Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
85. Iba


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


Dinda keluar dan menuju ke pelataran parkir, sapintas kilas dia menangkap pemandangan Bayu yang sedang duduk bersama wanita yang tadi di usir oleh suaminya. Dia Natasya. Rupanya Bayu menepati ucapanya.


Dia duduk bersebelahan dengan Natasya.


" Aku tidak menyangka Nat, jika jalan hidupmu akan begitu mengerikan seperti ini." Kata Bayu yang turut merasakan kesedihan Natasya.


Natasya menceritakan bagaimana dia diperlakukan kasar oleh Bastian setelah dirinya didiagnosis kanker serviks stadium akhir. Kekerasan fisik dan mental sering Natasya dapatkan. Bastian yang hendak menceraikannya mendapatkan penolakan dari Natasya. Di kepala dia berfikir bahwa Nasib dan masa depan Arumi akan tergadaikan bila mereka bercerai. Siapa nanti yang akan merawat anaknya itu bila mereka bercerai? Terutama untuk segala kebutuhan hidup.


Tak jarang Bastian membawa wanita lain pulang dan terang-terangan bermesraan di depan anak dan istrinya. Bastian melakukan hal itu karena Natasya yang sudah parah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan batiniah Bastian.


Uang tabungan mereka sudah banyak terkuras untuk biaya pengobatan Natasya. Khususnya uang Natasya. Sebab, sedari awal pernikahan mereka memiliki perjanjian pranikah untuk tidak mencampur harta satu sama lain. Dan, sekarang.... inilah akibatnya. Uang Natasya habis, dia sakit dan terbuang.


Adanya Natasya mempertahankan status pernikahan hanya semata-mata demi terjaminnya hidup Arumi. Saat Natasya bercerita dan bahkan dia menunjukkan kepalanya yang botak di hadapan Bayu. Natasya menyisir rambutnya dengan jari dan dengan mudahnya rambutnya berpindah ke telapak tangan tidak lagi menempel di kulit kepalanya. Sebegitu parahnya sakit Natasya.


" Bay, untuk itu aku menemui Andra. Dia lelaki baik. Bukan demi apapun aku menemuinya, aku hanya ingin merasa tenang. Aku ingin menitipkan Arumi padanya bila aku mati nanti."


" Nat, jangan bicara seperti itu. Usia seseorang tidak ada yang tau." Sanggah Bayu yang tak suka mendengar ucapan Natasya yang terdengar mengerikan juga melantur.


" Kak, Nata..." Panggil Dinda dengan lembut. Dinda menangis sedari tadi dia menyimak cerita dan juga menyaksikan bagaimana Natasya menunjukkan parah keadaannya dengan menyisir rambutnya yang rontok.


" Dinda?" Sahut Natasya tertegun dan kemudian segera menghampiri Dinda.


Tanpa basa-basi, Dinda memeluknya, tangannya mengusap punggung Natasya. " Sabarlah Kak, ini ujian. Aku yakin kau pasti akan segera sehat kembali."


Natasya mengurai pelukannya mata mereka saling bertemu pandang dengan cairan bening yang menghiasi. " Tidak Dinda, Waktuku tidak akan lama lagi. Aku minta maaf padamu. Aku meminta ridhomu. Aku telah banyak menyakitimu. Maafkan aku."


" Jangan bicara seperti itu. Semua sudah bagian dari takdirnya."


Suasana haru terjadi di depan mata Bayu. Lelaki itu juga ikut menitikkan air mata. Dia larut dalam kesedihan.


" Dinda, aku benar-benar bisa merasakannya. Sebentar lagi waktuku akan habis. Aku titip Arumi padamu ya. Orang tuaku sudah meninggal dan Bastian, orang tuanya tak pernah menginginkan kehadiran Arumi." Natasya menyeka air matanya.


" Aku mohon padamu Dinda, aku yakin kau orang baik. Tidaka ada yang bisa kuandalkan selain kau. Aku titip Arumi."


Terulang Kata Titip Arumi yang membuat hati Dinda teriris. Dinda ingat bagaimana dulu dia merawat Arumi saat masih bayi merah. Saat kedua orang tuanya sedang berseteru. Nasib Arumi lah yang malang sebenarnya. Sedari bayi, anak manis itu selalu mendapatkan penolakan. Dari yang hendak di gugurkan, menjadi rebutan, dan sekarang... ayah kandungnya sudah tidak perduli lagi dan dia terbuang.


" Kak...." Dinda tak mampu lagi berkata-kata dan hanya memeluk hangat Natasya. Natasya meringis sekilas menahan nyeri di perut bagian bawah yang teramat sangat menjalar keseluruh tubuhnya.


"Kenapa kak?" Dinda menatap wajah pucat Natasya.


Natasya menggeleng lemah dan tersenyum simpul. " Tidak apa-apa, aku hanya lapar." Kilahnya.


