
Lama sudah hari berlalu dan Bayu. perlahan juga mulai bisa menerima kehadiran Annisa sebagai pelengkap hidupnya. Mama Venna rupanya tak salah memilih menantu. Sikap Annisa yang lembut dan keibuan dengan mudah membuat Bayu jatuh cinta padanya. Rupanya si buaya sudah bertemu pawangnya.
Seperti hari ini yang merupakan hari ulang tahun pertama bagi putra mereka. Aksa Zainal Bimantara Sebuah nama yang terdengar gagah dan berwibawa.
Aksa, bocah kecil yang belum bisa berjalan itu terlihat tampan dengan mata bulatnya. Dia sedang menikmati tidur di dalam dekapan sang Mama. Tak lupa dengan mulutnya yang masih menempel menghisap sari penghidupannya.
Aksa tertidur dan buah dada sang Mama masih terbuka begitu saja. Memancing sang Papa yang seketika menginginkan sesuatu. Bayu yang baru saja datang dari taman belakang rumah dibuat menelan ludah kasar.
Bisa-bisanya, dihari sesibuk ini, ibu dan anak justru terlelap sedangkan Annisa belum berias. Dia masih mengenakan handuk kimono dan juga tak sengaja ikut terlelap kala menyusui Aksa.
Bayu dengan jahilnya kemudian dengan perlahan dan sangat hati-hati memindahkan Aksa kedalam ranjangnya yang berpagar pengaman. Dengan senangnya Bayu mendelusupkan kepalanya ke dada sang istri dan sesat juga turut mencicipi manis gurih rasa asi.
" Papa!" Annisa memekik kaget saat mendapatkan sensasi rasa yang berbeda pada buah dadanya.
Bayu tersenyum jahil. " Ada apa sih Ma?"
" Kamu yang ada apa? ngapain? sebentar lagi MUA Mama datang Pa!" Ujarnya yang sebenarnya malas untuk mandi lagi.
Bayu hanya bisa mendengus dan kemudian melepaskan pelukannya. Dia serasa gila saat ini, wanita yang dulu selama beberapa bulan selalu di acuhkan nyatanya adalah sosok idaman. Dari tubuh, mata, dan juga prilaku semuanya sangat sempurna Dimata Bayu. Annisa yang sejatinya masih keturunan Persia memiliki mata abu-abu yang selalu di tutupinya dengan kontak lens berwarna hitam agar tampak seperti kebanyakan penduduk pribumi.
Baju gamisnya yang sellau over size membuatnya terlihat gemuk. Padahal yang sebenarnya, tubuhnya sangatlah proporsional dengan lekukan dan juga gundukan yang menantang.
" Ma, jangan panggil MUA ya?"
" Kenapa tidak boleh?" Sahut Annisa sembari membersihkan wajahnya dan duduk didepan cermin rias.
" Ya jangan, nanti banyak teman Papa yang naksir Mama ah." Keluh Bayu mengutarakan kecemasannya.
Bayu kini khawatir, teman dan juga relasinya tak sedikit yang masih melajang. Dahulu memang Annisa bercadar. Tapi, banyak dan hampir setiap ada pertemuan atau acara hal itu menjadi masalah bagi Bayu. Bayu tak mau terus menjadi topik perbincangan. Annisa memilih mengalah dan membuka cadarnya sebab menutup wajah dengan cadar bukankah perkara yang wajib. Hanya sunah hukumnya.
" Pa, apalagi sih? udah deh jangan bikin Mama emosi. Dulu Papa sendiri yang mau mam buka cadar. Sekarang Mama sudah buka cadar dan hanya wajah sama tangan yang kelihatan, Papa masih mau protes lagi. Apa kita batalkan saja sekalian acaranya?" Kesal Annisa yang tak habis pikir dengan kecemburuan suaminya yang berlebihan.
" Iya, deh iya. Mama dandan tapi yang natural saja. Aku tidak mau istriku menarik perhatian lelaki lain. Cukup di depan Papa saja dandan cantiknya."
" Ini nih, yang begini nih. Nanti kalau Mama dandan biasa aja, apa kata rekan bisnis Papa? Pasti dibilang suaminya pelit sampai istrinya tidak perawatan. Papa mau?" Benar memang banyak orang yang menilai seperti yang Annisa katakan.
Bayu pasrah. Dia terdiam setelah kalah telak. Memang benar semua yang dikatakan Annisa. 9 dari 10 orang pasti akan bergunjing seperti itu.
" Oke! terserah Mama." Bayu berdiri dan hendak pergi membawa kekesalannya.
Cup!
Annisa mencium lembut pipi Suaminya.
