
Setelah selesai makan siang tadi kini pikiran Dian masih terpenuhi dan terbayang bayang ucapan atasannya tersebut yang mengatakan jika istrinya adalah orang yang dia kenal bahkan satu kelas dengan dia semasa SMA dulu.
Dian berjalan memasuki ruangannya dengan pandangan kosong bahkan saat sudah sampai diruangannya pun sekarang dia masih menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
Hingga beberapa ketukan di pintu ruangannya tidak terdengar sama sekali oleh dirinya.
"Permisi Pak"
Ucap salah seorang pegawai kepada Dian.
Lamunan Dian pun buyar ketika mendengar seseorang yang sedang berbicara kepadanya dengan posisi orang tersebut sudah berada didepan meja kerjanya berseberangan dengan dirinya saat ini.
"Kenapa kamu tidak mengetok pintu terlebih dahulu sebelum masuk"
Tanya Dian dengan nada yang mulai meninggi.
"Maaf Pak, tadi beberapa kali saya sudah mengetok pintu namun tidak ada sahutan jadi saya beranikan diri untuk membukanya dan masuk"
Jawab pegawainya menjelaskan kepada atasannya tersebut.
"Oh baiklah, ada perlu apa?"
Tanya Dian kepada bawahannya itu.
"Saya mau meminta tanda tangan bapak terlebih dahulu sebelum diberikan kepada CEO" menyodorkan map kearah Dian.
"Baiklah kamu bisa tinggalkan disini, biar saya saja nanti yang mengantarkannya kepada Pak Reza" mengambil dengan map yang diserahkan tadi.
***
RUANGAN CEO.
Dian berjalan menuju ruangan Reza untuk mengantarkan berkas yang telah ia tanda tangani tadi.
Tokk.. Tokk..
Dian memasuki ruangan setelah mengetok pintu terlebih dahulu, terlihat Reza sedang fokus dengan komputer dihadapannya sekarang dan melirik sedikit untuk melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya.
Dian pun menyodorkan berkas tadi kepada Reza.
Dian :
"Ini data kemajuan penjualan untuk bulan ini pak" ucap Dian.
Reza membuka map tersebut dan meneliti terlebih dahulu apa yang ada didalamnya membuka lembar demi lembar hingga selesai dan menutupnya kembali.
Reza :
"Baiklah, saya puas dengan kinerja kalian" ucap Reza memberi pujian kepada Dian.
Senyum terbit dibibir Dian karena pujian yang dilontarkan oleh Reza.
__ADS_1
Sebelum melangkah pergi dari ruangan Reza.
Dian :
"Oh iya Pak, kalau tidak salah ingat perempuan yang satu ruangan dengan saya sewaktu SMA itu yang menonjol cuman satu" ucap Dian yang kemudian membuat Reza menghentikan aktivitasnya dan kemudian menatap kearah Dian.
Reza :
"Benarkah" ucap Reza singkat.
Dian :
"Iya pak, namanya Annisa Anggara. Dia yang paling menonjol diantara perempuan lain dikelas kami karena selain pintar dan berbakat, dia juga baik hati dan cantik hingga dulu banyak murid yang sangat menyukainya" jawab Dian antusias menjelaskan kepada Reza.
Reza :
"Lalu, apakah dulu kamu juga menyukainya??" tanya Reza dengan tatapan tajam kearah Dian sembari menanti jawaban yang keluar dari mulut Dian.
Dian :
"Tidak Pak, saya hanya menganggapnya teman sekelas saja dulu malah yang saya tau dari teman teman adalah Annisa yang menyukainya saya semenjak kami awal masuk SMA bahkan sampai sekarang" jawab Dian lagi dengan pedenya.
"Aku baru tau kalau laki laki ini begitu pede, kelihatannya cukup menarik"
Batin Reza dengan senyuman kecil licik mengembang disudut bibirnya.
Reza :
"Sampai sekarang?? Apakah dia belum menikah hingga masih menyukaimu?" tanya Reza lagi dengan senyuman palsunya.
Dian :
"Secara tidak langsung dia ingin menegaskan bahwa hanya dia yang bisa mendapatkan Annisa. Kita lihat saja nanti".
Batin Reza.
Reza :
"Wah benarkah? Ternyata daya pikat mu sangat hebat" puji Reza.
