
...🌷🌷🌷...
...Dinda POV....
Aku melihatnya, melihat dia yang masih dengan susah payang menggendong kedua anakku. Keduanya selalu saja berebut jika sudah melihat Mas Andra. Tapi yang kusuka, dia tidak membedakan apakah Keanna itu anaknya atau bukan.
Aku sempat berpikir, berarti selama ini memang benar segala ucapannya. Dia hanya ingin keluarga yang utuh. Dia tak ingin anak anaknya mengalami hal yang sama dengannya.
Tanpa terasa, air mataku luruh ketika mengingat segala ucapannya.
" Abi... iman bobo sama Abi ya?" Tanyanya dengan suara yang imut.
" Ana au..." Imbuh si kecil yang juga ikut-ikutan.
Aku tau dia pasti lelah, ini hari pertamanya bekerja dan pasti banyak berkas yang harus ditangani olehnya. Aku kemudian memilih untuk menidurkan anak-anak yang mulai rewel.
Kami tidur di satu kamar yang sama untuk pertama kalinya. Dua matras besar ukuran king size kami jajarkan. Bukan kami, tapi hanya aku yang menata kamar seharian sebelum dua bocil ini sampai.
Aku teringat bagaimana iman selalu berceloteh ingin tidur bersama dengan Abinya. Terlebih sewaktu Mas Andra terbaring koma dulu. Tak mau membuat putra dan putriku kecewa, aku lebih memilih menata kamar sedemikian rupa.
Sengaja memang aku berias sebelum dia datang. Banyak nasihat dari bibi Nur membuatku berubah pikiran. Agaknya apa yang dia katakan ada baiknya. Aku juga tak bisa terus menghindar dari kewajibanku yang seharusnya.
" Ayo, minum susu ya... Biar Abi. mandi dulu." Kataku yang memakai daster pendek di atas lutut. Aku berjalan keluar sembari mengocok sebotol susu milik Ayman.
" Ke... kenapa kau memakai baju seperti itu?" Tanyanya yang terdengar ambigu.
Maksudnya kenapa yang benar-benar kenapa, atau kenapa yang ada apa-apanya?
" Ya, kenapa memangnya bi? tidak boleh, kan hanya mau tidur?" Jawabku sembari meraih Keanna dan menggendongnya.
Aku mengabaikannya dan masuk ke kamar begitu saja. Dia segera bangkit dan mengikutiku, dia mengekor di belakangku.
" Anak-anak tidur dengan kita? Apa muat?" Tanyanya yang belum tau bila isi kamar sudah ku renovasi.
" A... apa? Jadi kita tidur bersama? berempat?" Tanyanya lagi dengan tercengang dan berdiri di ambang pintu.
" Iya Abi.." Jawabku lembut dan mulai akan memberikan susu untuk Keanna.
"Kita... bersama?" Lagi dia mengulangnya.
" Astaga, iya suamiku. Iya, kita tidur bersama. Sekarang cepat mandi, ku tunggu disini." Kataku menepuk-nepuk sisi kosong disebelahku.
Dia mengulum senyumnya, terlihat sekali dia bahagia meski sekarang sedang berusaha untuk menyembunyikan euforia.
Mas Andra mulai memasuki kamar mandi dan aku seketika terduduk dan menghela nafas dalam-dalam. Sejujurnya aku sangat berdebar, Aku malu.... apakah nanti dia akan berfikir jika aku ini gampangan?
__ADS_1
Ah... malu... aku Sungguh malu....!
Sekarang aku harus bagaimana saat dia keluar dari kamar mandi?
Beberapa menit berlalu dan akhirnya suamiku menunjukkan kakinya. Satu kakinya menjulur keluar dan aku... aku .. langsung berpura-pura menyibukkan diri dengan ponselku. Sebenarnya ekor mataku selalu mengamati kemana langkahnya menuju. Hanya saja, aku masih tersipu saat ini. Mungkin saja pipiku sedang memerah.
Oh astaga...! kenapa udara disini menjadi panas?
" Mas mau kopi?" Tanyaku basa-basi sembari mengigit bibir bawahku.
Dia tersenyum menatapku tetapi tangannya masih mengeringkan rambutnya " Iya jawabnya.
Huft... lega.. akhirnya aku bisa keluar dan menghela nafas bebas. Apa apaan Bibi menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Argh... sumpah aku malu sendiri.
Aku masih meracik kopi tubruk kesukaannya. Lidahnya sedari dulu selalu saja menyukai kopi tradisional ini dan tak tergeser dengan kopi-kopi yang berlebel western.
Satu sendok gula dan setengah sendok kopi. Hemh itu komposisi yang pas.
Aku berjingkat dan hampir berteriak saat sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar dan merengkuhku. Aroma maskulin dari laki-laki yang dahulu menyandang status sebagai Kakakku ini tetap sama.
" Mas...." Desisiku yang terkejut.
"Hemmm?" Sahutnya dan bertambah mengeratkan pelukannya.
" Kau mengagetkanku!!" Protesku.
WTF!!
Secepat itu?
" Kopinya belum jadi." Alasanku yang tak kemana setelah ini dia akan membawaku.
" Nanti saja," Lirihnya dan tangannya mematikan kompor. " Aku menginginkan sesuatu yang lain, aku ingin melahap sesuatu yang manis. Bolehkan?" Tanyanya meminta ijin dan itu membuatku seperti udang rebus sekarang. Pipiku memerah dan pastinya ada senyum yang tak mampu ku sembunyikan.
