
Bi Ati dan Annisa berjalan menuju kamar Annisa untuk mengobati tangan Annisa yang berdarah tadi. Bi Ati keluar lagi dari kamar Annisa sebentar untuk mengambil kotak P3K.
"Aauu sakit bi" ringis Annisa kepada bi ati karena saat ini bi ati tengah mengambil pecahan beling yang menancap di tangan Annisa menggunakan penjepit.
"Tahan ya non" jawab bi ati kepada majikannya itu karena sedari tadi ia lihat jika Annisa terus memejamkan matanya akibat rasa sakit yang dirasakan.
Setelah selesai mencabut pecahan beling dari tangan Annisa sekarang bi ati mengambil alkohol untuk mensterilkan luka Annisa agar tidak terjadi infeksi. Perlahan dan perlahan bi ati menyiramkan alkohol itu ketangan Annisa dan yang terjadi ialah Annisa kembali menjerit karena keperihan yang ia rasa ditangannya sekarang.
"Bi udah bi, Annisa ngga tahan, perih bi" rengek Annisa lagi kepada bi ati namun sekarang dengan ekspresi berbeda karena air mata Annisa ikut jatuh didalam kebisingan rengekannya.
"Maaf non, tahan sebentar lagi ya non biar luka non ngga infeksi dan biar cepat sembuh" bujuk bi ati kepada Annisa agar Annisa tidak menjatuhkan air matanya lagi.
"Hikss.. hikss iya bi" jawab Annisa dengan masih sesenggukan karena menangis tadi.
Tidak beberapa lama akhirnya luka Annisa sudah selesai dibersihkan dan sudah diberi obat lalu dibalut dengan perban. Bi Ati yang sedari tadi sudah membantu Annisa lalu permisi undur diri untuk kebawah melanjutkan pekerjaannya.
Bi Ati :
"Oh iya non, non mau makan ngga nanti biar bibi anterin kekamar non aja jadi non ngga usah pergi kebawah segala" kata bi ati kepada Annisa sebelum pergi meninggalkan kamar Annisa.
Annisa :
"Ngga deh bi, Annisa masih kenyang. Nanti aja ya kalau Annisa lapar, Annisa bakal panggil bibi deh" jawab Annisa dengan senyuman yang terukir manis dibibirnya.
Bi Ati :
"Baiklah kalau begitu non, nanti kalau ada apa apa panggil bibi aja ya dan juga non jangan bekerja atau ngangkat yang berat berat ya karena tangan non masih luka kan takut ngeluarin darah lagi nanti" kata bi ati mengingatkan Annisa.
Annisa :
"Iya bi, Annisa nnga bakal ngelakuin apapun kok apalagi yang berat berat, Annisa habis ini mau rebahan aja" jawab Annisa lagi kepada bi ati yang tidak lupa dengan senyuman yang selalu ia tunjukkan.
Bi Ati :
"Baiklah non, bibi permisi ya" jawab bi ati dan mendapatkan anggukkan dari Annisa pertanda ia mengiyakan perkataan bi ati.
"Non 'saranghe' .." kata bi ati yang sudah diluar kamar Annisa dengan pintu yang masih terbuka dan terlihat lah sosok bi ati yang sedang berdiri dengan kedua tangannya mengarah kedepan, dikedua tangannya jari bi ati ditautkan antara ibu jari dan telunjuk.
Annisa lantas tertawa dengan kelakuan pembantunya itu karena bi ati seakan mengerti makna dari kata 'saranghe' yang berarti aku cinta padamu dalam bahasa indonesia, padahal yang Annisa tau cuman anak muda saja yang melakukan hal hal seperti itu eh ngga tau nya pembantu mereka juga bisa.
Annisa lantas tertawa lepas akibat ulah bi ati, bi ati yang melihat itu lalu merasa senang dan lega karena sekarang majikannya itu sudah bisa tertawa lagi. Bi ati kembali kebawah untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi karena mengobati tangan Annisa terlebih dahulu.
