Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
DIAN & INDAH PART 3


__ADS_3

Setelah keterkejutan akan pelukan yang tiba-tiba indah rasakan dari Dian, pelukan yang selama ini sangat ia rindukan dan sangat ia inginkan akhirnya dapat ia rasakan kembali setelah sekian lama angin dingin menerpa tubuhnya setiap malam tanpa pelukan hangat dari sang suami tercinta.


Suasana kecanggungan mengambil alih ruangan kerja indah yang didalamnya di isi indah dan Dian yang masih sama-sama bungkam tanpa mengatakan satu patah kata pun.


Terlihat dari wajah Dian jika sepertinya dirinya sedang menyusun dan menyiapkan sebuah kalimat dari dalam kepalanya.


"Apa kabar ??"


Akhirnya hanya kalimat itu saja yang sanggup Dian keluarkan sekarang.


"Baik, kalau kamu ??" indah melemparkan kembali pertanyaan Dian tadi. "Aku juga baik" sahut Dian.


Suasana hening kembali terjadi.


"Kesibukan apa yang sedang kamu lakukan belakangan ini ??" tanya Dian kembali.


Kali ini dirinya sudah berani menatap wajah indah yang sekarang berada didepan tempat duduknya.


"Seperti yang kamu lihat aku sekarang tengah disibukkan dengan mengurus cafe yang beberapa bulan lalu aku dirikan" sahut indah dengan jujur.


Karena memang semenjak mereka berpisah indah selalu menyibukkan dirinya dengan urusan cafe yang sekarang ia miliki agar ia tidak selalu memikirkan Dian. Karena memang tidak mudah untuk melupakan seseorang yang selama ini menemani keseharian dirinya.


Dian pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan tanda ia bingung ingin bertanya apa lagi kepada indah.


"Indah" panggil Dian.


Indah pun seketika mengangkat wajahnya untuk bisa melihat wajah Dian yang berada tepat didepannya. Ia terkejut mendengar kalau Dian barusan tadi memanggil namanya. Iya benar, sepertinya telinganya sedang tidak bermasalah hingga pendengarannya tadi menyerap sebuah nama dirinya yang terpanggil begitu saja.


"i..iya" sahut indah agak tergagap.


Dian menelan ludahnya sebelum kembali melontarkan pertanyaan berikutnya.


"Apakah sekarang kamu masih sendiri??" tanya Dian.


Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulutnya, pertanyaan yang akan menentukan nasib dirinya kedepannya. Entah harus berjuang kembali atau malah sebaliknya.


Sekarang bukan Dian yang takut melainkan indah. Dirinya sekarang bingung harus menjawab apa karena nasibnya juga sedang dipertaruhkan disini. Ia takut ketika dirinya menjawab jika ia masih sendiri namun malah laki-laki dihadapannya ini ingin memberitahukan jika ia sudah memiliki pengganti.


Ah masa bodoh lah, jawab saja sejujurnya.


"Aku masih sendiri Dian, memangnya ada apa hingga kamu bertanya seperti itu" tanya indah kembali.


Bolehkah indah sekarang loncat-loncat akibat senang dengan pertanyaan Dian barusan, pertanyaan tadi seperti sebuah jakpot bagi indah dirinya bahkan hampir tidak bisa menyembunyikan senyuman yang ingin tercetak diwajahnya.


Untunglah Dian terlihat seperti gugup dan sesekali menundukkan pandangannya hingga tidak sadar dengan perubahan raut wajah indah yang senang bukan kepayang.


Dian pun kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Bagaimana..??" Dian menatap wajah indah, mata mereka saling tatapan didalam satu garis lurus.


"Iya??!.."


Indah pun tidak kalah gugup menanti sambungan kalimat yang akan keluar dari mulut Dian.


"Kalau kita rujuk kembali" ucap Dian penuh pengharapan akan jawaban iya dari mulut indah.


Yess....!!!!


Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat dimana mereka berdua diberikan sebuah kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangga mereka lagi, tidak akan ada yang menolak untuk sebuah kesempatan itu. Begitupun dengan indah, wanita ini akan melakukan segala cara agar rumah tangganya dapat kembali seperti semula.


Indah tidak langsung menjawab atas pernyataan yang Dian lontarkan tadi, dia ingin melihat keseriusan dan kesungguhan diwajah Dian dan benar saja ketika indah mengamati wajah laki-laki itu sedari tadi dirinya memang melihat hanya ada sebuah ketulusan yang terpancar jelas.


"Maaf Dian tapi aku tidak bisa menjawab sekarang, aku masih perlu waktu. Kamu sendiri tahukan kalau aku pernah terluka oleh kata-kata mu dulu" ucap indah.


