
Keanu selesai di kebumikan. Suasana haru terasa pekat menyelimuti. Rumah tak ada, dan kini dengan terpaksa mereka menerima tawaran Andra untuk menempati kediaman Andra yang selama ini digunakannya untuk mengintai segala kegiatan Dinda dan Ayman.
Bagaikan menjilat ludah sendiri, Papa Dimas terbentur keadaan dan tak ada pilihan sedangkan seluruh uangnya telah terkuras untuk membeli segala keperluan bertani. Dia akan kembali meraih banyak cuan ketika panen tiba.
" Pa, itu kamar kalian. Biar aku tidur di ruang tamu saja." Ujarnya yang menunjuk sofa di depan TV.
Rumah yang di sewa Andra, adalah rumah sederhana yang jauh dari kata mewah. Hanya tersedia dua kamar dan satu kamar mandi.
Papa Dimas diam tak memberikan respon yang memuaskan. Dia hanya mengangguk perlahan dengan berpaling muka. Tak enak saja jika di hadapan cucunya dia akan mengamuk seperti tempo hari. Ayman adalah anak yang cerdas, layaknya mesin fotocopy, apapun yang di lihatnya terkadang di jadikannya acuan untuk bertindak.
" kalian istirahatlah, biar aku kerumah sakit untuk menjemput Dinda. Kasian iman bila harus wara Wiri. Sekarang banyak sekali virus di luaran. " Ujarnya panjang lebar yang tak mendapatkan sahutan sedikitpun.
Papa Dimas duduk terdiam memangku Ayman yang terlelap, tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
" Begitu siapkan nasib putriku." Gumamnya dengan tatapan hampa menatap lurus kedepan tanpa sebuah kedipan.
Andra kini yang terdiam. Apa yang dimaksudkan Papa Dimas adalah masa dimana Dinda selalu kehilangan suami ketika mengandung. Dan dimasa lalu, Andra juga turut andil di dalamnya. Andra merasa bersalah dia hanya bisa diam dan merenung.
...🌷🌷🌷...
" Mas, maaf jadi merepotkan mu." Dinda sungguh merasa tidak enak hati. Dia kini merasa menjadi beban bagi Andra.
Andra hanya bisa menghela nafasnya sebelum mulai berbicara. " Din, aku juga punya tanggungjawab disini. Ayman anakku, sudah seharusnya aku turut membantunya saat dia kesulitan. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan lagi. Aku juga banyak melewatkan beberapa kewajibanku sebagai ayah kan? Kurasa ini kesempatan bagiku untuk menebusnya." Andra berbicara dengan mata yang terus fokus menatap jalanan.
" Dan, aku rasa ini waktuku untuk menebus kesalahanku dimasa lalu. Ini waktuku untuk berucap terimakasih kepada almarhum suamimu." Ucapan Andra terhenti sesaat kala maniknya menatap Dinda yang tengah menangis.
" Aku turut berduka cita. Aku tau seberapa dalamnya cintamu padanya. Sedari SMA kalian sudah bersama. Maafkan aku, bukan maksud untuk...." Andra terdiam melihat Dinda. Ingin merengkuh dan mengusapnya, namun apalah dayanya. Dia yang sekarang adalah Andra yang tak memiliki ikatan. kecuali hanya sebatas mantan suami dan ayah kandung Ayman.
Dinda mengangguk dan menangis tersedu-sedu. Habis sudah segala kata-katanya. Lidahnya kelu, matanya basah dan panas, segala ingatannya kini terpaut dengan sang suami yang telah pergi untuk selamanya.
Selama dalam perjalan keduanya hanya diam tiada lagi perbincangan yang terlontar.
Satu Minggu berlalu, selepas dari menjemput Dinda, Andra memutuskan untuk kembali ke kota. Dia sungguh tak tahan bila harus terjerembab dalam kepedihan.
Tentu pedih bilamana melihat orang-orang yang di kasihinya menderita batin seperti ini. Belum lagi Ayman yang selalu mencari keberadaan Keanu.
Semenjak kematian Keanu, berubah pula persahabatannya dengan Bayu. Bayu kini menarik diri dari Andra. Tapi dia terlihat berusaha untuk dekat dengan calon keponakannya.
Andra masih bergelut dengan banyaknya dokumen dieja kerjanya saat tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk.
" Masuk!" Seru Andra tanpa melihat siapa yang datang.
" Pak, ini bahan untuk presentasi besok." Ucap karyawan.
" Ya, taruh saja di meja." Titahnya tanpa melihat si bawahan.
Di luar ruangan Andra.
Karyawan yang ingin menyetorkan hasil kerja mereka mengantri tapi di depan pintu. Andra sekarang jauh lebih memprihatinkan dia seperti mesin penghasil uang. Dia semakin menjadi pendiam dan enggan untuk berbaur di tengah keramaian. Senyuman pun jarang tersungging di bibirnya.
