Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
RENCANA CITRA.


__ADS_3

"Citra akan tinggal disini mulai sekarang untuk menemani saya" kata Sarah kepada Annisa.


Jdarrrrrrrrrrr bagai petir disiang bolong...


*******


Annisa masih terdiam dengan wajah yang bingung seakan belum mengerti maksud dari perkataan sang mertua, perlahan ia mencerna perkataan tersebut dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ia akan serumah dengan citra, mantan kekasih suaminya.


Annisa pun memberanikan diri untuk bertanya kepada mertuanya, siapa tau dia salah mengartikan maksud perkataan mertuanya, siapa tau citra hanya bertamu sebentar saja kesini untuk temu kangen dengan Sarah. Ya begitulah apa yang ada dipikiran Annisa sekarang, dia ingin berpikiran positif dulu.


Annisa :


"Mah apa maksud dari perkataan mamah tadi, Annisa ngga ngerti??" Tanya Annisa kepada Sarah dengan wajah yang masih bingung penuh tanda tanya.


Sarah :


"Apa perlu saya ulangi sekali lagi agar kamu paham" jawab Sarah dengan nada yang agak meninggi


Annisa :


"Tidak bukan begitu mah, hanya saja Annisa masih belum mengerti" tanya Annisa lagi.


Sarah :


"Kamu itu bodoh atau apa sih, pokoknya yang perlu kamu mengerti dan ingat adalah mulai sekarang citra akan tinggal disini" jawab Sarah dengan emosi yang sudah mulai naik.


Annisa :


"Tapi mah....."


Sarah :


"Cukup!!!! Saya tidak menerima penolakan dan saya tidak suka dibantah" jawab Sarah dengan menggebrak meja dihadapannya.


Annisa hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa apa lagi karena ia takut jika ibu mertua nya akan lebih marah lagi kepadanya. Annisa tidak mau dianggap sebagai menantu yang tidak baik dan suka menentang mertuanya. Annisa hanya ingin ibu mertuanya itu menyukai dan menyayangi nya karena Annisa sungguh sangat merindukan sosok seorang ibu.


Disamping Sarah terlihat citra senyum penuh kemenangan melihat Annisa yang dibentak oleh mertuanya sendiri dihadapannya.


"Itulah balasannya jika kamu berani bermain main dengan ku Annisa dan jangan lupa ini baru permulaan, tunggu dan lihat saja nanti" batin citra dengan senyuman liciknya mengembang.


Sarah :


"Sudah cukup aku lapar, cepat kamu masak sana" perintah Sarah kepada Annisa


Annisa :


"Iya mah, itu bi ati juga lagi masak buat makan malam kita nanti" jawab Annisa memberi tahukan kepada sang mertua.


Sarah :


"Ngapain kamu bengong disini, sana kedapur bantuin pembantu kamu itu biar cepat selesainya" perintah Sarah lagi


Annisa:


"Iya mah" jawab Annisa dengan wajah yang tertunduk.


"Sabar Annisa, meskipun begitu dia tetap ibu mertua mu, ibu dari suamimu" batin Annisa berkata untuk menyemangati dirinya sendiri.


Annisa lalu berjalan menuju dapur dan menemui bi ati untuk membantunya mempersiapkan makan malam sesuai perintah ibu mertuanya tadi. Bi ati sebenarnya sempat mendengar perdebatan antara Annisa dan Sarah namun bi ati hanya bisa diam, setelah mendengar bahwa Sarah menyuruh Annisa untuk memasak, bi ati langsung kembali kedapur lagi untuk melanjutkan kegiatan memasaknya agar dia tidak ketahuan sedang menguping pembicaraan majikannya tadi.


Annisa melihat bi ati yang sedang memotong sayuran dan menghampirinya.


Annisa :


"Annisa bantu ya bi" kata Annisa sambil mengambil beberapa sayuran juga untuk potong.


Bi Ati :


"Ngga usah non, biar bibi aja yang ngerjainnya, non duduk aja disini nanti kalau udah selesai biar kita menyiapkan ke meja makannya bersama jadikan kalau dilihat non juga ngebantuin" jawab bi ati sambil tersenyum kepada Annisa.


Annisa :


"Bi, jangan bilang bibi denger pertengkaran kecil kami tadi ya?" tanya Annisa sambil melepaskan sayuran yang ia pegang tadi dan menatap fokus kewajah bi ati.


