
Setelah menghabiskan waktu yang begitu melelahkan didalam mobil tadi, sekarang Annisa dan Reza kembali pulang kerumah. Setibanya dirumah mereka berdua disambut bi ati yang menanyakan kepada keduanya menu untuk makan malam nanti.
"Tidak perlu bi, kami sudah makan diluar tadi"
Sahut Annisa kepada bi ati sembari berlalu meninggalkan dan berjalan menuju kearah tangga untuk pergi kekamar mereka.
Sesampainya didalam kamar, Annisa membantu Reza melepaskan pakaian kerjanya dan menyuruh Reza untuk mandi terlebih dahulu.
Reza :
"Sayang, kita mandi bareng dan tidak ada penolakan" ajak Reza kepada Annisa.
Namun Reza sudah terlebih dahulu pergi kedalam kamar mandi meninggalkan Annisa yang bahkan belum menjawab ajakannya tadi.
"Eh tumben mas reza maksa kaya gitu, biasanya juga menunggu jawaban dulu dari aku apakah mau atau ngga, ini main nyelonong aja"
Batin Annisa yang melihat sikap keanehan sang suami lagi, Annisa memutar bola matanya sambil melangkahkan kakinya malas kearah kamar mandi karena mau tidak mau dia harus menuruti permintaan sang suami.
Annisa masuk kedalam kamar mandi dengan masih memakai pakaiannya yang lengkap, sedangkan Reza sudah terlebih dahulu berendam didalam bath up.
Reza melihat Annisa masih diam mematung ditempat tanpa berpikir untuk mendekatinya.
Mau tidak mau Reza berinisiatif sendiri dengan bangun dari bath up dengan tubuh polosnya dan berjalan kearah Annisa, sedangkan si orang yang dihampiri hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu melihat tubuh sang suami yang sangat sangat polos.
Reza tidak berbicara apa apa ketika Annisa sudah berada dihadapannya, sekarang yang dilakukan Reza adalah membantu Annisa membuka pakaiannya.
Annisa :
"Mas, Annisa bisa sendiri"
Reza :
"Aku yang akan membukanya, kamu hanya perlu diam dan menurut"
Lagi lagi Annisa dibuat diam oleh ucapan Reza yang menuntut tidak ingin menerima penolakan sedikitpun dari dirinya. Annisa hanya bisa pasrah saat baju yang ia pakai tadi satu persatu dilepas oleh Reza hingga hanya menyisakan dirinya yang polos tanpa apapun.
Reza menarik salah satu tangan Annisa dan menuntunnya untuk berjalan kearah bath up yang tadi sempat Reza tinggalkan. Reza masuk terlebih dahulu dan disusul Annisa. Sekarang posisi Reza yang duduk dibelakang Annisa membuat diri Reza dengan nyamannya memeluk tubuh sang istri yang berada didepannya.
Reza menaruh dagunya di bahu sang istri, sesekali mengecupnya lama dan meninggalkan bekas kemerahan disana.
Reza :
"Sayang, aku ingin punya anak" suara Reza lemah seperti kehilangan tenaga.
Annisa :
"Iya mas, Annisa juga pengen punya anak dari kamu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah senantiasa berdoa dan berusaha agar keinginan kita bisa terwujud secepatnya" sahut Annisa memberikan semangat kepada sang suami.
Reza :
"Aku mau punya anak satu saja" ucap Reza santai dan kembali mengecup leher Annisa.
Annisa :
"Loh kok cuman pengen satu aja mas, memangnya mas ngga mau punya banyak anak kaya orang lain" tanya Annisa keheranan dengan permintaan sang suami.
Reza :
"Ngga, aku ngga mau, satu saja sudah cukup. Melahirkan satu saja harus bertaruh nyawa" jawab Reza.
__ADS_1
Annisa terdiam sejenak.
Annisa :
"Itu memang sudah tugas seorang istri mas, aku harus rela bertaruh nyawa agar dapat melahirkan buah hati kita kedunia ini" Annisa menjelaskan kepada Reza agar suaminya itu tidak perlu khawatir.
Reza :
"Aku tidak ingin kehilangan kamu sayang dan keputusan aku sudah bulat yaitu hanya menginginkan satu orang anak saja" tekan Reza dengan kalimatnya.
Annisa hanya diam tanpa mau menyahut lagi ucapan sang suami, namun di sisi hatinya yang lain Annisa merasa bersyukur karena sang suami yang begitu mengerti akan resiko besar dalam melahirkan anak.
Bukan Annisa tidak mau mempunyai anak banyak namun karena permintaan sang suami, ia pun harus rela menyetujuinya. Dan sekaligus bahagia karena Reza sangat mengkhawatirkan dirinya takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Setelah lama berendam didalam bath up, Reza dan Annisa pun bergantian menggosokkan sabun ke badan mereka masing masing dengan sesekali tangan Reza yang bermain jahil ditubuh Annisa.
Akhirnya setelah memakan waktu lama, mandi mereka pun telah selesai setelah melewati berbagai macam drama dan kejahilan yang disebabkan oleh Reza yang suka mengganggu sang istri jika istrinya itu sudah selesai mandi.
***
Sinar matahari pagi mulai menyeruak memasuki kamar Annisa dan Reza melalui celah celah tirai mereka. Annisa meraba tempat tidur disampingnya dengan mata yang masih berat untuk dibuka namun sesuatu yang ia cari disana nihil, seseorang yang sedang ia cari tidak ada disebelah dirinya hingga suara dari dalam kamar mandi yang lumayan keras menyadarkan Annisa kalau sang suami yang tengah ia cari sedang berada didalam.
