Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
88. Ending.


__ADS_3

Haru mewarnai prosesi pemakaman Natasya 5anpa kehadiran sang suami. Hanya ada Arumi yang menangis terisak dalam dekapan tetangganya. Gadis itu kini benar-benar sendiri di dunia ini.


Andra ikut menyaksikan prosesi, tapi dia tak berniat untuk turun menginjakkan kaki.


"Aku sudah memaafkanmu Nat." Gumamnya seorang diri menatap ramai orang berkerumun memadatkan tanah kuburan mantan istrinya.


Pemakaman selesai dan Dinda mengurus semuanya. Sesuai dengan wasiat yang tertulis, Arumi kini bersamanya, dan bila nanti Bastian akan mengambilnya, maka Arumi sendiri yang akan menentukan pilihannya, dengan siapa dia akan berteduh.


"Titip jaga Arumi ya Bu." Kata pak RT yang masih terlarut dalam haru.


Sedih saja harus menyaksikan Arumi sebatang kara dengan menyandarkan hidup kepada yang bukan siapa-siapa.


"Iya, pak saya akan menjaganya seperti anak kandung saya sendiri." Jawab Dinda dengan senyum ramah.


"Ibu, untuk pengasuhan Arumi, saya percayakan kepada ibu. Dan untuk Bapak Sebastian, kami akan segera mengurus proses hukumnya." Kata polisi yang mendapatkan laporan dari Pak RT tentang perusakan yang di lakukan oleh Bastian semalam sebelum Natasya meninggal dunia.


"Apa Papi akan masuk penjara?" Arumi jiwa kecilnya terguncang sendirian.


"Tergantung dari proses nanti Nak. Dari laporan yang masuk Ayahmu sering melakukan kekerasan terhadap kalian, apa itu benar?" Selidik pihak kepolisian.


"Iya, papi memang terkadang memukul Arum. Tapi tidak setiap hari, dan dia juga sudah minta maaf." Jawab Arumi dengan polosnya.


Beberapa polisi kemudian mengangguk paham. Tak ingin menambah beban mental dari anak kecil tersebut. Dinda kemudian mengajak Arumi untuk pergi memasuki mobilnya. Semua urusan hukum sudah Andra pasrahkan kepada pengacara kepercayaannya.


"Tante, Arum mau dibawa kemana? Bagaimana dengan rumah dan barang-barang Arum?" Tanyanya dengan wajah lugu dan tersisa kesedihan dengan pipi yang basah dengan air mata.


"Arum sayang, kita akan pulang kerumah Tante ya. Mulai sekarang, Arum akan jadi anak angkat Tante. Panggil Tante dengan sebutan ummi ya. Biar sama dengan anak-anak ummi." Jawaban Dinda terdengar lembut dan hangat.


"Tante, Dinda. Saya mau minta maaf kepada Tante dan keluarga, bila mungkin semasa hidup Mami punya banyak salah sama kalian." Ujarnya dengan sesenggukan dan menunduk.


Dinda memegang kedua pundak Arumi lalu membawanya masuk kedalam dekapannya. "Sayang, Ummi sudah memaafkan segala kesalahan mami mu. Sekarang, jangan menangis lagi ya. Doakan saja Mami semoga tenang disana. "

__ADS_1


Pemandangan mengharukan itu tersaji di depan mata Andra tepat di samping pintu sebelah kemudi. Tidak ada perbincangan setelahnya dan mereka larut dalam pikiran masing-masing. Arumi dengan rasa kehilangan, Dinda dengan kesedihan, dan Andra dengan penyesalan.


Mereka turun dari mobil. Arumi menyaksikan bagaimana Andra sangat perhatian kepada istrinya dari mulai melepas sabuk pengaman, sampai membukakan pintu. Pemandangan yang tak pernah dia lihat semasa hidup maminya.


"Sayang, kenalkan dia Abi Andra. Pasti Mami banyak bercerita tentang dia kan?" Kata Dinda sesaat Andra berdiri di sampingnya dan merangkul pinggangnya.


"I... iya Tan... eh Ummi. Mami pernah bercerita tentang Ayah." Celetuknya yang kelepasan menyebut Andra dengan sebutan ayah.


Andra hanya tersenyum simpul lalu mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Tak ada ucapan atau sambutan, Andra masih merasa canggung akan kehadiran Arumi.


