
🐦🐦🐦
Baiklah sudah terlihat celah dan aku akan masuk ke dalamnya.
Batinnya bergemuruh menahan luapan kegembiraan. Saat dimana wanitanya mulai memberikan setitik sinyal yang membuatnya teramat bahagia.
Semalaman Robbie tertidur dengan perasaan senang yang mengepungnya dan semalaman juga Dia berharap saat bangun nanti Bella akan memberikan sambutan terbaiknya.
Sayangnya hawa dingin yang berada di ruang tamu memaksanya untuk pulang. Dia kedinginan tapi juga tak ingin mengusik tidur sang tunangan. Dini hari, Robbie tak sanggup melawan hawa dingin dan memutuskan untuk pulang.
Pagi harinya.
"Kemana Dia?" Bella menggumam dan hanya bertanya pada dirinya sendiri, Dia kebingungan mencari keberadaan Robbie.
"Apa Dia pulang?" Gumamnya. "Memang disini lebih dingin sih, dari pada di kamarku.
Bella tak ambil pusing dan memutuskan untuk segera menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Dia lupa jika hari ini Robbie sedang libur bekerja dan kemungkinan akan datang untuk sarapan.
Ting!
Tung!
Suara Bell berbunyi dan itu sudah pasti Robbie. Siapa lagi jika bukan Dia? Benar saja itu Robbie.
Pov Bella.
Saat pagi tadi ketika aku terbangun aku berharap Dia masih berada di tempatnya. Jujur saja tidurku terasa nyaman dan tenang saat ada orang lain yang menemaniku di tempat asing ini. Sejujurnya aku merindukan tanah kelahiranku.
YA~~~~, hal itu adalah hal yang lumrah juga sekaligus yang terberat bagi kami yang tinggal di tempat asing seperti ini. rindu aromanya, rindu suasananya, rindu canda tawanya. Pokoknya semuanya. Hanya saja, aku harus konsisten dan tak boleh terlihat lemah di hadapan mereka.
Aku harus kuat dan mengatakan aku betah dan senang berada di sini. Suara Bel pintu membuyarkan lamunanku Aku yakin seseorng itu adalah seseorang yang semalam tidur di sofa ruang tamu.
Ah iya, aku belum menggosok gigiku. Suara bel pintu semakin tidak sabaran saja. Aku hanya bisa mencuci muka dan menyikat gigiku tanpa menggunakan makeup tipis.
"Hah...! Hah...!" Aku mencoba memantulkan bau mulutku sendiri di telapak tanganku. "Aman."
"Iya tunggu!" Sahutku agar bel pintu itu sedikit berhenti dan tak membuat kebisingan yang semakin menjadi.
Aku membukakan pintu dan seseorang yang berdiri di sebrang gerbang seketika saja memelukku. "Huh~~~ dingin!" Katanya yang langsung menyergapku.
Segar, aroma minta dari mulutnya dan vanila dari parfumnya yang terendus di sekitaran lehernya. Dia pasti sudah mandi, sedangkan aku? Air itu terlalu dingin untukku. Memang rumah ini sudah di lengkapi dengan heater air dan udara, tapi tetap saja setelahnya aku akan menggigil kedinginan.
"Iya, memang dingin. itu sebabnya aku belum mandi." Kataku yang berharap Dia akan segera melepaskanku.
Jujur saja, berlama lama di dalam dekapannya membuat jantungku tak sehat. Aku jug bisa merasakan debaran jantungya yang entah mengapa membuatku suka dan nyaman secara bersamaan.
"Nah~~~, kamu belum mandi? Rupanya kamu sudah tertular dengan kebiasaan orang sini." Katanya tanpa melepaskanku.
__ADS_1
Aku tak mengerti, memangnya apa kebiasaan penduduk di Jepang ini? "Memangnya apa kebiasaan mereka?" Tanyaku yang benar benar tak paham.
"Mereka itu yang paling rajin hanya akan mandi sehari sekali. selebihnya, bahkan ada yang mandinya hanya dua hari sekali."
Jujur saja, aku baru tahu fakta ini. Apa karena kulit mereka yang putih? hingga mereka malas mandi?
"Masa iya?" Tanyaku.
"Iya, biasanya mereka akan mandi saat pulang bekerja, saat berangkat sih malah malas. Bekum lagi keburu telat. Jika mereka tahu kebiasaan kita yang bisa mandi sehari dua atau tiga sampai empat kali, mereka akan memberikan julukan manusia ikan, atau manusia air." Dia menjelaskan semuanya padaku dengan menatap lekat kedua mataku.
Aku terkesima melihatnya. Dia berwawasan luas. "Hari ini bagaimana kalau kita pergi memancing?" Ucapnya tiba tiba.
"Memancing?"
"Iya, kamu belum pernah kan?" Tanyanya.
Oke, hanya memancing kan? mungkin dia hanya mengajakku ke pemancingan atau ke sungai yang dangkal. Bleh juga, itu tidak buruk, sekaligus untuk mengobati rasa rinduku pada Ayah dan Bunda.
"Belum, tapi boleh juga. Aku akan mencobanya. Tapi ngomong-ngomong apa kita akan kesana dengan berdempetan begini?" Tanyaku yang sedari tadi masih berada di dalam pelukannya.
"Hahahaha! iya, bisa di coba chagi, mungkin aka menjadi trend baru?"
"Trend baru apanya, yang ada mereka akan membawa kita ke kantor polisi karena melakukan aksi tidak senonoh di tempat umum." Jawabku yang tak habis pikir dengan imajinasinya.
Dia melepaskan pelukannya sambil tertawa. Aku hanya bisa mendengus dan kemudian mendahuluinya masuk kedalam rumah.
"Sudah makan?" Tanyaku padanya.
