
Ditempat lain...
Beberapa bulan ini Dian menghabiskan waktunya sendiri ditemani kesepian melanda dirumah yang selama ini sudah ia huni dan istri semenjak mereka menikah. Rumah yang ukurannya tidak terlalu megah dan besar terkesan sederhana namun sangat berkelas dapat dilihat dari cara penempatan setiap sudut ruangan dengan barang barang yang sangat pas dan cocok.
Mengapa Dian sendiri ??
Karena beberapa bulan yang lalu dirinya telah mengusir sang istri dari rumahnya. Hal itu terjadi dikarenakan mereka terlibat pertengkaran yang cukup hebat hingga membuat seorang Dian dapat mengusir istrinya sendiri.
Hal itu tidak lantas semata mata Dian lakukan tanpa suatu alasan. Yaa sebuah alasan, sesuatu yang mendasari seseorang untuk bertindak dan berbuat hingga terciptalah sebuah kejadian.
Flashback On.
Beberapa bulan yang lalu...
" Indah... indah ... "
Teriakan Dian begitu menggelegar di setiap sudut ruangan membuat siapa saja yang berada didalam rumah tersebut mendengarnya menjadi ketakutan. Padahal jika dilihat sekarang dirinya baru pulang dari tempatnya bekerja karena melihat pakaian dan tas kerjanya saja masih berada ditempat yang semestinya.
Terlihat pintu sebuah kamar terbuka yang tidak seberapa lama menampilkan sosok perempuan yang sedang Dian cari sedari tadi.
Indah keluar dengan memakai pakaian rumahnya, terlihat wajahnya yang biasa saja padahal raut wajah suami didepannya ini sudah berubah mengerikan seperti tengah menahan amarah yang sebentar lagi bakal diledakkan.
" Ada apa sih kamu pakai teriak segala, aku ngga tuli ya perlu kamu tau " indah menjawab panggilan suaminya tadi dengan volume yang lumayan keras juga.
Sekarang posisi mereka berhadapan satu sama lain.
" Apa maksud kamu dengan melakukan semua ini ?? "
Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut Dian setelah beberapa saat tadi mereka berdua saling melemparkan pandangan didalam diam.
" Melakukan apa? kamu bicara yang jelas dong " indah tidak mengerti sama sekali maksud dari ucapan suaminya tersebut atau memang berpura pura tidak mengerti makna yang terkandung didalamnya.
" Lihat ini !!!"
Dian melemparkan beberapa lembar foto kehadapan wajah sang istri namun tidak mengenainya.
Kening indah berkerut tanda tidak tahu apa yang barusan dilempar oleh suaminya. Bukannya tidak tahu, indah tau jika yang barusan suaminya itu lemparkan adalah beberapa lembaran foto namun indah belum tahu foto apa yang ada disana.
Indah pun berjongkok untuk memunguti beberapa lembar foto tadi yang berserakan akibat lemparan sang suami.
Degg...
Disitu jantung indah seakan berdetak begitu cepat, tidak menyangka dengan apa yang suaminya temukan itu. Raut wajahnya pun ikut berubah menjadi cemas karena takut akan ketahuan semua perbuatannya dibelakang sang suami.
" Apa maksud dari foto ini, aku ngga ngerti " indah memulai drama nya sekarang dengan langkah pertama yang ia ambil yaitu berpura pura tidak mengerti akan keadaan sekarang. Indah berusaha sesantai mungkin menanggapinya.
" Kamu tidak mengerti atau berpura pura tidak mengerti!!! Apakah harus aku jelaskan maksud dari foto itu, atau apakah juga perlu aku memutar rekaman percakapan kalian berdua saat direstoran tadi "
Nada suara Dian mulai terkendali namun tidak dengan kata katanya yang seperti sudah siap untuk melahap mangsanya. Ancaman kembali diberikan oleh Dian apabila istrinya itu tidak mau mengakuinya sendiri.
Degg.. Degg..
__ADS_1
Jantung indah seperti akan terlepas dari tempatnya dan siap berlabuh didalam perutnya. Nafas didalam ruangan tersebut serasa habis sudah ia hirup sedari tadi untuk mengusir segala kegugupannya.
Sekarang yang harus indah pikirkan adalah cara menyelamatkan dirinya meskipun tidak tau apakah kedepannya langkahnya akan membawa dirinya selamat. Indah berdiri diantara dua pilihan, yakni mengakui segalanya dan berusaha jujur dengan menceritakan segala hal yang berkaitan didalamnya atau memilih langkah yang sedari awal ia ambil yaitu masih dalam mode berpura pura tidak mengerti dan biasa saja dengan apa yang sedang terjadi kepada dirinya saat ini.
