Jodoh Warisan

Jodoh Warisan
BERDOA


__ADS_3

Reza semakin memeluk Annisa dengan eratnya seakan tidak ingin berpisah lagi dengan sang istri yang selama ini ia rindukan disetiap kegiatan dan pekerjaan yang ia lakukan.


"Sweet" ucap perawat yang sedang berdiri didekat mereka setelah melihat adegan sepasang suami istri yang sedang berpelukan dengan itu. Terlihat dari wajah mereka berdua memancarkan aura cinta yang sangat dalam kepada satu sama lain.


Perawat itu tersenyum cerah melihat Reza dan Annisa namun ketika ia membalikkan tatapannya kepada dokter Bobby yang ada dia hanya mendapat tatapan mengerikan yang seakan mengisyaratkan jika dia harus diam jangan bersuara. Yah mungkin begitulah arti tatapan dokter Bobby yang diartikan oleh perawat itu.


"Ngga bisa apa lihat orang senang, dasar dokter aneh. Pantesan aja jomblo dari dulu rupanya ngga ngerti masalah cinta. Aneh!!!" batin perawat itu sedang mengumpat dokter Bobby dengan tatapan sinisnya.


"Turunkan pandangan mu, aku tau kau sedang menghina ku sekarang" ucap dokter Bobby kepada perawat itu yang sedang melihatnya dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


Perawat itu langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya yang seakan tidak percaya jika dokter itu tau apa yang sedang ia bicarakan didalam hatinya. Sedangkan dokter Bobby hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan perawatnya itu.


***


Reza masih memeluk Annisa dengan eratnya sampai membuat Annisa kesulitan bernafas. Annisa yang merasa sudah mulai kesulitan bernafas ingin melepas pelukan dari suaminya itu.


Annisa :


"Mas??" panggil Annisa pelan.


Reza :


"Hemm" jawab Reza singkat karena sekarang keadaannya sedang menyembunyikan wajahnya diantara bahu dan leher Annisa.


Annisa :


"Aku kesulitan bernafas mas" kata Annisa lagi.


Reza pun melepas pelukannya terhadap Annisa dan keduanya saling pandang dengan tatapan sendu.


Reza :


"Maaf" hanya itu kata yang keluar dari mulut Reza.


Annisa :


"Iya mas, ngga papa. Ngapain pake minta maaf segala" sahut Annisa sekalian memberi ketenangan kepada suaminya itu.


Ehemm....


Suara dokter Bobby memecahkan keheningan diantara pandangan Annisa dan Reza yang seketika itu membuat mereka berdua menoleh bersamaan kearah dokter Bobby.


Bobby :


"Maaf bukannya aku ingin mengganggu kalian berdua, hanya saja waktunya tidak memungkinkan lagi untuk membuat pasien menunggu lebih lama. Kalian harus membuat keputusan sekarang karena nyawa pasien berada ditangan kalian berdua" kata dokter Bobby menjelaskan lagi untuk kesekian kalinya.


Reza :


"Apakah tidak ada cara lain lagi Bob, aku akan melakukan apapun dan membayar berapapun untuk menyelamatkan ibuku tanpa mengorbankan istriku" jawab Reza dengan pengharapan yang besar kepada Bobby agar memikirkan cara lain.


Annisa :

__ADS_1


"Astaga mas, kamu ngga usah lebay deh. Ini cuman perkara mendonorkannya darah aja ngga bertarung dalam medan perang".


Reza :


"Tetap aja sayang, meski hanya darah tapi mas seperti ngga rela".


Annisa hanya dapat menepuk keningnya melihat tingkah konyol dan posesif yang ditunjukkan suaminya tanpa kenal tempat.


Bobby :


"Astaga, kamu sendiri tau jika darah ibumu sangat langka dan sulit untuk dicari apalagi dalam keadaan genting seperti ini kita tidak ada waktu untuk mencari pendonor lain. Harusnya kamu bersyukur jika istrimu memiliki golongan darah yang sama dengan ibumu" kata dokter Bobby lagi.


Annisa melihat kearah dua sosok lelaki yang berada didekatnya itu lalu dia pun memberanikan diri untuk ikut dalam pembicaraan mereka.


Annisa :


"Benar mas apa yang dikatakan dokter itu, sekarang nyawa ibu berada ditangan kita dan hanya kita yang dapat menyelamatkannya. Aku mohon mas untuk kali ini aja jangan banyak bicara apalagi mengganggu" ancam Annisa.


Reza :


"Baiklah, aku menyetujui istriku untuk mendonorkan darahnya kepada ibuku" ucap Reza yang seketika membuat dokter Bobby, perawat dan Annisa langsung tersenyum menoleh kearah Reza.


