Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
DIAN & INDAH PART 4


__ADS_3

Hari demi hari mereka berdua lewati seperti sepasang kekasih. Saling menjaga, saling mengingatkan, saling mengasihi hingga saling mencintai. Mereka juga kembali belajar untuk bagaimana cara mengatasi masalah agar tidak menimbulkan pertengkaran diantara mereka.


Sebisa mungkin mereka meminimalisir semua masalah agar tidak menjadi besar apalagi jika hanya seperti perdebatan karena perbedaan pendapat.


Seperti siang ini ketika mereka bingung untuk menentukan tempat dimana mereka akan makan siang bersama, dari pada akan berakhir dengan perdebatan lebih baik Dian yang mengalah dan menurut saja dengan pilihan wanita tercintanya itu dan benar saja pilihannya ialah di cafe milik indah sendiri.


Indah seperti ingin memberitahukan kepada orang-orang terdekatnya jika sekarang dirinya sudah memiliki kembali seseorang yang ia cintai.


Waktu makan siang sudah tiba bertepatan juga dengan berhentinya laju mobil yang dikendarai Dian didepan cafe indah.


Sebelum keluar dari mobil Dian terlebih dahulu mengirimkan pesan singkat kepada sang kekasih hati.


"Sayang, aku sudah sampai didepan cafe kamu nih".


Begitulah isi pesan singkat dari Dian.


Tidak seberapa lama dari terkirimnya pesan tersebut, muncul lah sosok wanita penerima pesan tadi didepan mobil Dian.


Rupanya sedari tadi indah juga sedang menunggu kedatangan Dian, setelah menerima pesan dari laki-laki tersebut tanpa membalas pesan itu, indah pun langsung tancap gas dengan melangkahkan kakinya cepat menuju tempat keberadaan Dian.


Dian lantas terkejut dengan ketukan di kaca mobilnya karena didalam mobil dirinya tengah bersiap dengan satu buket bunga ditangannya. Dengan cepat Dian pun meletakkan buket bunga tersebut ke kursi penumpang disampingnya lagi.


Dian pun lantas membuka pintu mobilnya dan keluar.


"Kamu kok nyusulin kesini sih sayang, kenapa ngga nunggu didalam aja" tanya Dian yang tadi sempat dikejutkan dengan kedatangan tiba-tiba dari indah.


Indah pun memberikan senyumannya. "Ngga papa, cuman pengen cepat ketemu kamu aja. Aku udah kangen banget soalnya" sahut indah.


Dian pun lantas mengacak-acak rambut indah karena dibuat lucu oleh tingkah laku dirinya.


"Bisa aja deh kamu sayang gombalin aku sekarang, kemaren aja masih malu-malu" goda Dian.


"Iiihhh kamu ngga suka ya aku gombalin, yasudah nanti-nanti aku ngga mau berkata manis-manis lagi sama kamu" kesal indah.


Dian pun lantas memberikan indah pelukan atau bisa disebut dirinya memang yang ingin memeluk indah.


"Ngga dong sayang, aku malah suka kamu gombalin. Sering-sering aja kaya gitu" ucap Dian yang masih memeluk indah.


Indah pun lantas tersenyum didalam dekapan Dian dan membalas pelukan tersebut hingga menciptakan pula senyuman diwajah Dian.


"Ini sebenarnya kita mau makan siang apa pelukan sih??" tanya indah.


Eh tuh kan Dian kelupaan lagi niat awal kesini ingin apa, gara-gara perkara gombalan kan dirinya jadi main nyosor aja.


Dian pun refleks melepas pelukan mereka dan menampilkan tawa cengengesan nya.


"Eh maaf sayang, ngga sengaja. Habisnya kalau dekat kamu bawaannya pengen nempel aja terus" ucap Dian.


"Itu sih memang kebiasaan kamu dari dulu sayang" jawab indah.


Mereka pun kemudian memutuskan untuk kembali ke niat awal yaitu makan siang bersama. Namun sebelum melangkahkan kakinya, Dian terlebih dahulu memberikan indah sebuket bunga yang sudah ia persiapkan tadi.