" Apaan sih kamu, memang apa salahnya aku bertemu dengan teman lama ku dan berbincang-bincang dengannya. Ini aku sedang bertemu dengan teman lama ku bukan sedang berselingkuh, kenapa kamu sebegitu marahnya. Memangnya apa salah dari perbuatan aku ini !!! "
Volume suara indah naik beberapa oktaf dengan berbicara sambil berteriak untuk mengungkapkan isi hatinya sekarang atau bisa dikatakan isi pikirannya untuk bisa keluar dari situasi sekarang.
Disini indah sudah memilih langkah yang akan diambilnya yaitu masih meneruskan langkah awal untuk berpura pura masih tidak mengerti, diapun menaikkan suaranya seperti kedengaran marah akibat dituduh yang bukan bukan. Itu semata mata hanya untuk pengalihan agar sang suami melemah dan mengalah kepada dirinya yang sudah mulai tidak terkendali dengan amarahnya.
Namun cara indah dengan mengeluarkan amarahnya tadi sepertinya percuma saja karena dapat terlihat dari raut wajah Dian yang sama sekali tidak menunjukkan pengenduran sikap sedikitpun atas apa yang sudah istrinya tadi lakukan.
Sekarang indah takut, takut akan apa yang siap terjadi kedepannya kepada dirinya. Dia bahkan sudah tidak bisa berpikir lagi dikarenakan tubuhnya yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Seluruh tubuhnya bergetar karena takut akan kemarahan sang suami yang sangat jarang ia lihat selama pernikahan mereka. Mulut indah Kelu seakan tidak ada tenaga untuk menggerakkannya agar bisa berbicara.
" Cukup indah!!! Apa yang akan kamu dapat dengan melakukan semua ini. Apakah kamu ingin menghancurkan rumah tangga Annisa dan membuatnya menderita.
Apakah kamu tidak punya hati hingga tidak bisa melihat kalau Annisa bahagia, apakah kamu iri dengan apa yang Annisa miliki sekarang !!! "
Sekarang suara Dian makin memenuhi ruangan ini, indah dibuat tidak berdaya dengan lontaran ucapan demi ucapan yang Dian berikan.
Indah masih saja diam seribu bahasa, dirinya tidak tau lagi harus berkata apa.
" Apakah kamu iri karena Annisa sekarang telah memiliki seorang suami yang sukses dan kaya sehingga membuat kamu tidak suka kepadanya, ingatlah kamu dulu juga sudah membuat Annisa sakit hati. Apakah kamu tidak sadar ??? "
Lagi dan lagi pernyataan menohok hati diberikan oleh Dian.
Bibir indah sedikit terangkat seperti ingin mengucapkan sesuatu, mungkin sekarang dirinya sudah mulai mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan dari sang suami sedari tadi.
Dian terdiam mendengar keluhan sang istri.
" Apa kamu tidak bercermin dengan dirimu sendiri mengapa aku jadi seperti ini, apa kamu sadar jika aku malu. Malu mempunyai suami seperti mu yang tidak dapat dibandingkan sedikitpun dengan suami Annisa. Aku malu.. malu.. mau ditaruh dimana muka aku jika berhadapan dengan Annisa "
Akhirnya semua yang indah pendam selama ini keluar sudah, dirinya mengungkapkan sendiri alasan mengapa dia melakukan semua itu. Semua tindakan yang dapat dikatakan tidak terpuji dan memalukan.
" Jadi kamu malu selama ini punya suami seperti aku, kamu malu. Aku tidak menyangka dengan apa yang kamu katakan barusan, sungguh aku tidak percaya telah mempunyai seorang istri yang sangat malu dengan suaminya sendiri. Baik, kalau begitu mungkin ini keputusan yang tepat untuk kita berdua. Silahkan kamu pergi dari rumah ini sekarang juga, karena rumah kecil dan kumuh ini tidak akan sanggup untuk menampung seorang ratu seperti mu, apalagi dengan adanya seorang suami yang sangat tidak becus ini sehingga membuat malu istrinya sendiri. Pergilah, pergi sekarang, aku akan mengirimkan surat cerai kepada mu nanti "
Duaarrrr
Indah merasa tidak percaya dengan apa yang barusan suaminya katakan. Cerai ???
