
Hari kian berlalu begitu cepat hingga saat ini kehamilan Annisa hanya tinggal menghitung hari sebelum melahirkan. Menurut HPL (Hari Perkiraan Lahir) bahwa Annisa akan melahirkan anak mereka sekitar 2 minggu lagi.
Hal itu pun lantas disambut baik oleh kedua pasangan suami istri yang memang sangat menantikan kehadiran buah hati mereka kedunia ini.
Pagi ini seperti biasa Annisa buka dengan kewajiban dirinya sebagai seorang istri yang pada hakikatnya adalah mengurus suami. Meskipun dengan keadaan yang hamil besar seperti sekarang, Annisa tetap menjalankan kewajibannya itu meskipun sang suami yaitu Reza sangat menentang keras dikala melihat sang istri yang seperti tengah bekerja keras untuk menyiapkan keperluannya.
Seperti sekarang Annisa tengah disibukkan dengan mondar mandir didalam kamar tidur mereka untuk menyiapkan segala keperluan sang suami dalam bekerja.
Tidak seberapa lama sepertinya sang suami tercinta Annisa sudah keluar dari kamar mandi dikarenakan Annisa yang mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali setelah itu. Namun Annisa tidak menoleh ke sumber suara tadi karena dirinya masih bingung menentukan dasi mana yang cocok untuk setelan kerja suaminya.
Dengan mudahnya Reza memeluk Annisa dari belakang dan menopangkan dagunya diatas bahu sang istri.
"Sayang, kan udah mas bilang kalau mas bisa sendiri" ucap Reza namun tidak ditanggapi oleh sang istri.
Kedua tangan Annisa terlihat sedari tadi menimbang-nimbang dikarenakan kebingungan menentukan pilihan atas dasi yang tengah ia pegang.
"Mas, kira-kira bagusan yang mana??" tanya Annisa dengan menolehkan kepalanya kearah sang suami yang wajahnya berada dibahu kanan Annisa.
Cup. Bukannya menjawab Reza malah mengecup bibir Annisa dengan cepat yang benar saja membuat sang istri cemberut.
"iihhss mas, aku kan nanya bukannya minta cium" ucap Annisa lagi dengan bibir yang ia majukan beberapa senti membuat sang lelaki yang sedari tadi memeluknya semakin tergoda.
Reza tertawa kecil melihat perilaku sang istri yang masih saja sangat menggemaskan hingga sekarang. "Bibirnya ngga usah dimajuin kaya gitu, bikin mas tergoda pagi-pagi tau ngga" canda Reza.
Astaga suaminya ini masih saja bisa membuatnya malu.
Reza tersenyum kearah Annisa namun dengan kepala yang ia sandarkan dibahu sang istri. "Yang mana aja bagus sayang, kamu kan tau suami kamu ini tampan jadi kalau pakai apa saja tetap tampan" ucap Reza.
Reza begitu bangga dengan ketampanan yang ia miliki hingga membuatnya begitu percaya diri dengan memuji dirinya sendiri.
Annisa hanya dapat menggelengkan kepala atas sikap pede dari sang suami dan bergegas pergi meninggalkan kamar mereka setelah selesai menyiapkan keperluan Reza. Dan juga ia memang harus cepat pergi dari sana sebelum suaminya itu berubah pikiran seperti sebelum-sebelumnya yang akan memakan dirinya dipagi hari dengan alasan untuk mempermudah dirinya melahirkan nanti.
Sungguh alasan yang sangat hebat.
* * *
Saat ini keduanya tengah disibukkan dengan menyuap nasi ke mulut masing-masing, namun dalam penglihatan Reza sepertinya istrinya itu sedang tidak bernafsu dengan makanan yang tengah berada didepannya.
"Sayang, makannya kok sedikit, ayo makan lagi" Reza bertanya kepada Annisa.
Annisa menggeleng. "Annisa udah ngga nafsu makan mas" Annisa pun mendorong piring makannya lebih menjauh dari hadapannya.
Melihat sang istri yang tidak mempunyai selera makan pun dengan inisiatif Reza bangun dari tempat duduknya untuk menghampiri sang istri yang tengah menyandarkan punggungnya dikursi makan dengan kedua tangan yang ia lipat didepan dadanya.
Reza berdiri disamping Annisa dan mengelus pelan puncak kepala sang istri, tidak lupa juga ia memberikan beberapa kecupan disana.
"Hei sayang, kok gitu sih. Memangnya kamu ngga kasihan sama anak kita, masa nanti dia juga ikut lapar gara-gara mama nya yang ngga makan" Reza berbicara dengan pelan dan lembut agar istrinya itu tidak salah menanggapi dengan nasihat yang sedang ia berikan.
Nasihat sang suami bagaikan sihir dimata Annisa hingga dirinya tidak bisa mengelak.
