
🐦🐦🐦
Masih terasa hawa tegang di dalam kediaman Yania. Buna dan Altez masih berebut kepemilikan atas Yania.
Dua sisi yang teramat berbeda tapi bisa membuat Yania pusing bukan main. Keduanya masih saling menarik Yania. Tatapan permusuhan memancar dari keduanya.
"Buna, maaf tapi saya lebih berhak atas putri anda. Saya suaminya." Ucap Altez yang keukeh mempertahankan Yania untuk tetap berada di sisinya.
"Iya kamu suaminya, tapi kamu suami BRENGSEK yang suka berselingkuh di belakang istrinya. Apa? mau menjelaskan apa lagi kamu?" Ketus Buna Yusmi mencecar Altez.
Altez hanya bisa menenggak ludahnya perlahan Dia tidak menduga jika ibu mertuanya akan sampai sangat marah seperti ini padanya. Tatapannya pun mengisyaratkan kebencian.
"Saya berjanji pada anda, itu adalah kali terakhir saya melakukannya. Mulai saat ini saya akan bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini."
"Tidak! aku tidak bisa mempercayainya. Sekalinya pembohong, tetaplah pembohong. Sekalinya penipu tetaplah penipu. Dan kamu pasti juga akan berselingkuh lagi di kemudian hari. Ayo Yaya, kita pulang saja. Ceraikan dia! Masih banyak pria di luaran sana yang lebih segalanya daripada dia!"
POV Yania.
Aku sama sekali tidak menduga jika semuanya akan menjadi runyam seperti ini. Buna, dia sangat berharga bagiku, Tapi.... disisi lain, aku sudah tumbuh dewasa sekarang. aku harus bisa menentukan pilihanku sendiri. Ini adalah kesempatanku untuk menyembuhkan rasa sakit di hatiku padanya setelah sekian lama aku akhirnya mendapatkan kesempatan ini.
Kulihat Buna ku, Dia berbicara dengan kemarahan yang nyata yang tak pernh kulihat sebelumnya. Tentu saja Dia tak terima melihat anak satu satunya ternistakan seperti ini. Tapi, Buna... buna tenang saja, hal ini sama sekali tidak melukaiku, sebab aku sama sekali tidak mencintainya dan aku berjanji akan membuat Dia bertekuk lutut bahkan sampai mengemis cinta padaku.
Dan..., lihat itu, wajahnya di buat semelas mungkin di hadapanku dan Buna ku. apa ni? apakah ini adalah permainan barunya? Ah, tapi tunggu, kenapa wajahnya semakin pucat dan tangannya gemetar?
"Buna, tenanglah. Ini semua hanyalah salah paham. Dia sama sekali sudah tidak ada hubungan dengan Nella itu. Ini semua hanya akal akalan Nella untuk mendongkrak karirnya. Dia masih belum rela melihat Altez bahagia bersamaku." Kataku sembari memberikan suguhan senyum palsuku agar Buna ku yakin dan tak lagi menggebu seperti tadi. Bagaimanapun juga jantungnya akan mudah terpengaruh jika berhadapan dengan hal semacam ini.
"Benarkah seperti itu?" Tanya kepada kami.
Kami mengangguk bersamaan .
"Buna, jangan mudah termakan kabar miring. memang begini kan resikonya jika mempunyai menantu yang tampan? iyakan sayang?" Kataku sembari mengedipkan sebelah mataku pada Dia yang sebenarnya ingin ku pukul kepalanya saat ini juga.
Buna merapikan penampilannya dan juga melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku. "Ehem...!" Dia berdehem "Maaf sudah menamparmu." Katanya yang kemudian berlalu pergi.
Aku tahu Buna ku malu sekali saat ini. Tapi tak apa, terimakasih Buna telah mewakilkan aku untuk melakukannya. Hahahahaha! bolehkah aku merayakannya saat ini? aku ingin sekali menari sambil bernyanyi sekarang.
"Tidak apa apa Buna. ini semua hanya salah paham." Ujar Altez yang juga ikut mengantarkan kepergian Buna sampai kedepan pintu rumah kami.
Benarkah tidaka apa apa? Kalau begitu bolehkah aku mengulangnya?
Selesai urusan dengan Buna dan aku sekarang kembali mask kedalam rumah. Satu yang aku lupakan, aku belum selesai mengganti perban di kepalanya. Kasihan jug sebenarnya melihat dia terluka begini, tapi apa mau dikata memang ini semua buah dari kelakuannya kan?
"Sini, ku ganti dulu perbannya. Darahnya kenapa masih menetes juga?" Gumamku yang sebenarnya hanya ingin berbicara sendirian.
Dia hanya diam saja, tapi kulihat tangannya bergetar. "Kamu gemetaran Mas? Lapar atau apa?" tanyaku sambil mengganti perbannya.
"Entahlah, kepalaku pusing." Jawabnya singkat sembari menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Dah, istirahat lah aku akan membuatkanmu sarapan. Kamu tadi membuatkan aku sarapan tapi kamu sendiri belum makan?"
