
Bayu dan Lingga hanya duduk diam di atas sofa. Mereka berdua tidak ada keberanian untuk menjawab pertanyaan Mama Nita. Walaupun Mereka berdua hanya duduk di sofa, tubuhnya di penuhi oleh keringat. Mungkin itu karena suasana yang sangat tegang, dan juga mendapat pertanyaan yang sulit untuk di jawab bagi Mereka.
Papa Brian telah pergi dari sana, meninggalkan Bayu, Lingga dan Mama Nita bertiga di sana. Dia mengatakan bahwa ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan, karena urusan Kantor untuk sementara waktu Papa Brian lah yang menangani karena Jesica ambil cuti untuk persiapan pernikahan.
"Kalian dulu sekolah bukan ?" Mama Nita duduk dengan posisi menyilangkan kakinya.
"Se-sekolah Tante." Jawab Lingga gugup, sembari mengelap keringat yang hampir saja menetes di dahinya.
"Kamu Bay sekolah tidak? Apa jangan-jangan Kamu sewaktu sekolah sudah menjadi Casanova? Kalau iya, berapa wanita yang sudah Kamu tiduri?" Mama Nita mengganti tumpuan kakinya saat duduk menyilangkan kaki.
"Saya sekolah Tante. Tapi kalau masalah Saya menjadi Casanova itu privasi Saya Tante. Menurut Saya Tante tidak berhak untuk menanyakan itu pada Saya." Bayu sedikit kesal mendengar pertanyaan Mama Nita yang sedikit bermuatan menghina itu.
"Kalau Kalian berdua sekolah, seharusnya Kalian bisa menjawab pertanyaan Saya dengan mudah, tidak hanya diam seperti manekin seperti itu."
"Oh ya, satu lagi. Saya memang tidak berhak menanyakan tentang hal itu. Tapi Saya hanya penasaran bagaimana caranya Kamu melakukan hubungan intim tanpa meninggalkan benih di wanita yang Kamu tiduri itu. Ternyata zaman sekarang bukan hanya ada wanita murahan, tetapi ada juga laki-laki murahan." Ucap sinis Mama Nita.
Wajah Bayu sudah merah menahan emosi. Namun Dia harus bisa menahan emosinya, karena Mama Nita juga bisa mengatakan seperti itu karena Dia masih tidak terima Anaknya yaitu Jesica di gunakan sebagai alat bantu untuk menolong Saka waktu itu.
Kenyataannya Mama Nita tidak pernah berkomentar tentang Bayu yang mendapat julukan seorang Casanova. Mama Nita juga tidak melarang Saka untuk berteman denga Bayu. Karena Mama Nita tahu persis bahwa prinsip Saka itu tidak akan meniduri wanita yang belum sah menjadi istrinya.
Bukti yang sangat jelas adalah, saat Saka terkena obat perangsang. Walau dirinya waktu itu dalam keadaan yang tidak karuan Dia masih sempat mengusir Jesica. Tapi kekuatan prinsipnya runtuh seketika saat mendapat serangan agresif dari Jesica yang waktu itu sengaja di beri obat oleh Bayu dan Lingga untuk menolongnya.
"Saya melakukan itu ka-" Lingga belum menyelesaikan perkataannya, tapi sudah di potong oleh seseorang yang sedang menuruni tangga.
__ADS_1
"Bayu, Lingga, ke ruangan Gue sekarang !" Saka menangil dengan suara sedikit keras, lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya yang berada di lantai dua dekat kamarnya dan juga kamar Jesica.
"Iya, tunggu bentar." Bayu menjawab dengan bahasa yang santai, karena Saka juga tadi menggunakan bahasa yang santai saat memanggilnya.
"Tan, Kami ke sana dulu ya, Kami di panggil Saka." Ucap Lingga sopan mewakili dirinya sendiri dan juga mewakili Bayu.
......................