" Aku mau cium boleh?" Tanyanya yang justru membuatku terkekeh geli. Kenapa baru permisi sedangkan sedari tadi sudah mendusel di leherku?
Aku hanya mengangguk dan dia langsung menyambar bibirku dengan rakusnya. Perlahan, lembut, dan nikmat. Dia mengikis jarak dan membalikkan tubuhku. Kini aku menghadapnya menatap sayu kedua matanya yang berkabut sendu.
" Sayang, kau semakin cantik." Pujinya.
Bibirnya cukup sopan dia tau bagaimana caranya menghangatkan suasana hatiku. Dia tau bagaimana menyanjung dan membesarkan hatiku.
Turun perlahan dia mengendus rambutku. " Aku suka wanginya." Katanya.
" Mas...., ja....Jangan disini." Ujarku yang tak mau melakukan penyatuan di dapur. Tak mau saja nanti terkena noda minyak dan cabaiðŸ¤.
Dia menghentikan aksinya dan mengecupku tepat di keningku. Matanya sungguh berbalut rindu seolah lama tak bertemu. " Aku sangat merindukanmu, merindukan malam ini." Katanya lirih yang lalu menggendongku seperti bayi kanguru.
Lihai sekali dia, menggendongku sembari berjalan maju tanpa melihat jalan dan bibirnya tetap fokus mel****t bibirku lembut. Nafasnya menderu dan semakin menjadi.
__ADS_1
Kami melakukan penyatuan di kamar anak-anak. Dia sungguh memuaskanku. Tak bisa ku pungkiri dia benar-benar berbeda dari caranya yang dulu. Kali ini sejengkal tubuhku tak ada yang bisa lolos dari pandangan matanya yang memindai, dan bibirnya yang terus mengecup.
" Perutmu kenapa?" Tanyanya saat melihat perutku yang bergurat Stretch Mark. Aku malu lalu menutupinya dengan tanganku.
" Jelek ya? Ini sisa kehamilanku Mas. Maaf aku tak secantik dulu." Kataku yang jujur saja aku tak percaya diri.
Kupikir dia akan mengurungkan niatnya setelah melihat ukiran di perutku. Tapi nyatanya tidak.
" Terimakasih," Katanya dan itu membuatku melongo. Sepersekian detik aku kehilangan selera bercinta. Terimakasih? untuk apa?
" Terimakasih telah mengandung dan melahirkan anakku. Terimakasih telah menjadi ibu yang baik dan istri yang baik." Ucapnya yang lalu menciumi perutku dan semakin turun kebawah dan dia bermain di area terlarang.
Oh sungguh, sapuan hangat lidahnya membuatku menggelinjang. Memberikan sensasi geli-geli nikmat yang sulit kuterjemahkan.
" Maaf ya Sayang, untuk semua yang lalu." Katanya saat pelepasan telah usai dan dia masih berada di atasku.
"Iya, aku sudah memaafkan semuanya. Jangan kau bicarakan lagi. Hanya sedih yang ada saat kau membicarakan itu."
" Terimakasih sudah menerima dan memberiku kesempatan kedua. Akhirnya aku bisa menepati dan menjalankan wasiat dari mending Suamimu."
" Wa.. wasiat?" Aku menangkup wajahnya dan memandangnya lekat.
" Iya, saat dia kritis dan kau sedang berada di ruang rawat. Dia memanggilku dan berwasiat padaku agar aku menjaga kau dan Keanna." Katanya yang membuatku tertegun.
"Apa... karena hal itu juga yang membuatmu mempunyai ide untuk terus pura-pura hilang ingatan agar aku selalu dekat dan merawatmu? Aku hanya menebak dan kalau dia menjawab iya. Fix, dia lelaki baik. Dia banyak berkorban untukku dan anak-anak.
Dia mengangguk dan kemudian berbaring di sampingku. Matanya mencoba memejam tapi tak bisa seolah dia menghindari tatapan mataku.
" Kenapa?" Tanyaku lirih.
" Di setiap waktuku, aku selalu berfikir mengapa harus dia yang pergi. Mengapa tidak aku saja yang jelas-jelas kau benci."
Deg!!
Sakit hatiku saat dia berbicara seperti itu. Aku sudah cukup gagal dua kali dan kehilangan suami. Tak mau lagi aku mengalami fase yang menyesakkan dada.
" Jangan bicara yang tidak-tidak semua sudah takdirnya. Kalau saja masih bisa di runding dan ada pilihan lain. Aku lebih memilih cerai hidup daripada cerai mati. Setidaknya anakku masih bisa tau siapa ayah kandungnya. Dan kau Mas, aku tidak suka kau berbicara seperti itu."
Aku marah, sangat marah. Apa-apaan ini?
Tanpa bicara dia lalu merengkuhku lagi dan membawaku kedalam hangat tubuhnya dan merasakan debar jantungnya.
" Aku lega akhirnya kita dapat melakukan malam pertama." Cicitnya dengan suara yang serak dan menggelitik di telinga.
" Ini bukan malam pertama," Protesku yang kemudian bangkit dan memakai bajuku.
" Cepat pakai bajumu, sebelum anak-anak terbangun dan merengek karena kita tak ada." Kataku yang mengusap rahangnya.
__ADS_1