"Eh tunggu bentar deh sayang" ucap Dian kemudian membuka kembali pintu mobilnya sedangkan indah hanya menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh Dian tersebut.


"Ini buat kamu sayang, semoga kamu suka ya" Dian lantas memberikan sebuket bunga mawar segar kepada indah.


Dengan senang hati indah menerima bunga tersebut dan mendekatkan wajahnya kearah bunga mawar itu agar dapat mencium aromanya.


"Wangi banget, makasih sayang" ucap indah dengan memberi kecupan disebelah pipi Dian.


Oh ya ampun, tuh kan Dian dipancing lagi. Seandainya udah rujuk ngga bakal Dian bawa makan siang tapi yang ada bakal Dian bawa buat bergelut dikamar.


Astaga, pikiran Dian mulai lagi.


Mereka pun lantas berjalan dengan bergandengan tangan menuju cafe milik indah. Ketika mereka memasuki cafe tersebut, mereka disapa dengan banyak tatapan pasang mata ke arah mereka termasuk beberapa pegawai indah yang kebetulan sedang melayani pelanggan.


Karena jam makan siang makanya sekarang cafe indah sedang dalam keadaan ramai oleh pengunjung namun indah dan Dian tidak sedikitpun menghiraukan tatapan mata yang menatap kearah mereka.


Indah membawa Dian langsung keruangan pribadinya atau bisa dibilang ruangan kerja yang dia miliki di dalam cafe ini. Makanan rupanya sudah siap tersaji diatas meja ruangan tersebut.


Ditengah makam siang yang sedang mereka santap beberapa saat sebelumnya dalam keheningan.


"Kamu beneran udah siap nanti malam kerumah aku buat minta ijin sama ayah ibu, beneran udah berani??" tanya indah lagi, dirinya seakan masih belum yakin jika Dian sudah membuat keputusan secepat ini untuk kembali meresmikan hubungan mereka.

__ADS_1


"Kamu meragukan aku, kamu ngga percaya jika aku sungguh-sungguh ingin kembali kepadamu dan merangkai rumah tangga kita lagi" tanya Dian kembali.


Indah jadi merasa bersalah akan pertanyaan dirinya tadi hingga membuat Dian menjawab seperti itu.


"Bukan kaya gitu sayang, aku cuman takut kalau nanti yang kamu dapat dirumah aku bukanlah persetujuan namun malah penolakan. Aku ngga mau kamu jadi sakit hati nantinya" jelas indah.


Dian tersenyum penuh arti. "Jika mereka menolak, maka aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuk dan meyakinkan mereka, karena aku benar-benar tulus ingin kembali kepadamu dan membina kembali keluarga kecil kita" sahut Dian.


Ahh indah jadi terharu, benarkah ini laki-laki yang selama ini sudah dia cintai, kok bisa jadi dewasa kaya gini ya.


"Baiklah, aku harap kamu bisa meyakinkan ayah dan ibuku nantinya" indah pun kembali melanjutkan makannya yang sempat ia tunda tadi akibat pembicaraan singkat mereka.


* * *


Sesuai janji dan pembicaraan Dian tadi siang jika malam ini dirinya akan datang kerumah indah untuk meminta restu agar orang tuanya mau menerima dirinya kembali menjadi seorang menantu dikeluarga mereka.


Saat ini Dian tengah bersiap karena sebentar lagi dirinya akan berangkat ketempat tujuan mengingat jam semakin berputar dengan cepat hingga waktu yang ditentukan pun semakin mendekat.


Ditempat lain indah juga tengah bersiap untuk menyambut kedatangan Dian nantinya, sore tadi setelah dirinya pulang dari cafe ia langsung memberitahukan kepada kedua orangtuanya jika nanti malam akan datang seorang laki-laki yang berniat ingin melamar dirinya dan membangun rumah tangga bersamanya.


Meskipun ada sedikit kesalahan dari pemberitahuan indah tadi sore namun menurutnya sama saja, intinya laki-laki itu ingin menikahi dirinya atau lebih tepatnya kalau disebut rujuk.