"Tapi kalian harus menjamin keselamatan dua orang ini apalagi istriku, jika sampai terjadi kesalahan selama operasi dan mengakibatkan hal buruk kepada istriku maka akan aku pastikan rumah sakit beserta kalian semua yang bekerja disini akan hancur" sambung Reza sekaligus menegaskan jika dia tidak ingin sampai terjadi hal yang tidak ia inginkan setelah ia menyetujui pendonoran darah ini.


Bobby :


"Calm down bro, gue jamin keselamatan istri dan ibumu aman bersama gue. Lo hanya tinggal duduk manis menunggu kami disini" jawab dokter Bobby sekaligus membuat agar Reza merasa tenang karena telah menyerahkan tanggung jawab kepada dirinya.


Annisa :


"Makasih mas, kamu memang yang terbaik" ucap Annisa didalam pelukan suaminya itu.


Reza memeluk balik Annisa dan mengelus kepala sang istri yang tengah memeluknya saat ini. Ada perasaan tidak tega melihat sang istri rela mengorbankan dirinya hanya untuk menolong ibunya yang telah berbuat jahat kepadanya dulu. Reza mengecup puncak kepala Annisa sembari merasa kagum dengan istrinya itu dan untuk kesekian kalinya ia merasa bersyukur telah dipertemukan dengan istri sehebat Annisa.


Reza :


"Iya sayang. Tapi kamu harus janji kalau kamu ngga akan kenapa-kenapa setelah ini".


Annisa :


"Iya mas"


Sepertinya harus terjadi beberapa drama lagi karena Reza kembali memeluk sang istri yang sepertinya memang dirinya tidak tega untuk membuat Annisa berkorban atas insiden ini.


Annisa :


"Mas, Annisa boleh minta sesuatu ngga?" tanya Annisa yang masih didalam pelukan Reza.


Reza :


"Boleh sayang, kamu minta apa saja akan mas kabulkan asal jangan kamu menyuruh mas meninggalkan mu" jawab Reza sembari mengelus belakang kepala Annisa.

__ADS_1


Annisa :


"Hahahaa ya engga lah mas, kamu ini kok kaya gitu sahutannya, aneh aneh aja" jawab Annisa diselingi tawa kecil.


Reza :


"Yah terus apa dong?" tanya Reza lagi.


Annisa :


"Aku mau mas menjadi orang pertama yang akan aku lihat ketika aku membuka mata nanti. Mas bisakan ngabulin permintaan aku ini" kata Annisa sambil mendongakkan kepalanya lagi keatas agar bisa menatap wajah suaminya itu.


Reza :


"Iya sayang, mas akan mengabulkan permintaan kamu" jawab Reza sembari menundukkan kepalanya yang juga ikut menatap kearah Annisa istrinya.


Cup..


Reza melayangkan ciumannya dibibir istrinya itu dan membuat Annisa terkejut sekaligus membulatkan matanya karena Reza menciumnya dihadapan banyak orang.


Ehemmm hemm...


Entah deheman keberapa kali yang sudah dokter Bobby keluarkan dari mulutnya agar bisa membuat sepasang kekasih yang berada didepannya ini segera menyudahi kemesraan mereka mengingat sekarang mereka berada diruang terbuka dan dalam keadaan yang tidak pas.


Annisa dan Reza pun seketika melepaskan ciuman mereka saling menatap setelah itu kembali melepas pelukan mereka yang sedari tadi seperti diberi lem saja karena tidak kunjung lepas.


Bobby :


"Maaf bukannya aku mau mengganggu kegiatan kalian, hanya saja kalian tau jika kita tidak memiliki waktu yang banyak dan aku sudah memberikan kalian waktu untuk berdua tadi sebentar dan sekarang tugasku adalah melanjutkan operasi yang sedari tadi sempat tertunda.


Annisa :


"Baiklah dok, saya juga sudah siap" jawab Annisa kepada dokter Bobby.


Bobby :


"Baiklah kalau begitu, silahkan ikut saya" kata dokter Bobby sembari mempersilahkan Annisa untuk berjalan mengikutinya mereka.


Mereka pun berjalan menuju ruang operasi dengan meninggalkan Reza sendirian diruang tunggu tersebut, dengan perasa. berkecamuk dan yang bisa Reza lakukan saat ini hanyalah berdoa dan berdoa untuk keselamatan kedua orang wanita yang saat ini sedang berada didalam meja operasi.


*******


Hai semuanya, semoga kalian suka dengan kelanjutan episodenya dan apabila ada saran, kritik dan masukan dapat kalian tinggalkan dikolom komentar.


Author suka banget baca komentar komentar dari kalian semua, karena author merasa itu sebagai bentuk motivasi untuk author.


Terima kasih atas segalanya selama ini 🙏🙏


Jangan lupa like, komen, Favoritkan dan vote ya buat author.


Happy Reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


26 Februari 2020


__ADS_2