
Annisa sudah tidak tahan dengan kelakuan sang suami yang sangat tidak tahu malu melakukan adegan tidak senonoh didepan kedua sekertarisnya itu, meskipun kedua sekertarisnya hanya diam saja namun Annisa dapat menangkap raut terkejut diwajah mereka berdua.
Hingga puncaknya terjadi ketika Reza mencium bibir Annisa dan sempat melumatnya lama, Annisa berusaha melepaskan ciuman itu namun Reza dengan cepat menahan tengkuk Annisa untuk memperdalam ciuman mereka.
Sampai akhirnya nafsu menguasai Reza, entah mengapa belakangan ini dirinya sulit sekali mengendalikan hawa nafsunya terhadap sang istri. Didalam pikirannya hanya dipenuhi Annisa dan selalu ingin bersama, bermanja dan berhubungan badan dengan Annisa.
Reza pun menyuruh kedua sekertarisnya itu untuk menghentikan penjelasan dan pekerjaan mereka, Reza juga menyuruh keduanya untuk pulang sekarang juga.
"Kalian berdua sudah boleh pulang sekarang, besok kita lanjutkan kembali"
Ucap Reza yang diyakini oleh Angela dan Doni adalah kalimat mengusir secara halus.
Belum juga selesai Angela dan Doni mengemasi barang dan berkas mereka namun Reza sudah lebih dulu mencumbu Annisa dan menggendongnya berjalan kearah tangga. Membuat Doni geleng geleng kepala sedangkan Angela hanya acuh saja seperti biasanya.
"Gila gue punya bos, ngga liat situasi dan kondisi main embat aja"
Batin Doni.
Sesampainya dikamar Reza langsung saja mencium tubuh Annisa tanpa melewatkan sejengkal pun, Annisa hanya dibuat pasrah oleh nafsu sang suami yang belakangan ini selalu menginginkan dirinya setiap saat. Sekarang mereka bukan sedang merasakan malam yang panas namun siang bolong yang panas dan gerah serta suara desahan yang menggema di sekeliling ruangan kamar mereka nan luas.
***
Beberapa Minggu Kemudian.
Ruang meeting World Hotel.
Reza sebagai CEO world hotel memimpin jalannya rapat pagi hari ini ditemani dengan kedua sekertaris setianya. Para Manager dan wakil manager serta pimpinan staff menjadi pengikut untuk rapat kali ini tidak terkecuali Dian.
Ada hal aneh, berbeda dan sangat mencolok hingga mengundang tatapan dan tanda tanya semua orang yang berada diruang rapat tersebut.
Reza yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat dalam memajukan perusahaan meskipun di era persaingan yang sangat ketat, sebagai pimpinan yang tegas serat dingin tidak menerima kesalahan sedikitpun. Apalagi saat diruang rapat biasanya Reza akan menjadi semakin mengerikan karena ketegasannya dan keseriusan dalam menyimak penjelasan dan penuturan dari beberapa pegawainya yang sedang melakukan presentasi.
Namun hal ini tidak nampak pada saat rapat kali ini yang dimana Reza terlihat sangat santai dengan wajah yang sesekali menampakkan senyuman ketika memakan dan menguyah rujak buahnya didalam ruang rapat seperti seorang anak kecil yang sangat bahagia setelah diberi permen.
Ya kali ini Reza memang memimpin rapat sambil ditemani rujak buah dan jus alpukat yang menjadi makanan favoritnya belakangan ini, itulah yang membuat para peserta rapat menjadi sangat kebingungan sekaligus kaget namun tidak ada juga yang berani bertanya karena mereka masih sayang pekerjaan.
Setelah memakan waktu hampir dua jam akhirnya rapat telah selesai dengan kesimpulan bahwa pendapatan hotel pusat dan cabang mengalami kenaikan yang signifikan sehingga membuat mood Reza bertambah gembira dan raut wajah kegembiraan itu pun tidak lepas dari tatapan para pegawainya.
Tokk.. Tokkk.....
Pintu ruangan Reza diketok oleh seseorang yang tidak lain adalah Dian yang terlihat membawa beberapa map berisi lembaran kertas yang mengharuskan meminta tanda tangan Reza.
