Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
66. Bukan kebetulan.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


Bukan kebetulan, ini mungkin memang sudah menjadi serangkaian takdir yang saling berkait. Andra dan Adinda nama mereka mungkin sudah tertulis di Lauful Mahfudz?


Oh astaga ayolah, semua yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan, semua itu sudah ada penataan waktu yang jelas bahkan dari sekedar tatapan mata dengan orang asing ataupun dari sehelai rambut yang jatuh.


Dari mulai di mana Keanu yang mengurus Ayman sedari bayi dan sekarang takdir seolah berkata jika perbuatan baik itu harus dibalas dengan hal yang serupa. dimulai dengan sekarang Andra yang nampaknya juga harus menjaga Putri Keanu untuk membalas semua Budi baik Keanu.


" Mas, sebaiknya Mas Andra segera pergi dari sini. Sebentar lagi keluarga dari Mas Keanu akan datang. Nenek dan juga tante, Ibu dari Mas Bayu. Tidak etis rasanya jika masih ada disini status Mas adalah mantan suamiku dan mungkin jika Mas di sini mereka akan berpikiran buruk tentangku Aku tidak mau akan hal itu." Kata Dinda dengan nada suara yang dingin.


Tak ada tatapan hangat ataupun seulas senyum tipis. Dinda berbicara dengan tanpa ekspresi.


" Iya Din, aku tau itu. Bagaimana jika ku bawa Ayman? Kau pasti akan kesusahan jika mengurus dua anak dengan kondisimu yang seperti ini." Andra terlihat sangat mencemaskan mantan istrinya.


Dinda tersenyum tipis. " Aku membolehkan mu Mas, sudah ku katakan. Bagaimanapun kau adalah Ayahnya. Tapi Papa, dia masih belum menerimamu."


" Ini semua salahku, tak seharusnya aku menyembunyikan keberadaan Ayman darimu. Tapi mungkin jika dulu kau tau keberadaan Ayman, mungkin akan ada aku yang menjadi gila karena tekanan batin. Setiap hari harus bergulat menahan Cemburu karena berbagi suami." Kata Dinda dengan putusannya sendiri sembari mengusap lembut pipi gembil putrinya.


" Maafkan aku yang tak tegas dalam memilih. Tapi dulu, itu semua kulakukan karena aku mengira jika Arumi adalah anak kandungku. Kau juga tau bagaimana arah pemikiranku kala itu."


Sejenak tatapan mereka bersiborok, lalu Dinda kembali mengalihkan tatapannya kearah lain dia sangat menjaga jarak untuk menghindari Andra.


" Maafkan aku sungguh Maafkan Aku." Ucap Andra dengan wajahnya yang mulai sendu.


Tiba-tiba tangan Dinda terulur satu tangan kanannya mengusap lembut surai Andra yang menunduk dan menatap ujung sepatunya. " Sudah Mas jangan menangis aku tidak menyalahkan mu atas semua yang terjadi kepadaku. semua ini sudah takdir aku tak bisa menghindarinya atau pun menolaknya menggantinya pun mustahil bagiku semuanya sudah terjadi biarlah terjadi."


Merasakan pergerakan lembut diatas kepalanya anda merasakan suatu ketenangan dan kehangatan yang datang secara bersamaan. Hatinya menghangat dia senang akan situasi ini. Sejenak ulasan masa lalu kembali hadir dalam ingatannya sungguh wanita lembut ini adalah wanita yang pernah disakiti nya. Wanita lembut ini adalah sosok adik yang lama dididiknya.


Wanita yang menjadi Mantan istrinya ini adalah wanita yang sedari kecil digendong nya ke mana-mana.


Wanita ini jugalah yang telah memberikannya satu Putra tampan yang mewarisi segala apa yang dimilikinya.


" Boleh aku memelukmu adikku?" Katanya dengan suara yang bergetar dan air mata yang sudah bercucuran air mata penyesalan yang kini tertumpah begitu saja di hadapan wanita yang telah disakiti nya.