Namun jika dirinya mengatakan dari awal kalau ada seseorang yang ingin mengajaknya kembali berhubungan sudah pasti yang akan dipikirkan kedua orang tua indah adalah Dian, bukannya indah tidak mau jujur hanya saja dia tidak ingin kalau Dian langsung mendapatkan penolakan dari kedua orangtuanya sebelum Dian berperang terlebih dahulu.


Masa iya belum apa-apa udah kalah aja, kan ngga seru.


Bel rumah berbunyi pertanda kalau ada seseorang yang datang, indah semakin cepat dalam menyelesaikan dandanannya.


Sedangkan ditempat lain ketika mendengar bel berbunyi, ayah indah lantas langsung menuju pintu dan membukanya.


"Selamat malam om" Begitulah sebuah sapaan yang ayah indah terima dari orang yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya ketika dirinya membuka pintu tersebut.


Tidak ada sahutan ataupun sepatah dua patah kata yang keluar dari mulut ayah indah, namun dapat Dian artikan jika dari tatapan matanya dia sangat tidak disukai dan diterima kedatangannya disini.


Ayah indah hanya pergi berlalu meninggalkan Dian yang masih mematung didepan pintu, tidak ada juga sebuah kalimat untuk memperbolehkan dirinya masuk namun pintu tersebut dibiarkan terbuka saja setelah ayah indah pergi, itu berarti jika dirinya diperbolehkan masuk. Begitu pikir Dian.


Dian pun setelah mengumpulkan keberaniannya lalu melangkahkan kaki memasuki rumah tersebut, sedangkan dari arah dalam terdengar suara perempuan namun Dian tahu betul jika itu bukan suara indah.


"Siapa yang datang yah, tamu nya yang indah maksud sudah datang ya??" tanya ibu indah.


Dengan antusias dan wajah yang sumringah sang ibu menuju kearah ruang tamu namun senyuman tadi hilang lantaran seseorang yang sedang duduk di kursi tamu mereka adalah Dian. Iya, mantan menantunya dulu.


"Selamat malam tante" sapa Dian lagi kepada ibu indah.


Namun lagi-lagi bukan jawaban yang Dian dapat namun ia kembali ditinggalkan tanpa sepatah katapun.


Astaga sekarang yang Dian perlukan bukan lah keberanian saja namun juga kesabaran menghadapi situasi seperti sekarang ini.


Sedangkan didapur ayah dan ibu indah sedang berbincang, perbincangan mengenai kebingungan yang tengah mereka hadapi lantaran seorang laki-laki yang dikatakan oleh anak mereka akan bertamu nanti bukannya orang lain melainkan mantan menantu mereka juga.


Mau tidak mau suka tidak suka, kedua orang tua indah lantas kembali menuju ruang tamu bersama dengan untuk menemui sang mantan menantu. Sedangkan indah, sedari tadi batang hidungnya belum juga nampak barang secuil.


Bukan suasana hening saja yang mengambil alih keadaan sekarang namun juga suasana tegang yang mencekam yang Dian rasakan, apalagi sedari tadi kedua mertuanya itu menatapnya dengan tatapan yang tidak bersahabat terutama sang ayah mertua.


"Ada perlu apa kamu kesini??" tanpa basa basi ayah indah langsung bertanya inti permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Dian memeras lututnya dengan kedua tangannya yang sedari tadi ia letakkan diatas lutut tersebut.


"Begini om dan tante. Saya tidak akan berbelit lagi". Dian sejenak menjeda kalimatnya. "Kedatangan saya kesini ingin meminta ijin kepada ayah dan ibu kalau saya ingin meminta rujuk kepada indah" ucap Dian.


Sekarang sedikit beban di dadanya terangkat ketika dirinya memberitahukan niat kedatangannya kemari.


Ayah dan ibu indah saling berpandangan ketika mendengar ucapan yang terlontar langsung dari mulut sang mantan menantu. Sesaat kemudian kembali mengalihkan pandangan mereka kearah Dian. Sedangkan Dian jangan ditanya, dirinya menundukkan pandangannya seperti seorang anak perempuan yang sedang dimarahi kedua orang tuanya.


