
Saka berjalan dengan sangat cepat meninggalkan para Wartawan yang sedang mengejarnya. Dia berjalan menuju mobilnya, sesampainya di parkiran Dia mendengus kesal. Dia lupa bahwa yang membawa kunci mobilnya adalah Ar. Dilihatnya Ar yang berjalan mendekat ke arahnya, kisaran jarak Mereka berdua hanya sekitar 10 meter.
"Ar! Kau sedang jalan atau sedang membaca puisi? Lama sekali. Mana kunci mobil." Saka bersuara dengan sedikit keras pada Ar. Mengangkat tangannya bersiap menerima tangan Ar yang memberikan kunci mobil.
"Saya saja yang menyetir Tuan." Jawab Ar. Dia tidak yakin bahwa Saka bisa mengemudi dengan benar dalam kondisi saat ini.
"Cepat naik! Jangan banyak bicara Kau di sana." Ucap Saka pada dengan suara yang keras.
"Baik Tuan."
......................
Di dalam mobil.
Suhu dalam mobil yang biasanya sejuk karena AC , hari ini AC sudah seperti tak berguna. Suhu dalam mobil begitu panas.
Keringat dingin bercucuran di dahi dan leher Saka. Wangi badan Saka yang awalnya wangi parfum kini sudah bercampur dengan bau keringat. Jari-jemari Saka menggenggam erat, seolah bersiap untuk mrmukul orang. Pikiran Saka kini begitu porak-poranda di buat oleh kabar pingsannya Jesica.
"Bodoh. Di beri tugas untuk menjaga Jesica saja tidak bisa. Lihat saja nanti, akan ku buat seperti apa wajahmu itu dengan tanganku." Kesal Saka pada Roby. Jesica tidak pernah mengalami pingsan akhir-akhir ini menambah kekhawatiran Saka.
"Maaf Tuan, apa perlu Saya menelpon orang Rumah supaya menyusul ke Rumah Sakit? Atau Tuan saja yang menghubunginya?" Tanta Ar pada Saka supaya pikirannya teralihkan dari rencana untuk mengajar Roby.
"Aku sudah menberi kabar Mama lewat pesan. Jadi Kau tidak perlu menghubunginya. Dan Aku tahu maksud Kau mengatakan itu Ar, Kau ingin mengalihkan pikiranku dari rencana mengajar Roby kan? Jangan pernah lakukan itu lagi Ar, Rencanaku akan terus berjalan Ar. Apalagi kalau sampai ada masalah serius dengan Jesica." Ucap Saka pada Ar dengan penuh penegasan.
"Baik Tuan."
Lalu keheningan melanda keadaan mobil itu. Saka bergelut dengan pikirannya sendiri sedangkan Ar sesekali melirik Tuannya dari kaca depan. Dilihatnya air muka Saka yang terlihat sangat panik.
Saya sudah tahu sekarang siapa gadis cantik yang Tuan maksud sewaktu Saya masih kuliah dulu. Waktu itu Tuan masih SMA, dan ternyata pertanyaan saya terjawab hari ini. Saya sudah mulai tahu maksud dan tujuan Anda memberi tugas Saya untuk menyelidiki Orang tua kandung Anda waktu itu. Sungguh cinta sangat rumit.
__ADS_1
Ar hanya berani bergumam dalam hati. Lalu dia lanjut mengemudikan mobilnya dengan fokus.
Sedangkan dengan Saka. Perasaan Saka begitu khawatir saat ini. Entah mengapa pikirannya selalu mengarah ke arah yang negatif. Perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk saat ini. Namun pikirannya selalu mengarahkan perasaannya ke arah positif.
Ada apa dengan perasan ini. Kenapa Dia tidak bisa di ajak bekerja sama dalam situasi yang seperti ini. Hati, janganlah Kau menjadi penghianat dalam tubuh Ku! Menurutlah dengan perintah yang di perintahlan oleh otak Ku. Jangan membuat Aku bertambah khawatir dalam situasi seperti ini. Tenang, Kau harus tenang hati.
Lalu Saka berusaha untuk tenang. Ia menarik dan membuang nafas secara perlahan. Berhasil, cara Saka berhasil. Saka terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Namun, itu terjadi hanya sebentar.
Kenangan masa lalu mulai bekelebatan di otak Saka. Kenangan di mana dunia Saka terasa hancur sehancur-hancurnya. Karena melihat Jesica orang yang sangat di sayanginya depresi berat karena di tinggal Kenzo. Di masa itu kesehatan Jesica menurun, napsu makan berkurang, dan Jesica sering pingsan.
Ahhh, tidak bisa. Aku tidak bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Hati, sepertinya Kau menang hari ini. Saka frustasi dengan hatinya sendiri.
Ini nggak ada hubungannya sama kejadian itu kan Jes? Itu kejadian sudah lama, terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Kalau memang pingsannya Kamu ada hubungannya sama kejadian itu, itu artinya Kamu belum bisa melupakan Kenzo sampai saat ini.
