil troli dan hendak mendorongnya namun hanya belum juga melangkahkan kaki, troli tersebut langsung diambil alih oleh Reza suaminya.


"Mas aja yang dorong, kamu ngga boleh capek" ucap Reza dengan mengambil alih dan mendorong troli tersebut.


Annisa hanya mengangguk dan menuruti apa kata suaminya dan lagi pula ia tidak memungkiri jika perkataan suaminya adalah benar dan untuk kebaikan dirinya juga terlebih tanggungan dirinya saat ini bertambah dengan kehadiran calon buah hati mereka.


Reza berjalan beriringan dengan sang istri sambil dirinya mendorong troli belajaan itu, Reza tiada henti memandangi wajah sang istri yang terlihat begitu serius mengamati berbagai macam Snack atau makanan ringan untuk cemilan.


"Ahh... Aku bingung ingin snack yang mana, semuanya kelihatan enak. Bodo amat, aku beli aja semua kan yang bayar bukan aku wkwk"


Batin Annisa.


Reza tercengang melihat sang istri yang membawa berbagai macam snack didalam pelukannya dan sepertinya itu semua masih kurang, terlihat Annisa kembali ketempat rak snack tersebut dan masih mengambil beberapa lagi.


Reza :


"Sayang, ini semua mau kamu beli, emang ngga kebanyakan?" tanya Reza sembari menatap wajah sang istri yang ia lihat seketika berubah menjadi murung hanya karena pertanyaannya barusan.


Annisa :


"Iya, kenapa? Mas ngga mau beliin Annisa gara gara Annisa ambilnya kebanyakan, mas keberatan" suara Annisa bergetar.


Dan benar saja, sedetik kemudian Annisa mulai menangis tanpa suara, ia menutup mulutnya agar tidak bersuara namun tubuhnya yang memberitahu dengan getaran yang begitu terasa.


Reza langsung saja membawa Annisa kedalam pelukannya dan mendekapnya erat, ia mengelus kepala sang istri yang masih saja menangis padahal dirinya cuman bertanya tidak menyinggung apapun sama sekali pikir Reza.


Reza baru teringat sesuatu.


"Astaga aku lupa pesan dokter tadi jika saat wanita hamil perasaannya begitu mudah berubah akibat hormon, pantas saja istriku langsung menangis hanya karena pertanyaan sepele tadi, betapa bodohnya kamu Reza"


Batin Reza.


Reza :


"Sayang, sudah ya jangan menangis lagi, mas ngga bisa lihat kamu sedih. Nanti kalo kamu sedih, baby kita ikut sedih juga dong. Kamu ngga mau kan baby nya ikut sedih juga" bujuk Reza dengan sentuhan lembutnya dikepala sang istri dan mencium puncak kepala Annisa berkali kali, tingkah laku mereka berdua tidak luput dari penglihatan pengunjung lain yang merasa iri terhadap keromantisan mereka.


Annisa tidak menjawab ucapan Reza, dirinya hanya mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami dengan wajah yang masih basah akibat air matanya tadi.


Reza mengelus pipi Annisa dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih setia bertengger dipinggang ramping Annisa.


Reza :


"Sayang, jangan pernah berpikir jika mas tidak akan menuruti kemauan dan keinginan kamu, jangankan hanya snack itu kalau supermarket ini kamu mau, maka sekarang juga akan mas beli untuk kamu sayang. Kalau kamu tidak percaya, akan mas buktikan sekarang" jelas Reza agar Annisa tidak akan marah lagi kepada dirinya.


Annisa :


"Ngga perlu mas, Annisa percaya kok sama mas" senyum manis memancar diwajah Annisa seakan melupakan jika dirinya tadi sempat menangis.


"Oh astaga, wajahnya berubah dengan cepat, baru saja tadi menangis dan sekarang dengan mudahnya kembali tersenyum seakan tidak terjadi apa apa tadi. Apakah semua wanita hamil seperti itu?"


