
Di Ruang Operasi
Dokter dan beberapa perawat yang mendampinginya masih menunggu hasil dari pencarian donor darah tadi namun sudah beberapa lama perawat yang ia tugaskan tadi tidak kunjung kembali untuk memberitahukan apakah ada atau tidak pendonor darah untuk pasien yang sedang mereka tangani saat ini, ya siapa lagi kalau bukan Sarah.
Titttt.... Titttt....
"Dok bagaimana ini, kondisi pasien semakin menurun, harus ditangani segera" kata salah satu perawat diruangan itu.
Dokter yang menangani pasien pun sekarang ikut cemas setelah mendengar pemaparan dari salah satu perawat yang menemaninya sekarang.
"Kemana perempuan itu perginya sampai sekarang belum datang, apakah dia sudah mendapatkan pendonornya. Awas saja jika dia kembali dengan hasil yang mengecewakan" kata dokter tampan itu didalam hatinya.
Setelah ditunggu beberapa lama perawat yang tadi ditugaskan untuk mencari pendonor tidak kunjung muncul juga jangankan muncul, menampakkan batang hidungnya saja tidak ada lalu dokter tampan tadi berinisiatif untuk keluar dari ruang operasi untuk mencari perawat yang sangat mengesalkan itu.
Bagaimana tidak, disuruh untuk bertanya kepada keluarga pasien saja membutuhkan waktu yang lama.
"Aku akan keluar menemui keluarga pasien, kalian tolong jaga pasien ini dan awasi terus keadaannya, saya tidak akan lama" ucap dokter tampan tadi sembari meninggalkan pasien dan beberapa perawat yang mendampinginya tadi.
Dokter itu pun berjalan dengan begitu tergesa tergesa untuk segera keluar dari ruang operasi.
Braakkkkk....
(Suara pintu kamar operasi yang dibuka dengan sangat keras dan mengakibatkan keluar suara yang begitu nyaring)
Reza, Annisa, Citra dan perawat yang tadi disuruh mencari pendonor langsung terkejut mendengar suara gebrakan dari arah ruang operasi dan mereka berempat seketika langsung menoleh bersama melihat kearah sumber suara. Nampak lah dokter tampan nan muda keluar dari ruang operasi itu.
Reza menaikkan sedikit alisnya ketika melihat siapa orang yang keluar dari ruang operasi itu.
Reza :
"Bobby?????" teriak Reza kepada dokter yang sedang berjalan kearah mereka.
Bobby :
"Reza??? Lo Reza kan??? tanya dokter tadi yang bernama Bobby.
Reza :
"Iya, ini gue Reza. Lo ngapain keluar dari ruangan itu??" tanya Reza kepada temannya itu.
Ya Bobby adalah teman Reza semasa kuliah dulu dan terpisah beberapa tahun setelah kelulusan mereka.
Bobby :
"Gue lagi nanganin pasien yang sedang kritis sekarang" jawab Bobby atas pertanyaan Reza tadi.
Perawat yang sedang berdiri dengan Annisa dan Citra pun berjalan mendekati Reza dan Bobby yang berjarak beberapa langkah dari mereka.
Perawat :
__ADS_1
"Dok, apakah dokter sudah kenal dengan keluarga pasien??" tanya perawat itu kepada dokternya.
Bobby :
"Apa!! kamu keluarga pasien yang sedang aku tanganin sekarang za, memangnya pasien itu siapanya lo???" tanya Bobby kepada Reza karena terkejut sekaligus bingung setelah mendengar kalau pasien yang sedang ia tangani adalah keluarga Reza yang sekaligus temannya sendiri.
Reza :
"Itu mamah gue bobb" jawab Reza dengan menundukkan kepalanya karena merasa tidak kuat memperkenalkan ibunya dalam keadaan yang begini mirisnya.
Bobby :
"Apaa!!!! itu mamah lo, kenapa gue ngga nyadar ya" jawab Bobby polos sambil menggaruk belakang kepalanya.
Tiga perempuan yang sedang berdiri menatap lekat kepada kedua sosok lelaki yang sedang berbicara itu. Mereka merasa kalau kedua laki laki itu tidak ingat kalau mereka dalam keadaan yang tidak pas untuk saling bertanya satu sama lain.
Ketiga perempuan itu merasa jika para lelaki itu sedang melakukan reunian dalam keadaan yang genting dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Ehemmm.... hemmm..
Suara deheman seorang perempuan yang seketika mengagetkan mereka dan sekalian mengingatkan jika mereka harus segera mengehentikan pembicaraan mereka sekarang yang sangat tidak berguna itu.
Bobby :
"Ada apa!!" tanya Bobby kepada perawat yang tadi membuat suara deheman dengan nada yang dingin dan wajah yang datar.
"Pake nanya lagi ada apa, udah tau lagi keadaan genting kaya gini masih sempat sempatnya aja ngobrol" batin perawat itu.
