Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
TERIMA KASIH SAYANG


__ADS_3

"Terima kasih karena telah bersabar menemaniku hingga saat ini, ku harap kau selalu berada di sampingku hingga tua nanti"


Reza pun menggerakkan kakinya untuk melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Sampai diluar ruangan ia ingin menemui Angela dan Doni terlebih dahulu untuk menyampaikan sesuatu.


Reza :


"Aku ingin jadwal ku untuk hari ini dikosongkan" tutur Reza kepada Doni dan Angela yang sekarang tengah berdiri didepannya.


Angela dan Doni :


"Baik pak" jawab mereka berbarengan.


Setelahnya Reza meninggalkan Angela dan Doni yang masih membungkukkan badan mereka sedikit untuk memberi hormat kepada sang atasan.


***


RUMAH SAKIT


Alat bantu pernafasan Sarah telah dilepas sedari tadi setelah beberapa lama dia bangun dari komanya dan terlihat tubuhnya pun sudah lebih membaik.


Sarah masih ditemani oleh Intan perawat yang datang bersama dokter Bobby tadi, Sarah yang masih diam semenjak bangun tadi akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya.


Sarah :


"Apakah sudah lama saya tidak bangun semenjak operasi sus?" tanya Sarah yang matanya sedari awal bangun sampai sekarang masih menatap kearah perawat intan saja.


Intan :


" Iya Bu, ibu sudah dua minggu koma sama seperti menantu ibu. Untungnya ibu sudah sadar namun menantu ibu sampai sekarang belum menunjukkan tanda tanda akan sadar" jawab perawat Intan sekalian menjelaskan keadaan sekarang kepada pasiennya tersebut.


Sarah terperangah sekaligus tidak mengerti apa yang barusan saja diucapkan oleh perawat itu namun ketika ia mengikuti arah pandangan perawat tadi, ia pun melihat menantunya yaitu Annisa tengah terbujur kaku diatas ranjang dengan menggunakan alat bantu pernafasan seperti ia tadi.


Sarah yang masih bingung mengapa menantunya juga ikut koma padahal seingatnya yang hanya celaka pada hari itu ialah ia sendiri, apa jangan jangan Annisa sengaja berpura pura koma untuk menarik simpati anaknya Reza agar Reza lebih memilih dirinya dibandingkan ibunya sendiri.


Intan yang melihat tatapan bingung Sarah pun langsung menjelaskan kondisi yang sebenarnya.


Intan :


"Menantu ibu koma karena menyumbangkan darahnya sendiri kepada ibu. Karena keadaan ibu pada saat operasi sangat kritis dan banyak kehilangan darah ditambah lagi golongan darah ibu sangat langka dan rumah sakit pada saat itu kehabisan stok darah golongan tersebut. Apabila ibu sedikit saja terlambat ditangani maka nyawa ibu sudah pasti tidak tertolong.


Perawat Intan menjeda perkataannya sebentar sebelum melanjutkan kembali.


"Anak ibu sendiri sudah melarangnya untuk mendonorkan darah kepada ibu karena efek sampingnya yang sangat berbahaya namun menantu ibu tetap pada keputusannya yaitu ingin menyelamatkan ibu mertuanya apapun yang terjadi.


Dia juga sempat berkata bahwa dia sangat merindukan kasih sayang seorang ibu, dan jika dia akan kehilangan ibu mertuanya juga dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Kurang lebih seperti itulah perkataannya sebelum ia memohon kepada suaminya untuk mengijinkannya menyumbangkan darahnya untuk ibu" Tutur intan panjang lebar.


Sarah :


"Tapi ini kan cuman mendonorkan seperti biasa mengapa dia juga ikut koma seperti saya" tanya Sarah yang masih bingung dengan keadaan menantunya itu.


Intan :


"Seperti yang saya bilang barusan efek samping dari mendonorkan darah tadi sangat berbahaya karena darah yang harus dikeluarkan tubuhnya sebanyak 40% atau bisa dikatakan hampir separuh darah dari tubuhnya diambil dan pengambilan darah tersebut mengakibatkan Hypovolemic shock yang berakibat banyak kepada tubuh salah satu efek samping paling berbahaya adalah pendonor akan memasuki fase koma. Begitu lah yang sedang terjadi kepada menantu ibu sekarang" jawab intan.


Sejenak keadaan mereka sekarang menjadi hening tanpa ada pembicaraan lagi yang terjadi, Sarah hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong sesekali dia juga menengok kearah Annisa, menantunya itu yang masih saja tertidur.