Batin Reza.


Reza dibuat makin tidak percaya dengan perubahan sifat Annisa dikarenakan kehamilannya sungguh begitu menakjubkan menurut Reza.


Setelah selesai berkeliling dan memenuhi troli belanjaan dengan berbagai macam cemilan maupun minuman instan pilihan Annisa serta tidak lupa juga Reza mengambil susu hamil untuk sang istri dan kini mereka sedang berada ditempat antrian menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Sepanjang perjalanan pulang wajah Annisa terlihat sumringah seperti bahagia sekali hanya karena cemilan yang sedang ia makan sekarang, Reza pun sampai dibikin geleng geleng kepala melihat tingkah laku menggemaskan sang istri yang seperti anak kecil ketika memakan snack tersebut.


Hingga timbul suatu ide dikepala Reza..


Reza :


"Sayang, mas mau dong snack nya"


Annisa :


"Ngga, mas beli aja sendiri"

__ADS_1


Reza :


"Loh kok gitu, kan mas cuman minta sedikit, lagian snacknya kan masih banyak"


Annisa :


"Ngga mau, itu punya Annisa semua. Awas aja kalo mas berani ambil" ancam Annisa.


Reza yang diancam oleh sang istri bukannya takut malah tertawa. Reza menertawakan tingkah laku istrinya yang begitu lucu ketika makanan favoritnya akan diminta oleh orang lain.


***


Kediaman Pratama.


Pukul sebelas siang.


Annisa dan Reza telah sampai dirumah mereka, Reza mengangkat beberapa kantong plastik belanjaan mereka tadi dan Annisa pun menyusul kearah bagasi untuk membantu Reza mengangkat belanjaan tersebut.


Reza :


"Jangan sayang, mas aja yang bawa, kamu langsung masuk kerumah aja" mengelus kepala sang istri.


Annisa :


"Ngga papa lah mas kan ngga berat juga belanjaannya" sahut Annisa.


Reza :


"Ngga sayang pokoknya kamu ngga boleh ngangkat apapun, mas takut nanti terjadi apa apa sama kamu dan baby kita" bujuk Reza.


Akhirnya menyetujui.


Annisa :


"Yaudah deh Annisa kedalam aja tapi mas juga ikut bareng Annisa"


Reza :


"Iya, mas pasti ikut masuk tapi ngangkat ini dulu ya"


Annisa :


"Tinggalin aja disitu mas"


Reza :


"Iya deh nurut, ayo kita masuk" menggandeng tangan sang istri.


Reza heran lagi karena Annisa tidak menggerakkan sedikitpun kakinya untuk melangkah.


Reza :


"Ada apa sayang, tadi katanya mau masuk" tanya Reza heran.


Annisa :


"Mas, gendong" pinta Annisa dengan wajah so imut nya.


"Astaga istriku begitu menggemaskan semenjak hamil, kalo gini gimana bisa nolak"


Batin Reza.


Reza pun menggendong Annisa sesuai permintaan istrinya itu dan Annisa dengan cepat mengalungkan tangannya dileher sang suami.


Cup..


Annisa mencium pipi Reza.


Reza :


"Udah mulai berani ya nyium mas duluan" goda Reza.


Annisa membalas dengan senyuman manisnya membuat Reza malah makin menyukai hingga menciumnya.

__ADS_1


Reza mencium bibir Annisa begitu lembut hingga membuat Annisa terbuai dan mengikuti permainan Reza. Annisa semakin mengeratkan tangannya yang berada dileher Reza sedangkan Reza berjalan menuju kamar mereka tanpa melepaskan ciuman tersebut.


Reza membuka pintu kamar mereka dan menutup pintu tersebut menggunakan kakinya, Reza menurunkan Annisa dan merebahkannya perlahan dikasur mereka. Reza menatap Annisa terlebih dahulu dan meminta persetujuannya.