Annisa sekarang berada di kamarnya dengan posisi yang sedang rebahan sambil menatap langit langit kamarnya..
Kringggg...
(Suara telpon)
Annisa mengambil handphone nya yang berada dimeja rias didepan tempat tidurnya. Annisa melihat siapa yang menelpon dan ternyata Reza yang melakukan panggilan video kepada Annisa dengan cepat wajah Annisa langsung menampakkan senyum sumringah nya karena sang pujaan hati akhirnya menghubungi dirinya..
Annisa mengangkat panggilan video dari Reza dan mengarahkan telpon genggam nya itu kedepan wajahnya. Annisa sebenarnya agak kesusahan karena harus memegang handphone menggunakan tangan kirinya namun Annisa harus bisa karena ia tidak mau Reza tau kalau tangan kanannya sedang terluka.
Annisa :
"Halo mas" jawab Annisa dengan senyuman.
Reza :
"Halo sayang, lagi ngapain" tanya Reza yang tak mau kalah karena ia juga menampakkan senyuman kepada istrinya itu.
Annisa :
"Lagi kangen kamu mas, kapan kamu pulang?" Tanya Annisa yang mulai menampakkan wajah sedihnya dan tanpa terasa air matanya ikut jatuh.
Reza :
"Sayang kok kamu nangis, maafin mas sayang karena ninggalin kamu sendirian. Secepatnya mas bakalan pulang" kata Reza yang membujuk Annisa agar tidak menangis lagi.
Annisa :
"Tapi mas Annisa udah ngga kuat" jawab Annisa yang tidak sadar dengan kata katanya.
Reza :
"Ngga kuat lama lama jauh dari mas ya" canda Reza.
Untunglah Reza tidak mengerti maksud dari kata kata Annisa tadi dan Annisa pun mengalihkan pembicaraan mereka.
Annisa :
"Mas, kita pernah sama sama janji kan kalau kita berdua ngga boleh menutupi permasalahan apapun dan akan saling terbuka" tanya annisa
Reza :
__ADS_1
"Iya sayang, agar kedepannya tidak akan terjadi kesalahpahaman diantara kita lagi " jawab reza dan mengiyakan.
Annisa :
"Dan sekarang Annisa mau ngomong sesuatu sama mas tapi mas janji ya ngga bakalan marah sama Annisa" bujuk Annisa.
Reza :
"Ngomong aja sayang mas ngga bakal marah kok, masa iya sama istri kesayangan mas marah" goda Reza sambil tertawa.
Annisa kemudian menunjukkan tangan kanannya yang sedang diperban, Reza yang melihat itu sontak sangat kaget.
Reza :
"Sayang tangan kamu kenapa??" tanya Reza khawatir ketika melihat tangan istrinya itu diperban.
Annisa :
"Tangan aku luka mas gara gara ngeberesin piring yang pecah" jawab Annisa dengan wajah yang masih sedih.
Reza :
"Sayang, kan ada bibi kenapa harus kamu yang beresin"
Annisa :
"Kasian bibi mas, kan udah kerja seharian, lagian ini juga sudah diobatin sama bibi kok" jawab Annisa agar Reza tidak khawatir lagi.
Reza :
"Ya udah kalo gitu, lain kali kalau sampai mas lihat kamu terluka lagi, ngga akan bakal mas kasih ijin buat kamu kedapur lagi" ancam Reza.
Annisa :
"Iya mas, Annisa bakal hati hati lagi deh kedepannya"
Beberapa saat kemudian mereka saling terdiam dipanggilan video itu, saling menatap satu sama lain namun tidak ada yang berucap seperti sedang menikmati wajah satu sama lain yang sedang dilanda kerinduan. Tatapan mata Reza begitu hangat dimata Annisa begitupun tatapan sendu dimata Annisa membuat hati Reza semakin merasa bersalah karena telah meninggalkan nya hanya karena pekerjaan.
Tidak beberapa lama, Reza kembali membuka suara diantara kesunyian yang ada pada mereka.