Suasana ruangan yang hening membuat sekecil apapun suara akan tetap terdengar. Sama halnya suara knop pintu yang di putar mengeluarkan suara yang lumayan besar dan juga suara langkah kaki seseorang yang menapakan kakinya di lantai. Lingga dan Bayu sudah memasuki ruang kerja Saka yang ada di rumah. Di dalam hati Mereka berdua, Mereka terus berdoa supaya tidak akan terjadi apa-apa saat nanti berhadapan dengan Saka.
Tab
Tab
Tab
Tab
Lepas dari Ibu harimau. Tapi, malah menghadap Anak harimau yang lebih galak dari Ibu harimau.
Begitulah kira-kira isi pikiran Lingga dan Bayu pada saat berhadapan dengan Saka.
Sekilas Lingga dan Bayu melihat Saka berdiri di depan jendela, sedang melihat mentari yang bersinar sangat cerah di pagi hari. Melihat atasan sekaligus sahabatnya itu berdiri Lingga dan Bayu juga memilih untuk berdiri tepat di depan meja kerja Saka. Tanpa berbalik badan Saka mengatakan sesuatu yang membuat Lingga dan Bayu tersedak ludahnya sendiri karena terlalu terkejut.
__ADS_1
"Gimana? Senang setelah membuat masalah besar bisa liburan ?" Saka melihat indahnya bunga-bunga yang terlihat dari jendela tempat Dia berdiri.
Uhuk, uhuk, uhuk.
Lingga dan Bayu terbatuk dengan saling bersahutan.
"Liburan?" Tanya Bayu binggung. Karena Dia dan Lingga itu baru saka selesai berternak bebek, tapi malah kata Saka Mereka berdua itu baru pulang dari liburan.
Jahat banget Loe Saka sama Kita. Kita itu baru aja pulang dari Desa, ternak bebek. Tapi seenaknya Loe bilang kita baru pulang dari liburan. Emang Loe nggak lihat kulit Gue yang semakin gelap karena kena sinar matahari ini. Bukan hanya kilit gelap, ada juga teman-temannya yang berkunjung ke wajah Gue sekedar untuk main dan meninggalkan bekas bila tidak di rawat, Jerawat contohnya. Gerutu Bayu tidak terima di katai baru pulang dari liburan oleh Saka. Tapi itu hanyalah gerutuan di dalam hati. Mana mungkin Bayu berani membantah atasannya itu, bisa-bisa besok dan seterusnya Dia menjadi gelandangan karena gaya hidupnya yang terlalu hura-hura.
Saka membalikan tubuhnya menghadap ke Lingga dan Bayu, berjalan menuju kursi tempat biasa Dia duduk saat sedang bekerja dari Rumah. Lalu duduk di kursi itu dengan sangat nyaman.
"Ya, liburan. Liburan menjadi pengembala bebek. Ha ha ha ha." Ucap Saka menjawab kebingungan Lingga yang sedang berpikir, lalu di sambung gelak tawa yang sudah tidak bisa untuk di tahan. Saking kerasnya tawa Saka, hingga suara tawa itu menggema di ruangan kerja Saka.
"Kenapa Loe tega banget sih sama Kita Ka? Kata Loe waktu itu Kita kan cuma mau di pindahin ke cabang." Ucap Lingga kesal.
"Lah, itu bukan Gue yang minta buat Loe ternak bebek. Jadi Loe? Kenapa Loe nyalahin Gue?" Ucap Saka jujur.
"Lah, terus siapa kalau bukan Loe ? Dan yang nyuruh anak buah Loe itu untuk ngirim Kita ke Desa ternak bebek itu siapa !" Kini Bayu ikut masuk ke perbincangan perihal ternak bebek itu.
"Jangan-jangan Sekretaris gila itu yang berinisiatif untuk mengirim Kita kesana." Ucap Bayu sangat kesal, saat mengingat ketidakpedukian Ar pada apapun, dan siapapun, bila tidak ada urusannya dengan Tujuan utamanya, yaitu melindungi Saka.
"Jesica yang memberi perintah Ar !" Ucap Saka memperhatikan raut wajah datar.
__ADS_1
"Hah!"
Bersambung