Suara langkah kaki terdengar mendekati ruang mereka dan


Klekk...


Pintu kamar itu terbuka dan nampaklah sosok Reza yang berdiri diambang pintu, ia melihat ibunya yang sudah bisa duduk meskipun masih harus bersandar dikepala ranjang.


Reza langsung masuk dan berlari memeluk sang ibunda yang juga tengah memasang wajah dengan penuh senyuman ketika melihat sang anak datang kepadanya.

__ADS_1


Reza :


"Mamahhh...." teriak Reza senang sambil berjalan cepat menuju tempat sang ibunda, Reza memeluk Sarah erat.


Sarah langsung tersenyum melihat kedatangan anaknya diikuti dokter Bobby yang berjalan dibelakang Reza.


Reza :


"Gimana perasaan mamah, apa masih ada yang sakit?" tanya reza kepada sang ibunda.


Sarah :


"Udah ngga papa, mamah cuman lemah aja kan baru bangun" jawab Sarah.


Dokter Bobby pun ikut dalam pembicaraan ibu dan anak itu.


Dokter Bobby :


"Iya za, ibu Lo cuman lemah aja secara keseluruhan tubuhnya udah stabil tinggal istirahat beberapa hari kayanya sudah bisa pulang" jawab dokter Bobby menjelaskan kepada Reza tentang kondisi terbaru ibunya.


Reza :


"Syukurlah, mamah aku mohon jangan ulangi lagi kejadian seperti kemarin, aku ngga mau mamah terluka lagi" ucap Reza sambil menggenggam kedua tangan ibundanya.


Mamah :


"Iya mamah janji, ngga akan mengulanginya lagi" jawab Sarah sambil mengusap pipi sebelah kanan Reza.


Dokter Bobby pun beranjak pergi keluar ruangan untuk memberikan waktu kepada ibu dan anak itu.


Dokter Bobby :


"Ya udah za, gue tinggal dulu ya" pamit dokter Bobby bersama intan.


Sarah :


"Oh iya nak, itu annisa kenapa, kok ikutan dirawat juga" tanya Sarah yang berpura pura tidak tau keadaan sebenarnya.


Reza :


"Oh i..itu mah. Annisa terkena anemia, dia kekurangan darah sekarang dan juga faktor pekerjaan membuat tubuhnya kelelahan, jadi dia pingsan dan sekarang sedang ditangani oleh dokter" jawab Reza yang awalnya bingung ingin menjelaskan bagaimana keadaan sebenarnya kepada sang ibunda dan dia pun lebih memilih menyembunyikan saja kebenarannya.


Reza berpikir jika dia memberitahukan keadaan yang sebenarnya nanti hanya akan membuat ibunya marah karena Reza tahu jika ibunya itu tidak menyukai istrinya ditambah lagi jika ibunya mengetahui sekarang didalam darahnya bercampur darah seseorang yang tidak ia sukai. Reza takut jika dia memberitahukan yang sebenarnya hanya akan membuat kondisi mental ibunya menjadi terganggu.


Sarah :


"Berapa lama sudah istrimu dirawat?" tanya Sarah lagi berharap anaknya itu akan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepadanya.


Reza :


"Baru kemarin dirawat mah" jawab Reza.


Sarah :


"Kok cuman anemia ngga bangun bangun dari kemarin za, apa ngga ada hal aneh yang terjadi kepada istrimu. Coba sekarang kamu suruh dokter memeriksanya lagi"


Reza :


"Oh ngga perlu mah, Annisa sedang dibius oleh dokter sejak kemarin dan itu atas permintaan Reza sendiri jadi Annisa bisa beristirahat dengan tenang terlebih dahulu. Annisa ngga papa kok, mamah tenang aja" jawab Reza sekenanya dan berharap ibunya itu akan percaya dengan alasan yang sangat tidak masuk akal menurutnya namun hanya itu yang terpikirkan diotaknya sekarang.


Sarah :


"Oh begitu, yasudah kalau memang Annisa tidak kenapa kenapa. Mamah kalau udah sembuh boleh langsung pulangkan, mama ngga suka dirumah sakit terlalu lama"

__ADS_1


Reza :


"Iya mah nanti pasti pulang kok. Sekarang yang terpenting mamah sehat dulu"


"Syukurlah mamah ngga curiga, bisa berantakan nanti urusannya kalau mamah tau yang sebenarnya" batin Reza yang masih memandangi sang ibunda.


*******


Beberapa hari kemudian.