Reza :
"Sayang, terus yang mau kamu bilang cuman itu aja ya, ngga ada yang lain" tanya Reza basa basi kepada istrinya itu.
Annisa :
Reza :
"Memangnya tentang sayang? Jangan bikin penasaran deh" jawab reza dengan diikuti tertawa kecil.
Annisa :
"Tentang masalah luka aku ini mas" jawab Annisa polos.
Reza menaikkan alisnya sebelah seraya berpikir sejenak karena bingung dengan apa yang dimaksud oleh istrinya tadi, karena Reza pikir permasalahan luka ditangan Annisa tadi kan sudah selesai.
Reza pun kembali bertanya kepada Annisa.
Reza :
"Maksudnya sayang??" Tanya Reza.
Annisa :
"Udah nanti aja Annisa beritahu nya, sekarang yang terpenting adalah mas cepat selesain masalah disana biar cepat pulang karena Annisa udah kangen banget sama mas" jawab Annisa dengan ekspresi dan wajahnya yang diimut imutkan.
Reza :
"Sayang jangan kaya gitu dong, mas pulang nih malam ini juga kalau kamu goda mas lagi" ancam Reza dengan senyuman mautnya.
Annisa :
"Hahahaaa ngga deh mas, yaudah tidur gih mas biar besok ngga kecapean kerjanya" sahut Annisa menyuruh Reza untuk segera beristirahat.
Reza :
"Ya udah sayang, mas tidur duluan ya kamu juga tidur habis ini. Good night sayang"
Annisa :
"Iya mas, good night too" jawab Annisa.
Dan akhirnya sambungan telpon diantata mereka telah terputus.
__ADS_1
Annisa kembali merebahkan dirinya untuk tidur, Annisa memikirkan cara agar dapat membalas perbuatan dan penghinaan citra terhadapnya.
Dan cara untuk menangani masalah ini agar ketika Reza pulang nanti masalah sudah beres.
"Tunggu saja citra, pembalasan ku akan segera menghampiri mu" batin Annisa sebelum ia menutup mata untuk tidur.
***
Bali
Kamar Hotel.
Setelah memutuskan panggilan telpon tadi ternyata Reza tidak langsung tidur dan masih terbayang bayang kata kata istrinya tadi, ia mengerti jika ada maksud terdalam dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Annisa.
Reza kembali mengambil handphone nya yang tadi telah ia letakkan diatas meja disamping kasurnya. Reza mengetikkan nama seseorang dan menelpon nya.
"Aku ingin kamu menjaga istri ku selama aku tidak ada, awasi dia dan selidiki dia belakangan ini apa saja yang sedang dia lakukan dan bertemu dengan siapa. Aku ingin kamu megabari ku setiap hari tentang aktivitas istriku secara rinci dan detail, aku tidak mau terlewat satu pun" kata Reza memberi perintah panjang lebar kepada seseorang diseberang telpon sana.
Reza pun kembali menaruh handphone nya dan merebahkan diri dikasur untuk tidur.
*******
2 Minggu telah berlalu semenjak kejadian insiden tangan Annisa terluka dan citra belum memulai aksinya kembali sehingga Annisa juga bisa sedikit lebih lega.
Pagi hari ini adalah hari Minggu dan Annisa tidak berangkat kerja, Annisa sudah selesai dengan kesibukannya didalam kamar dan ingin keluar membantu bi ati didapur namun baru beberapa langkah Annisa keluar kamar ia mendengar suara citra sedang bertelponan dengan seseorang, suara citra meninggi seakan mengancam oleh karena itu Annisa bisa mendengar pembicaraan nya.
Namun Annisa tidak tahu maksud dari pembicaraan mereka yang Annisa tau adalah citra menyuruh orang tersebut untuk menunggu dan ia akan secepatnya pergi menemui nya. Annisa tau kalau citra sedang terburu-buru dan terlintas sebuah ide dikepala Annisa.