Jes, Kamu yang kuat ya di sana. Kakak sebentar lagi sampai di sana. Kakak sayang sama Kamu, Kamu harus kuat. Nggak boleh terjadi sesuatu sama Kamu. Kalau terjadi sesuatu sama Kamu, berarti Kamu ingin melihat Roby babak belur di tangan Kakak.
......................
Jesica sudah di tempatkan di ruang IGD. Roby sejengkal pun tidak meninggalkan Jesica sama sekali sedari sampai di Rumah Sakit. Kalau Roby sampai berani meninggalkan Jesica sendirian di rumah sakit, itu sama saja mengambil jalan bunuh diri bagi Roby.
Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Jesica. Lalu dokter itu menanyakan sesuatu pada Roby yang sedari tadi berdiri di samping tempat Jesica terbaring lemah.
"Dengan suami pasien?" Tanya Dokter itu.
"Bukan Dok." Jawab Roby singkat.
"Lalu keluarga Pasien?" Tanya Dokter itu lagi.
"Sedang dalam perjalanan menuju kemari Dok." Roby memanglah sedang berbicara dengan Dokter, tapi pandangannya tak terlepas dari Jesica yang sedang terbaring belum sadar.
__ADS_1
"Kalau keluarga Pasien sudah sampai, Anda bisa memanggil Saya ke ruang Dokter. Apa yang terjadi pada Pasien akan Saya sampaikan nanti pada keluarga Pasien." Kata Dokter itu.
"Baik Dok. Dengan Nama?" Tanya Ar.
"Nama Saya Dina. Panggil saja Dokter Dina." Jawab dokter itu lagi.
"Dok, bisa Nona Jesica di pindah ke Ruang VVIP?" Tanya Roby. Karena bila Saka melihat adiknya berada di ruang sempit ini terlalu lama, bisa benar habis babak belur wajah Roby dibuatnya.
"Sebenarnya tidak perlu. Karena setelah Pasien siuman nanti bisa langsung pulang." Jelas Dokter Dina.
"Ehh, sebentar-sebentar. Pasien ini bukannya Ibu Jesica Aulia Mahendra, CEO Mahendra Company itu bukan?" Dokter perempuan itu memperhatikan wajah Jesica dengan seksama.
"Iya, benar." Jawab Roby dengan datar. Terlihat jelas sekarang bahwa Dokter yang sedang menangani Jesica sangatlah kudet. Alias kurang update.
"Pantas saja dari wajahnya, Saya seperti pernah melihatnya. Ya sudah Ibu Jesica Saya izinkan pindah ke Ruang VVIP." Kata Dokter Dina.
"Baik Dok." Jawab Roby.
"Saya tahu posisi anda akan terancam, bila membiarkan Nona Jesica yang secantik ini berlama-lama di ruang ini." Mata Dokter Dina menyisir ke seluruh sudut ruangan, lalu menjatuhkan pandangan ke arah wajah Roby.
"Saya beri saran Dok. Sebaiknya, bila Anda masih mau bekerja di rumah sakit ini. Jangan ikut campur terlalu dalam dengan masalah Pasien dan kerabatnya. Karena perbuatan Anda itu bisa memperpendek umur Anda. Terlebih saat ini Pasien yang Anda sedang tangani adalah orang penting di negri ini." Ucap Roby dengan nada bicara penuh penekanan. Dan di tambah dengan tatapan mata tajam.
Glek
Dokter Dina menelan salivahnya dengan susah payah. Detak jantungnya seolah ingin berhenti saat ini juga. Dia tercengang mendengar ucapan bermuatan ancaman dari Roby itu.
Tanpa banyak bicara Dokter Dina langsung keluar dari ruangan itu, meninggalkan Roby yang wajahnya masih merah karena menahan amarah.
Ternyata memang benar adanya tentang berita di TV itu. Bukan hanya Boss nya yang dingin dan galak. Sekertarisnya jauh lebih kejam dari yang di beritakan di TV. Dan itu baru dari pihak Nona Jesica, belum dari pihak, siapa itu nama Kakaknya Jesica? Oh, ya Tuan Saka. Bagaimana bila nanti Aku ketemu tuan Saka dan satu lagi Sekertaris kejam bawaan dari Tuan Saka itu. Satu saja sudah hampir membuat jantung Ku berhenti berdetak. Apalagi bila benar nanti akan ada dua Sekretaris yang modelnya macam begitu, bisa mati mendadak Aku. Ehhh, sebentar. bukannya Nona Jesica sesuai berita di TV itu belum menikah? Tapi kok bisa...
__ADS_1
Gerutu Dokter Dina dalam hati saat meninggalkan ruang IGD tempat Jesica dan Roby berada. Lalu di akhiri dengan pertanyaan yang akan mengarahkan Pembaca untuk berspekulasi dan menghalu.
Bersambung