
Papa Brian terlihat menahan amarah, tangannya terkepal kuat, hingga urat nadi di tangannya serasa ingin mencuat keluar. Sedangkan raut wajahnya, raut wajah yang sangat kecewa. Papa Brian sangat kecewa pada Jesica karena di anggap tidak bisa menjaga kesuciannya.
Mama Nita, Mama Nita meneteskan air mata saat mengetahui Jesica hamil. Dia tidak menyangka putri satu-satunya yang selalu membanggakannya kini membuatnya kecewa.
Dulu Mama sulit hamil. Butuh waktu lama menuggu, demi kehadiran buah hati. Yang mana buah hati Mama itu Kamu, Jesica. Mama senang ternyata Kamu tidak menurun Mama, Kamu bisa hamil Sayang. Tapi mengapa hamil di luar nikah? Dan, Siapa Ayah dari janin yang sedang Kamu kandung sayang ?
Mama Nita terus bertanya-tanya mengenai siapa Ayah dari janin yang Jesica kandung.
Melihat kondisi keluarga Mahendra yang membutuhkan ruang untuk privasi. Dokter Dina menarik Dokter kandungan yang menangani Jesica untuk keluar. Walaupun sedikit kebingungan karena di tarik keluar dari ruang prakteknya, Dokter kandungan itu tetap melangkahkan kakinya mengikuti Dokter Dina.
Kini di ruangan itu hanya ada Saka, Jesica, Papa Brian, dan Mama Nita.
Posisi Jesica yang awalnya berbaring kini sudah duduk, seperti saat awal Dia masuk ke ruang itu tadi.
Saka. Kini Saka masih pada posisi awalnya, yaitu berdiri di sebelah Jesica yang duduk di ranjang Rumah Sakit itu. Sesekali Dia mengelap air mata yang membanjiri pipi Adiknya dengan telapak tanggannya.
"Jes, tenang udah waktunya Papa sama Mama tahu!" Saka menghapus air mata Jesica. Mendongakan kepala Adiknya yang masih menunduk. Berbicara dengan sedikit berbisik, hingga Papa Brian dan Mama Nita tidak mendengarnya.
Papa Brian dan Mama Nita mendekat ke arah Jesica berada. Lalu Papa Brian melontarkan pertanyaan, yang sangat sulit di jawab oleh Jesica.
"Jesica, Anak siapa yang sedang Kamu kandung itu ?" Tanya Papa Brian dengan suara keras dan nada bicara yang sangat tidak bersahabat. Berbicara dengan tangan yang bersedekap di dada.
Jesica masih diam. Dia menundukan kepalanya, tidak berani bila nanti matanya bertemu dengan sorot mata tajam milik Papa Brian. Tubuhnya mulai bergetar, Saka menggenggam tangan Jesica.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan Papa!" Papa Brian berusaha menahan emosinya yang hampir memuncak. Tapi yang di beri pertanyaan masih saja tidak menjawab. Malahan suara tangisan Jesica semakin keras dan mulai sesenggukan.
"Jes, jawab pertanyaan Papa!" Ucap Mama Nita menasehati putrinya, supaya Suaminya itu tidak semakin tersulut emosi karena Jesica tidak kian menjawab pertanyaannya.
"Jesica Aulia Mahendra CEO Mahendra Company, yang di juluki the Queen of cold CEO. Ini terakhir kalinya Papa bertanya. Kalau Kamu masih tidak mau menjawab berarti Kamu sudah tidak menganggap Papa ini, sebagai Papa Kamu. Siapa Ayah dari Anak yang sedang Kamu kandung." Ucap Papa Brian dengan nada penuh penekanan.
"Janin yang ada di rahim Jesica itu milik Aku Pa!" Saka menjawab dengan yakin, tanpa terbata sekalipun.
"Apa Kamu bilang?" Tanya Mama Nita tak percaya.
"Janin yang sedang di kandung Jesica itu milikku Ma. Itu Anak Saka."
Plakkkkkkk
"Apa yang Kamu bilang?" Tanya Papa Brian meyakinkan bahwa yang di dengannya itu benar.
"Janin itu milik Saka Pa!" Jawab Saka.
"Dasar Anak tidak tau di untung." Kata Brian. Papa Brian melayangkan tangannya, bersiap memukul Saka.
" Papaaaaa, Jangan !" Jesica berteriak. Lalu menahan tangan Papa Brian yang hampir menonjok wajah Saka, dengan memegangnya sangat kuat.
Papa Brian sadar akan pertanyaannya yang hampir saja gelap mata. Tanpa banyak bicara Papa Brian melepaskan tangan Jesica dari tangannya dan langsung keluar.
__ADS_1
Sepeninggalan Papanya Jesica terduduk di lantai. Dia menangis dengan sesenggukan, lalu memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Saka langsung berjongkok dan menarik Jesica ke dalam pelukannya, supaya Jesica bisa lebih tenang.
"Kak, Semua sudah rusak saat ini. Hidup Jesi hancur. Hiks, hiks, hiks." Ucap Jesica di sela-sela tangisannya.
"Jes, Kamu harus bisa lebih tenang. Ada kehidupan baru di sini." Ucap Saka sembari menyentuh perut Jesica yang masih datar. Namun Jesica terus menangis dengan sangat keras. Namun Saka terus nembujuknya supaya Jesica lebih tenang.
Sesaat kemudian
Mendengar ucapan Saka Jesica merasa lebih tenang, sesenghukannya sudah tidak separah tadi. Saka membangunkan Jesica untuk berdiri.
"Jes, mulai sekarang Kamu harus bisa mengendalikan diri Kamu. Ada Janin yang harus Kamu Jaga di rahim Kamu!" Kata Saka yang di jawab anggukan oleh Jesica. Mereka berdua kembali berpelukan, namun posisinya sekarang berdiri.
Sejenak Jesica lupa bahwa yang sedang di peluknya adalah Kakaknya sendiri. Lalu Saka berjongkok menyamakan posisi kepalanya dengan perut Jesica.
"Hai Saka junior. Jaga Mama Baik-baik ya dari sana, jangan nakal-nakal ya di dalam sana, dan yang paling penting Kamu jangan sampai menyusahkan Mama di dalam sana. Papa sayang sama Kamu, walau Papa belum bisa melihat Kamu Saka Junior." Lalu saka mencium perut datar Jesica, yang tersekat oleh baju pasien warna biru muda itu.
Saka bangun lalu mengucapkan suatu kata yang sangat romantis bagi Authour.
"Aku sayang sama Kalian berdua calon keluarga kecilku." Jesica tersenyum mendengar ucapan Saka. Sudah tidak ada air mata lagi di pipinya.
Cup
Saka mencium dahi Jesica dengan sangat lama. Sebagai tanda bahwa Dia sangat menyayangi dan mencintai Jesica.
__ADS_1
Bersambung