
...🌷🌷🌷...
Andra sungguh bahagia saat mengetahui kehamilan Dinda.
" Iman, Ana! Kalian akan punya adik. Sebentar lagi kalian menjadi Kakak!" Seru Andra berbicaralah dengan mata yang berbinar-binar.
" Iman sudah jadi Kakak Abi." Ucap Ayman yang benar adanya. Dia memang sudah menjadi Kakak bagi Keanna adik yang cengeng.
" Apa kamu tidak senang? Ayolah Iman, bergembiralah dengan Abi. Abi sungguh sangat gembira sekarang."
" Iyalah, tapi ini baru awal saja kan Abi? Abi masih ingin dua anak lagi kan?" Celetuk Ayman menyinggung soal rencana Andra yang ingin mempunyai banyak anak.
Dinda melotot mendengar penuturan Ayman si anak sulung. " Benar itu bi?"
" Iya sayang, aku ingin punya banyak anak."
" Iya Ummi biar rumah kita ramai seperti pasar, gaduh seperti playgroup." Sindiran Ayman halus tapi tepat sasaran.
Dinda hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Itulah perbincangan mereka setelah pulang dari memeriksakan kandungan.
" Makan ah," Dinda bermonolog dan siap membuka lemari pendingin.
" Mi, mau ngapain?" Tanya Andra heran.
" Makan." Sahut Dinda cuek.
" Makan?" Andra mendelik dan mengulang lagi apa yang didengarnya.
" Iya, Lapar sekali Bi."
" Lapar katamu? memang begini ya setiap ibu hamil? akan jadi suka makan? Dulu sewaktu hamil Keanna dan Ayman juga begini?" Tanya Andra merentet panjang bak kereta api.
Dinda menggeleng dan mengambil sebuah apel dan satu tangannya membawa semangkuk bubur jagung. " Tidak, baru hamil yang ini saja Bi. Saat hamil Ayman aku tak berselera makan. Saat hamil Keanna aku hanya mual dan pusing. Aneh, hamil yang ini aku biasa saja dan jadi mudah lapar."
" Baguslah, itu tandanya semuanya sehat-sehat saja. Aku kekamar dulu ya." Andra mengecup kening Dinda sebelum pergi. Dan Dinda melanjutkan makannya.
Ayman dan Keanna sedang asik menonton film animasi kesukaannya.
Setengah jam berlalu.
Dinda yang selesai menidurkan ketua anaknya kemudian menyusul Andra yang masih mengerjakan laporannya.
__ADS_1
" Bi." Panggil Dinda sembari berbaring dan menggunakan paha Andra sebagai bantalan.
Tangan Andra terulur dan mengusap lembut rambut Dinda. " Ada apa?" Sahutnya lembut.
" Abi masih lama?" Dinda
" Tidak, ini sebentar lagi." Andra" Ada apa sayang?" Sambungnya lagi.
" Pengen cireng." Dinda berucap manja.
" Cireng?" Andra bertanya dan di angguki oleh istrinya.
" Oke, kita pesan saja." Andra berhenti sejenak lalu menekan benda pipihnya namun direbut oleh Dinda.
" Jangan pesan, tapi buat." Rengeknya.
" Buat? Mi, ini sudah malam. Nanti kau kelelahan sayang. Kita pesan saja ya?" Bujuk Andra dengan suara yang di buat selembut mungkin.
" Bukan Aku yang bikin. Tapi kamu Bi." Sahutnya membuat sang suami menepuk jidatnya sendiri.
Wajah-wajah penuh penolakan telah hadir. " Aku?" Andra menunjuk hidungnya. Dan di angguki oleh Dinda.
" Astaga, istriku yang cantik, molek, dan aduhai sejagad raya. Aku mana bisa? Aku menggoreng telur saja gosong." Andra menangkal dengan segala kebodohannya dalam bidang masak memasak.
Andra mengusap wajahnya frustrasi. Dia harus mengalah dalam situasi ini. Ibu hamil memang begitu kan? Pengaruh hormon membuat mereka lebih sensitif, gampang tersinggung dan emosional. Andra harus mengalah demi kedamaian bersama. " Iya sayang, aku akan buatkan!" Serunya yang kemudian mengekor di belakang Dinda.
Terbitlah senyum tipis yang disembunyikan di balik wajah yang menunduk lesu. Tak muram lagi dia sungguh senang sekarang. Bahkan jika tak gengsi, Dinda akan segera menghambur dan memeluk hangat suaminya.