Dinda mengangguk dengan senyum tipisnya. Ya dia hanyalah manusia biasa hatinya tidak sesuci seperti yang malaikat punya dia juga memiliki hasrat, Dia memiliki keinginan, Dia memiliki dendam, Dia memiliki rasa benci yang lumrah dirasakan pada manusia yang lainnya.


Untuk kali ini Dinda ingin berbaikan, dia ingin bersahabat dengan segala kisah masa lalunya dia ingin berdamai dengan keadaan ingin melupakan rasa sakit yang pernah meremukan hatinya.


Pelukan hangat yang menguras emosi itu kini terjadi dengan bayi mungil di antara mereka sebagai penengah nya. Tangan Anda meraih kepala Dinda dan mengusapnya dia sungguh bahagia tetapi di sisi lain ada sepasang mata yang mengawasi mereka.

__ADS_1


" Aku tidak akan pernah memaafkan mu Mas. " Kata Dinda dengan suara parau nya. Ya suara sumbang khas orang yang telah menangis.


"Apa kau sangat membenciku hingga susah bagimu untuk memaafkan segala kesalahan ku harus dengan apa aku menebusnya?" Kata Andra yang kini tangannya meregangkan pelukan mereka tetapi masih saja bertengger di pundak Dinda tatapan mereka bertemu pada satu titik linear yang sama.


" Untuk apa aku memaafkanmu Mas jika aku saja sama sekali tidak pernah marah kepadamu untuk apa itu semua percuma semuanya terjadi diantara kita itu sudah kehendak Yang Maha kuasa." Jawaban Dinda sungguh melegakan dan semakin membuat sosok lelaki kekar yang berdiri di hadapannya ini tergugu. Betapa Dia sangat sadar sekarang, dia tertampar oleh kenyataan sebaik inikah wanita yang telah disia-siakan?


Terdengar suara pintu terbuka tanpa ketukan yang mengawali nya. Derap langkah kaki tegas masuk dan semakin mendekat kepada Andra dan Dinda. Mereka saling bertatap bersama laki-laki itu. Tak lain dan tak bukan adalah Papa Dimas dia datang dengan wajah yang menunjukkan ketidak sukaan mengintimidasi, menekan rasa percaya diri Anda dan seketika membuatnya mengurai pelukan yang masih terjadi dalam suatu isak tangis.


Tidak berbicara namun Papa Dimas terdiam dan menatap nyalang keduanya. Sungguh ini tatapan marah seorang Papa yang tidak suka dengan kelakuan anaknya. Andra hapal betul Bagaimana karakter Bapak Dimas daripada dia banyak bicara sebaiknya dia berpikir untuk angkat kaki dari ruangan itu.


" Aku permisi " kata Andra setelah sebelumnya dia mencium pipi Keanna.


Tak bergeming Papa Dimas hanya terdiam dengan kedua tangannya yang masih berada dalam saku celananya sungguh penampakan yang berwibawa ini membuat siapa saja takut saat melihat wajah seriusnya. " Jangan kembali ke sini lagi sebelum 1 tahun setelah ini. Aku tidak ingin nama putriku tercemar Aku tidak ingin kalian melakukan hal yang tidak-tidak. Aku kecewa dengan kalian berdua, Tidak sepantasnya mantan suami mengurus persalinan Mantan istrinya Seperti ini. Akan jadi apa kalian nanti di tengah masyarakat?" ujarnya dengan suara lantang dan tegas mematahkan setiap keraguan dan juga suasana hening yang ada.


" Tapi Pa, bagaimana jika aku merindukan Ayman? Aku tidak bisa jauh-jauh dari Putraku. Hanya dia yang ku punya di dunia ini. Hanya dia kerabatku."


" Setahun itu tidak lama Andra, bahkan sebelumnya kau sudah berpisah dengannya selama 3 tahun? ini tidak akan lama. hanya sebentar bagimu."


Kata Papa Dimas yang seolah dia tidak mau tahu dengan perasaan Andra perasaan seorang ayah yang akan berjauhan lama dengan putranya walaupun Sebenarnya dia bisa sangat mudah menjangkaunya.