__ADS_1
" Bagaimana, masih seperti kemarin?" Tanya si karyawati.
" Masih, " karyawan yang baru saja masuk mengangguk. " Letakkan saja di mejanya dan jangan banyak tanya kalau kau tak mau melihat da prahara."
" Duh, kenapa semakin killer begini sih, serasa masuk ke wahana misteri." Gumam si karyawati lainya.
Begitulah mereka yang suka bergunjing perihal keadaan bosnya.
" Ada apa kalian?" Tegur Bayu yang mendekat.
Mereka tergugup dan menjadi salah tingkah setelah tertangkap basah menggunjing atasannya. " Eh, pak Bayu. Tidak pak kami hanya sedang menunggu giliran saja untuk menyerahkan hasil laporan kami." Jawab si karyawati yang paling cerewet tadi.
" Oh, kemarikan, biara ku saja yang masuk. Aku tau kalian takut." Kata Bayu sembari tersenyum ramah dan meminta beberapa laporan mereka.
Bayu masuk tanpa mengetuk pintu ataupun permisi terlebih dahulu. Dia seenaknya saja, menganggap ruangan kerja Andra layaknya kepunyaannya pribadi.
" Oh, kau?" Sapa Andra tanpa bergeming dari tempatnya.
Bayu menggeleng, dan menarik sedikit ujung bibirnya hingga tersungging tipis. Sangat tipis hingga tak disadari oleh siapapun. " Tidak ada cuti untuk bulan ini. Kita sedang mengejar target." Ujar Bayu santai sembari meletakkan berkas-berkas ke atas meja Andra.
Andra mendongak dan melihatnya dengan tatapan datar tapi terlihat semburat kebencian. Dia benci jika harus melewatkan bulan ini untuk tidak bertemu dengan Ayman lagi. " Apa katamu? Hei, aku sudah mendapatkan tender proyek yang besar beberapa hari yang lalu. Tidakkah ada bonus untukku barang hanya sekedar ijin kerja? aku ingin menemui putraku Bay." Tutur Andra jujur.
Bayu beralih dan berjalan menuju sofa. Dia duduk dan menyilang kan kakinya dengan bersahaja. " Hem, aku tau kau memiliki alasan lain." Ujarnya dingin.
Sesaat Andra tampak gelagapan dan mencari alasan lain. " Tidak, Bay aku sungguh-sungguh hanya merindukan anakku itu saja. "
" Kau yakin?" Bayu mendesaknya dengan tatapan matanya yang tajam.
Ya, memang sedari waktu itu, Andra tak membicarakan perihal wasiat Keanu kepada siapapun juga. Hanya dia dan tuhan yang tau.
" Tidak ada apa-apa, dia hanya memintaku untuk menjaga Ayman. Dan ku pikir itu normal sebab dia salah Ayah sambung dari putraku. Wajar bila di khawatir."
" Bukankah itu hal yang normal?" Lanjutnya lagi.
Normal jika tak ada sesuatu apapun. Tapi ini, bahkan belum lama juga sebelum menemukan keberadaan Ayman dan Dinda, Andra sempat berucap jika dia sangatlah merindui sosok yang dulu pernah menjadi adiknya itu.
Peluang semakin besar saat ini, apalagi dengan wasiat yang Keanu berikan kepadanya. Hanya saja Andra merasa lemah dan bingung akan memulai darimana sedangkan dia dan putranya saja tak dekat. Putranya hanya mengenalnya sebagai sosok asing bernama paman Andra.
" Cih! " Bayu berdecih dan memutar bola matanya malas helaan nafasnya terdengar membusung dan terhembus perlahan. " Banyak dalih kau ini. Aku ingin mengajukan sesuatu denganmu."
"Sesuatu?"
" Iya sesuatu." Bayu menatap intens Andra yang juga terbawa suasana menjadi semakin serius. " Aku menantangmu!"
" Menantangku? soal apa?" Andra santai.
" Ini soal Dinda."
" Di.... Dinda?" Mata Andra membulat dan bibirnya menganga tak terkatup dan rahangnya hampir saja jatuh.
Bayu berdiri dan duduk di tepi meja kerja Andra." Aku merasa memiliki tanggung jawab atas bayi yang ada di dalam perut Dinda. Bagaimanapun juga bayi itu adalah keponakanku. Bukankah seharusnya aku memberikan perlindungan kepadanya?" Sebelah alis Bayu naik seolah membenarkan perkataannya barusan.
__ADS_1
Andra terkekeh. " Jadi kau membuat ini sebagai ajang? " Lucu saja baginya bila sekarang dengan tiba-tiba sahabat terbaiknya berbalik menjadi rival.