Bayu tersenyum setelahnya. Tak pernah marah dan bertengkar jarang sekali mereka beradu mulut. Annisa yang selalu mengalah tanpa berteriak atau bermain kasar. Annisa selalu berhasil menundukkan Bayu dengan caranya yang lemah lembut.
" Kau pintar sekali merayu Ma." Ujar Bayu sembari memeluk hangat Annisa.
Di kediaman Andra.
" Oh Astaghfirullah!! Keanna!! Pakai bajumu!!!" Dinda memekik memanggil Keanna yang masih berlarian Setelah mandi.
" Astaghfirullah, Ummi! Jangan berteriak-teriak." Tegur Andra yang merasakan pelung ditelinganya saat Dinda dengan kuat berteriak memanggil Keanna.
__ADS_1
Keanna, memang sifat sang Ayah seratus persen menempel pada dirinya. Sosok yang baik dan ceria. Walaupun mendapatkan kemarahan sang Ummi, tak membuatnya bersedih berlarut-larut. Keanna bisa tertawa bahkan setelah 5 detik dimarahi.
Andra, Andra benar-benar menepati segala janjinya. Dia tak pernah memarahi atau membeda cara dalam mengasuh anak-anaknya.
" Ana, sini sama Abi ya cantik. Pakai baju baru sini." Andra membujuk dengan baju baru yang dibelinya saat mampir ke Mall Tempo hari.
" Iya Abi..." Sahut Keanna yang segera menurut tunduk dan patuh pada Andra.
Andra tak henti-hentinya berucap terimakasih kepada sosok Keanu. Lelaki yang merupakan ayah kandung dari Keanna. Gadis kecil yang kini sedang di sisiri rambutnya. Andra menatap lekat kedua manik Keanna.
" Mata Ana sangat cantik." Celetuk Andra memuji saat memperhatikan kedua mata Keanna.
Bocah kecil itu tertawa sendiri. " Iya mata Ana cantik kan sama dengan punya Abi." Ujarnya polos menyamakan sesuatu yang berbeda.
anak kecil itu Mana tahu jika dia dan Abinya bukanlah saudara tentu saja Dia tidak memiliki mata seperti Andra.
Andra Hanya selalu tersenyum setiap kali mendengarkan celotehan Keanna. Di angguki saja sudah membuat anak kecil itu bahagia.
" Iya anak Abi memang yang paling cantik." Puji Andra yang kemudian menggenggam tangan mungil Keanna dan berjalan beriringan menuju ke kamarnya.
" Kita jemput Ummi, siapa tau sudah selesai ya. Ana, nanti peluk dan bilang sayang sama Ummi ya."
" Kenapa harus begitu Abi?" Keanna mendongakkan kepalanya melihat pria jangkung yang tersenyum kearahnya.
Andra tersenyum lalu berjongkok dan mengusap lembut Surai Keanna. " Harus begitu, supaya Ummi selalu menyayangi kita." Andra mengecup kening Keanna. " Jangan lupa juga bilang kalau Ummi cantik." Tuturnya memberikan wejangan.
Sore hari di kediaman Bayu.
Semua tamu sudah hadir dan mereka saling bercengkrama hangat menikmati meriahnya pesta ulang tahun Aksa.
" Ah, mataku tak salah melihat. Itu... itu Andra." Gumam seorang wanita berhijab yang berjalan pincang dan bertubuh kurus.
Satu penglihatannya sudah tidak berfungsi meski matanya terlihat normal. Sebuah kejadian membuat wanita itu kehilangan satu penglihatannya.
BRUGH!
Tak sengaja dia menabrak seseorang yang berdiri dengan perut buncitnya.
" Hei! bisa hati-hati tidak?" Andra membentak si wanita yang masih menundukkan wajahnya.
" Sayang, aku tidak apa-apa. Jangan marah-marah seperti itu. Tidak enak dilihat banyak orang." Dinda mengamati sekitarnya dimana semua mata tertuju pada mereka.
" Ma .. maafkan saya Mas." Tergagap si wanita pincang itu bicara.
" Tidak apa-apa bagaimana? dia tadi menabrak perutmu dengan nampan ini Sayang. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anakku nantinya." Andra masih meluapkan amarahnya.
" Dan apa tadi katamu? Mas? Jangan sok akrab kau!" Pekik Andra yang sungguh kesal. Dia menunjukkan arogansinya sekarang.
Si wanita pincang itu kemudian mengangkat wajahnya dan terlihat jelaslah siapa dia.
" Kak Natasya?" Lirih Dinda tak percaya.
Sementara Andra memicingkan matanya lalu menyeringai dan berdecih kesal sebelum pergi menjauh. Andra tak ingin acara ulang tahun Aksa hancur karena keributan yang tak berarti.