"Kok kaya suara orang muntah"
Batin Annisa.
Annisa pun beranjak cepat masuk kedalam kamar mandi dan benar saja apa yang dia pikirkan sebelumnya, sekarang ia sedang mendapati sang suami yang sedang muntah muntah namun tidak mengeluarkan apapun disana. Annisa mendekat dan memijat tengkuk suaminya itu yang masih setia berjongkok dicloset kamar mandinya.
"Mas, kamu ngga papa?" tanya Annisa yang masih memijat tengkuk suaminya itu.
Reza hanya menggelengkan kepalanya atas pertanyaan sang istri, ia tidak bisa membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang istri karena merasa jika dia membuka mulut, ia akan muntah muntah lagi seperti tadi.
Annisa :
"Kamu sakit ya mas, kita berobat ya setelah ini" ajak Annisa sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya.
Reza :
"Ngga sayang, kayanya mas cuman masuk angin aja gara gara kecapean kerja. Bentar lagi paling juga sembuh" Reza memegang tangan sang istri dan mengelusnya agar sang istri tidak khawatir terhadap dirinya.
Annisa :
"Tapi mas.." ucapan Annisa terpotong.
Reza menarik tangan Annisa membuat Annisa yang semula berdiri menjadi terduduk disamping dirinya.
Reza :
"Ngga papa kok sayang, mas baik baik aja, ngga usah kamu pikirin mendingan kamu siap2 kerja sana" mengelus kepala Annisa.
Annisa :
"Annisa mau disini aja nemenin mas, Annisa ngga usah kerja aja hari ini" ucap Annisa.
Reza :
"Kata kamu kerjaan kamu dikantor lagi numpuk masa iya kamu ngga kerja sayang, mas juga kerja hari ini cuman berangkatnya agak siangan" bujuk Reza.
Terlihat cemas karena wajah Reza yang kelihatan pucat.
__ADS_1
Annisa :
"Baiklah, Annisa akan tetap bekerja tapi dengan syarat mas harus istirahat aja dirumah sampai sembuh, kalo mas tetap berangkat kerja, awas aja" ancam Annisa dengan wajah yang dibuat buat serius.
Reza menatap geli melihat wajah sang istri.
Reza :
"Baiklah sayang, tapi mas ngga bisa ngantar kamu kerja ya" mengelus kepala Annisa dan berpindah kewajah dan pipi.
Annisa memakluminya karena Reza memang sedang sakit.
Saat Annisa telah selesai berpakaian lengkap ingin pergi bekerja, Reza kemudian bangkit dari tempat tidur berniat mengantarkan istrinya kedepan rumah namun sayang kepalanya sangat teramat pusing tak tertahankan hingga membuat dirinya hendak jatuh kelantai untung saja Annisa dengan sigap menangkap salah satu tangan Reza untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Annisa membawa Reza kembali ketempat tidur dan membaringkannya.
Annisa :
"Mas, Annisa ngga usah kerja aja ya, Annisa ngga bisa ninggalin mas disaat sakit kaya gini" ucap Annisa yang merasa bersalah.
Reza :
"Ngga sayang, mas ngga papa. Nanti mas bakal panggil dokter kesini buat memeriksa keadaan mas. Kamu jangan khawatir lagi ya" mengelus kepala Annisa.
Dengan berat hati Annisa menurut apa yang dikatakan suaminya untuk menyuruh dirinya agar tetap bekerja seperti biasa dan agar tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi sang suami.
Sepeninggal Annisa, Reza kembali masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya meskipun yang keluar hanya cairan bening saja karena pagi ini Reza belum menyentuh makanan sama sekali dikarenakan nafsu makan yang tidak ada.
Setelah selesai membersihkan mulut dan membasuh muka, Reza kembali ketempat tidurnya namun sebelum berbaring Reza terlebih dahulu menghubungi Angela dan Doni.
"Bawa semua berkas proyek kita kerumah ku, aku sekarang sedang tidak enak badan jadi kita akan bekerja dirumah saja" perintah Reza.
Diseberang telpon Angela dan Doni hanya mengiyakan dan bersiap bergegas melaksanakan perintah sang atasan. Saat hendak mematikan telpon, suara Reza kembali terdengar hingga membuat Angela dan Doni kembali menatap handphone Angela yang memang sudah Angela aktifkan pengeras suaranya.
"Jangan lupa sebelum kerumah ku, kalian belikan aku rujak buah terlebih dahulu" perintah Reza lagi.
Tuttt... Tuttt.
Sambungan telpon terputus.
Angela dan Doni saling menatap satu sama lain tanpa mengedipkan kedua mata mereka dengan wajah kebingungan dan bodohnya karena permintaan aneh atau bahkan bisa disebut sangat aneh untuk seukuran bos mereka.
*******
Semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya.
Author harap kalian semua selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan ketabahan karena mengingat sekarang kondisi negara kita yang sangat memperihatinkan.
Jaga kesehatan selalu dan jangan lupa kalau tidak berkepentingan jangan keluar rumah, mending dirumah aja ya. Dan buat keluarga kalian yang memang harus keluar untuk bekerja, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin ya Allah.
Jangan lupa Like dan vote nya ya, dukung author terus.
Komen yang banyak 😁😁
Dukung author terus.
Terima kasih.
03 April 2020
__ADS_1