Suatu kata yang sangat tidak mungkin untuk diucapkan sang suami melihat dari bagaimana dirinya bersikap selama ini.
Tidak mungkin, tidak akan mungkin suaminya itu meminta cerai darinya. Begitu pikir indah.
Dian pun berbalik berjalan meninggalkan indah yang masih berdiri mematung ditempatnya dengan pikiran yang entah pergi kemana.
Beberapa langkah Dian sudah meninggalkan indah, entah seperti mendapat keajaibannya dari mana, indah pun langsung mendapatkan kesadarannya kembali dan segera mengejar suaminya itu.
Tidak bisa. ini tidak bisa diteruskan, perceraian ini tidak boleh terjadi. Mungkin seperti itu lah pikiran indah sebelum melangkahkan kaki untuk mengejar sang suami.
" Tunggu sayang, aku mohon tunggu. Aku tidak ada maksud berbicara seperti itu, tadi aku hanya sedang terbawa suasana saja. Aku tidak bersungguh-sungguh, sumpah "
__ADS_1
Indah memohon dengan memegang salah satu tangan Dian untuk menghentikan kaki suaminya itu melangkah.
Dian tidak berbicara ataupun menoleh kearah indah, pandangannya masih tetap lurus kedepan. Dan hal yang tidak terduga didalam benak indah terjadi lagi. Suaminya itu menepis tangannya secara paksa agar terlepas dari tangan suaminya.
Indah terlempar kelantai, tubuhnya ambruk. Entah karena tepisan tangan dari Dian atau karena dirinya sudah tidak kuasa menahan beban tubuhnya lagi.
" Cukup indah, aku sudah tidak tahan dengan segala perilaku mu, selama ini aku berusaha bersabar dengan berpikir kamu akan merubah sifatmu dengan sendirinya. Tapi apa, yang terjadi adalah perbuatan mu semakin melanggar batas. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Perceraian "
Beberapa langkah Dian meninggalkan indah yang masih duduk dilantai, lalu langkahnya terhenti namun tidak membalikkan badannya sedikitpun untuk menatap indah istrinya.
" Aku katakan sekali lagi. Pulanglah kerumah orang tua mu, tunggu disana. Nanti akan aku kirimkan surat perceraian kita "
Akhirnya setelah mengatakan itu Dian kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah mereka, Dian ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya. Dia pun sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan istrinya itu lakukan.
Flashback Off.
* * *
Sekarang disini lah Dian berada, duduk sendiri diruangan keluarga rumahnya, mengingat dan mengulang kembali memori yang ada.
" Apakah dirinya menyesal telah menceraikan sang istri "
" Apakah ini keputusan yang tepat "
Meskipun belum bisa dikatakan mereka sudah bercerai secara hukum karena istrinya tersebut sampai sekarang masih belum menandatangani surat cerai yang telah ia berikan, meskipun sekarang mereka sudah tidak serumah dan bertukar kabar berita sampai saat ini.
Apakah Dian boleh jujur ???
Dirinya memang merindukan sang istri sekarang, sangat merindukannya.
Cintanya yang ia sadari begitu dalam terhadap sang istri namun telah dibalas dengan perbuatan seperti itu.
Disini memang bukan indah saja yang bersalah namun juga dirinya. Dirinya pun dulu juga sempat berpikiran untuk ingin kembali merajut kasih dengan Annisa. Tetapi setelah dirinya tau Annisa adalah istri dari atasannya sendiri disitu lah Dian sadar bahwa Annisa sudah tidak mungkin mau kembali kepada dirinya lagi.
Dian pun ingin istrinya itu sadar kalau memang sampai kapanpun dia tidak akan menang melawan Annisa dalam hal apapun karena sekarang Annisa sudah berada dilevel kalangan atas dengan menjadi istri dari seorang Reza Pratama. Dan sampai kapan pun Dian juga tidak akan bisa melampaui atasannya itu.
Tidak mungkin. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi perbedaan derajat Dian dan Reza.
* * * * * * *
Hai semuanya, author mau ngucapin terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca novel ini. Yang masih membuat novel ini kedalam daftar favorit.
Dukung author terus ya untuk bisa terus berkarya semakin lebih baik. Semoga kedepannya novel ini semakin lebih baik lagi.
Jangan lupa likenya yang banyak.
Komentar dukungan buat author juga dibanyakin ya 😁
Apalagi votenya jangan sampai lupa hehe.
Semoga suka sama kelanjutan ceritanya dan selamat membaca.
__ADS_1
30 Mei 2020.