"Aku hanya membuat satu porsi nasi goreng telur, kamu makanlah dulu aku akan membuat satu lagi." Kataku yag kemudian meletakkan sepiring nasi goreng yang sudah ku hangatkan ke atas meja.
Dia segera bangkit dan mematikan kompor yang baru saja kunyalakan untuk memasak. "Tidak usah masak chagi, ini saja kita makan sepiring berdua." Ucapnya.
Dia menarikku untuk kembali duduk di hadapannya. Senyuman itu tidak pernah luntur, Dia sedari datang tadi selalu saja cerah ceria seperti mentari pagi hari ini.
"Apa kamu akan kenyang jika kita makan bersama dengan nasi yang sedikit ini?" Tanyaku yang memang porsiku kan jauh lebih sedikit daripada porsi makannya.
Dia memamerkan jajaran giginya yang putih bersih. "Kenyang, asalkan sama kamu, rasa bahagiaku membuat perutku mudah kenyang Chagi." katanya yang jujur saja gombalannya ini membuatku melambung tinggi.
Oh, ayolah1 ini hanya bualan kata dan aku menyukainya? Sangat menyukainya.
Aku makan bersamanya satu piring dan satu sendok. Layaknya pasangan yang lainnya, rasa jijik di antara kami memudar dengan begitu mudahnya. Bahkan dia tak segan untuk minum dari gelas yang sama denganku. Dia terlihat sangat menikmatinya.
"Enggak jijik?" Tanyaku di sela sela makan kami.
Dia menelan makanannya sebelum menjawabku. "Jijik? kenapa? Tadi semua bahan dan peralatan makannya kamu cuci bersih kan?"
Oh, ayolah! kamu pasti tau bukan itu maksudku. "Bersihlah, aku mencuci semuanya." Jawabku yang membuatnya kembali melanjutkan makannya dengan nikmat.
"Maksudnya, kita satu piring, sendok, dan gelas begini kamu ga jijik?" Tanyaku.
__ADS_1
Dia lagi lagi tersenyum kepadaku. "Jijik? tidak berlaku lagi Chagi. Air ludahmu saja sudah pernah ku telan. Kamu mungkin ya yang masih jijik?" Sindirnya padaku dengan bibirnya yang bereaksi seolah meraguukan ku.
"Eh, Enggak ya. Kalau jijik ya udah dari awal juga ah aku ga mau makan barengan begini."
Dia mengangguk dan seolah memikirkan sesuatu. "tapi aku tidak yakin." Ujarnya santai dan berhasil membuatku kelabakan.
Ada apa ini? pasti ada makna yang terkandung di dalamnya. "Ih~~~, kok gitu?" Rengekku. "Kan aku udah bilang mau mencobanya, mau mencoba menjalani hubungan kita. Lagian kan kita juga udah pernah ciuman." Terangku yang tak mau dia sah paham.
"Masa? Tapi seminggu ini bibirku kering. Sepertinya kurang lembab dan butuh banyak vitamin." Katanya yang seketika membuatku ingin menenggak air minum banyak banyak.
"Ah, makannya sudah habis. Aku cuci piring dulu ya?" Kataku mengalihkan perhatiannya.
Aku segera bangkit dan mencuci piring tanpa ku sangka dia mengekoriku dan menempel di punggungku. "Minta vitamin C." Katanya.
"Vitmin C? cari di kamarku di atas nakas ada." Kataku.
Tapi Dia justru membalik tubuhku dan sekarang aku tengah menghadapnya dengan kabut gaira* yang tersamarkan manis senyumnya.
"Vitamin C ku ada di sini." Katanya yang dengan cepatnya menyambar dan ******* bibirku dengan teramat lembut dan penuh kasih sayang.
"Makasih!" Katanya setelah selsai dengan misinya dan berhasil membuatku tersipu dan mengulum senyum.
Dia, selalu tahu bagaimana caranya untuk membuatku merasa di perlakukan layaknya sang Ratu. Dia selalu tau bagaimana caranya untuk menghibur hatiku.
"Ayo kita berangkat!" Kata yang begitu bersemangat setelah mengonsumsi vitamin C.
🐣🐣🐣
"Apa Dia benar benar akan pergi memancing?" Tanya haruka pada Rumi.
"Iya, Kakak sepupuku yang bilang bahwa mereka akan memancing dan mendirikan tenda di tepi sungai." Jawab Rumi dengan yakin.
Arumi adalah adik sepupu dari Genta sekretaris Robbie. Dia tinggal satu apartemen dengan Genta yang terkadang apa yang Genta bicarakan mengenai Robbie akan selalu sampai di telinga Haruka.
"Bagus, Kita harus segera menyusul mereka." Kata Haruka yang sudah merencanakan sesuatu.
"Malam ini juga kamu harus menjadi milikku." kata haruka bermonolog.
Mereka akhirnya sampai di sungai yang di tuju, Sepanjang perjalanan, Bella sangat menikmati pemandangan alam yang mempesona.
"Wah!! jernih sekali Bie, ikannya juga banyak. Kamu pasti akan dapat banyak hari ini." Kata Bella yang sudah besorak sorai dan berjingkrak senang."
"Iya." Jawab Robbie yang tengah memasang tenda. "Bantu aku dulu Chagi," Ucapnya meminta pertolongan,
Mereka berdua berjibaku dang saling membantu untuk menata segala keperluan termasuk alat alat yang akan di gunakan untuk membakar ikan nantinya. Robbie telah merencanakan semuanya sematang mungkin.
"Iya..." Jawab Bella yang kemudian mendekat.
"Oby!!"Seru seorang wanita yang memanggil robbie dengan suara melengking yang menggema di antara bebatuan.
__ADS_1
"bie, siapa dia?" Tanya Bela penasaran.