"Ummi, Abi, Dia siapa?" Tanya Ayman yang kebetulan juga baru pulang dari sekolahnya.


"Iman, sini." Dinda melambai lalu mengusap lembut pipi putranya dan tersenyum kearah Arumi.


"Kenalkan, dia Kak Arumi. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita. Dia akan menjadi kakakmu." Kata Dinda.


Ayman terdiam, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidak sukaannya. "Kakaknya itu iman Ummi, kenapa sekarang iman yang jadi adik?"Protes Ayman yang lalu pergi saat Arumi mengulurkan tangannya sembari tersenyum.


"Boy! tunggu Abi!!" Andra berlari kecil mengejar putra sulungnya. Dia tau, sikap Ayman tak berbeda jauh darinya. Keduanya sama-sama tak mau tergeser atau tersaingi.


"Arum, jangan diambil hati ya. Ayman memang seperti itu. Tapi sebenarnya dia anak yang baik." Dinda tak ingin Arumi merasa tersisih di lingkungan barunya " Mari masuk sama Ummi."


Di kamar Ayman, Andra sedang berusaha menaklukkan hati anaknya. Sudah seperti rapat penting kenegaraan, lama sampai berjam-jam Andra berada di dalam kamar Ayman.


Andra kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya, dan tak berselang lama, Dinda datang menyusul.


"Bagaimana? kenapa dia sampai marah seperti tadi?" Tanya Dinda dengan tangan yang langsung memijit kaki suaminya.


Andra melihat Dinda lalu satu tangannya mengusap lembut perut buncit istrinya. " Hemh, dia sama sepertiku, dia keras kepala." Gumam Andra alih-alih menjawab.


"Itu kau baru sadar Mas!" Dinda menepak keras kaki Andra.

__ADS_1


"Serasa bercermin kan? Dia itu terkadang baik sepertiku, tapi akhir-akhir ini jiwa kepemimpinannya tumbuh. Dia jadi suka mengatur adiknya dan egois. Tak lupa juga over protective." Dinda menggeleng memikirkan watak si sulung.


"Fix, dia seratus persen Anakku." Sahut Andra yang kemudian duduk dan memeluk Dinda dari belakang.


Satu tangan Dinda mengusap pipi Andra dan melingkupinya di lehernya. " Kalau bukan anakmu lalu anak siapa? Wajahnya, jalanya, matanya, semuanya kamu. Di perutku dia hanya menginap 9 bulan."


"Apa kau juga sama? sebenarnya kau juga belum bisa menerima kehadiran Arumi?"


"Aku tak beda dari Ayman sayang. Hanya saja aku sudah dewasa. Aku bisa menyikapinya dengan lapang dada."


"Aku yakin, lama kelamaan, kalian akan saling menyayangi. Keluarga kita dan Arumi. Anak itu baik, aku dapat merasakannya dari sorot matanya."


"Semoga." Andra menimpalinya lalu mencuri kecupan di leher Dinda.


"Mas, aku mau murah." Celetuk Dinda.


"Sekarang?" Andra terkejut bukan main. Bagaimana bisa arah pembicaraan menjadi acak seperti ini?


"Iya, meminta jatah dari suami terlebih dahulu kan sama dengan ibadah umrah pahalanya."Dinda sengaja menggoda Andra hanya untuk mengembalikan suasana hatinya. Satu tangannya sudah bergerak aktif meraba sesuatu yang berada di belakangnya. Sesuatu yang menggembung dan kenyal.


"Oke!" Andra segera melompat dan mengunci pintu kamarnya lalu bergerak lincah menutup semua tirai.


Dinda menggeleng tak percaya, betapa takdir dengan usil mempersatukan mereka. Dulu lelaki yang sedang sibuk membersihkan diri ini adalah kakaknya. Kakak yang selalu menjaganya dari pesona buaya darat.


Kakak yang selalu akan memenuhi keinginan adiknya dengan tidak gratis.


Kakak yang tegas dan pemarah.


Dia kakakku suamiku, dia sekarang yang menjadi pelengkap hidupku.


Tuhan menciptakan mu sebagai penjagaku, penjaga anak-anakku, anak, Keanu, dan anak Natasya.

__ADS_1


Banyak yang Tuhan percayakan kepadamu termasuk aku yang dahulu bukan siapa-siapa mu.


__ADS_2