
Setelah drama saling bermaafan dan berpelukan tadi, sekarang Reza sudah siap menyantap makan malamnya dengan tubuhnya yang sudah fresh setelah mandi barusan.
Sekarang mereka bertiga telah siap untuk menyantap makanan yang telah tersaji rapi diatas meja makan, namun suara bel rumah menghentikan sejenak aktivitas mereka untuk memasukkan sesuap nasi kedalam mulut.
Siapa coba yang bertamu dimalam hari begini. Mungkin begitu pikir dua orang suami istri yang tengah duduk berdampingan itu karena dilihat dari raut wajah mereka yang heran.
Apakah para sekertaris Reza ingin mengantarkan dokumen penting untuk ia selesai malam ini juga. Tapi bukankah sebelum pulang tadi dirinya sudah tancap gas untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat kilat, lalu bagaimana bisa para sekertarisnya itu datang kemari malam-malam begini.
Tidak mungkin juga para teman Annisa karena Reza sudah memperingati Annisa untuk tidak menerima tamu malam hari apalagi dalam keadaan hamil besar seperti ini. Waktu malam hari adalah waktu untuk istirahat begitu perintah Reza. Meskipun dulunya menerima tamu pada malam hari adalah hal biasa bagi mereka namun tidak untuk sekarang.
Bahkan angin malam pun tidak Reza ijinkan untuk masuk kedalam rumahnya dan mengganggu kesehatan sang istri tercinta.
Sungguh suatu hal yang konyol.
Berbeda dengan kedua anak dan menantunya, Sarah malah menampakkan wajah yang biasa-biasa saja ketika mendengar bel rumah berbunyi malah terkesan ada kebahagiaan dibalik wajah biasanya itu.
"Biar mamah yang buka pintunya, kalian lanjutkan makan kalian saja dulu" ujar Sarah setelah itu ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu masuk rumah mereka.
Annisa dan Reza hanya saling pandang dan sama-sama mengedikkan bahu pertanda mereka tidak tahu menahu tentang siapa yang datang.
"Ya udah mas, kita makan aja dulu" ajak Annisa.
Reza pun mengangguk.
Kedua suami istri itu lantas kembali melanjutkan makan mereka setelah tadi sempat tertunda sebentar.
Ditengah acara makan berduaan itu, Annisa selalu saja menambahkan lauk keatas piring makan Reza karena suaminya itu belakangan ini nafsu makannya tiba-tiba menurun hingga harus dengan sedikit paksaan agar sang suami makan lebih banyak.
"Mas, lauknya tambah lagi ya, Annisa ambili" ucap Annisa.
Reza hanya bisa pasrah dan menerima, kalau sampai dia menolak bisa-bisa dirinya akan sengsara setelah itu karena emosi sang istri yang masih tidak stabil sampai sekarang.
Annisa meletakkan sepotong ayam goreng keatas piring Reza dan berniat mengambil kembali sendok makannya yang tadi sempat ia lepas sebentar untuk membantu mengambilnya lauk untuk suaminya.
Namun hal tersebut terhenti lantaran sebuah suara laki-laki yang sedang memanggil namanya terdengar di panca indera pendengarannya.
"Annisa??" suara itu terdengar lagi.
Eh ini Annisa ngga salah dengarkan, kok kaya suara ayah ya??
Ah mungkin Annisa hanya sedang merindukan ayahnya saja hingga sekarang dirinya sampai berhalusinasi.
Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dan menggerakkan bola matanya kearah suara yang barusan saja ia dengar tadi.
"Ayahh??!" teriak Annisa spontan.
Ternyata benar apa yang ia dengar dan pikirkan tadi kalau memang sang ayah tercintanya lah yang sedang memanggil namanya tadi.
"Mas, ayah kesini" ucap Annisa sembari menolehkan kepalanya kearah samping tempat duduk sang suami.
Loh kok Reza ngga ada, perasaan barusan masih duduk disamping dirinya.
Dan ternyata sang suami malah lebih dahulu menghampiri ayah mertuanya, terlihat saja kalau Reza sudah berjalan menuju ayah Annisa.
Dengan wajah kesal Annisa perlahan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah tiga manusia yang sedang berdiri menghadap kearah dirinya.
Annisa sekarang sudah berdiri tepat didepan ayahnya, namun bukannya menyapa sang ayah justru Annisa malah memukul lengan sang suaminya yang tentu saja membuat ayah Jhonny dan Sarah menjadi bingung.
"Mas apa-apaan sih main tinggal-tinggal aja, kan harusnya aku yang duluan nyamperin ayah bukannya mas. Aku kan anaknya ayah" rengut Annisa.