Natasya menyembunyikan rasa sakitnya. Betapa tidak, pengobatannya yang harusnya semakin intensif, malah mandeg begitu saja dan memasukkan sisa tabungannya sebagai asuransi jiwa dan asuransi pendidikan Arumi. Yang Natasya maksud dengan titip Arumi adalah bukan semata-mata soal uang, tapi juga perlindungan dan kasih sayang.


Bastian sempat beberapa kali hendak menyetubuhi putrinya sendiri dan untungnya Natasya segera mengetahuinya dan terjadi perkelahian antara Natasya dan Bastian sampai Natasya harus kehilangan sebelah penglihatannya.


" Kau lapar? Mari makan. Aku yang traktir." Kata Bayu yang tak tega melihat keadaan Natasya.


" Emm, kalian satu mobil saja. Aku akan menyetir sendiri. Mas Andra akan sangat marah jika tau aku pergi dengan kak Natasya."


"Iya aku paham Dinda. Terimakasih sudah memaafkanku." Ujar Natasya seiring dengan kelegaan di dasar hatinya.


Dinda dengan inisiatif dan rasa ibanya mengambil sejumlah uang dari kartu kredit miliknya. Dia lupa bila semua kartu kredit yang di pegangnya akan terhubung dengan ponsel Andra.


Satu notifikasi masuk ke ponsel Andra.

__ADS_1


" Beli apa istriku ini? Tak biasanya dia berbelanja di hari biasa. Biasanya dia akan meminta ijin dahulu padaku walaupun itu keperluannya." Andra mengernyitkan keningnya.


Segera dia menghubungi Dinda.


' Asalamualaikum Sayang.' Andra.


' Walaikumsallam Mas.' Dinda.


' Kamu dimana?' Andra.


' O.... emmm Aku Lagi di Mall Mas. Tiba-tiba pengen jalan-jalan sebentar eh malah liat ada tas Bagus. Jadi aku beli deh. Ga apa-apa kan mas? boleh kan?' Dinda berbohong, padahal sekarang dia sedang duduk di dalam mobil dengan tangan yang gemetar.


' Tas? tapi kenapa laporanya dari Bank? bukan dari outlet tempatmu membeli Tas?' Andra mulai curiga.


' Emmm, iya Mas tadi mampir ke Bank sekalian mau minta rekening koran.' Jawabnya Setelah melihat hasil print rekening di buku tabungannya. Terdengar masuk akal bukan?


' Oh, ya sudah. Aku hanya memastikan untuk apa kamu mengeluarkan uang sebanyak itu dari Bank dan bukan dari Mall.'


What? Berarti bila dari mall, berapapun nominalnya asalkan Dinda bahagia Andra tidak akan marah?


' Iya Mas. Mas, nanti aku sekalian belanja kebutuhan bulanan ya?' Imbuh Dinda yang ingin menutupi kebohongannya.


' Iya Istriku sayang, terserah kau mau beli apapun itu, aku percaya kau bisa mengurus keuangan rumah tangga kita dengan baik. Happy shopping ya.' Kata Andra.


' Iya Sayang, Terimakasih.' Balas Dinda de senyum yang mengembang.


" Astaga!! begini rasanya berbohong pada suami soal uang. Bila dia tau, apakah dia akan mengamuk lagi?" Dinda melihat segepok uang di dalam tasnya dalam amplop coklat.


38 juta. Bukan nominal yang sedikit. Dinda ingin memberikan uang tersebut untuk menyokong finansial Natasya dan Arumi. Dinda sungguh kasihan melihat keadaan Natasya.


" Semoga tidak ketahuan. Dan nanti aku akan membeli tas kw. agar dia tak curiga." Dinda mulai menjalankan mobilnya.


Mereka makan dan saling berbincang, topik utama tetap kekerasan yang sering Natasya alami.


Bayu merogoh kantong jasnya dan memberikan amplop coklat di tangan Natasya mungkin sekitar 5 juta. Sebab amplop itu terlihat kurus langsing.


" Ini, tidak banyak dan jangan di tolak. Gunakan untuk kebutuhanmu dan berobatlah." Kata Bayu.


" Bay, aku menemui kalian bukan untuk ini." Tolak Natasya dengan pipi yang sudah basah. Dia malu, dia merasa sangat rendah sekarang lantaran menerima sumbangan dari orang yang dulu diremehkannya.


" Aku ikhlas Nat. Tapi maaf tidak banyak, aku belum sempat mengambil uang tunai tadi." Ujarnya jujur.


" Kak terimalah, gunakan untuk kebutuhanmu dan juga Arumi. Makanlah dengan baik dan berobatlah. Ini dariku, aku ikhlas, jangan kau tolak pemberianku atau aku akan menarik kata maafku untukmu." Kata Dinda lembut membuat Natasya semakin tergugu dan menangis dengan memegang kedua amplop di tangannya. Yang satu kurus dan yang satu gemuk. Sudah jelas yang gemuk dari Dinda.