Setelah dirasa Annisa bahwa citra telah selesai bertelponan dengan cepat Annisa pergi berlalu dari dekat kamar citra dan menuju tangga untuk kelantai bawah dan selanjutnya tentu saja untuk melanjutkan rencananya tadi hehehehe..
Annisa sudah sampai dilantai bawah dan mengambil peralatan untuk pembalasan dendamnya, terlihat dari kejauhan citra sedang berjalan agak tergesa gesa dilantai atas dengan menuruni anak tangga dengan menggunakan celana jeans ketat dan baju kaos polosnya yang agak pendek sehingga jika dia mengangkat tangannya akan terlihat pusarnya, tidak lupa jua high heels nya yang lumayan tinggi.
Annisa dengan wajah yang santai dan bersenandung asik sambil mengepel, citra melihat Annisa mengepel lalu berjalan mendekatinya sambil berbicara agak keras karena jarak mereka masih jauh.
Citra :
"Ya bagus, gitu dong. Lo itu memang cocok ngepel kaya gitu, kaya pembantu" kata citra sembari menuruni anak tangga yang tinggal beberapa saja.
Annisa hanya diam mendengar citra menghinanya, sampai saat citra benar benar dekat dengannya. Annisa menyampingkan kakinya dan ....
brukkkkkk.
"Aaaaaaaaaaaaa" jerit citra karena dirinya tersungkur dan jatuh dengan posisi badan tengkurap..
"Aduh citra, kamu ngapain disitu pake acara tiduran segala" tanya Annisa pura pura tidak tahu.
"Eh Lo segaja kan" kata citra sambil berteriak lagi kepada Annisa.
"Aku mana mungkin sengaja, sini aku bantuin kamu berdiri lagi" jawab Annisa dengan menjulurkan tangannya untuk membantu citra berdiri.
Ketika tangan Annisa mendapat sambutan oleh tangan citra dan Annisa menarik tangannya terlihat badan citra sudah setengah berdiri dan Annisa membisikkan sesuatu ketelinga citra.
"Ini baru pembalasan pertama aku, yang selanjutnya kamu tunggu ya. Aku akan buat kamu menyesal karena telah mencari masalah dengan ANNISA" kata annisa ditelinga citra yang menekankan namanya.
Brukkkkkk....
Suara terjatuh kambali terdengar karena Annisa melepas tangannya yang membantu citra untuk berdiri tadi yang membuat pantat citra mendarat mulus lebih dulu dilantai dan tanpa ketinggalan Annisa menendang ember air pel tadi kearah citra yang sedang terduduk dengan kaki terlipat.
Byurrrrrr.......
Citra basah kuyup dengan air bekal pel lantai..
"Annisaaaaaaaa!!!!!!!!!" teriak citra kepada Annisa namun hanya ditatap sambil tertawa oleh Annisa.
"Aduh maaf aku ngga sengaja, aku lupa kalau disitu ada ember air bekas aku ngepel tadi" kata Annisa yang membela diri.
"Kamu sengaja kan?" teriak citra lagi kepada Annisa dengan wajahnya yang sudah merah padam akibat marah.
"Ngga kok, aku ngga sengaja" jawab Annisa dengan wajah penuh senyuman yang manis namun menusuk hati citra yang melihatnya.
"Yaudah aku panggilin Bi ati dulu ya buat ngeberesi ini semua" kata Annisa sambil berlalu meninggalkan citra yang masih terduduk dilantai dengan badannya yang basah kuyup air bekas pel lantai.
"Sukurin, mau main main sama gue, Lo pikir gue takut sama Lo" batin annisa sambil tertawa mengingat kejadian tadi
*******
Maaf ya jika banyak typo nya dan semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya.
Jangan lupa loh ya Like, Komen, Favorit, dan Votenya supaya author tambah semangat ngebuat episode episode selanjutnya.
Jangan bilang pendek ya soalnya ini udah 1900+ kata, kebayang kan gimana capenya tangan dan jari author sekarang 😁😁 tapi author tetap senang kok selama kalian selalu memberi semangat buat author.
Selamat membaca dan Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
11 Februari 2020