
"Mah Aku malam ini tidur sama Kak Saka ya ?"
Pertanyaan yang bermuatan permintaan dari Jesica itu sukses membuat Mama Nita dan Saka melotot. Mata Mama Nita dan Saka seolah ingin keluar mendengar permintaan Jesica. Ucapan Jesica itu sukses membuat Mamanya pusing karena bingung harus menjawab apa.
"Ehhh, Tidur Sama Mama aja gimana?" Mama Nita berusaha mencari solusi dari masalah yang ada di hadapannya.
"Kan ada Papa Ma. Nanti Jesica ganggu." Jesica menolak dengan halus. Entah Dia sedang dalam keadaan sadar atau tidak yang jelas untuk malam ini Dia benar-benar ingin tidur dengan Kakak sekaligus Papa dari janin yang Dia kandung, yaitu Saka.
"Nggak apa-apa Jes! Kita tidur bertiga. Udah lama lo Kita nggak pernah tidur bareng. Terakhir waktu Kamu masih SMP. Itu pun cuma satu malam karena kamu sakit." Mama Nita mulai melancarkan rencananya. Dalam pikirannya Mama Nita tidak mungkin mengizinkan Jesica tidur bersama seorang laki-laki yang tidak ada kaitan darah, dan juga bukan pasangan sahnya. Cukup sekali Mama Nita kecolongan, tidak ada kata dua kali.
"Mah tolonglah!" Mata Jesica mulai berkaca-kaca. Mungkin itu terjadi karena wanita hamil itu sangatlah sensitif, dan itu yang sedang terjadi saat ini dengan Jesica. Dalam pikiran dan keinginannya, untuk malam ini Dia ingin sekali tidur di peluk oleh Papa Si jabang bayi.
"Jesica Kamu dan Kak Saka itu tidak ada kaitan aliran darah, dan juga Kalian belum menjadi pasangan yang sah. Jadi Kamu nurut kata Mama ya Sayang." Mama Nita mendekat lalu mengelus rambut panjang Jesica.
Tes, tes, tes.
Tak terasa ada kristal bening yang menetes dari pelupuk mata Jesica. Saka menghapus air mata itu dan beralih menatap Mama Nita.
"Mama, boleh ya? Mungkin janin yang di perut Jesica ingin tidur dekat dengan Papanya. Saka janji kok nggak bakal ngapa-ngapain." Saka tidak tega melihat Jesica menangis, jadi Dia berusaha untuk membujuk Mama Nita.
"Kamu dengar kan tadi Mama bilang apa?"
"Iya, Saka dengar kok. Tapi ini demi Cucu Mama." Saka memasang wajah sedih untuk meyakinkan Mama Nita.
Tanpa Mama Nita dan Saka sadari Jesica tersenyum penuh arti. Seolah senyum itu sedang menyemangati Saka untuk membujuk Mama Nita.
"Tapi Saka Kamu dan Jesica itu belum mempunyai ikatan yang jelas." Bingung Mama Nita harus menjawab apa lagi.
"Mah, Mama pernah hamil?"
__ADS_1
Saka memberikan pertanyaan konyol pada Mama Nita. Sudah Jelas ada buah cinta hasil dari Papa Brian dan Mama Nita sekarang di hadapannya yang berwujud Jesica. Masih juga bertanya 'Mama pernah hamil?' Lantas bila Mama Nita tidak pernah jamil, Jesica itu anak siapa? Siapa yang melahirkan? Apakah Jesica bisa langsung muncul di ranjang setelah Papa Brian dan Mama Nita memproduksinya.
"Apakah pertanyaan itu perlu di pertanyakan lagi ? Pintar mengurus kantor. Tapi urusan begini saja tidak tahu !" Kesal Mama Nita pada Saka.