Dian :
"Ahh tidak juga pak" jawab Dian merendah.
Reza :
"Kamu tau jika Annisa masih menyukaimu hingga sekarang sampai belum menikah dan apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apakah kamu akan mendekatinya?" tanya Reza.
Terlihat jika Dian berdiam diri sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu atau langkah yang akan ia ambil. Namun belum Dian menjawab pertanyaan tadi, Reza kembali menimpalkan pernyataan kepadanya.
Reza :
__ADS_1
"Oh maaf aku baru ingat kamu kan sudah mempunyai istri jadi tidak mungkin untuk mengejar perempuan lain" ucap Reza dengan senyuman palsunya yang masih mengembang dibibirnya, sorot matanya masih menatap tajam Dian untuk menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
Dian seperti menghirup nafas terlebih dahulu lalu menghembuskannya perlahan hingga terlihat mulutnya membuka seperti ingin mengucapkan sesuatu. Reza dengan serius menatap wajah Dian sedari tadi.
Dian :
"Tidak anda salah Pak. Kali ini saya akan memperjuangkan Annisa dan akan membuatnya lari kedalam pelukan saya. Saya tidak ingin menyesali kebodohan saya untuk kedua kalinya karena baru menyadari perasaan saya yang sesungguhnya. Dan saya yakin bahwa Annisa masih mencintai dan menunggu saya" jawab Dian dengan wajah bersemangat.
Reza terkejut mendengar ucapan Dian karena dia tidak habis pikir bahwa laki laki itu akan tetap mengejar perempuan lain meskipun dia sudah beristri. Bahkan didalam benak Reza mempertanyakan apakah dia tidak mencintai istrinya hingga begitu mudah berucap ingin memperjuangkan perempuan lain.
Bahkan Reza saja tidak kepikiran untuk mencari perempuan lain karena hanya Annisa yang selalu mengisi pikiran dan hatinya bahkan untuk berjauhan selama bekerja saja Reza terasa berat apalagi sampai berpisah hanya karena ingin memperjuangkan perempuan lain.
Sungguh hanya segitu saja kah cintanya kepada sang istri selama ini dan bagaimana perasaan istrinya jika mengetahui suaminya mencintai perempuan lain dan akan memperjuangkan perempuan itu.
Reza memasang wajah datar dan bertanya kembali kepada Dian untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Reza :
"Lalu bagaimana dengan istrimu jika nanti dia tahu bahwa kamu ingin memperjuangkan perempuan lain?" tanya Reza kembali
Dian :
"Maaf Pak, biarlah masalah itu menjadi privasi saya saja" jawab Dian datar.
Reza :
"Oh maaf aku tidak bermaksud ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga mu namun sebagai atasanmu dan sekaligus juga sebagai seorang pria yang sudah beristri. Aku hanya ingin mengatakan jika akan lebih baik kamu pikirkan dulu keputusan mu itu sebelum bertindak dari pada kamu akan menyesal dikemudian hari dan kamu pun harus memikirkan perasaan istrimu juga" jelas Reza kepada Dian yang nampak diam saja dengan wajah datarnya.
Dian :
"Tidak Pak. Saya tidak akan menyesalinya dan keputusan saya sudah bulat ingin memperjuangkan cinta saya yang selama ini baru saya sadari' jawab Dian.
Reza :
"Oke baiklah, tapi ingat kamu harus pikirkan matang matang lagi jangan sampai menyesal" nasihat Reza kepada Dian.
"Kenapa aku merasa bahwa Pak Reza seperti ingin mencegahku untuk memperjuangkan Annisa atau hanya perasaan ku saja. Tapi mana mungkin Pak Reza ingin mencegahku lagian dia tidak ada hubungannya dengan Annisa"
Batin Dian.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang akhirnya Dian keluar dari ruangan Reza dengan wajah sumringah karena ia merasa jika tindakan yang akan ia ambil adalah sebuah langkah yang benar dan sangat benar.
*******
Pada penasaran ngga sama kelanjutan ceritanya, jangan lupa pantengin terus novel author 😁😁
Semoga kalian suka dengan kelanjutan kisahnya dan ngga bosan ya dan maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisannya.
Jangan lupa selalu vote author.
Like dan komen ya soalnya author suka banget ngebaca komen kalian.
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏
25 Maret 2020