Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
35. Tidur Bersama


__ADS_3

Saka mendekat ke arah tempat tidur, mendekati Jesica yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Dari raut wajahnya Jesica terlihat sedang kesal. Karena bukannya duduk mendekat ke arah Jesica, Saka malah berbalik menjauhi tempat tidur dan memilih duduk di sofa.


"Kakak kenapa ke sana ?" Kesal Jesica. Dia bangun dari duduknya dan langsung berjalan mendekati Saka kearah sofa.


"Jes, Kamu di sana aja ya! Kakak di sini."


Kakak masih ragu Dek. Kakak nggak mau kejadian itu terulang untuk yang ke dua kalinya.


Tanpa mendengarkan Saka, Jesica tetap berjalan mendekat ke arah Saka, langsung duduk dan memeluk Saka dari samping. Jesica memeluk Saka dengan sangat erat, menenggenggelamkan wajahnya di ketek Saka yang menurtnya sangat wangi.


"Wangi!" Ucap Jesica tanpa sadar.


Untung tadi Kakak udah mandi dan pakai deodoran. Kalau nggak Kakak pasti bakal ketawain kamu.


Saka membalas pelukan Jesica. Ia mengelus rambut Jesica yang sangat lembut dan wangi. Mereka masih dalam posisi yang sama hingga ada suara yang mengagetkannya.


"Tidur-tidur, udah malam. Tadi izinnya kan mau tidur bukan peluk-pelukan di sofa." Ucap Papa Brian. Entah sudah berapa lama Papa Brian berdiri di ambang pintu, memperhatikan dua anak manusia yang sedang terbuai dengan pelukan yang di berikan satu sama lain.


Saka dan Jesica kaget. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa sedari tadi ada Papa Brian uang sedang mengawasinya.


"Iya Pah." Saka melepaskan pelukannya terhadap Jesica, lalu menatap Papa Brian.


Papa Brian menatap Saka dengan sangat tajam. Seolah tatapan mata tajam itu mengatakan.


Papa percaya sama Kamu. Jangan kecewakan Papa untuk yang kedua kalinya. Papa yakin Kamu itu tahu batasan-batasan yang harus kamu jaga.


Saka menjawab dengan anggukan sekali lalu tersenyum sekilas. Sedangkan Jesica, Jesica tidak mengubris kedatangan Papa Brian Dia masih memeluk Saka dengan erat dan masih menenggelamkan wajahnya di ketek Saka.


Tanpa banyak bicara Saka langsung mengangkat tubuh Jesica ala bridal style. Jesica tidak terkejut, karena momen itulah yang Dia inginkan sedari tadi. Karena menurut Jesica di gendong dengan ala bridal style adalah gendongan yang paling romantis menirutnya.

__ADS_1


Saka meletakan Jesica di ranjang dengan sangat perlahan, lalu menyelimuti Jesica hingga perutnya. Jesica tersenyum mendapat perlakuan manis dari Saka.


Saka ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Jesica. Namun Dia tidak menggunakan selimut seperti Jesica. Di saat Saka sudah hampir telelap dengan tidurnya Saka merasakan bahwa ada pergerakan dari Jesica yang sedang tidur di sebelahnya.


"Kak" Saka reflek langsung membuka mata dan ikut bangun dari tidurnya ikut duduk seperti Jesica.


"Iya. Kenapa Jes?" Tanya Saka khawatir.


"Dedeknya kayaknya minta di sapa dulu deh sama papanya sebelum tidur." Kata Jesica manja. Menatap Saka dengan wajah sendu.


"Ohh ya? Kamu tahu dari mana?" Tanya Saka sedikit meledek.


"Tadi Dedeknya bilang sama Aku!" Jawab Jesica.


"Dedeknya memang sudah bisa bicara? Jujur aja deh, Kamu yang pingin di sapa apa Dedeknya?" Saka tabah meledek Jesica.


"Dedeknya Kalak!" Ucap Jesica sedikit kesal.


"Hai Saka junior. Kata Mama Dedek pengen di sapa sama Papa ya?" Kata Saka.


"Iya Papa." Jesica menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Saka menatap ke wajah Jesica sekilas, lalu kembali menatap perut Jesica dan mulai bicara lagi.