"Mulutku tidak enak makan. Perutku juga tidak enak." Katanya.
__ADS_1
jawabannya yang seperti ini membuatku jadi penasaran, sebenarnya bagaimana suami dari selingkuhannya itu menghajarnya? Apakah dia mendapatkan luka dalam atau semacamnya?
"Apa kita ke Dokter saja ya?" Kataku yang tak mau ada resiko yang lebih parah dari sekedar rasa sakit. Kematian mungkin.
"Tidak, aku tidak apa apa. mereka bilang ini hanya karena efek hantaman saja. beberapa hari lagi juga pulih."
Fiuh~~~~! Untung saja, ternyata dia sudah memeriksakannya. Sebenarnya aku malas jika harus mengurusnya lebih lama karena itu memaksaku untuk selalu dekat dengannya. Dan itu adalah hal yang MEMUAKKAN!
"Ya sudah, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah aku akan bersih bersih rumah." Kataku yang sebenarnya malas saja jika harus berlama-lama bertatap muka dengannya.
Dia menurut dan masuk kedalam kamarnya. Tak lupa juga aku memberikan makanan dan juga obatnya. Tanpa suapan atau apapun itu. Kan bukan tangannya tang terluka tentunya dia bisa makan sendiri kan?
Selesai dengan bersih bersih rumah, aku melihat isi kulkas yang semakin menipis tinggal beberapa butir telur dan juga sayur kol yang terdampar.
"Aku harus berbelanja." Kataku bermonolog aku tak menyangka jika Dia akan berada di belakangku secara tiba tiba.
"Mau belanja?" tanyanya dengan suara baritonnya yang membuatku berjingkat kaget dan memegangi dadaku.
"Ih! mengagetkan saja!" Seruku yang reflek lalu memukulnya.
Dia hanya menyeringai lalu kembali masuk kedalam kamarnya. Aku tak mau ambil pusing, memang dia ini orang aneh kan? suka muncul tiba tiba dan membuatku terkejut.
Aku bersiap dan kali ini aku keluar dengan diriku sebagai Yania yang lama. Aku berpenampilan sebagai Bu guru Yania. Ku kira tadinya Dia tertidur di kamarnya ternyata Dia sedang memanaskan mobilnya.
"Kamu mau kemana?" Kataku yang sudah duduk di atas motorku dan memakai helem kesayanganku.
"Bawa mobilku saja. Langit sedang mendung, siapa tau nanti hujan." Katanya dengan menaik tanganku perlahan.
Dia mendorongku bagaikan mainan kereta keretaan anak kecil dan mendudukan aku di bangku kemudi. Dia juga memakaikan sabuk pengaman padaku. "Mengemudi dengan hati hati ya, dan juga simpan ini. Gunakan sesukamu." Katanya yang kemudian menyodorkan kartu kredit miliknya padaku.
"Terimalah, ini uang nafkahmu kan? kamu itu istriku?" Katanya.
Pernyataannya sungguh membuatku tertawa. "Hahahahaha! nafkah? aku rasa itu tidak perlu. Apa kamu lupa kamu melarangku untuk mencintaimu dan berharap pada pernikahan kita ini? Jadi aku sudah memutuskan untuk tidak merima apapun darimu karena aku tidak mau ada tuntutan di kemudian hari." Kataku yang kemudian melepaskan sabuk pengaman yang melilit di pinggangku.
"Ingat, milikmu ya milikmu. Milikku ya milikku. begitu kan isi perjanjian kita?" Ucapku sambil kembali menaiki motorku dan tersenyum ke arahnya. "Aku masih ingat semuanya." Sambungku yang kemudian pergi meninggalkannya.
POV Altez.
seumur hidupku belum pernah ada seorang pun wanita yang menampik soal uang. Apapun itu mereka akan bisa berdamai jika bersangkutan dengan uang. Tapi sekarang, istriku sendiri menolak semua pemberianku bahkan itu termasuk nafkah?
Keras kepala sekali Dia. Dan apa tadi? Dia berpenampilan seperti semula, ada apa? Apa Dia benar benar sudah kehilangan rasa nyamannya untuk menjadi dirinya yang sebenarnya? Dan apa benar yang dikatakannya jika semuanya terjadi gara gara aku?
Pertama kalinya ditolak dan ini membuatku merasakan sulit menerimanya. Biasanya dari mereka bahkan mengabaikan harga diri untuk mendapatkan segelontor uangku. Tapi Istriku malah menampik pemberianku. Ah, ini sungguh membuat harga diriku terluka sebagai seorang pria.