Ah perkataan indah barusan memang benar adanya, terlepas dari bagaimana alasan mereka bertengkar dulu tapi tidak Dian elak jika memang perkataannya pada saat itu memang pasti menyakiti perasaan istrinya.


Mungkin inilah yang harus Dian rasakan akibat perbuatannya dulu dan hanya sebuah waktu dan kesabaran yang akan menjawab semuanya, entah sebuah harapan baru atau bahkan mungkin sebuah kesakitan hati yang akan menunggu dirinya diujung jalan nanti.


"Tapi Dian, apakah kamu mau menjalani nya dulu bersama ku seperti masa pacaran kita dimana dirimu bisa menyakinkan aku untuk berkomitmen lagi di dalam sebuah ikatan pernikahan" ucap indah.


Senyuman menghias wajah indah ketika selesai berbicara tadi karena tidak ia pungkiri juga kalau dirinya saat ini sedang senang, senyuman itupun dibalas oleh anggukan kepala dari Dian.


Tidak hanya indah disini yang senang namun juga Dian, saling lempar senyuman pun terjadi hingga kadang kala mereka menjadi seperti anak remaja yang baru mengenal cinta dikarenakan sikap malu-malu yang saling mereka tampakkan.


Pertemuan itupun lalu mereka tutup dengan sebuah pelukan hangat yang dimana mereka saling mendekap satu sama lain untuk menghilangkan sebuah rasa kerinduan yang selama ini bersarang di hati mereka.

__ADS_1


* * *


Akhir pekan...


Hari ini ialah hari dimana Dian berjanji ingin mengajak indah untuk berkencan, dikesempatan ini pula dirinya ingin membuktikan bahwa ia masih layak untuk menjadi pasangan dari seorang wanita yang akan ia ajak berkencan nantinya.


Sebuah mobil Fortuner hitam sudah terparkir rapi didepan rumah indah begitu juga dengan sang pengemudi yang masih setia duduk dibelakang setir menunggu sang pujaan hati keluar dari balik pintu rumah tersebut.


Mengapa Dian tidak masuk kerumah dan meminta ijin ??!!..


Jawabannya karena indah melarangnya.


Iya, indah masih belum punya keberanian untuk jujur kepada kedua orangtuanya kalau dirinya saat ini mau menerima kembali kehadiran sang mantan suami didalam hidupnya.


Tidak seberapa lama Dian menunggu akhirnya sang wanita pujaan hati keluar dari balik pintu rumah dengan memakai pakaian yang sangat tertutup tidak seperti biasanya mereka bersama ketika didalam rumah.


Ahh Dian jadi merindukan saat-saat dimana mereka biasanya menghabiskan waktu akhir pekan dengan bermain didalam rumah saja. Saling mengusili, saling bercanda hingga berakhir dengan pergulatan diatas kasur.


Indah langsung saja membuka pintu mobil dan langsung duduk disamping Dian.


"Maaf, nunggu lama ya" indah tersenyum sembari merasa bersalah karena telah membuat Dian menunggu akan dirinya yang sepertinya terlalu lama dalam berdandan.


Dian pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. "Ngga kok, aku juga baru sampai" sahut Dian.


Meski sebenarnya dia sudah tiba dari setengah jam yang lalu namun dia tidak ingin membuat indah merasa bersalah kepada dirinya hanya karena masalah menunggu saja.


Dian pun menyalakan mobil miliknya dan mulai mengendarainya. Didalam perjalanan Dian bingung ingin mengajak indah kencan dimana, dikarenakan dirinya sama sekali tidak memiliki referensi tempat-tempat untuk kencan.


"Kita mau kemana ya kalau boleh tau??" tanya indah yang memang tidak mengetahui kemana mereka akan berkencan.


Dian semakin bingung ketika dilontarkan pertanyaan oleh sang wanita.


Hingga ketika Dian mengingat sebuah kata-kata tentang menyenangkan pasangan.


Dian menolehkan kepalanya kesamping sebentar lalu dengan wajah yang ia beri senyuman "Coba tebak kita mau kemana??" tanya balik Dian.


"Kok kamu malah nanya balik sih"


"Tebak aja dulu kita mau kemana"


Indah lantas terdiam sebentar, wajahnya menampakkan kalau dirinya sedang memikirkan akan jawaban dari pertanyaan yang Dian lontarkan tadi.


Dia semakin menggemaskan..


Indah mengacungkan telunjuknya keatas pertanda kalau dirinya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi.