* * *
Siang hari..
Suara ketukan dari arah pintu utama rumah keluarga Pratama berbunyi hingga membuat Annisa yang sedang bersantai diruang tamu sambil menonton tv dengan keadaan perut yang membesar pun mengharuskan dirinya untuk bangun dan membuka pintu tersebut.
Entah siapa yang siang hari begini bertamu pikir Annisa.
"Sebentar.." teriak Annisa yang masih berjalan menuju arah pintu.
Annisa tidak ingin meminta bantuan kepada para pekerja rumah untuk hanya membuka pintu rumah mereka.
Pintu terbuka..
"Nyari siapa??" tanya Annisa yang baru saja membuka pintu rumah mereka tanpa melihat terlebih dahulu dengan siapa yang datang bertamu.
"Nyari menantu mamah yang cantik" ucap seseorang.
"Ma..mahhh??!!" teriak Annisa dengan tanpa sadar langsung memeluk sang ibu mertua.
Memeluk erat sang ibu mertua tanpa mengingat bagaimana jalinan hubungan mereka dahulu, yang Annisa pikirkan sekarang hanyalah dirinya yang sedang sangat dan sangat merindukan sosok ibu mertuanya itu.
Meski bagaimanapun dia tetaplah ibu dari suaminya dan juga otomatis ia lah nenek dari calon anak yang sedang Annisa kandungan sekarang.
"Mamah, Annisa kangen banget.." ucap Annisa.
dirinya kembali memeluk sang mertua dengan sangat erat dan tidak lupa ia juga dapat merasakan dari pelukan yang ia berikan.
Elusan lembut yang ia rasakan dibagian kepalanya membuat Annisa semakin betah berlama-lama memeluk sang mertua.
"Iya, mamah juga kangen banget sama kalian. Mamah udah ngga betah lama-lama diluar negeri" sahut sang mertua.
Annisa kemudian melepas pelukan diantara mereka dan membawa sang mertua masuk kedalam rumah mereka.
Annisa mengandeng tangan sang mertua. "Ayo mah masuk" ajak Annisa.
Ibunda Reza itupun tersenyum dan sedetik kemudian menganggukkan kepalanya yang seketika saja membuat wajah Annisa dihiasi senyuman kebahagiaan.
__ADS_1
Ohh ini lah yang Annisa tunggu-tunggu selama ini, sang ibu mertua mau menerima dirinya seutuhnya menjadi menantu dikeluarga Pratama.
* * *
Kini Annisa dan sang ibu mertua sedang berada didapur untuk menyiapkan makan malam, sejak sore mereka sudah bergelut disana.
Dengan perut yang sangat besar tidak menghalangi Annisa untuk ikut membantu sang ibu mertua meskipun sudah mendapat larangan semenjak tadi namun Annisa tetap akan pendiriannya untuk ikut memasak.
Ibu hamil dilawan, ya ngga bakal menang lah..
Seperti halnya saat ini.
"Sudah sayang, kamu duduk aja biar mamah yang nyiapin semuanya, toh mamah juga dibantu sama Bi Ati" ucap Sarah kepada Annisa yang masih ngeyel sedari tadi.
Annisa menggelengkan kepalanya. "Engga mah, Annisa mau masak sama mamah. Lagian ini pertama kalinya kita memasak bersama jadi Annisa ngga keberatan kok" jawab Annisa.
"Tapi mamah yang keberatan sayang, kamu itu udah mau ngelahirin mendingan perbanyak istirahat aja sana" usir sang mertua.
"Tapi ini bukan keinginan Annisa mah, ini keinginan calon cucu mamah sendiri" ucap Annisa dengan wajah yang memelas dan dibuat seimut mungkin.
Tuh kan, kalo gini siapa yang bisa tahan coba ngeliat wajah menantu yang imut apalagi ditambah alasan keinginan dari calon cucu.
Mamah mertua nyerah deh.
"Baiklah, mamah nyerah deh. Tapi kamu jangan kecapean ya nanti mamah lagi yang kena marah sama Reza" nasihat Sarah.
Annisa mengangguk antusias.
"Oke mah" sahut Annisa.
Dengan berjalannya waktu yang semakin cepat begitu pula dengan berbagai macam makanan yang telah mereka masak kini telah terhidang rapi diatas meja makan mereka dan tak terlupa juga bantuan bibi Ati yang ikut membantu menantu dan mertua tadi memasak.
Sentuhan terakhir ialah Sarah yang terlihat menata piring makan di setiap kursi yang akan mereka tempati untuk makan nanti, namun ada yang aneh. Mengapa Sarah selaku ibu mertuanya malah menyiapkan empat buah piring makan diatas meja, bukannya yang makan nanti hanya mereka bertiga.