Suara isak tangis seorang wanita kini terdengar nyaring dia tergugu di dalam ruangan itu sembari menggendong bayi merahnya. " Pa kumohon, jangan papa menjadi manusia kejam dengan memisahkan Mas Andra dari putranya. Jika Papa sendiri tidak bisa berjauhan dariku ataupun cucu Papa, lantas kenapa Papa bisa berbuat seperti itu kepada Mas Andra? Mas Andra memiliki hak yang sama denganku, Dia adalah orang tua kandung Iman! Aku mohon Pa, walaupun dia tidak boleh bertemu denganku karena Papa takut akan terjadi gosip yang tidak baik tentang kami setidaknya biarkan Mas Andra menemui putranya biarkan dia membawanya jika dia ingin membawanya. Aku yakin Mas Andra adalah sosok ayah yang baik untuk iman."


Siapa kini yang tersudut? Oh ayolah....! jelaslah seorang janda yang akan menjadi korbannya Dinda kini tersudut dengan pandangan orang tuanya sendiri.


Tidak mau ambil pusing Andra tidak ingin melibatkan Dinda dengan masalahnya yang masih bergulir bersama Papa Dimas. Andra lebih memilih mengorbankan perasaannya yang mungkin saja akan sangat lama menahan rindu kepada Putra semata wayangnya.


" baiklah kalian jangan berdebat aku akan menuruti apa kemauan papa."


" Tidak Mas kau juga punya hak yang sama. Jika Papa bisa melakukan apa yang diinginkannya aku pun bisa. Teruslah Papa seperti ini, maka aku akan mengurus hak asuh Ayman agar jatuh ke tangan mu. Biar dia tahu bagaimana rasanya berjauhan dari orang yang dikasihinya."


" Oh, putriku kini sudah berani membangkang ayahnya sendiri inikah hasil hasutan mu Andra?"


" Sudah Papa, berhenti! jangan kau selalu menyalahkan nya aku ini sudah dewasa! aku punya jalan pikiran ku sendiri. Apakah salah jika aku sebagai mantan istrinya membagi hak yang adil untuk anak kami? dia juga punya hak atas anaknya!"


Sungguh sekarang Andra sangat tidak enak hati, bahkan Ini pertama kali di dalam hidupnya dia melihat Dinda begitu marah. Dia meluapkan segala kemarahannya wajahnya sudah memerah padam dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


" Sudahlah kalian jangan bertengkar karena aku Aku akan pergi aku akan menuruti kemauan mu Papa."


" Segeralah pergi dari sini, angkat kaki mu cepat! Setidaknya kau bisa tunjukkan di mana letak harga dirimu!" Ucap Papa Dimas yang mengusir Andra dengan terang-terangan.


Hampir saja Andra melangkahkan kakinya dia sudah memutar badannya dan hendak meninggalkan ruangan itu tetapi satu panggilan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


" Jangan pergi Mas kau harus di sini kau punya hak atas anakmu aku sebagai ibu dari anakmu mengijinkanmu memberikan izin kepada mu!" Kata Dinda dengan suara lantang maski pipinya masih basah.


Andra diam tak bergeming ia sungguh bingung harus apa sekarang ketika dia ingin pergi Adinda justru menariknya kembali ke dalam lingkaran permasalahan. " Jika Papa tidak bisa menghargai Mas Andra, Oke itu terserah Papa. Tapi aku harap Papa bisa menghargaiku sebagai putrimu hargai pendapat tuh hargai keputusan ku."


Papa Dimas tergelak, dia terbelalak. Ini pertama kalinya pembangkangan terjadi Bahkan dulu Di saat dia mengajak Dinda untuk pergi tak ada penolakan ataupun perundingan yang berarti Dinda mengiyakan begitu saja kemauan Papanya. Tapi kali ini tidak, argumen terjadi, perdebatan terjadi.


Bukan lagi soal perasaan di sini Dinda berbicara tetapi lebih kepada keadilan, hak yang adil yang sama antar dua orang tua untuk membagi waktu mengiringi masa tumbuh kembang putranya.