Bi Ati :


"Iya non, maaf ya bibi dengar pembicaraan non sama nyonya tadi" jawab bi ati dengan menundukkan wajahnya.


Annisa :


"Iya bi, ngga papa kok. Annisa ngga masukin ke hatimu juga perkataan mamah tadi"


Bi Ati :

__ADS_1


"Syukurlah non, yang sabar ya non mungkin nyonya belum mengenal non sepenuhnya aja"


Annisa :


"Iya bi, annisa ngerti kok lagian ini juga baru ketiga kalinya Annisa ketemu sama mamah, mungkin masih perlu waktu untuk saling mengenal" jawab Annisa yang akhirnya menampakkan senyuman manisnya.


Annisa dan bi ati pun melanjutkan kegiatan memasak mereka dengan Annisa yang membantu memotong sayuran dan bi ati yang bertugas membuat sup dan lainnya. Bukan karena Annisa tidak bisa memasak namun karena bi ati tidak mau majikannya itu mengerjakan masakan yang berat takut Annisa akan kecapean.


Karena bi ati sadar jika Annisa juga bekerja seharian yang pasti membuat majikannya itu lelah dan baru sampai dirumah sore hari, ia tidak tega membuat majikannya itu harus bekerja lagi dirumahnya sendiri.


*******


Setelah selesai membantu bi ati didapur untuk memasak, Annisa kembali kedalam kamarnya untuk mandi dan mengistirahatkan badannya sebentar. Tidak terlalu lama Annisa bergulat dengan kegiatan mandinya, Annisa merebahkan dirinya dikasur.


Kringgg...


(Suara telpon) hingga 3 kali.


Annisa meraih handphone nya dengan malas yang berada diatas lemari kecil disamping tempat tidurnya karena berbunyi sedari tadi. Annisa sebenarnya terlalu malas untuk hanya sekedar mengangkat tangannya karena Annisa terlalu lelah hari ini akibat pekerjaannya begitu banyak dikantor dan ketika sampai dirumah bukannya beristirahat namun malah mendapat kejadian tidak terduga seperti ini.


Annisa :


"Halo??" jawab Annisa langsung kepada si penelpon dengan meletakkan handphone nya ditelinga tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelponnya.


"Sayang???" kata suara dari seberang telpon tersebut


Annisa :


"Mas???" sahut Annisa yang langsung duduk seketika dari rebahannya ketika mendengar suara suaminya.


Reza :


"Lagi ngapain sayang?"


Annisa :


"Baru selesai mandi mas, ini lagi rebahan sebentar sambil menunggu waktu buat makan malam"


Reza :


"Kenapa ngga bilang kalau tadi mau mandi sayang, kan mas bisa ikut sekalian" goda Reza kepada Annisa.


Annisa :


Agak lama Annisa dan Reza bertelponan untuk saling melepas rindu padahal baru dua hari mereka tidak bertemu. Canda tawa kedua pasangan suami istri yang sedang bertelponan itu mengisi seluruh ruangan kamar mereka tanpa disadari ada sepasang telinga yang tengah mendengar pembicaraan mereka.


Raut wajah orang itu menjelaskan jika ia sedang marah karena mendengar kemesraan Annisa dan Reza dibalik pintu kamar tersebut.


"Tertawa lah sepuasnya sekarang annisa, karena akan aku jamin setelah ini hanya akan ada air mata yang mengiringi harimu" batin citra sambil menyinggungkan senyum liciknya dan berjalan berlalu meninggalkan kamar Annisa.


*******


Di Meja Makan


Selesai bertelponan Annisa langsung turun kebawah untuk membantu bi ati menyiapkan makan malam, tidak beberapa lama Sarah dan Citra pun sudah duduk dimeja makan yang telah tersiap beberapa macam makanan.


Setelah Sarah dan Citra duduk lalu Annisa juga ikut mendudukkan dirinya juga.


Sarah :


"Mana piringnya?" kata Sarah menghadap Annisa.


Annisa pun berdiri dan mengambilkan piring untuk Sarah lalu menaruhnya dihadapan Sarah. Lalu bergegas lagi kembali ketempat duduknya.


Citra :


"Tante piring aku mana?" tanya citra dengan nada bicara yang dibuat buat manis namun terkesan lebay ditelinga orang lain.


Sarah :


"Hei Annisa cepat ambilkan piring buat citra" perintah Sarah lagi.