Apakah bibi ati juga ikut makan bersama mereka nanti??
Masa iya sih??
Ah bodo amat lah, yang terpenting sekarang Annisa bahagia dengan kehadiran mertuanya saat ini.
Namun bukan Annisa namanya jika dirinya tidak penasaran akan sesuatu hal.
"Mah, ini kenapa piringnya empat, bukannya yang makan malam nanti cuman kita sama mas Reza ya??" tanya Annisa yang penasaran.
"Ah itu, nanti juga kamu bakal tau sayang. Mending sekarang kamu mandi gih sana, bentar lagi Reza pulang" ucap Sarah.
"Baiklah mah, Annisa mandi dulu ya" sahut Annisa sembari berjalan meninggalkan ruang makan rumah mereka.
Annisa berbalik.
"Oh iya, mamah juga mandi sana. Bau tau" ucap Annisa dengan nada yang mengejek.
"Kamu ya, udah berani sama mamah" teriak Sarah kepada Annisa yang sudah berjalan cepat meninggalkan dirinya.
Sarah tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Anak itu sungguh menggemaskan. Kenapa aku dulu malah tidak mau menerima dirinya menjadi menantu dikeluarga ini padahal dirinya begitu baik sampai mau bertaruh nyawa untuk ibu mertua yang begitu bodoh seperti diriku ini. Maafkan mamah nak, kedepannya mamah akan baik dan selalu menjaga kamu dan keluarga kita"
* * *
Malam hari..
Waktunya Reza untuk pulang dari bekerja, dirinya berusaha secepat mungkin untuk kembali kerumah setelah mendapat kabar dari sang istri tercinta kalau ibunya telah kembali pulang.
Reza juga merindukan sosok ibunya tersebut terlepas dari bagaimana masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka dulu, tidak membuat Reza lantas membenci dan tidak mengakui wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya itu.
Setelah mematikan mesin mobil dan memastikan kalau mobil telah berhenti tepat dipekarangan rumah mereka, Reza dengan tergesa-gesa berlari kearah pintu rumah agar dapat dengan segera bertemu dengan sang ibunda.
Sungguh, Reza sangat merindukan pelukan dari ibunya tersebut.
Reza memegang handle pintu dan membukanya, terlihat suasana tepi yang menyelimuti rumah mereka seperti tidak ada kehidupan disana atau hanya perasaannya saja.
"Aku pulang" teriak Reza.
Tidak ada sahutan...
"Sayang, mas pulang" teriakan kedua kali Reza.
Masih tidak ada sahutan...
"Sayang, sayang. Kamu dimana??" teriak Reza ketiga kalinya.
Tidak seberapa lama Annisa terlihat berjalan cepat menghampiri sang suami dan mengambil tangannya untuk ia cium.
"Eh mas udah pulang, tumben kok cepat pulangnya, baru juga jam 7" tanya Annisa.
Sebenarnya dirinya tau mengapa suaminya tersebut pulang cepat hanya saja ia ingin mendengar langsung jawaban dari mulut suaminya itu.
Sungguh, Annisa hanya basa basi ingin mengerjai sang suami.
__ADS_1
"Udah ngga ada kerjaan, makanya mas pulang cepat. Lagi pula kamu juga bilang mau makan malam bareng mas kan, jadinya mas usahain pulang cepat buat kamu" jawab Reza.
Dasar suaminya itu pintar sekali mencari alasan.
Annisa mengangguk. "Oh gitu, yaudah ayo ke ruang makan, mamah udah nungguin mas dari tadi" ucap Annisa.
Reza hanya dengan ekspresi datarnya menanggapi ucapan sang istri tadi, ia tidak ingin menunjukkan sikap lemahnya kepada Annisa. Cukup hanya dia yang mengetahui kalau sekarang dirinya sangat luar biasa senang atas kepulangan ibunya setelah lumayan lama berpisah.
Sampai diruang makan terlihat punggung wanita yang tentunya itu pasti ibunya Reza tengah membelakangi mereka.
Annisa berjalan mendekati sang mertua sedangkan Reza diam saja ditempat yang menyisakan jarak beberapa langkah dari sang ibunda.
"Mah, mas Reza udah pulang" ucap Annisa.
Sarah tidak tau apa yang harus ia ucapkan ketika berhadapan dengan anaknya yang sudah ia tinggalkan beberapa bulan yang lalu ketika masalah sedang menerpa keluarga mereka.
Ia pasrah dengan apapun yang akan anaknya ucapkan nantinya, meskipun ia harus diusir kembali dari rumah ini, ia akan ikhlas menerimanya.
Sarah membalikkan badannya dengan perlahan hingga tepat badannya sudah berputar 180 derajat dan menghadap sang anak yaitu Reza.