"Bukan itu maksud Saka Ma ! Maksud Saka Mama Nita kan pernah hamil, jadi Mama seharusnya tahu perasaan Jesica sekarang. Apa yang Mama pengen pada Papa sewaktu dulu Mama hamil Jesica?" Saka masih nerusaha membujuk Mamanya.
"Mama waktu hamil Jesica pengen terus dekat-dekat sama Papamu." Jawab Mama Nita mengingat kejadian dulu.
"Tuh kan sama. Ini Jesica juga lagi pengen deket sama Saka karena janin yang di kandung itu anak Saka." Saka mulai menemukan senjata yang lumayan ampuh untuk membujuk Mamanya.
"Okelah. Tapi ayuk ikut Mama dulu, Kalian izin sama Papa dulu."
Saka, Jesica, dan Mama Nita berjalan ke luar ruangan, menuju Kamar Papa Brian dan Mama Nita untuk meminta izin terlebih dahulu.
......................
"Kak sini cepet. Ngapain berdiri di sana lama-lama." Jesica merajuk, karena bukannya ikut naik ke tempat tidur Saka malah berdiri saja di ambang pintu.
"Kok pintunya nggak di tutup?" Tanya Jesica lupa dengan syarat yang di berikan Papanya tadi.
"Udah lupa ya sama syaratnya?" Saka mengingatkan Jesica tentang persyaratan yang di berikan Papa Brian tadi saat meminta izin.
"Ohh, iya lupa." Jawab Jesica tersenyum garing.
.....................
Kejadian saat meminta izin pada Papa Brian.
Jesica berbicara dengan Papa Brian dengan nada bicara yang di buat semanja mungkin.
__ADS_1
"Pah" Panggil Jesica lembut. Langsung menghampiri Papa Brian yang sedang membaca email dari kantor di handphone nya, lalu Jesica langsung mencium pipi Papa Brian.
"Iya. Kenapa? Kalau udah kayak gini pasti ada maunya." Papa Brian mulai curiga. Karena Dia sudah hafal betul sifat putri tunggalnya itu.
"Malam ini Jesica tidur sama Kak Saka ya?" Pinta Jesica dengan wajah sendu, menatap ayahnya tidak berkedip.
"Ha?" Papa Brian mengalihkan pandangannya pada Mama Nita, mencari sebuah penjelasan dengan tatapan matanya.
Mama Nita menganggukkan kepalanya tanda setuju jangan permintaan Jesica.
"Ya udah, Iya." Jawab Papa Brian masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Makasih Papa. Papa emang yang terbaik untuk Jesica.
"Tapi dengan tiga syarat!" Papa Brian menatap Saka dengan serius.
"Apa Pah?" Tanya Jesica dengan antusias.
"Pertama, Kalian jangan sampai kecewakan Papa dan Mama untuk yang kedua kalinya. Kedua, Pintu kamar harus di buka! Tidak boleh di tutup, dan yang terakhir Lampu kamar jangan di matikan atau di redupkan!" Ucap Papa Brian dengan tegas sembari menatap Saka dan Jesica secara bergantian.
"Oke Pah, Jesica akan menepati semua syarat yang Papa kasih. Kalau gitu Jesica sama Kak Saka keluar ya. Good night." Jesica langsung keluar dari kamar Papa Brian dan Mama Nita, dengan tangannya menarik tangan Saka.
"Ada apa sih Ma?" Papa Brian meminta penjelasan dari istrinya.
Lalu Mama Nita menjelaskan semuanya secara detail tentang letak masalahnya.
"Kalau wanita hamil itu apa semuanya nggak mau jauh-jauh dari suaminya atau Papa dari Janinnya?" Tanya Papa Brian heran. Karena kasus putrinya sama persis dengan kasus Instrinya saat hamil Jesica dulu.
"Nggak semuanya kayak gitu. Biasanya itu kayak maunya si janinnya gitu, pengen dekat-dekat sama Papanya." Mama Nita berkata tentang apa yang di ketahuinya.
__ADS_1
Bersambung.