"Dedek jangan nakal ya di dalam sana, Dedek harus kuat di dalam sana. Papa sangat menunggu kelahiran Dedek. Papa sudah pernah bilang kan sama Dedek, kalau Papa itu sudah sangat menyayangi Dedek walaupun Papa belum bisa melihat wajah Dedek. Pokoknya Dedek harus kuat di dalam sana apapun yang terjadi sama Mama." Saka menutup perbincangannya dengan Saka junior dengan mencium perut Jesica. Lalu Saka menegakan tubuhnya menatap Jesica.


"Dedeknya udah Kakak sapa. Sekarang tidur ya, udah malam. Tidak baik untuk Ibu hamil tidur terlalu malam." Pinta Saka pada Jesica dengan suara selembut mungkin.


"Iya" Jawab singkat Jesica.


Lalu Mereka berdua tidur dengan posisi berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


Saka meletakan lengan kirinya di atas bantal, lalu Jesica langsung mengunakannya lengan itu untuk bantalnya tidur. Sedangkan tangan kanan Saka memeluk pinggang Jesica dengan sangat erat.


Sedangkan posisi Jesica selain nyaman mengunakan lengan Saka sebagai bantalnya, Jesica juga memeluk pinggang Saka dengan sangat erat. Dan tidak hanya memeluk Saka, Jesica juga membenamkan wajahnya di dada bidang Saka. Karena posisi kepala Jedica yang ada di dada Saka, membuat Saka bisa menghirup aroma wangi dari rambut halus Jesica.


Tidak jauh dari posisi Saka dan Jesica tidur, tepatnya di ambang pintu kamar Saka, yang memang sengaja tidak di tutup karena memenuhi syarat yang di beri Papa Brian. Ada wanita parubaya yang memperhatikan gerak-gerik Saka dan Jesica sedari tadi. Wanita parubaya itu bukanlah Mama Nita, karena dari penampilannya sudah jauh berbeda.


Kulit wanita parubaya itu sudah banyak yang keriput karena termakan usia. Bukan hanya kulit yang mulai mengendur tapi, sudah ada beberapa helai rambut yang putih yang terselip di rambut hitam tebalnya. Wanita parubaya itu menatap Saka dan Jesica dengan mata satunya.


Semoga Kamu bisa membuktikan ucapan Kamu Saka, untuk tanggung jawab atas perbuatan Kamu terhadap Nona Jesica. Ibuk ikut bahagia kalau Kamu bahagia. Tidak terasa Ibuk sebentar lagi akan mempunyai seorang Cucu. Sanjaya, Anak kita sudah dewasa. Bahkan Kita sudah akan mempunyai seorang Cucu. Apakah Kamu sama sekali tidak ingin menemui Anak Mu? Darah daging Mu sendiri.


Wanita parubaya itu menghapus air mata yang tidak terasa menetes dari pelupuk matanya. Ternyata wanita parubaya itu adalah Buk Sri Ibu kandung Saka. Buk Sri meneteskan air mata terharu karena bahagia. Dan juga karena mengenang masa lalunya yang kelam.


Lalu Buk Sri meninggalkan Saka dan Jesica menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat, karena hari sudah larut malam.


......................


"Kakakkkkk!" Teriak Jesica karena terkejut mendapati tangan kekar Saka melingkar sempurna di pinggang rampingnya. Reflek Jesica langsung bangun dari tidurannya dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya


Saka mulai mengeliat pelan, lalu membuka matanya,m. Bangun dari posisi tiduran menghadap Jesica dengan tatapan bingung.


"Kenapa Jesica Ku sayang." Berbicara dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Kakak kenapa tidur di Kamar Jesica?" Tanya Jesica kebalik. Jelas-jelas yang sedang di tempati sekarang adalah Kamar Saka. Namun karena kurang teliti Jesica menuduh Saka yang tidur di kamarnya.


"Kamar Kamu?" Tanya Saka bingung. Dalam pikirannya jelas-jelas ini kamarnya sendiri, tapi kenapa Jesica malah mengaku-ngaku ini kamarnya.


"Iya Kamar Jesica." Jawab yakin Jesica.


"Coba deh lihat semuanya dengan teliti!" Saran Saka pada Jesica.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2