Perawat :
Bobby :
"Baiklah, dimana suaminya aku ingin bertemu dengannya agar dia mau menyetujui pendonoran darah ini secepatnya" ucap Bobby bertanya kembali kepada perawat itu.
Perawat itu tidak menggerakkan tubuhnya sana sekali untuk menunjukkan dimana suami pendonor tersebut, yang dia lakukan hanyalah melirikkan matanya kesebelah kirinya.
Perawat :
"Dokk.." ucap perawat itu memberi kode sambil melirikkan matanya kesebelah kiri tadi namun yang dikode tidak mengerti sama sekali.
Bobby yang mendengar perawat itu memanggilnya langsung menoleh kearahnya namun si dokter malah menaikkan sedikit sebelah alisnya sambil menatap bingung kepada perawat itu.
Plakkk..
Perawat itu menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan dokternya yang terlalu bodoh atau terlalu polos, masa dengan kode seperti itu saja dia tidak mengerti.
"Astagaaa... Apa dia dulu tidak pernah dikode kode perempuan ya makanya terlalu bodoh seperti itu. Masih ada saja model laki laki yang seperti ini hidup dizaman sekarang" kata hati perawat itu sambil menatap kearah dokternya.
Bobby :
__ADS_1
"Apa? Kenapa?" tanya Bobby kepada perawat itu lagi karena melihat kelakuannya yang menatap Bobby dengan pandangan meremehkan.
Heninggg...
"Aku suami pendonor itu" jawab Reza yang memecah keheningan diantara mereka.
"Apaaaaaaa!!!!!!" teriak Bobby yang tambah membuat orang disekitarnya terkejut.
Wajah Bobby yang nampak terkejut mendengar penuturan temannya sendiri bahwa dia adalah suami pendonor tersebut.
Reza berjalan kearah Annisa dan memegang pergelangan tangannya, membawanya kearah Bobby dan perawat itu.
Reza :
"Ini istriku, kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu dan sekarang yang berada diruang operasi adalah ibuku. Apakah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ibuku selain membuat istriku mendonorkan darahnya???" ucap Reza panjang lebar disertai pertanyaan kembali.
Untuk kesekian kalinya Bobby bingung dan tidak bisa berkata apa apa untuk menjawab apa atas pertanyaan Reza. Oh bukan bingung untuk menjawab pertanyaan Reza tentang bagaimana cara menyelamatkan ibunya namun bingung dengan penuturan temannya itu tentang istri, pernikahan, beberapa bulan. Oh ayolah, Bobby baru tidak bertemu beberapa tahun sudah dikejutkan dengan kabar seperti ini.
Reza :
"Bobb bagaimana?" tanya Reza sambil menggoyangkan tubuh Bobby yang dilihatnya sedang melamun entah memikirkan apa.
"Bisa bisanya dia melamun dalam keadaan seperti ini" batin perawat itu melihat lagi kelakuan aneh dokternya.
Bobby :
"Baiklah, perlu aku luruskan sebentar disini. Jadi Reza, ibumu sekarang sedang berada diruang operasi dan membutuhkan seorang pendonor secepatnya jika tidak nyawanya tidak akan tertolong. Dan satu satunya yang dapat menyelamatkan ibuku hanya istrimu sekarang karena dia mempunyai golongan darah yang sama namun kamu belum memberikan persetujuannya sedari tadi. Apakah benar seperti itu???" tanya Bobby kepada Reza namun yang ditanya malah menundukkan wajahnya kearah lantai dibawah.
Reza :
"Awalnya aku memang berpikir seperti itu, namun setelah melihat keyakinan yang begitu dalam dari mata istriku, aku menjadi yakin kalau istri dan ibuku akan selamat dalam operasi ini dan aku sangat mengandalkan mu untuk menjaga kedua wanita yang aku sayangi ini".
Annisa yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan percakapan sang suami dan dokter itu, akhirnya membuka suara agar masalah ini cepat teratasi.
Annisa :
"Terimakasih mas telah mengijinkan Annisa untuk membantu mamah yang sedang membutuhkan pertolongan sekarang" Annisa bahagia meskipun air matanya keluar saat ini.
Reza membawa sang istri kedalam pelukannya untuk sekedar saling menenangkan mereka berdua yang saat ini tengah dilanda sebuah musibah.
"Hanya ini yang dapat Annisa beri kepada kamu mas, terimakasih atas segala kasih sayang, cinta dan kebaikan yang kamu berikan selama ini. Jika memang kita berjodoh maka takdir akan membawa diriku kembali bersamamu".
*******
Hai semuanya, semoga kalian suka dengan kelanjutan ceritanya ya.
Maafkan author yang sempat hilang beberapa hari ini 🙏🙏🙏😁😁
Jangan lupa like, komen, Favoritkan dan Vote ya. Makasih banyak semuanya 😘😘😘😘
__ADS_1
Happy Reading ❤️❤️❤️
26 Februari 2020