" Terimakasih, aku menyesal pernah menyakiti orang-orang baik seperti kalian. Maafkan aku." Natasya tergugu.


" Iya, sudah jangan menangis lagi." Dinda ikut menangis haru dan mengusap punggung Natasya.


Sepulangnya dari makan siang dengan Natasya, Dinda segera menuju ke sebuah toko yang menjual tas tas kw. Dia membeli sebuah tas dan berharap Andra tidak akan menaruh curiga.


...Malam harinya....


Sedari Andra pulang, Dinda terkesan clingukan dan menghindari tatapan mata Andra. Dinda tak pernah begini bila tak ada hal yang disembunyikan.


" Sayang, ada apa kau Sedari tadi aneh?" Kata Andra.


" Aku...?" Dinda memasang wajah terkejut. " Ah tidak Abi, hanya sedikit lelah saja." Dinda mengelak.


Tak biasanya Andra mau duduk di meja rias sang istri dan membersihkan wajahnya.

__ADS_1


" Tumben Mas mau duduk disitu?"


" Oh, hanya mau membersihkan jenggot Sayang." Andra lalu berdiri untuk mengambil alat cukurnya dan tak sengaja kakinya menendang kotak sampah dan membuat isinya berhamburan.


Dinda sudah ketar-ketir dibuatnya. Di dalam kotak sampah itu ada struk belanja dari tempat dia membeli tas kw.


Dinda berdoa semoga Andra tak membaca kertas itu. Tapi...


" Ini Apa Sayang?" Andra bertanya dengan wajah garang.


" Tas Kw?" Andra menuntut penjelasan.


Suasana berubah tegang mana kala Dinda hanya bisa bungkam. Andra berjalan dan mendekati ke lemari tempat dimana tas yang baru saja Dinda beli tadi diletakkan. Andra membuka dan kemudian membanting tas ke itu kelantai. " Apa ini? kau bohong padaku? kau bilang tadi mengambil uang tunai untuk membeli tas, lalu ini apa? Kau gunakan untuk apa sebenarnya uangmu?"


" Sayang jangan marah." Pelan Dinda berbicara, dia sungguh di ujung tanduk sekarang.


Kebohongan, adalah hal yang paling dibenci Andra.


" Jangan marah katamu? Dengan kau bohong seperti ini aku harus bersikap baik dan memberimu senyum? begitu maumu?" Andra berkacak pinggang dan meremas rambutnya frustasi.


" Sekarang, jelaskan padaku untuk apa kau melakukan transaksi tadi?" Nada bicara Andra mulai sedikit menurun.


" Em... em ..." Dinda sungguh Kelu dia tak bisa lagi berbohong atau hal yang lebih rumit akan menimpanya.


" Jawab yang jujur!!" Andra membentak Dinda.


" Aku memberikan uang untuk Arumi." Jawab Dinda menunduk dan tubuhnya gemetaran.


" Arumi?" Andra menelisik. " Oh, tadi kau menemui Natasya?" Andra menyeringai.


"Pantas saja, baru berapa hari kau bertemu dengan dia, dia sudah membuatmu menjadi pembohong."


"Mas! bukan karena dia tapi aku ikhlas dan ingin membantunya. Dia sedang kesusahan!"


" Kesusahan? bagaimana kau tau? apa kau lupa jika dia adalah wanita ular? kau lupa bagaimana dia menipuku lalu mengadu domba kita? kau lupa?"


" Mas, dia sudah berubah. Dia..."


" Berubah? kau yakin? bagaimana jika semua yang dikatakannya hanyalah tipu daya, hanya rekayasa? "


" Mas, dia tidak akan terus memaksa bertemu dengan kita bila kau mau memaafkannya dari kemarin."


" Memaafkan? Tidak! Tidak akan pernah!! Apa kau lupa karena dia kita berpisah. Karena dia aku menelantarkan anak dan istriku, dan karena dia aku harus menebus kebodohanku bertahun-tahun lamanya!"


"Sampai dia mati pun, aku tidak akan pernah memaafkannya!!"


" Mas!! jaga bicaramu!!" Dinda membentak keras Andra.


" Oh...., hebat sekali didikan Natasya ini. Baru kemarin dan kau sudah mirip sekali dengan dia. Berbohong dan sekarang kau sudah berani membentak suamimu sendiri. Kau tidak sadar jika dia sudah mempengaruhimu sejauh ini?"


" Mas!" Lagi Dinda berbicara penuh penekanan.


BRAK...!


pertengkaran berakhir dengan Andra yang pergi meninggalkan kamar dengan membanting pintu. Sebelum pergi Andra mengambil dompet dan kunci mobilnya.


Dan Dinda?


Dinda kakinya lemas seperti tak bertulang, pertama kali setelah mereka menikah pertengkaran besar ini terjadi bahkan Andra sampai pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Kemana lah Andra marah malam-malam hanya mengenakan piyama dan penampilan yang berantakan. Ada yang tahu?


__ADS_2