Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
11. Tanggung Jawab


__ADS_3

Degggggg


Bagai di sambar petir di pagi hari. Saka sangat terkejut mendengar pengakuan dari Jesica.


"Dek, yang kamu bilang benar?" Tanya Saka memastikan.


"Tapi, bukannya Kamu udah Kakak usir sebelumnya. Karena Kakak nggak mau kamu jadi korban Kakak." Ucap Saka.


"Iya. Yang Jesica bilang benar adanya." Ucap Jesica.


Lalu Jesica menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dari yang Dia memanggil Sahabat Kakaknya, hingga bagaimana dia bisa berani masuk ke kamar Saka.


"Jes, Jadi perempuan yang Kakak tidurin itu Kamu?" Tanya Saka. Tubuhnya sudah mulai gemetar menunggu jawaban dari Jesica.


Jesica tidak menjawab. Dia yang awalnya menangis tanpa suara kini mulai terisak.


Potongan - potongan kejadian semalam mulai bermunculan di otak Saka, layaknya trailer Film action. Lalu mata Saka mencari - cari sesuatu diatas sprei. Dan Saka menemukannya,,


Saka menemukan noda darah di sprei. Seketika Saka meneteskan air mata. Lalu Dia menengok ke arah Jesica berada.


"Jes, maafin Kakak. Seharunya Kakak bisa ngelawan efek dari obat itu." Saka menatap dalam mata Jesica yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Ini bukan seutuhnya salah Kakak. Karena aku duluan yang nyerang Kakak. Kita sama - sama di bawah pengaruh obat saat itu terjadi." Jawab Jesica di sela -sela tangisnya. Tubuhnya bergetar sangat parah.


Dek maafin kakak. Ini pasti sakit banget untuk kamu. Maafin kakakmu yang nggak bisa gendaliin diri ini. Kakak tau kamu juga dalam keadaan tidak sadar. Tapi seharunya sebagai Kakak yang udah sama kamu sejak kecil, seharusnya Kakak bisa mengenali itu Kamu. Kakak janji, bahwa kakak pasti akan tanggung jawab sama perbuatan kakak Ke kamu. Tunggu Kakak sebentar lagi, pasti Kakak akan perjuangin kamu. Tapi bukan sekarang waktunya.


"Kakak janji Kakak akan tanggung jawab." Saka mengucap janji pada Jesica. Namun tidak ada jawaban dari Jesica. Lalu Saka memperhatikan penampilan Jesica.


Dilihatnya penampilan Jesica. Rambut yang kusut, Leher yang penuh tanda kepemilikan, Serta dia baru menyadari kenapa Jesika memegang selimut untuk menutupi tubuhnya. Itu karena Jesica menutupi tubuhnya tang tidak menggunakan pakaian.

__ADS_1


Dan Saka juga baru menyadari bahwa ia juga tidak menggunakan pakaian. Lalu Saka juga menarik selimut hingga perutnya.


Setelah beberapa saat hanya ada keheningan, Saka mulai buka suara.


"Jes." Panggil Saka


Tidak ada sahuran dari mulut Jesica. Jesica malah menatap kosong tembok dan terus meneteskan air mata. Menangis dengan suara terisak.


"Jes lihat Kakak." Saka menangkup kedua pipi milik Jesica.


"Jangan sentuh Jesi Kak. Lepas. Jangan sentuh Jesica. Jesi udah kotor." Ucap Jesi dengan penuh emosi, melepasksn tangan Saka dari pipinya.


"Jes. Dengerin kakak dulu." Saka membujuk Jesica supaya mau mendengarkan. Namun, tidak ada tanggapan dari Jesica.


"Kamu jadi kayak gini itu karena Kakak. Kakak pasti akan tanggu jawab." Ucap Saka.


"Jesi bukan wanita penggoda Kak."


Tidak tega melihat penampilan Jesica yang sangat kacau. Saka pun mendekatkan tubuhnya ke Jesika dan langsung memeluk Jesica. Menenggelamkan wajah Jesica di dada bidang yang tidak memakai pakaian itu. Jesica terus meronta - ronta. Namun lama - kelamaan Jesica mulai tenang.


"Kamu tunggu kakak pasti kakak akan tanggung jawab." Ucap Saka masih membenamkan wajah Jesica di dadanya.