"Aku tau kita mau kemana" ucap indah.


Dian pun menatap kearah indah lagi untuk menantikan jawaban sembari kembali fokus kearah depan dikarenakan dirinya sedang menyetir.


"Kita mau ke taman kan, iya kan??!!" ucap indah.


Itulah jawaban yang ia dapat setelah berpikir lama.


Dian pun mengusap pelan kepala indah dan tersenyum. "Betul. Kok tau sih aku mau ngajak kamu kesana" tawa kecil Dian.


Indah pun tak kalah antusias akan rasa bahagianya karena Dian baru saja membelai kepalanya setelah sekian lama kegiatan sederhana itu tidak ia rasakan.


"Syukur lah, ternyata kata-kata tentang menyenangkan pasangan itu manjur, jika tidak maka aku akan mengacaukan kencan ini"


Setelah berkendara lumayan lama, akhirnya mereka tiba disebuah taman besar yang berada ditengah kota. Apalagi dalam suasana akhir pekan seperti ini banyak sekali pengunjung yang memadati taman tersebut dari pasangan anak muda hingga satu keluarga yang terlihat seperti sedang piknik dengan menggelar tikar diatas rumput taman tersebut.


Indah terlihat antusias sekali melihat banyak orang yang berada disana, hingga membuat dirinya tidak sadar kalau sedari tadi dirinya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Ayo Dian" ucap indah dengan refleks menggandeng tangan Dian.


Dian pun langsung dibuat terkejut akan sikap indah dan menatap gandengan tangan diantara mereka berdua hingga membuat indah pun tersadar dengan kelakuan dirinya yang sembarangan menggandeng tangan seorang laki-laki.


"Maaf, aku tidak sengaja" ucap indah dan segera melepaskan gandengan tangan mereka.


Dian pun jadi tersenyum canggung. "Iya tidak apa-apa" sahut Dian.


Mereka pun kemudian berjalan beriringan menikmati pemandangan yang tersaji didalam taman tersebut, semilir angin sore yang terasa sejuk menyentuh lembut kulit indah. Senyumannya seakan tiada luntur sedikitpun hingga membuat Dian juga merasa bahagia dengan hanya memandang wajah indah.


"Bagaimana kalau kita menyewa sepeda untuk mengelilingi taman ini" usul Dian.

__ADS_1


"Wah ide yang bagus, ayo kita bersepeda. Sepertinya sangat mengasikan" sahut indah.


Keduanya pun lantas berjalan menuju tempat penyewaan sepeda, hingga di keputusan akhir mereka memilih sebuah sepeda gandeng dua untuk mereka sewa.


Dian dan indah pun dengan semangat menunggangi sepeda tersebut dan mengayuhnya. Dian yang berada diposisi depan sepertinya harus menyiapkan stamina yang lebih karena indah sesekali terlihat tidak ikut dalam mengayuh sepeda tersebut.


Dasar indah, pengen enaknya sendiri.


Sepertinya memang benar mengelilingi taman menggunakan sepeda sangatlah menyenangkan, mereka dapat merasakan sensasi yang berbeda dari pada berjalan saja.


"Dian, lebih cepat lagi mengayuhnya" teriak indah dengan begitu senangnya.


Dirinya layak anak kecil yang begitu bahagia tanpa dibuat-buat.


"Siap tuan putri" sahut Dian.


Dian pun semakin cepat dalam mengayuh sepeda yang sedang mereka tunggangi tersebut. Lelah, tentu saja. Namun tidak dapat dibandingkan sedikitpun dengan senyuman dan bahagia yang terpancar diwajah perempuan yang sedang berada dibelakang dirinya tersebut.


Setelah puas bersepeda dan tentu saja berkeringat akibat kelelahan yang melanda dan dapat terlihat jelas jika Dian lah yang sangat lelah disini. Bagaimana tidak, jika dirinya lah yang paling banyak mengayuh sepeda sedari awal apalagi dengan permintaan yang ingin dipercepat.


"Ini minumlah, kamu pasti sangat kelelahan" ucap indah dengan menyodorkan sebotol air mineral kepada Dian dan disambut oleh Dian.


" Terima kasih" sahut Dian.


Dian pun langsung meminum air yang baru saja indah berikan karena sedari tadi memang tenggorokannya terasa sangat kering dan minta dialiri sebuah air yang menyegarkan.


Indah pun ikut mendudukan tubuhnya disamping Dian dan juga meminum air yang ia beli untuk dirinya sendiri. Sembari meminum air tersebut tatapan indah tiba-tiba terfokus pada keringat Dian yang begitu banyak dikening dan pelipisnya.