Sarah sudah satu hari yang lalu diperbolehkan pulang dan di rawat jalan dirumah. Sedangkan Annisa masih koma sampai sekarang namun dua hari yang lalu mereka sudah mendapatkan pendonor darah untuk Annisa dan kemarin Annisa sudah mendapatkan sumbangan darah ketubuhnya. Reza dapat bernafas lega setelah istrinya itu telah mendapatkan sumbangan darah ketubuhnya meskipun dia harus bersabar lagi karena sekarang Annisa masih koma. Mungkin tubuhnya lagi berusaha untuk menyatu dengan darah yang baru saja masuk ketubuhnya.


Pagi ini seperti biasa Reza datang kerumah sakit untuk menjenguk tetapi sekarang hanya istrinya saja yang ia jenguk karena ibunya sekarang sudah diperbolehkan pulang.


Tidak lupa juga Reza berkunjung dengan membawa mawar orange yang memang setiap hari dia bawa tidak pernah terlupakan satu hari pun.


Berhubung hari ini hari minggu jadi Reza berinisiatif menghabiskan waktunya dirumah sakit untuk menemani sang istri.


Setelah memasuki ruangan inap sang istri, Reza seperti biasa menaruh bunga mawar kedalam vas bunga yang sudah tersedia disana. Mengganti mawar yang kemarin dengan yang baru ia bawa.


Reza berjalan mendekati ranjang istrinya dan mencium kening istrinya agak lama setelah itu ia duduk dibangku samping ranjang sang istri.


Reza :


"Pagi sayang, hari ini hari minggu jadi aku disini bakal nemenin kamu seharian dan aku mohon kamu jangan bosan karena akan melihat ku seharian penuh disini" kata Reza sambil memegang tangan sang istri dan mengecupnya sesekali.


Reza bercerita masalah masalah perhotelan dan cabang hotel yang akan mereka bangun dibeberapa negara selanjutnya. Reza sangat antusias bercerita meskipun tidak ada tanggapan sedikit pun dari sang istri.


Waktu berlalu begitu cepat ketika ia sedang bersama istrinya, tanpa terasa matahari sudah berdiri tepat diatas kepala yang artinya menunjukkan hari sudah sangat siang. Reza sempat terlelap dan tertidur dengan posisi duduk sambil memegangi tangan kanan Annisa, wajahnya bertumpu dikasur tempat istrinya berbaring.


Jari jari lentiknya perlahan bergerak, jari telunjuknya terangkat sedikit hingga kelopak mata cantiknya perlahan terbuka. Pandangan buram masih tersunguhkan, hingga dia memejamkan matanya lagi dan membukanya lagi sampai pandangan tersebut tidak seburam sebelumnya.


Merasa tangan sebelah kanannya sulit untuk digerakkan hingga terpaksa kepala yang masih terasa sangat berat itu digerakkan perlahan kesamping dan terlihatlah sosok lelaki tampan sedang tertidur pulas dengan memegangi tangannya.


Bibir manis itu memperlihatkan senyumannya seakan kebahagiaan sedang berada didepannya sekarang.


"Massss" panggilan yang begitu pelan itu namun masih dapat terdengar oleh telinga Reza yang tertidur.


Merasa aneh dengan panggilan tersebut, Reza langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya untuk melihat kearah sumber suara tadi dan didapatinya lah seorang malaikat cantik sedang memandangnya sedang pandangan kebahagian. Senyuman itu masih saja tidak luntur dari bibirnya yang pucat, setetes air mata kebahagiaan mengalir dengan begitu perlahan diujung matanya.


"Terima kasih sayang sudah menepati janjimu" kata Annisa dengan suara yang hampir tenggelam karena tubuhnya yang masih lemah.


Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar sekarang hingga butiran bening air mata kebahagiannya pun menetes dan terjatuh. Senyuman sang istri masih terukir jelas dibalik alat bantu pernafasan itu.


*******


Maaf karena baru update sekarang.


Semoga kalian suka ya dengan kelanjutan ceritanya dan semoga kalian juga ngga bosan .


Maaf jika dalam penulisan masih banyak kesalahan atau tata bahasa yang tidak dimengerti.


Silahkan sampaikan kritik dan saran kalian dikolom komentar.


Jangan lupa juga untuk Like dan Vote ya.


Terima kasih kepada kalian yang udah ngevita dari awal sampai sekarang.


Makasih banyak 😘😘😘


Happy Reading


02 Maret 2020

__ADS_1


__ADS_2