Suasana senyap sedari tadi hilang ketika mendengar derap langkah kaki dari tangga rumah tersebut, terlihat seorang perempuan cantik tengah menuruni tangga dan tersenyum kearah Dian. Dian pun lantas membalas senyuman tersebut, seketika pula tumbuh perasaan lega di dadanya.


"Kamu udah nyampe??" tanya indah sembari dirinya meletakkan tubuh di kursi tamu yang masih kosong diruangan itu atau lebih tepatnya dia duduk persis disebelah Dian.


Dian tersenyum. "Iya, baru juga sampai" sahutnya.


Indah pun lantas menolehkan pandangannya kearah depan yakni kepada kedua orangtuanya yang sedang duduk diam dengan sorot mata yang menatapnya tajam.


Eh ini indah juga jadi gerogi kan, padahal yang ia hadapi adalah kedua orangtuanya yang sudah ia lihat setiap hari. Dengan membuat persiapan didalam diri, indah pun memberanikan diri untuk berbicara kepada kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ayah, ibu. Jadi kedatangan Dian kesini itu..."


"Sudah cukup, kami sudah tau apa maksud kedatangan laki-laki itu kemari, kamu tidak perlu lagi menjelaskannya dan berbicara. Sekarang cukup kami yang akan berbicara selanjutnya. Kami hanya perlu mendengarkan, ingat itu" ancam ayah indah.


Belum juga apa-apa indah sudah diancam oleh sang ayah, padahal dirinya hanya berniat untuk menolong sang kekasih untuk menyampaikan maksud baiknya karena indah juga tau kalau Dian sedang gugup setengah mati.


"Jadi, kenapa kamu mau kembali kepada anak saya" tanya ayah indah.


Ini adalah pertanyaan pertama untuk Dian.


"Karena saya mau ..." ucapan Dian terpotong seperti indah tadi lantaran sang ayah kembali memberikan pernyataan.


"Bukankah selama ini kamu sudah terbiasa hidup tanpa anak saya lalu mengapa tiba-tiba kamu datang kembali, tidak bisa kah kamu fokus saja dengan hidup mu itu dan jangan mengganggu keluarga kami lagi" pernyataan ayah indah sangat menyakitkan untuk Dian.


Lontaran kata hingga kalimat yang baru saja Dian dengar seperti secara tidak langsung jika ayah indah tidak menginginkan dirinya lagi untuk kembali menjadi menantu dikeluarga mereka.


"Maafkan semua kesalahan saya om, maafkan saya karena telah membuat kalian kecewa atas perilaku saya kemarin. Dan maafkan saya yang telah menyakiti anak kalian, saya ingin kembali memperbaiki rumah tangga kami" ucap Dian.


Dian berusaha menyakinkan kembali mertuanya untuk dapat menerima dirinya kembali menjadi menantu mereka, memang tidak mudah tapi Dian harus berusaha agar hal yang dia inginkan dapat tercapai.


Dian kembali melanjutkan ucapannya. "Saya mohon agar kalian dapat menerima saya kembali menjadi menantu dikeluarga ini, saya mohon berikan saya kesempatan kedua untuk membahagiakan anak kalian, saya mohon" kini Dian berucap dengan nada yang lirih dan penuh pengharapan, dirinya tidak tau lagi bagaimana cara membuat kata-katanya agar dapat menyakinkan kedua orang tua indah.


"Kalau kami memberikan kesempatan kedua untukmu, apa jaminan yang bisa kami dapatkan jika anak kami kembali kami sakiti" tanya ibu indah.


Indah berucap "Ibu, apa maksud ibu dengan mengatakan itu??" indah heran mengapa ibunya meminta jaminan untuk anaknya sendiri.


Dian pun memegang tangan indah sebagai isyarat agar indah diam saja dan tidak perlu ikut dalam pembicaraan mereka bertiga.