Ucapan Annisa barusan sontak saja membuat Reza beserta Sarah dan Jhonny jadi tertawa kencang.
Jhonny selaku ayah Annisa lantas mengusap pelan kepala sang anak tercinta dengan masih sesekali diiringi tawa. "Kamu kenapa sih nak, kok gitu sama suami sendiri, ngga boleh nanti durhaka gimana" canda Jhonny.
"Iya yah, Annisa kadang suka mukul aku gitu, ayah ngga tau aja selama ini Annisa yang udah nyiksa Reza" adu Reza kepada sang ayah mertua dengan nada bicara yang ia buat seperti anak kecil yang mengadu kepada ayah kandungnya sendiri.
Annisa masih merengutkan wajah cantiknya itu, namun bukan hanya merengut tetapi wajahnya juga menampakkan kekesalan.
"Mas kamu kok bohong gitu, memangnya kapan aku pernah nyiksa kamu, bukannya kamu ya yang sering nyiksa aku tiap malam" ucap Annisa dengan wajah santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Sedangkan ketiga orang yang mendengar ucapannya barusan merasa aneh terlebih Reza yang merasa malu akan rahasia tempat tidur mereka yang Annisa bocorkan dengan begitu mudahnya.
Jhonny menatap sang anak Annisa agar menyadari ucapannya barusan, namun tatapan sang ayah malah disalahartikan oleh sang anak.
"Beneran yah, Annisa ngga bohong kok. Mas Reza tiap malam memang sering nyiksa Annisa bahkan sampai Annisa ngga tidur semalaman, belum lagi.. "
__ADS_1
Secepat kilat Reza membekap mulut polos istrinya itu agar dia tidak dapat lagi meneruskan ucapannya tentang kelakuan nakal Reza didalam kamar mereka.
"Sayang kamu kok ngomong gitu" cengir Reza sembari menatap ayah mertuanya dan ibunya yang sedang menahan tawa karena kelakuan sepasang suami istri itu.
Masih dengan tangan yang membekap mulut sang istri, meskipun Annisa sudah meronta minta dilepaskan sedari tadi namun Reza berpura-pura tidak mendengar dan masih saja menutup mulut sang istri.
"Yaudah ayah, mah. Mendingan kita lanjut makan malam aja, sekalian ceritanya pada saat makan, gimana?" ajak Reza.
Reza berusaha keras menghilangkan perasaan malunya dengan mengubah topik pembicaraan.
"Hahaa baiklah, mari kita makan, kebetulan ayah juga belum makan malam" sahut Jhonny.
Sarah dan Jhonny pun berjalan melalui tubuh Reza dan Annisa yang masih setia berdiri ditempat semula. Namun ketika benar-benar berada bersebelahan dengan Reza, ayah Annisa pun membisikkan sesuatu kepada sang menantu.
"Enak banget ya tiap malam" ucap Jhonny sebelum dirinya benar-benar melangkah pergi meninggalkan Annisa dan Reza.
Tuh kan benar apa yang Reza pikirkan, ayah mertuanya pasti akan mengejek dirinya. Sungguh Reza sangat malu sekarang.
Reza yang masih didunia khayalan malunya kembali disadarkan lantaran tangan sebelah kanannya merasa kesakitan karena gigitan dari sang istri.
"Apaan sih pake acara nutup mulut aku segala, mas mau bikin aku mati" kesal Annisa dengan wajah yang menampakkan amarahnya.
"Kamu juga sih sayang pakai acara ngomong masalah kaya gitu sama ayah, kan aku jadi malu buat berbicara lagi sama ayah" keluh Reza.
"Udah ah, mending aku lanjutin makan aja" ucap Reza dengan berjalan pergi meninggalkan Annisa sendiri dengan penuh tanda tanya dibenaknya.
Kenapa jadi Reza yang ngambek? bukan kan disini yang merasa dirugikan adalah dirinya hingga hampir saja dirinya tadi kehabisan nafas karena sang suami yang menutup mulut dan hidungnya tadi.
"Kok malah mas Reza sih yang ngambek, kan harusnya aku??" tanya Annisa kepada dirinya sendiri lalu kemudian ikut melangkahkan kaki menuju meja makan mereka.
* * *
Setelah acara makan malam yang berusaha Reza hadapi meskipun perasaan malu tadi masih ia rasakan ketika bertatapan dengan sang ayah mertua. Kini mereka berempat tengah berada diruang keluarga menikmati makanan penutup sambil menonton acara televisi dan sesekali saling melempar candaan.