Wajah Reza yang semula gembira berubah menjadi masam setelah melihat kedatangan Dian, entah lah beberapa minggu ini setiap kali Reza melihat Dian di kantor, dirinya pun menjadi kesal tanpa alasan dan yang lebih parahnya lagi kadang kala dia akan muntah setelah melihat Dian terlalu lama.
Dan benar saja, belum juga Reza selesai menandatangani berkas yang Dian bawakan, dirinya sudah lebih dulu berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Dian pun memandangi atasannya itu dengan penuh curiga. Semenjak diruang rapat tadi hingga sekarang ia melihat dan mendengar sendiri jika atasannya itu menunjukkan gejala yang aneh seperti seorang perempuan yang tengah hamil muda.
"Jangan jangan benar seperti pemikiran ku barusan"
Batin Dian.
Tidak seberapa lama akhirnya Reza keluar dari toilet dan berjalan kembali kearah meja dan kursi miliknya, tanpa berbicara sedikitpun Reza langsung saja menyelesaikan berkas yang perlu ia tandatangani tadi. Hingga selesai tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua.
Dian kemudian membuka suara.
"Apakah istri bapak sedang hamil??"
"Ada apa dengan pertanyaan mu yang tiba tiba begitu??" tanya balik.
"Bukan maksud saya begitu pak, hanya saja saya lihat perilaku bapak sedari rapat tadi hingga sekarang seperti menunjukkan seseorang yang tengah sedang mengidam"
__ADS_1
"Kalaupun istri saya hamil, pasti dia yang mengidam bukan saya" acuh.
"Jangan salah pak, teman saya saja istrinya yang hamil tapi dia nya yang mengidam. Seperti mual mula dipagi hari, pengen makan yang aneh aneh yang tidak pernah ia makan sebelumnya dan juga nafsu yang bertambah" menjelaskan.
Terlihat Reza diam sesaat yang membuat Dian menjadi merasa bersalah hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan sang atasan.
Setelah kepergian Dian dari ruangannya, terlihat Reza termenung sepeti sedang memikirkan sesuatu. Ya dirinya masih saja memikirkan perkataan Dian tadi yang masih terngiang didalam pikirannya.
"Apakah benar aku sedang mengidam gara gara Annisa hamil, tapi jika dilihat dari penjelasan Dian tadi memang sama persis seperti apa yang aku rasakan belakangan ini"
"Annisa hamil??? Lalu apakah diriku akan menjadi seorang ayah, betapa bahagianya aku seandainya itu memang benar terjadi. Alangkah lebih baik sepulang kerja nanti aku akan bertanya langsung kepada Annisa agar aku tidak mati penasaran"
Batin Reza.
***
Kediaman Pratama.
Sesampainya di rumah Reza langsung berlari kecil sambil meneriakkan nama sang istri namun tidak menemukan jawaban hingga dia mempercepat langkahnya untuk pergi kekamar tidurnya sembari berpikir mungkin istrinya sedang berada didalam kamar.
Namun ketika memasuki kamar mereka, Reza juga tidak melihat keberadaan sang istri hingga dia kembali memanggil istrinya itu dengan suara yang agak keras.
Ceklek...
Annisa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya yang seketika membuat Reza menghentikan teriakannya dan menatap lekat sang istri seperti sedang bersiap siap untuk menerkamnya.
"Shittttt.... Ini bukan waktu yang tepat untuk mu bangun, nanti dulu biar aku menyelesaikan urusan ku baru setelah ini kita menyelesaikan urusan bersama"
Batin Reza membujuk sang junior agar tidak bangun terlebih dahulu.
Annisa berjalan kearah suaminya yang ia lihat tadi sempat melamun sebentar.
Annisa :
Reza akhirnya sadar dan tanpa menjawab panggilan sang istri, Reza langsung saja membopong tubuh sang istri dan merebahkannya dikasur mereka. Annisa sudah tidak terkejut lagi dengan perlakuan Reza sekarang karena ia tahu sejak beberapa minggu belakangan ini nafsu suaminya sedang tinggi tingginya hingga setiap hari setiap malam Reza selalu minta untuk dipuaskan diatas ranjang mereka.