Indah juga menolehkan kepalanya ke Dian setelah merasakan pegangan tangan yang ia terima, dengan wajah bingung ia menatap Dian namun hanya dibalas senyum oleh Dian dan sebuah anggukan pelan seperti isyarat bahwa percaya lah indah kepadanya dan semua akan berjalan sebagaimana mereka harapkan.


"Bagaimana, apa jaminan yang akan kau berikan??" tanya ibu indah lagi.


"Tante bisa melakukan apa saja kepadanya saya dan saya akan ikhlas menerimanya, apapun itu. Saya berjanji" sahut Dian dengan penuh keyakinan.


Ayah dan ibu indah nampak mempertimbangkan ucapan dari Dian, apalagi dari sorot mata dan wajah yang ia buat serius itu menampakkan kejujuran yang tulus. Tidak ada alasan lagi untuk mereka berdua tidak menerima Dian kembali apalagi jika mereka lihat bahwa anak mereka yaitu indah terlihat masih sangat mencintai laki-laki disebelahnya itu.


Pantas saja selama ini ketika kedua orang tuanya menyuruh untuk dia mencari pasangan namun tidak pernah didengarkan, rupanya sang anak masih mencintai dan mengharapkan untuk kembali bersama mantan suaminya itu.


Lalu kembali sang ayah yang melontarkan pertanyaan namun bukan untuk Dian melainkan untuk anaknya sendiri yaitu indah.


"Bagaimana, apakah kamu juga ingin kembali bersama laki-laki itu??" tanya sang ayah.


Indah nampak kaget karena kali ini dirinya lah yang mendapatkan pertanyaan.


"Iya yah, indah ingin kembali memperbaiki rumah tangga indah bersama Dian. Indah harap ayah dan ibu mau merestui kami untuk kembali bersama lagi" sahut indah. Dirinya sangat berharap orang tuanya akan memberikan lampu hijau kepada mereka berdua.


"Baiklah jika itu keputusan kalian berdua, kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan semoga rumah tangga kalian selalu bahagia. Dan ayah harap kamu dapat membimbing indah untuk menjadi istri yang lebih baik lagi namun jika kamu tidak sanggup untuk membimbingnya lagi, rumah ayah akan selalu terbuka untuk menyambut kembali putri kami" ucap sang ayah.


Ayah indah memberikan restu sekaligus peringatan mungkin untuk Dian agar tidak lagi mengecewakan dirinya terutama sang anak yaitu indah.


Dian tersenyum, begitupun dengan indah. Mereka saling melepaskan senyum kebahagiaan dengan saling bertatap.


Akhirnya, meskipun awal kedatangannya tadi tidak disambut dengan baik namun diakhir cerita mereka mendapatkan kebahagiaan.


Sungguh, Dian sangat bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan kedua yang telah diberikan kepadanya dan ia pun berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


"Terima kasih ayah ibu, kalian tidak perlu khawatir karena saya tidak akan pernah mengembalikan putri kalian lagi" jawab Dian dengan tegas namun diakhiri dengan senyuman.


Indah heran. "Berarti aku ngga boleh kerumah ayah ibu lagi dong nanti" ucap indah dengan wajah yang cemberut dan bibir yang ia majukan sedikit.


Sontak saja ketiga orang yang berada diruang tamu tersebut tertawa keras akan ucapan konyol yang barusan indah lontarkan. Sungguh, benarkah perempuan ini yang Dian cintai.



Yah seperti ini lah outfit mereka ketika bertemu dalam rangka rujuk kembali wkwk.


* * * * * * *


Ini adalah part terakhir untuk Dian dan Indah, setelah ini akan kembali ke cerita Reza dan Annisa.


Tapi kalian tenang aja, Dian dan indah juga bakalan author masukin bareng Reza dan Annisa.


Terima kasih untuk kalian yang masih setia nungguin novel author untuk up.

__ADS_1


Maaf banget sekarang author lagi sibuk-sibuknya jadi ngga bisa sering up kaya dulu. Tungguin aja ya terus 😁😁😁


Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan Selamat membaca.


__ADS_2