
Pagi hari di weekend kali ini, Annisa dan Reza memiliki rencana untuk olahraga pagi. Ettss maksudnya memang benar-benar olahraga.
Seperti pagi ini Reza sudah siap dengan pakaian olahraganya yang menggunakan atasan kaos polos berwarna abu muda dan bawahannya menggunakan celana jogger berwarna hitam, tidak ketinggalan sebuah sepatu olahraga keluaran terbaru dengan simbol centang yang melekat pada sepatu tersebut.
Tumben sekali Reza bisa sudah siap terlebih dahulu dari sang istri, biasanya dirinya lah yang sering bangun terlambat dan menemui sang istri yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Ehh sekarang malah kebalik.
Mungkin efek dari hamil besar tersebut yang membuat Annisa menjadi agak susah dan beraktivitas seperti biasanya. Setelah dirasa sudah bersiap, Annisa mengajak sang suami untuk segera berangkat ke taman karena biasanya kalau hari weekend seperti ini akan sangat ramai yang diisi dengan banyaknya keluarga maupun anak muda yang sedang olahraga sambil pacaran.
" Ayo sayang " ajak Annisa dengan menggandeng tangan sang suami.
Reza hendak melangkah pergi namun langkahnya terhenti dengan melihat penampilan istrinya seperti ada yang kurang " Kamu ngga pake sepatu sayang " tanya Reza.
" Ahh, engga mas, Annisa pake sendal aja sementara nanti pas udah nyampe taman sendalnya juga bakalan Annisa copot soalnya Annisa mau nyeker aja olahraganya " tutur Annisa.
" Loh, jangan. Nanti kaki kamu sakit sayang, apalagi sekarang kamu lagi hamil besar gini " jelas Reza.
Annisa terkekeh mendengar kalimat dari sang suami. Rupanya suaminya ini tidak mengetahui manfaat besar dari berjalan tanpa alas kaki.
" Mas, berjalan tanpa alas kaki di pagi hari itu malah bagus dan banyak manfaatnya. Seperti tulang lebih sehat, dapat menambah tenaga, menstimulasi titik refleksi serta dapat juga menenangkan pikiran. Apalagi saat-saat hamil besar seperti ini, ketenangan pikiran juga berperan penting bagi ibu dan janin, begitu suami ku sayang " Annisa menjelaskan kepada sang suami panjang lebar.
Reza membalas dengan bibir yang membulat pertanda mengerti dan mengelus puncak kepala sang istri dengan sayangnya.
" Pinter banget sih istri aku ini " mencubit kedua pipi sang istri dengan gemasnya, tidak lama setelah itu kecupan dibibir sang istri pun Reza berikan.
Annisa menepuk lengan sang suami " Nyari kesempatan deh kamu mas " Reza terkekeh lucu.
" Yaudah, ayo berangkat sayang mumpung belum jam 6 " Reza menggenggam tangan Annisa dan berjalan menuntun sang istri dengan senyuman yang tidak lepas dibibir nya, sesekali kecupan ia berikan daratkan dipunggung tangan Annisa yang sedang ia genggam tersebut.
Reza membukakan pintu mobil untuk Annisa " Silahkan ratu ku " ledek Reza. " Ih kamu mas bisa aja. Btw, terima kasih juga raja ku " goda balik Annisa sembari memasukkan tubuhnya kedalam mobil.
* * *
Taman Kota...
Reza baru saja selesai memarkir mobilnya yang baru sampai di taman kota, membuka pintu untuk dirinya keluar setelah itu mengitari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri tercinta.
" Kita sudah sampai sayang " ucap Reza sembari menggandeng tangan sang istri untuk keluar mobil.
" Ahh udara pagi memang sangat enak mas " sahut Annisa sembari tersenyum kearah Reza.
Reza membalas senyuman Annisa dengan saling menatap lama kemudian membawa tangan sang istri kedalam genggamannya.
" Ayo sayang " ajak Reza.