Tatapan mereka bertemu dengan suatu maksud yang dalam, entah apa hanya mereka berdua saja yang mengerti maksud tatapan itu tapi yang jelas Annisa dapat merasakan tersirat sebuah kesedihan dan penyesalan yang mendalam dibalik tatapan tersebut.
"Em kamu sudah pulang ??" tanya Sarah basa basi, kedua tangannya saling memeras karena kegugupan yang sedang ia rasakan saat ini.
"Hemm" jawaban singkat Reza tanpa mengubah ekspresi wajah datarnya.
Sarah mengangguk kikuk atas jawaban yang dilontarkan sang anak.
"Baguslah kalau begitu, lebih baik sekarang kamu mandi dulu baru turun lagi untuk kita makan malam bersama" sahut Sarah.
Bukannya pergi untuk mandi, Reza malah hanya diam ditempat tanpa menggerakkan badannya sedikitpun.
Hening sejenak, bahkan Annisa pun tidak berani untuk ikut dalam pembicaraan kedua orang tua dan anak tersebut.
"Apakah.." Reza menjeda kalimatnya. "Ibu tidak merindukan ku??" tanya Reza.
Oh ayolah, mata Reza seperti tergenangi sebuah cairan bening, sungguh dia tidak dapat lagi menahan tangisnya.
Katakan lah dia laki-laki yang cengeng dihadapan ibunya sendiri.
Tanpa perlu menjawab ataupun bersuara lagi, dengan langkah pasti Sarah mendekat kearah Reza dan membawa anak kesayangannya itu kedalam pelukannya. Pelukan yang sering ia berikan dulu ketika anaknya itu masih kecil.
Jatuh sudah, air mata ataupun harga dirinya sebagai laki-laki karena sebuah air mata, namun Reza tidak menyesalinya.
Reza memeluk erat sang ibunda tanpa berbicara sedikitpun, ia membenamkan wajahnya di antara perpotongan bahu dan leher Sarah seperti anak kecil. Bahkan Annisa yang berdiri diam sejak tadi pun ikut meneteskan air matanya namun sesegera mungkin ia hapus.
"Ibu juga sangat merindukan mu nak, sangat. Maafkan ibu yang terlalu egois terhadap dirimu selama ini, maafkan ibu" ucap Sarah disela pelukan mereka.
Reza menggelengkan pelan kepalanya. "Tidak bu, bukan salah ibu. Reza lah yang selama ini tidak mengerti akan perasaan ibu. Reza mohon maafkan Reza dan mari kita kembali hidup bersama seperti dulu lagi. Reza tidak ingin ibu pergi lagi dari rumah ini" sahut Reza dengan permohonannya.
Sarah menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sedih dan air mata yang masih terlihat masih sesekali mengalir.
Reza dan Sarah merenggangkan pelukan diantara mereka namun kedua tangan mereka masih saling menautkan, senyuman mengembangkan diwajah keduanya terlihat sekali kebahagiaan menyelimuti wajah mereka.
"Reza sayang ibu" ucap Reza dengan senyumannya.
"Ibu juga sayang Reza" sahut Sarah.
Mereka hendak berpelukan lagi namun Annisa malah menghentikan pelukan mereka membuat kedua orang tua dan anak itu spontan menoleh kearah samping dimana Annisa berdiri.
"Jadi kalian ngga sayang Annisa nih, cuman saling sayang berdua aja" ucap Annisa. Wajahnya ia buat secemberut mungkin dengan bibir yang ia majukan sedikit.
Sontak saja Reza dan Sarah tertawa melihat kelakuan Annisa.
Reza dan Sarah saling pandang sebelum melontarkan sebuah kalimat.
"Kami juga sayang kamu" ucap Reza dan Sarah bersamaan dengan selingan tawa mereka.
Annisa langsung saja tersenyum dan memeluk suami dan mertuanya itu. "Annisa juga sayang banget sama kalian, sayang banget" ucap Annisa didalam pelukan mereka.
Sungguh sebuah keluarga yang Annisa impikan sedari dulu.
* * * * * * *
Haiiiii...
Author balik lagi, terima kasih author ucapkan untuk para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita novel ini.
Selamat membaca dan semoga suka sama kelanjutan ceritanya.
Kritik dan saran silahkan tinggalkan dikolom komentar, tapi kritiknya jangan malah menjatuhkan author ya 😁😁
(Jika diantara kalian ada yang ingin ditanyakan secara pribadi kepada author mengenai novel ini dapat meninggalkan pesan digrub atau follow aja ig author Muniy7, dm aja nanti pasti author balas.
Soalnya kalau digrub author bisa ngga ada waktu buat ngebalas, sedangkan author lebih sering aktif di ig hehee 😁😁)
Terimakasih sekali lagi buat kalian para readers 😘😘😘🤗🤗🤗
__ADS_1