" Dengarkan aku, Aku lebih memiliki prioritas utama dalam hal ini sebab Ayman, PUTRAKU anak dari Aku Dan ADINDA. Jadi tidak ada salahnya bila aku kembali dan memperbaiki semuanya." Penekanan Andra dalam setiap ucapanya menandakan jika dia optimistis, padahal yang sebenarnya dia kalut dan takut.
" tidak ada yang perlu kau perbaiki sebab semuanya sudah berakhir sedari dulu. Sadarlah, bangunlah." Bayu memandang remeh lalu kembali berdiri dan merapikan penampilannya. " Kita bersaing saja secara sehat. Biarkan dia memilih, untuk sementara abaikan persahabatan kita. Bila diantara kita ada yang kalah. Maka, harus berlapang dada dan berbesar hati menerima kekalahan."
" Hah, Sudah pasti aku pemenangnya Bay.! " Andra tertawa mengejek lalu pergi meninggalkan ruangannya.
Dan disinilah dia. Di sebuah kamar yang berada di atas atap gedung kantor cabangnya.
" Sial! bagaimana dia bisa berbicara seperti itu?" Andra gusar dan melepas dasinya asal. Tangannya sibuk kembali membuka ponselnya melihat gambar anak kecil yang lamat-lamat membuatnya menangis sendirian.
" Sayang Ayah rindu. Apakah ummi mu sudah lebih baik? Jika Ayah pulang apakah kalian mau berbicara lagi dengan Ayah? hum? Ayah takut, ayah takut jika paman Bayu berhasil merebut hati kalian." Andra lemah, tak ada penguat ataupun sandaran. Asanya yang semula membumbung tinggi karena wasiat Keanu, tiba-tiba melemah lantaran Bayu mengajukan sesuatu yang menurutnya sangat sulit. Dia berpacu dengan waktu, sedangkan dia tau bagaimana Dinda bila sudah menutup hati, dia tau bagaimana Papa Dimas bila sudah membenci. Dan Ayman, dia adalah refleksi dari dirinya sendiri.
" Aku benci keadaan ini. Aku harus merebut hati kalian lagi dari awal bahkan sekarang lebih sulit dari yang kubayangkan." Dia bermonolog dan terhenti kala sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Dinda.
Kak, kenapa tidak pulang? Apa kau merasa risih karena keberadaan kami? berbahagialah sebab besok kami akan pindah rumah.
Membaca pesan dari Dinda, Andra langsung tertegun. Mereka pindah? pindah kemana? Selama ini tak ada komunikasi yang terjalin meski Andra dengan rutin memberikan uang nafkah untuk Ayman.
^^^**Andra^^^
^^^Pindah kemana? tidak bukan begitu Din, hanya saja pekerjaanku menumpuk disini. ^^^
Dinda.
Oh, pulanglah Kak. Aku tak enak jika kau menghindari kami seperti ini**.
^^^Andra^^^
^^^Bukan Din, bukan seperti itu. Iya besok aku akan pulang. ^^^
Balas berbalas pesan berakhir begitu saja. Andra tersenyum simpul mengulang-ulang membaca pesan-pesan dari Dinda barusan. Dia senang bukan kepalang. Pasalnya, ini pertama kalinya semenjak hari nahas itu. Pertama kalinya mereka berbincang tanpa aura kesedihan.
Nu, Aku meminta maaf padamu bila mungkin wasiatmu akan sulit kupenuhi. Aku meminta maaf bilamana suatu saat nanti kau kecewa sebab aku tak mampu memenuhinya. Kau memintaku untuk menjaga Dinda dan Ayman. Tentu aku akan senang hati melakukannya. Tapi, Nu, aku juga tak mau egois dengan memaksakan kehendakku. Cukup sekali aku menyakiti hati Adinda. Tak akan pernah terulang lagi Nu, Aku berjanji padamu. Kupastikan kau akan tenang dan tersenyum melihat kami dari surga.
Terimakasih untuk semuanya Nu...
Andra merenung dan berbicara dalam hati.menatap langit senja yang berwana jingga.
**Hu hu hu, maaf bila di part sebelumnya banyak yang kecewa. Tapi, alur ini jelas dan sesuai dengan judul. Bila tak sesuai dengan selera baca kalian yang flat atau selalu berbahagia tanpa ada kendala, Maaf.
Cerita ini bukan opsi yang tepat. Cerita ini berliku. Pahit, manis, getir, bahagia dan air mata semua tercurah.
Yang tak sesuai dengan angan-angan kalian. Silahkan cari cerita lain. Sebab bagi saya, akan membosankan bila hidup hanya senantiasa dalam kubangan bahagia.
Ada sedih juga derita, itulah gunanya air mata**.
__ADS_1