"Tapi Kakak bisa tanggung jawab apa hah? Kakak itu kakak kandungan Jesi. Dan ngak mungkinkan Jesi nikah sama Kakak kandung Jedi sendiri?" Tanya Jesica.


Nanti kamu akan tahu Jes, siapa aku. Dan siapa kamu. Kita itu nggak ada ikatan darah.


Saka tak menjawab pertanyaan dari Jesica. Dia lebih memilih diam dan memeluk Jesica dengan erat. Beberapa saat dia menyadari jesica tidak ada pergerakan, Jesi hanya diam di pelukan Saka. Seolah Jesi sudah sangat nyaman dengan posisinya.


Dilonggarkannya pelukan terhadap Jesica, dan Saka mendongakan kepala Jesica yang awalnya tenggelam di dadanya.

__ADS_1


Jes, Jes. Dalam kondisi yang kayak gini aja kamu masih bisa tidur dengan nyenyak. Kamu pasti capek banget ya Jes. Maafin Kakak Mu yang brengsek ini Jes. Kakak janji kakak nggak bakal biarin kamu menghadapi ini sendiri Jes.


Ternyata tidak ada pergerakan dari Jesi dikarenakan Jesica tertidur di pelukan Saka. Dengan perlahan Saka merebahkan tubuh Jesi


di tempat tidur. Setelah Jesica sudah berbaring dengan sempurna, Saka mendekatkan wajahnya ke wajah Jesica.


Saka membisikan sesuatu ke telinga Jesica.


"Jes, Kakak memang sayang sama kamu. Dan rasa sayang yang Kakak berikan ke kamu itu sudah lebih porsinya dari Kakak - Kakak pada umumnya. Maafkan Kakak karena Kakak mencintaimu. Maafkan Kakak karena sudah membiarkan rasa sayang ini berubah menjadi rasa cinta. Kakak memang sangat mencintaimu, tapi bukan ini cara Kakak untuk mendapatkan Kamu. Kejadian ini benar - benar di luar kendali diri Kakak. Kakak ngelakuin itu semalam sama Kamu karena Kakak ngak sadar di tambah juga Kamu agresif pengaruk obat. Dan Kakak berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang Kakak lakukan ke kamu. Mengenai pertanyaanmu yang 'bagaimana Kakak bertanggung jawab sedangkan Kakak itu Kakaknya Jesi ?' ada suatu fakta besar yang belum kamu ketahui Jes." Saka berbicara dengan meneteskan air mata. Lalu Saka pendekatkan wajahnya ke wajah Jesika.


Cup, cup, cup, cup, cup, cup.


Saja mencium dahi, kedua kelopak mata Jesica, kedua pipi Jesica, dan diakhiri mencium hidung Jesica dengan gemas. Lalu saka membenahi selimut Jesica menutupi leher jenjang Jesica. Dan tidak sengaja Saka melihat lagi tanda kepemilikan yang tersebar dari tulang selangka, leher hingga belakang telinga. Dalam hati ia bertanya - tanya bagaimana cara ia membuat tanda sebanyak itu.


Ya ampun gila. Senafsu itu kah semalem gue sampek nidurin adik gue sendiri, ya walaupun bukan pyur salah Gue sendiri. Dan gimana cara gue buat tanda sebanyak itu di leher Jesica.


"Jes, kakak tinggal dulu ada yang perlu kakak urus."


Lalu Saka turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saka keluar kamar mandi dengan menggunakan baju mandi berwarna putih yang tersedia di Hotel itu. Lalu Saka berjalan ke ruang ganti untuk memakai baju. Karena semua keperluan keluarga Mahendra sudah di siapkan okeh orang kepercayaan Jesica di kamar Hotel masing - masing.


Disaat Saka sudah keluar dari kamar Jesica terlihat Jesica membuka matanya, dia menangis sejari - jadinya. Ternyata Dia mendengar semua perkataan yang dikatakan Saka. Dia memang tidur waktu di peluk oleh Saka, tetapi dia terbangun disaat Saka mendoakan kepalanya. Tetapi Dia memilih untuk pura - pura masih tertidur.


Fakta besar apa yang Aku nggak tau Kak?


Karena kelelahan menangis Jesica pun kembali tertidur dengan lelap dengan kondisi mata yang sembab.


Bersambung


Note :

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Comment.


__ADS_2