Tak dapat mengubah keputusan tidak papa Dimas lebih memilih kembali pergi setelah perdebatan sengit itu terjadi. Andra yang merasa tak enak hati sekaligus bimbang dia hanya berdiri terdiam pada tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.


satu tangan terulur lembut dan perlahan mengusap punggung Anda ya ucapan yang memberikan kekuatan juga semangat. " Aku mengijinkanmu kapanpun kau mau, kau bisa bertemu dan membawa putramu kau juga memiliki hak yang sama atasnya kau Ayah kandungnya Mas."


"Tapi apa bagaimana dengan papa dia tidak mengizinkanku?" Suara tertahan. Ya suara tangisannya tertahan, dia menunduk malu. Sebagai lelaki dia tidak bisa terlihat sangar di sini.


" Soal Papa biar aku yang mengurusnya kau jangan khawatir kan apapun aku tahu Papa tidak sejahat itu dia hanya sedang marah saja denganmu."


" Terimakasih! " ujar Andra penuh afeksi dan kemudian berbalik memeluk Dinda tanpa sadar dia mengecup pipi Dinda dalam ingatannya mungkin sekarang mereka seperti adik-kakak?


Tak menutup kemungkinan keduanya seringkali lupa akan posisi mereka. Ya terlalu lama menyandang sebagai status adik dan kakak membuatnya terkadang lupa jika mereka juga merupakan mantan suami istri.


" Cukup hari ini saja kau memelukku sebagai Kakakku. Tidak untuk esok lagi ataupun esoknya lagi cukup hari ini saja aku melakukan dosa itu denganmu." kata Dinda dia menegaskan Bagaimana posisi mereka sekarang yang tidak selayaknya berbuat seperti ini tetapi bukan mengurangi pelukan Anda justru mempererat nya.


"Oke untuk kali ini saja tapi biarkan Aku memelukmu sedikit lebih lama aku merindukanmu Adinda. Aku merindukanmu sebagai sosok adik, mantan istri dan juga Ibu dari anakku boleh kan?"


" Dinda mengangguk dengan seulas senyum tipis di bibirnya." Ya tentu saja hal itu tak dapat Anda lihat Andra tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri dia tenggelam dalam kebahagiaannya tak dapat lagi dia berkata-kata kecuali hanya tangan yang terus mengusap rambut Dinda.


Maafkan aku Mas, tapi izinkan kali ini saja aku memeluknya sebagai Kakakku. Kau tahu betapa aku sangat berhutang Budi pada nya sewaktu kecil ku dulu dialah yang selalu menjagaku. Kau juga tahu bagaimana protektif nya dia ketika kita menginjak masa remaja. Maafkan aku aku telah disentuh pria lain.


Ujar Dinda dengan menatap dalam dindin ruang rawatnya.


Di balik pintu raung rawat yang tertutup apa Dimas berdiri sambil tersenyum getir. *K*alian selalu saja seperti itu, selalu melindungi satu sama lain. Susah sekali untuk memisahkan kalian apakah kalian memang benar-benar jodoh? Apakah nama kalian memang benar-benar sudah saling bertaut sedari kalian belum terlahir ke dunia ini? aku tidak habis pikir dengan kalian. apa Dimas yang kesal kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut dia lebih memilih untuk mengalihkan pikirannya agar tidak berasap ketika lama-lama memikirkan kedua orang yang sangat sulit untuk saling menjauhi.



yuhu ....! Mimi comeback nih!!!


Maaf kalau udah lama nunggu, Maaf juga kalau banyak typo ataupun yang alurnya agak gimana gitu.


tapi yang jelas di sini Mimi mau ucapkan banyak terimakasih untuk kalian yang udah like, tinggalin juga komentar, jangan lupa follow dan vote ya biar cerita Mimi bisa muncul di beranda. Biar kalian bisa saling berbagi, Ya setidaknya apa yang kalian sukai bisa disukai dengan banyak orang lainnya.


Happy redding buat kalian semua, jangan lupa follow biar tahu cerita lain yang Mimi barusan up atau published semangat terus buat hari ini ya!!

__ADS_1


__ADS_2