Aku jug tidak tahu mengapa aku begitu suit untuk memantapkan hati pada satu wanita, aku selalu saja berpikiran asalkan ada uang, semua bisa di selesaikan dan semua bisa di bicarakan, tak terkecuali wanita. Asalkan ada uang, mereka pasti akan mudah ditakhlukkan.
ku gunakan waktuku sebaik mungkin saat yaya tidak di rumah aku sengaja memasuki kamarnya dan membaca semua lebel obat miliknya yang sudah kembali rapi tersusun di dalam laci lemari. bermodalkan internet, perlahan aku mulai mengerti akan setiap kandungan dan fungsi dari obat obatan yang disimpannya itu.
"Jadi, selama bertahun tahun dia selalu mengonsumsi ini?" Gumamku yang berbicara pada botol botol obat tersebut.
Aku sama sekali tidak menyangka jika hal yang ku kira sepele ternyata begitu besar memberikan pengaruh buruk bagi orang lain. Apakah benar katanya tadi bahwa aku harus lebih bisa mengontrol mulutku?
Di suatu mall.
__ADS_1
Pov author.
Di dalam sebuah Mall, Yania tengah asik membaca tanggal kadaluarsa dari beberapa barang yang akan di belinya. Tanpa ia duga seseorang dengan beraninya langsung melingkarkan tangannya di pundaknya dan dengan refleknya dia juga kemudian melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya. Yania memelintir tangan tersebut dan hendak membantingnya ke lantai.
"Aduh, duh! ampun Bu, ampun!" Rengek seseorang dengan suara yang teramat familiar bagi Yania.
"Vito? Kamu!" Yania clingukan mengamati sekitaran.
"Iya Bu, ini aku. Hehehe!" Vito meringis memamerkan jajaran giginya yang putih itu. Pria muda dengan tubuh yang bisa dibilang atletis itu berdiri dengan tegapnya di hadapan sang Guru yang pernah satu ranjang dengannya.
"Tangan kamu itu, Tidak sopan!" Celetuk Yania memarahi Vito setelah memastikan semuanya dalam keadaan aman.
"Maaf Bu, tapi aku rasa kita malah pernah lebih dari ini. Dan semenjak saat itu aku jadi susah untuk melupakannya. Aku rasa aku mulai menggilai istri orang." Kata Vito yang berbisik di telinga Yania.
"jaga mulutmu!" Kata Yania yang berbicara penuh dengan penekanan sampai giginya gemertak menahan emosi. "Apa yang kamu inginkan?" Tanya Yania dengan kesalnya.
"Yang aku inginkan? Em.... apa ya? Bisa kita makan es krim berdua?" kata vito yang dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada sang guru.
"Tapi nanti setelah aku selesai belanja." Ketus Yania yang terpaksa mu menuruti kemauan Vito yang sudah tersenyum senang mendengarnya.
Di meja dekat outlet penjualan es krim, yania dan Vito tengah menikmati es krim bersama yang tentu saja dengan jarak duduk yang berjauhan.
Kenapa harus jauh banget gitu sih padahal kan bisa deketan. Batin Vito yang merasa tidak nyaman melihat Yania yang menarik jarak yang jauh dengannya.
Aku harus berhati hati kalau saja mungkin di sekitar sini ada media ataupun netizen yang melihat kedekatan kami. Batin Yania yang terus saja merasa was was akan segala kemungkinan yang ada. Baru saja Dia menyelesaikan satu masalahnya masa iya sudah harus bertambah satu maslah baru lagi?
"Ada apa mengajakku makan es krim begini?" tanya Yania yang tak mau melihat wajah Vito dan Dia lebih fokus pada layar ponselnya.
Vito pun melakukan hal yang sama, menjawab tanpa melihat lawan bicaranya. "Tidak ada apa apa, hanya kangen saja." Jawabnya yang membuat Yania tersedak. "Juga mau bilang terimakasih karena bantuanmu kali itu, aku bisa meringankan hutang ibuku." Kata Vito yang dengan sengaja tersenyum menatap Yania yang masih tersedak dan terbatuk batuk dibuatnya.
Kangen? Kangen tadi katanya? Bisa bisanya dia bilang seperti itu pada gurunya sendiri. ah, tapi aku juga yang awal mulanya mengajarkannya bersikap seperti ini dan di sekarang mengatakan perasaanya dan mulai menaruh rasa padaku. ini gila!
"Sudah itu saja? kalau begitu aku akan segera pulang. Terimakasih untuk es krimnya." Yania bergegas pergi setelah vito sukses membuatnya tersedak dua kali.
Aku mulai sampai di Rumah dan mulai masuk secara perlahan, apapun itu aku tak mau mengusik ketenangan orang lain. Aku tak ingin membuatnya bagun dan aku harus kembali melihat wajahnya.
"Sudah pulang?" Tanyanya yaang kemudian mendekat dan membantuku membawakan barang belanjaan.
"Aku bisa sendiri!" Tolakku karena aku sama sekali tak mau merepotkan orang lain.
"Kamu sudah menolak uangku, jadi setidaknya terimalah bantuanku sebagai suamimu." Katanya yang terdengar manis di telingaku.
__ADS_1
Dia ini salah makan atau bagaimana?