"Apakah mas boleh nengok baby kita sekarang??"


Annisa menganggukkan kepalanya dan seulas senyum mengiringinya.


"Iya mas, tapi pelan ya takut baby nya sakit nanti" pesan Annisa.


Tanpa menjawab, Reza langsung saja menimpa tubuh sang istri dan mulai melancarkan aksinya dengan ciuman panas terlebih dahulu. Tangan Reza sudah mulai aktif bermain dengan perlahan membuka satu per satu kancing baju Annisa dan melemparkannya, tubuh atas Annisa yang sudah polos langsung saja mendapat berbagai macam serangan kenikmatan dari Reza hingga mulutnya pun mengeluarkan suara desahan.


"Aaahhhh.. mass"


Annisa sangat menikmati permainan lembut Reza hingga dirinya terkulai lemas karena beberapa kali pelepasan namun berbeda dari sang suami yang masih aktif bermain diatas tubuhnya seperti tidak akan pernah puas saja, hingga beberapa jam dan beberapa ronde akhirnya Reza menuntaskan semua hasratnya ditubuh sang istri yang begitu membuatnya sangat nyaman dan ketagihan.


Reza pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua akibat pergulatan panas tadi, terlihat Annisa sudah tertidur pulas karena kelelahan. Reza menarik sang istri dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.


"Makasih sayang, mas akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan membahagiakan kamu dan calon anak kita, tetaplah berada mas"


Mencium kening Annisa beberapa kali hingga Reza pun ikut tidur bersamanya.


Ditempat lain..


"Apakah sudah kamu kirim ke alamat yang saya suruh tadi?"


"Iya sudah Bu, sesuai permintaan ibu tadi"


"Baiklah, sisa bayarannya akan saya kirimkan"


***


Sore hari.


Annisa terbangun lebih dulu dari sang suami yang ia lihat masih sangat lelap tertidur dengan posisi memeluk dirinya begitu erat, wajah tampan suaminya selalu menjadi pemandangan indah setiap kali Annisa membuka mata dari tidurnya.


Annisa pun beranjak dari tempat tidur begitu perlahan agar tidak membangunkan sang suami dan dengan cepat berlari kekamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket setelah banyak berkeringat gara gara pertempuran bersama suaminya tadi.


Setelah beberapa waktu dihabiskan untuk mandi ternyata perut Annisa meronta meminta untuk diisi dan segeralah dirinya melangkahkan kaki kelantai bawah menuju dapur, namun belum sampai dapur terlihat bi ati sedang berdiri diambang pintu.


Annisa :


"Ada apa bi??" Annisa bertanya kepada bi ati yang tengah berdiri didepannya.


Bi ati :


"Astaga non, ngagetin bibi aja" mengelus dada.


Annisa :


"Hehee.. maaf bi. Apa itu bi??" tanya Annisa dengan menunjuk sebuah amplop yang sedang bi ati pegang.


Bi ati pun menyerahkan amplop tersebut kepada Annisa.


Bi ati :


"Ngga tau non, katanya sih buat non jadinya bibi terima aja. Yaudah non, bibi tinggal kedapur ya" pamit bi ati.


Annisa pun hanya mengangguk.


Annisa penasaran dengan isi amplop tersebut, ia memandang aneh dan merasa tidak ada urusan dengan siapapun dan mengapa malah ia menerima kiriman sebuah amplop.


Annisa perlahan membukanya, ia pun segera mengerutkan keningnya setelah mengetahui dan membaca apa yang ada didalam amplop tersebut.


"Undangan reuni SMA??"


*******


Maaf untuk beberapa hari ini karena tidak update, semoga kalian masih setia menunggu dan menanti novel author.


Semoga suka ya sama kelanjutan ceritanya.


Jangan lupa selalu support author ya 😘😘

__ADS_1


13 April 2020.


__ADS_2