Seperti sekarang ini Annisa yang sudah Reza rebahkan dikasur king size mereka dengan ditindih oleh tubuh Reza diatasnya, Annisa sudah pasrah dan menutup matanya namun setelah lumayan lama Annisa tidak merasakan sentuhan sedikitpun dari sang suami hingga kemudian Annisa memberanikan diri untuk membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Annisa :
"Kenapa mas?" tanya Annisa bingung melihat sang suami yang tengah fokus menatap perut ratanya dengan mengelusnya lembut.
Reza :
"Sayang, kapan ya kamu hamil biar kita bisa punya anak" ucap Reza dengan tatapan penuh pengharapan kearah perutnya.
Annisa :
"Maaf ya mas, sampai saat ini Annisa belum bisa kasih mas keturunan" merasa bersalah sekaligus sedih.
Reza membelai wajah sang istri yang ia lihat tiba tiba berubah menjadi sedih, Reza pun jadi ikut merasa bersalah karena ucapannya tadi membuat istri tercintanya jadi seperti ini.
Reza :
"Sayang... Kamu ngga salah kok, mungkin mas yang kurang berusaha buat bikin kamu puas" seringai mesum mulai nampak.
"Astaga, kurang puas apanya. Bahkan dalam sehari mas Reza membuat ku seperti minum obat, pagi siang malam harus melayani dirinya. Yang aku bingung kenapa mas Reza seakan tidak pernah puas dan masih mau lagi"
Batin Annisa.
__ADS_1
Annisa tertawa kecut.
Annisa :
"Annisa puas kok mas, ngga perlu ditambah lagi jam bikinnya" secara tidak langsung ingin menyadarkan sang suami agar jangan terlalu sering.
Reza :
"Mas tau kamu kurang puas sama kinerja ade nya mas, yaudah sekarang kita bikin lagi ya" dengan cepat Reza membuka jubah baju sang istri yang sedari tadi sudah berada dibawah dirinya.
Pasrah dan hanya kata itu yang bisa Annisa lakukan karena nafsu sang suami yang begitu besar, tidak Annisa pungkiri jika dirinya juga menikmati permainan suaminya namun tubuhnya serasa remuk setelah melakukannya.
"Euhhhhh..."
Lenguh Annisa didalam tidurnya dan mulai membuka kedua kelopak mata cantiknya itu.
Terlihatlah suami tampannya yang sedang berada didepan wajahnya sedang menatap dirinya penuh senyuman.
Cup..
Reza mengecup bibir Annisa.
Reza :
"Sayang, tamu bulanan kamu udah datang ngga bulan ini" mengelus puncak kepala sang istri.
Annisa terlihat memikirkan pertanyaan sang suaminya tadi.
Annisa :
"Ambilin kalender dong mas" ucap Annisa menyuruh sang suami.
Reza mengambilkan kalender kecil yang berada dimeja samping ranjang mereka dan memberikannya kepada sang istri. Terlihat Annisa sedang menghitung angka ditanggal tersebut.
Annisa :
"Astaga mas, Annisa udah telat dua minggu" ucap Annisa terkejut karena dirinya pun tidak menyadarinya sama sekali.
Reza :
"Benarkah?" Mata Reza berbinar ketika mendengar ucapan sang istri.
Reza pun menarik sang istri semakin dekat kepada dirinya dan mendekap tubuh istri tercintanya itu dengan hangat, ia memeluk begitu erat seakan melampiaskan rasa bahagia yang akan segera datang menghampiri mereka berdua. Ciuman berkali kali Reza daratkan dipuncak kepala dan kening sang istri sebagai bentuk ucapan terima kasih dirinya atas segala kebahagiaan yang telah Annisa berikan.
*******
Semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya dan maaf jika banyak terjadi kesalahan dalam penulisan.
Oh iya, untuk kalian yang masih bertanya kapan terbongkarnya suami Annisa dihadapan Dian dan Indah. Jawabannya sebentar lagi.
Kalian pantengin aja terus novel author ya jangan sampai kelewatan.
Jangan lupa setelah membaca berikan like dan vote ya 😁😁
Komennya yang banyak supaya author tau gimana tanggapan kalian sama novel ini.
Terima kasih 🙏🙏🙏
08 April 2020
__ADS_1