Mereka pun berjalan berbarengan dengan tangan yang saling menggenggam. Reza melangkah pelan mengikuti langkah sang istri yang sepertinya tengah berhati hati dalam berjalan karena buah hati yang sedang ia bawa diperutnya tersebut.
" Kalo capek bilang ya sayang, mas khawatir kamu kenapa-kenapa nanti " ucap Reza.
__ADS_1
Annisa tertawa. Ada-ada saja suaminya ini, memangnya sekarang dia lagi berperang apa pake acara khawatir, ini Annisa lagi olahraga lho, olahraga.
" Ngga papa mas, Annisa kuat kok. Mungkin ini kepengennya bayi kita buat olahraga supaya nanti pas dia udah lahir bakalan sehat " senyum Annisa dengan menampakkan deretan gigi putihnya yang semakin membuat Reza gemas.
Reza pun mengacak rambut sang istri.
" Pinter banget sih itu jawabannya bikin mas ngga bisa ngelawan " sahut Reza.
Setelah beberapa saat berjalan jalan bersama sang suami, rupanya rasa lelah mulai menyerang Annisa hingga dirinya pun membawa sang suami mencari tempat duduk untuk beristirahat.
Reza pun mendudukkan Annisa dengan pelan dibangku taman yang panjang. " Tuh kan mas bilang juga apa, kamu kecapean kan jadinya, udah dibilangin dari tadi jangan kelamaan jalannya " Reza memberi nasihat yang di mata Annisa seperti memarahinya.
Annisa menundukkan pandangannya dengan wajah yang terlihat sedih dan itupun nampak oleh Reza.
Astaga, Reza melupakan tentang hormon ibu hamil yang membuat istrinya menjadi sensitif. Reza pikir masalah seperti itu sudah selesai ketika kehamilan istrinya sudah menginjak bulan kedelapan ini, ternyata tidak. Annisa masih saja sensitif.
" Sayang, maafin mas. Mas ngga bermaksud buat kamu sedih, kamu tau kan kalo mas sangat mengkhawatirkan kamu dan calon anak kita, makanya mas ngga mau terjadi sesuatu kepada kalian berdua " Reza menjelaskan secara pelan dan hati-hati takut kalau dia salah berbicara lagi.
Reza masih menggenggam tangan sang istri sembari memberi usapan lembut dipunggung tangan Annisa.
" Tapi kan Annisa cuman pengen olahraga mas, biar nanti ketika melahirkan bisa berjalan lancar " akhirnya Annisa buka suara.
" Sayang, memangnya kamu ngga ingat apa kata dokter kemarin, ada cara lain selain olahraga yang bisa membantu kamu dan bayi kita untuk lancar dalam persalinan " terang Reza.
Annisa menautkan kedua alisnya yang seakan terlihat jika dirinya memang tidak ingat apa kata dokter kemarin.
Berbeda dengan Annisa yang sedang kebingungan, Reza malah tersenyum senang melihat ekspresi wajah sang istri, sepertinya dia akan menang kali ini.
Reza mendekatkan bibirnya kearah telinga Annisa dan membisikkan sesuatu.
" Olahraga ranjang " bisik Reza dengan wajah yang sekarang tertawa lepas akibat melihat perubahan wajah sang istri yang tiba-tiba memerah seperti malu.
Bisa bisanya Reza berbicara hal seperti itu diruangan terbuka seperti ini, membuat Annisa malu saja.
Sebuah cubitan mendarat tepat diroti sobek Reza hingga menghasilkan suara pekikan sakit yang terlontar dari mulut Reza.
" Sakit sayang " Reza mengelus perutnya yang dimana mendapat cubitan dari sang istri tadi.
" Kami juga sih mas, ngomong kaya gitu ngga lihat situasi dan kondisi, malu tau mas kalau didenger sama orang " ucap Annisa.
Reza tertawa kecil sembari mengelus perut Annisa yang sudah seperti ingin meledak itu " Ngapain malu sayang, mereka juga tau apa kerjaan kita tiap hari. Ini hasilnya " tunjuk Reza menggunakan arah matanya ke perut Annisa.