"Oh iya, Annisa hampir lupa" ucap Annisa membuat perhatian semua orang yang berada disana menjadi fokus kearah dirinya.
Annisa kembali melanjutkan ucapannya. "Ayah menginap disini kan??, ngga langsung pulang kan?? soalnya Annisa masih kangen banget sama ayah".
Ayah Jhonny tersenyum. "Tentu saja, ayah juga sangat merindukan putri kecil ayah yang satu ini" jawab Jhonny.
"Dan juga ayah ada berita bahagia untuk kamu" ucap Jhonny.
Annisa menatap ayah. "Berita bahagian apa yah?" tanya Annisa.
"Ayah sudah mengajukan cuti mulai dari hari ini untuk sementara waktu dan akan menemani kamu sampai melahirkan nanti" jawab ayah dengan tersenyum lagi.
Sungguh Annisa sangat bahagia mendengar ucapan ayahnya barusan, sungguh.
"Benarkah, ayah ngga bohongkan??" tanya Annisa memastikan.
"Tentu saja, buat apa ayah berbohong. Lagian ayah juga ingin menjadi seorang kakek yang siaga, tidak hanya suami mu saja yang sedang bersiaga sekarang" jawab ayah dengan sesekali ia tertawa kecil.
Annisa pun mendekati tempat duduk ayahnya dan memeluk beliau, sungguh dia sangat menyayangi orang tua satu-satunya yang masih ia miliki.
"Makasih yah, Annisa sayang ayah" ucap Annisa didalam pelukan mereka.
"Ayah juga sayang Annisa"
Mereka saling berpelukan erat melepas rindu yang selama ini mereka pendam karena lama tidak bertemu.
Reza dan Sarah saling pandang menampakkan juga kalau mereka berdua ikut bahagian atas apa yang Annisa dan ayah Jhonny rasakan saat ini.
Annisa pun melepas pelukan dengan ayahnya namun dirinya masih terlihat bermanja kepada sang ayah. Melihat itu Reza seakan mengerti dan ingin memberikan waktu kepada ayah dan anak itu untuk saling melepas rindu.
"Sayang, mas tinggal keruang kerja dulu ya, ada pekerjaan yang masih harus mas selesaikan sebentar" ucap Reza.
Annisa mengangguk. "Iya mas, ngga papa. Lagian masih ada ayah dan mamah juga disini"
"Ayah, Reza pamit sebentar"
"Iya nak, pergilah" sahut Jhonny.
Tidak seberapa lama setelah kepergian Reza, Sarah juga berpamitan kepada Annisa dan ayah Jhonny untuk kembali lebih dulu kekamarnya. Sarah pun juga ingin memberikan waktu untuk Annisa dan ayahnya.
"Sayang, nanti antar ayah kamu ke kamar tamu ya, kamarnya sudah mamah siapkan tadi. Setelah itu nanti kamu mampu mampir sebentar kekamar mamah ya??" ucap Sarah.
__ADS_1
"Iya mah nanti Annisa kesana" sahut Annisa.
Sarah pun pergi berlalu meninggalkan Annisa dan ayahnya setelah memberikan pesan barusan.
Setelah perbincangan yang memakan waktu lumayan lama hingga jarum jam saat ini sudah menunjukkan waktu setengah sepuluh malam, Annisa pun juga sudah mengantarkan ayahnya kekamar tamu yang ibu mertuanya bilang tadi.
Tidak lupa setelah mengantarkan ayahnya, sebelum kembali kekamar mereka Annisa terlebih dahulu mampir ke kamar ibu mertuanya karena mengingat pesan dari beliau.
Annisa masuk kedalam kamar mertuanya setelah dia terlebih dahulu memberi ketukan dan mendengarkan suara dari dalam kamar yang berkata jika ia diperbolehkan masuk.
Mungkin ini kali pertama dirinya memasuki kamar tersebut dengan penghuninya yang juga ada didalamnya.
"Mamah??" panggil Annisa kepada sang mertua yang ia lihat duduk ditepian tempat tidur.
"Kesini sayang" ucap Sarah dengan melambaikan tangannya untuk menyuruh Annisa menghampiri dirinya tersebut.
Annisa pun dengan ringan langkah pergi menghampiri Sarah, duduk disamping sang ibu mertua ketika Sarah menepuk-nepuk samping tempat duduknya sebagai kode untuk Annisa juga ikut duduk disana.
Sempat keheningan mengambil alih suasana hingga Annisa membuka suara untuk berbicara sekaligus bertanya.
"Ada apa mamah memanggil aku kesini, apa ada yang ingin dibicarakan??" tanya Annisa.