Dengan segera indah menyudahi minumnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan yang ia bawa dari dalam tasnya. Tanpa malu ataupun risih, indah mengelap keringat yang ada diwajah Dian hingga membuat orang yang berkeringat itu menjadi kaget dan menghentikan aktivitas minumnya yang sedari tadi ia lakukan.


"Aku bisa sendiri" ucap Dian dan berupaya untuk mengambil alih sapu tangan tersebut dari indah.


Indah pun mengelak dan sepertinya tidak ingin memberikan sapu tangan tersebut. "Tenanglah, aku yang akan mengelap keringat mu, kamu hanya perlu fokus untuk minum saja" sahut indah dan kembali melanjutkan aktivitasnya dalam mengelap keringat Dian.


Bagaimana bisa Dian fokus minum jika wajahnya dan wajah indah berada dalam posisi sedekat ini, bisa-bisa Dian khilaf kemudian malah berakhir dengan mencium indah.


Tuh kan belum apa-apa Dian sudah berpikiran jauh apalagi jika kegiatan seperti ini berlangsung lama, hanya Tuhan lah yang tahu bagaimana akhir dari segalanya.


* * *


Setelah beristirahat lumayan lama, akhirnya mereka berdua kembali menyusuri beberapa tempat dengan berjalan kaki seperti awal mereka datang. Betapa bahagianya indah dapat merasakan rasanya jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.


Begitu pula Dian, ternyata cintanya kepada indah tidak selemah pemikirannya dulu. Setelah mengalami perpisahan, dirinya baru menyadari kalau posisi sang istri sangat penting didalam hati dan kehidupannya.


" Emm Dian, maaf ya aku masih belum bisa mempertemukan kamu sama orang tua aku. Aku masih perlu waktu, karena kamu sendiri tau kan bagaimana sifat orang tua ku" ucap indah disela sela mereka berjalan berbarengan dengan jarak yang sangat dekat.


Dian sudah tidak terkejut dengan apa yang barusan indah katakan, karena dirinya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dikemudian hari. Sekarang yang Dian perlukan hanyalah berusaha sabar dalam mengarungi kembali jalinan kasih mereka berdua.


"Iya, aku paham. Aku juga tidak ingin terlalu mendesak kamu dengan segala keinginan ku. Aku hanya ingin kamu selalu merasa nyaman ketika berada didekat ku dan mari kita jalani semuanya secara perlahan dan sabar. Karena perjuangan tidak akan mengkhianati hasilnya" sahut Dian dengan senyuman yang berusaha menenangkan wanita yang berada disampingnya itu.


Indah terharu, boleh tidak sih indah memeluk laki-laki yang sedang berjalan disampingnya tersebut dan mengucap banyak terima kasih atas segalanya. Karena laki-laki itu masih mau menerima dirinya kembali meskipun dengan perbuatan tercela yang pernah ia lakukan dulu hingga mengakibatkan kehancuran rumah tangga mereka.


Tapi lihatlah, laki-laki itu datang kembali dengan sejuta mimpi dan harapan untuk mengajak dirinya bersama lagi saling mengasihi dan menyayangi hingga dapat kembali menciptakan ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Terima kasih, aku sangat beruntung memiliki kamu disisiku. Maafkan aku atas segalanya selama ini" ucap indah dengan tanpa sadar langsung memeluk tubuh Dian.


Indah semakin mengeratkan pelukan hingga tidak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka berdua.


Dian tersenyum dan membalas pelukan tersebut. "Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu masih mau kembali bersama ku. Terima kasih cintaku" ucap Dian.


Kencan mereka pun ditutup dengan sebuah pelukan lagi, yang sepertinya adegan pelukan tidak lah membosankan untuk mereka berdua yang selalu mengulangi adegan tersebut. Mungkin hanya dengan sebuah pelukan mereka dapat saling merasakan cinta satu sama lain tanpa menggunakan kata-kata.


Sedikit foto-foto Dian dan indah ketika berkencan.




* * * * * * *


Akhirnya author balik lagi setelah banyaknya kesibukan belakangan ini dan sekali lagi author minta maaf atas keterlambatan yang sangat lama dalam update novel ini.


Maaf 🙏🙏🙏


Dan semoga episode kali ini dapat mengobati sedikit kerinduan kalian pada novel author ini dan terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia dalam menunggu updatenya novel author.

__ADS_1


Jangan lupa sellau tinggalkan like, komen dan vote yang banyak 😘😘😘


Semoga suka ya sama kelanjutan ceritanya dan sekali lagi author ucapkan terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2