" Aku kebelakang dulu." Pamit Andra sebelum pergi dan mendapatkan anggukan dari Bayu.
__ADS_1
" Kak Nata?" Dinda mengulangi dan dia menggeleng beberapa kali sembari menutup mulutnya dengan tangan. Dia sangat terkejut karena bisa bertemu disituasi yang tak pernah di duga.
" Dia Natasya kan?" Bayu turut berdecak tak percaya. Natasya yang dulu glamor dan cantik, memiliki tubuh yang indah, sekarang tak ubahnya seperti cangcorang.
" Siapa Papa?" Tanya Annisa yang penasaran.
" Mantan istri pertama Andra." Bisik Bayu ditelinga Annisa.
" Oh, yang Papa ceritakan seperti Mak lampir itu?" Lagi Annisa berbisik.
" Mama~~~." Bayu menegur istrinya lembut menginterpretasikan agar menutup mulut.
" Ayo ikut aku Kak." Dinda menarik lembut tangan Natasya. Sementara yang di tarik tangannya hanya menunduk dan menutup mulutnya dengan ujung hijab untuk menahan tangisnya.
Di belakang rumah Bayu.
" Sial!! kenapa harus bertemu dengan dia lagi!!" Andra kesal bukan main. Ketenangannya terusik begitu saja dengan kehadiran seorang Natasya.
" Kak, jangan menangis. Aku tidak apa-apa dan maafkan suamiku ya, dia hanya khawatir. Aku tau mungkin Kakak malu karena Mas Andra membentak kakak di hadapan banyak orang." Lembut Dinda berbicara dengan tangan yang terulur mengusap lengan Natasya.
" Sayang!" Seru Andra memanggil Dinda penuh penekanan.
" Untuk apa lagi kau membawanya kemari? Melihatnya saja sudah membuat mood ku lenyap." Sarkas Andra berbicara dan menatap tajam Natasya. Sedang yang di tatap masih tergugu.
Dinda hanya menghela nafasnya berat. Suaminya sudah lama sekali tak mengamuk seperti ini. Walaupun anak-anak sering membuat kekacauan tetapi Andra tak akan mengamuk. Malah sebaliknya Andra akan mengajak mereka bergulat dan bercanda.
" Sayang sudah, kasihan Kak Nata. Dia tidak sengaja dan aku pun baik-baik saja." Dinda meredam amarah Andra.
Tanpa mereka duga, Natasya bersimpuh dan mencium kaki Dinda. Dinda yang reflek dengan segera menarik kakinya.
" Kak, jangan begini. Apa-apaan ini?" Dinda sampai mengerutkan keningnya.
Sementara Andra semakin jengah lalu mendorong keras tubuh ringkih Natasya hingga bergeser dan terbentur pot besar.
" Jangan coba-coba untuk menyentuh istriku! Jauhakn tangan kotormu!! Enyahlah dari dunia ini bila perlu." Geram Andra berucap tanpa belas kasih.
Dinda yang masih syok hanya bisa mencerna apa yang terjadi dengan menatap iba Natasya. Namun percuma juga bila menegur suaminya sekarang. Itu tak ubahnya seperti menyiram bensin pada kobaran api. Andra menarik tangan Dinda dan mengajaknya pulang. Meninggalkan pesta sebelum acaranya usai. Bayu hanya memaklumi apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
Dua bocah kecil sudah terlelap di kamarnya masing-masing. Dinda berjalan perlahan lalu memeluk Andra dari belakang. Kepala Andra masih berdenyut-denyut mengingat kejadian tadi.
" Sayang, sudah jangan marah-marah." Lembut Dinda berucap.
Andra berbalik lalu mendekap erat istrinya lalu menghirup dalam-dalam aroma shampo yang di pakai Dinda. Andra hanya diam menikmati suasana mencoba mengubah suasana hatinya.
" Aku sangat membencinya!!" Lirihnya tetapi sangat jelas ditelinga Dinda.
Dinda yang paham darimana benci itu bermula hanya bisa menghela nafas dan meraih tengkuk Andra dan mencium bibirnya sekilas. " Iya aku tau. Tapi ikhlaskan, jangan menyimpan dendam." Dengan hati-hati Dinda menasehati suaminya.
Ternyata disisi lain, sedari dulu Andra menyimpan dendam kepada Natasya. Jika tidak bertemu hari ini, maka Dinda tak akan pernah mengetahui hal itu.
Kira-kira nih, kira-kira aja. Andra mau memaafkan Natasya ga?
komentar sebanyak-banyaknya biar MiMi rajin update.
Eh, mau Mimi rajin update ga nih?🤭
__ADS_1
Enggak?😲😲
Oh, ya udah. Bye!😏