Annisa pun bergegas kembali berdiri dari tempat duduknya untuk mengambilkan citra piring sesuai perintah Sarah.


Annisa :


"Ini piringnya" kata Annisa sambil meletakkan piring itu dihadapan Citra.


Annisa berlalu meninggalkan citra, baru beberapa langkah pergi terdengar suara benda yang pecah.


Praanggggggg.........


Ternyata bunyi itu berasal dari piring makan citra yang terjatuh.

__ADS_1


Citra :


"Maaf tante, citra ngga sengaja" kata citra dengan muka yang terlihat bersalah.


"Drama deh" batin Annisa yang melihat kepura-puraan di wajah citra.


Sarah :


"Iya sayang ngga papa" kata Sarah kepada Citra.


"Hei kamu cepat bersihin piring pecah itu sekarang, nanti kalau ke injak citra entar dia bisa luka" perintah Sarah kepada Annisa.


Annisa pun mau tidak mau menuruti lagi perintah ibu mertuanya dengan sabar sambil mengelus dadanya, bi ati datang menghampiri Annisa untuk membantu Annisa membersihkan pecahan piring tersebut.


Sarah :


"Hei kamu pembantu, kerjaan kamu didapur bukan disini, sana kembali. Dia bisa sendiri mengerjakannya" kata Sarah marah ketika melihat bi ati datang untuk membantu Annisa.


Bi Ati :


"Tapi nyonya...."


Sarah :


"Kamu berani membantah saya, kamu mau saya pecat" kata Sarah mengancam.


Annisa :


"Udah bi, bibi kedapur aja biar Annisa sendiri yang ngeberesinya, Annisa bisa kok" jawab Annisa.


Bi ati dengan berat hati meninggalkan Annisa yang sendirian membereskan pecahan piring tadi.


Melihat Annisa membereskan itu sendiri timbul sebuah rencana dikepala citra.


Citra :


"Ya udah mah, citra ngambil sendiri aja piringnya" kata citra kepada Sarah seraya berdiri meninggalkan tempat duduknya.


Citra berjalan perlahan menuju arah Annisa dan .....


"Aaaaaaaauuuuuuu...." jerit Annisa ketika salah satu kaki citra menginjak tangan Annisa yang sedang membereskan pecahan piring tadi.


"Aduh maaf aku ngga sengaja, kamu ngga papa kan" kata citra kepada Annisa lagi lagi dengan wajahnya yang pura pura bersalah.


Annisa tidak menjawab perkataan citra


bukan karena marah melainkan dia sedang meringis kesakitan karena sekarang tangannya tengah berlumuran darah dan ada beberapa serpihan beling menancap ditangannya.


Bi Ati :


"Non, non ngga papa kan?? teriak bi ati sambil berlari kecil kearah Annisa.


Annisa :


"Annisa ngga papa kok bi, cuman sedikit sakit aja" jawab Annisa kepada bi ati dengan memaksakan senyumanya.


Sarah :


"Aduh lebay banget sih kamu, sana cepat obatin saya ngga mau darah kamu sampai mengotori meja makan yang ada bikin nafsu makan saya hilang nanti" kata Sarah mengusir Annisa agar cepat pergi dari hadapannya.


Annisa pun berdiri dengan dibantu oleh bi Ati, Annisa perlahan berjalan pergi dari meja makan dan melewati citra yang sedang berdiri menatapnya dari tadi.


"Rasain Lo, makanya jangan berani macam macam sama gue, ingat ini baru awal dari penderitaan lo, selanjutnya akan lebih menyakitkan lagi" bisik citra kepada Annisa ketika Annisa melewati citra dan badan mereka sejajar.


Annisa yang mendengarkan ancaman dari Citra tadi tidak menghiraukannya sama sekali dan kembali melanjutkan jalannya yang dibantu bi Ati.


Sedangkan dibelakang Annisa, Citra dengan senyum kemenangannya merasa bangga rencana awalnya berhasil..


Bersambung.


Sebelumnya maaf jika ada typo dalam penulisannya dan semoga kalian suka ya sama kelanjutan ceritanya.


Terima kasih untuk kalian yang selalu support author, makasih banyak 😘😘😘


Jangan lupa ya Like, Komen, Favoritkan dan Vote author ya..


Semoga kalian ngga bosan sama ceritanya dan tunggu saja kejutan demi kejutan di tiap episodenya.


Terima kasih 🙏🙏🙏


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


09 Februari 2020

__ADS_1


__ADS_2