Bermodalkan ponsel pintar, Andra mulai mengikuti tutorial membuat cireng. Dapur sudah sangat berantakan dibuatnya. Adonan sudah jadi dan tinggal menggoreng. Inilah momen yang paling menegangkan. Andra sebagai lelaki jantan, dia sangat anti terhadap cipratan minyak panas.
Berbekal helem dan juga spatula yang di sambung panjang Andra mulai menggoreng. Di sudut lain ada sosok istri yang sangat senang melihat kegiatan masak-memasak itu. Dinda tertawa terpingkal-pingkal kala melihat gaya Andra yang selalu berlari setelah memasukkan adonan cireng ke wajan yang berisi minyak panas.
" Auh!" Andra berjingkat kala lengannya terciprat dengan minyak goreng.
" Ya, begitulah Bu pekerjaan para ibu-ibu yang menyakitkan tapi tak pernah di apresiasi." Sindir Dinda melirik Andra yang menatapnya datar.
Andra mendekat lalu mencium pipi Dinda. " Iya Sayangku, maaf karena aku tak pernah memperhatikanmu saat memasak seperti ini."
Sungguh ucapan sederhana yang meluluhkan hati wanita. Dinda seketika tersipu dengan pipi yang memerah.
Bisa bisanya dia menggombal saat memasak.
" Sana Bi, Nanti gosong." Dinda mendorong sedikit tubuh Andra agar menjauh.
__ADS_1
Andra terkekeh-kekeh. " Iya Sayang."
Selesai dan Andra merapikan semuanya, membereskan kekacauan yang di buatnya. Dia menghampiri wanitanya yang tengah asik menikmati setiap suapan cireng yang di buat oleh suaminya. " Enak banget Bi. Besok bikin lagi ya?" Ucapnya dengan santai.
Andra tertawa dalam hati bercampur sedih. Kalau buat lagi itu tandanya dia harus berpegang dengan cipratan minyak panas lagi dong?
Tak apalah Andra, semua demi istrimu.
" I... iya Mi." Sahutnya ragu-ragu.
" Bikin yang banyak, Papa dan anak-anak juga sepertinya akan doyan jika kau memasak seenak ini." Dinda.
Inilah pertama kali Andra mendengarkan pujian yang tak pernah dia harapkan. Pujian yang akan menyiksanya beberapa waktu kedepan. Membayangkannya saja sudah membuat Andra menggeleng beberapa kali mencoba mengusir bayangan yang mengerikan.
" Cepat habiskan dan tidur,sudah malam." Katanya yang tak ingin perbincangan semakin meleber dan membuat pesanan cireng bertambah lagi.
" A...." Dinda menyuapi Andra.
Andra menurut saja dan memakannya.
" Enak kan?" Dinda meneleng dan tersenyum.
Andra merasakan sungguh nikmat cita rasa dari cireng yang dibuatnya penuh dengan perjuangan tadi. " Enak Mi, Abi bantu ya?"
" Bantu apa?" Dinda tak mengerti.
" Bantu habiskan, besok kita bikin lagi." Katanya enteng yang kemudian merebut piring Dinda yang tinggal berisi beberapa potong.
" Astaga, bisa jadi. koki aku Mi kalau masakanku seenak ini." Andra.
Layaknya siput yang memuji buntut. Sudahlah kenarsisan Andra is back. Dinda mencibirkan mulutnya. " Awas saja kalau bohong!" Kesalnya karena cirengnya direbut paksa.
Di kamar setelah makan.
Andra dan Dinda sedang berbaring dan saling berpelukan. " Bu, lepas.. Aku gerah." Keluh Dinda pada Andra yang sedari tadi melingkarkan tangannya di atas perut istrinya.
" Tidak mau! aku mau peluk anakku." Cetusnya yang berusaha memejamkan mata.
"hhhhh, modus!!" Cibir Dinda yang memutar bola matanya malas.
Andra berucap dengan mata yang tertutup. " Bukan modus Sayangku, tapi cinta. Aku mencintaimu dan calon anak kita. Aku tak ingin lagi kehilangan kalian. Aku ingin menjadi Ayah dan suami siaga bagi kalian."
Dinda dapat merasakan ketulusan dari ucapan suaminya yang berakhir dengan satu kecupan hangat di pipinya. Tak membalas ucapan Andra, Dinda memilih diam. Sejatinya setiap kata cinta terucap dari bibir Andra, hal itu membuat Dinda berdesir kembali mengingat lara saat kata cinta yang terucap hanya sekedar wicara seperti saat dulu.
__ADS_1