Tidak ada jawaban, hingga Annisa memberanikan diri untuk menengok secara perlahan kearah ibu mertuanya tersebut.
Terlihat dengan jelas diwajah Sarah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan sekarang, tergambar juga sebuah kesedihan disana namun Annisa tidak berani menduga-duga akan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
Bukannya jawaban yang Annisa terima namun malah sebuah keterkejutan. Ibu mertuanya itu tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya semula dan sedang berlutut tepat didepan Annisa yang memang sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang mamah lakukan, ayo bangun. Ini sungguh tidak memalukan, mamah adalah orang tua disini tidak seharusnya berlutut seperti itu" ucap Annisa.
Annisa berusaha untuk membuat ibu mertuanya itu berdiri dari posisinya yang sedang berlutut dihadapannya sekarang, dengan berbekal menggenggam tangan sang ibu mertua Annisa masih saja berusaha.
Namun bukannya berdiri, Sarah malah menggelengkan kepalanya dan menguraikan air mata. Sungguh Annisa berada diposisi yang sangat membingungkan, dirinya tidak atau harus berbuat apa sekarang.
"Mamah ayo bangun, Annisa mohon" Annisa masih berusaha membujuk Sarah dengan ucapan dan intonasinya yang lembut.
Sarah menggeleng. "Tidak Annisa, mamah tidak pantas untuk berdiri" Sarah menjeda kalimatnya. "Mamah mohon, biarkan mamah melakukan ini. Mamah ingin meminta maaf kepadamu atas segala yang pernah mamah perbuat, meski dengan permintaan maaf ini tidak dapat mengobati sakit hati yang pernah kamu rasakan. Tapi mamah mohon, tolong maafkan mamah atas segalanya" ucap Sarah, dirinya masih saja meneteskan air mata.
Annisa dapat melihat ketulusan dari permintaan maaf sang ibu mertuanya itu melalui pandangan matanya. Mata coklat yang sedang mengeluarkan air mata itu tidak sedikitpun menampakkan sebuah kebohongan dan Annisa percaya itu.
Annisa nampak menganggukkan kepalanya dengan air mata yang juga sedikit lagi akan tumpah, sungguh ia tidak dapat menahannya lagi.
"Annisa sudah memaafkan mamah dari dulu, mamah ngga punya salah apapun sama annisa" sahut Annisa.
Memang benar, selama ini dirinya tidak pernah sekalipun bahkan sedikitpun menaruh dendam kepada ibu mertuanya itu. Dari awal dirinya memang sangat menyukai ibu mertuanya itu.
Sarah menghentikan tangisnya sembari menatap Annisa sang menantu. "Benarkah?? benarkah kamu memaafkan mamah??" tanya Sarah memastikan.
Annisa kembali mengangguk. "Iya mah, Annisa sudah memaafkan mamah bahkan dari dulu Annisa tidak pernah menyimpan dendam sedikitpun kepada mamah" sahut Annisa tersenyum.
Keduanya saling melempar senyum.
Tanpa menunggu lagi Sarah memeluk Annisa sang menantunya. "Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu mau memaafkan ibu mertua mu ini" ucap Sarah didalam pelukan.
"Iya mah, Annisa juga berterima kasih karena mamah sudah mau menerima Annisa menjadi menantu dikeluarga ini, meskipun Annisa hanya seorang dari kalangan biasa"
Sarah merenggangkan pelukan diantara mereka dan menatap Annisa. "Tidak sayang, harusnya mamah yang bersyukur karena mendapatkan seorang menantu seperti dirimu yang mau menerima kekurangan keluarga kami ini"
Saling pandang lama hingga keduanya malah tertawa bersama.
"Sudahlah mah, kita itu ngga cocok nangis-nangisan" canda Annisa kepada sang mertua.
"Iya kamu benar sayang, kita ngga cocok nangis tapi kita itu cocoknya sayang-sayangan" canda balik Sarah.
Acara permintaan maaf tadi ditutup dengan kedua mertua dan menantu yang saling tertawa, mereka seakan melupakan kejadian menyedihkan tadi.
Sekarang yang akan mereka lakukan kedepannya adalah saling membahagiakan satu sama lain, mereka berjanji tidak akan ada lagi yang bisa menghancurkan keluarga bahagia mereka selamanya.
* * * * * * *
Tinggal beberapa part lagi ya sebelum novel ini tamat 😁😁😁
Semoga suka sama kelanjutannya.
Jangan lupa selalu dukung author dengan cara like, komen dan vote.
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu novel ini update.