Astaga Reza bicaranya jujur amat, ngga lihat apa sekarang Annisa jadi malu. Kalau sudah membicarakan hasilnya, Annisa pasti akan mengingat kejadian demi kejadian mereka berdua yang sedang berjuang dalam kenikmatan setiap waktu untuk menghasilkan buah hati mereka.
* * *
Ditempat Lain
Seorang pria yang berwajah imut nampaknya masih tertidur lelap di hari libur seperti ini. Jiwanya masih berada di alam mimpi dengan berbekalkan guling yang ia peluk dengan erat, Doni sangat nyaman dengan tidurnya kali ini, apalagi wajah tenang yang ia tampakkan. Siapa saja yang melihatnya akan merasa kalau dia sedang berbahagia di alam mimpinya sana.
__ADS_1
Hingga suara telpon yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya berbunyi.
Satu..
Dua..
Tiga..
Hingga telpon ketiga berbunyi dengan terpaksa Doni mencari asal suara tersebut dengan mata yang masih tertutup dan tangan yang kesana kemari mencari benda berbentuk kotak tersebut.
" Halo " Doni berbicara kepada si penelepon yang entah dia tidak tau siapa itu dikarenakan matanya masih malas untuk ia buka.
" Dimana ?? " si penelpon bertanya.
" Dirumah, memang dimana lagi. Ini kan hari libur " Huaaahhh Doni yang masih mengantuk .
" Cepat ke taman kota sekarang, aku menunggu " perintahnya.
Doni perlahan membuka matanya dan nampak pandangan didepannya masih buram.
" Hei.. Memangnya Lo siapa main perintah aja " kesal Doni dengan si penelpon yang main perintah saja, apalagi ia sudah mengganggu waktu tidurnya yang berharga.
" Ini aku Angela " jawab si penelpon yaitu Angela temannya sendiri.
Doni membelalakkan matanya seketika, dengan langsung menjauhkan telpon tadi dari telinganya kedepan wajahnya untuk melihat dengan jelas siapa yang menelponnya sekarang.
Dan ternyata tidak salah lagi nama yang tertera dilayar handphonenya ialah "Masa Depanku" yang berarti Angela.
Dengan sigap Doni langsung bangun dari tidurnya dan berdiri disamping ranjang. " Kamu dimana, tunggu disitu, sebentar lagi aku kesana. Jangan kemana mana, tunggu aku " Doni berbicara tanpa rem.
Angela yang mendengar ucapan dari Doni hanya memutar bola matanya jengah, sedari tadi dirinya berbicara rupanya temannya itu tidak mencerna sama sekali.
" Aku di taman kota Doni, sekarang kamu cepat kesini atau aku bakalan pulang " ancam Angela.
Langkah Doni langsung terhenti didepan pintu kamar mandi setelah mendengar ancaman Angela " Eh jangan dong, kok mau main pergi aja. Ini aku udah mau jalan kesana " bujuk Doni.
" Cepat !!! " Angela mematikan telpon sepihak karena dibuat kesal oleh Doni.
Bagaimana tidak.
Dia yang mengajaknya untuk olahraga pagi tapi dia juga yang telat dan bahkan tidak mengingat dengan janjinya sendiri. Kalau saja Angela tidak terlanjur menaruh hati dengan laki-laki itu, ia tidak akan pernah mau membuang waktunya ditaman kota seperti ini.
* * * * * * *
Maaf ya baru up sekarang karena belakangan ini author lagi sibuk-sibuknya. Maaf banget ya teman-teman 🙏🙏🙏
Untuk kalian yang setia menunggu novel author up dari kemarin, author ucapkan terima kasih banyak atas kesetiaan kalian.
Eh kenapa kesannya kaya hubungan ya pake kesetiaan segala 🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa like dan banyakin komentar untuk semangatin author ya 😘😘😘
Terima kasih dan semoga kalian masih suka sama kelanjutan ceritanya 😁😁