Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
14. Cari Angin


__ADS_3

Terlihat Jesica sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia sudah mengenakan baju santai, dress selutut berwarna hitam menjadi pilihannya. Jesica sedang merapikan rambutnya dengan posisi duduk di tepian tempat tidur. Jesica sudah kembali ke kamarnya sendiri yaitu kamar Presidential Suite nomor 2.


Dan Jesica dikejutkan oleh Saka yang masuk ke kamar secara tiba-tiba. Air muka Saka sama sekali sedang tidak bersahabat. Tanpa berbasa - basi Saka langsung duduk di sebelah Jesica dan memeluk Jesica. Jesica sudah tahu apa yang terjadi pada Kakaknya.


Selalu saja begini bila sedang emosi.


Batin Jesica. Sekarang Jesi tahu alasan Saka sangat protektif atas dirinya, itu karena rasa sayang Saka terhadap Jesica sudah melebihi dari sebatas Kakak ke Adiknya. Dan disaat dalam kondisi emosi hanya dengan memeluk Jesica Saka bisa lebih tenang.


"Kak." Belum sempat Jesica melanjutkan ucapannya Saka sudah menyelanya.


"Biarkan seperti ini sebentar saja Jes! Kamu diamlah. Cukup Kamu diam Kakak sudah merasa nyaman." Potong Saka.


Dan Kini jesica hanya bisa diam saja. Dia tak merespon pelukan Saka. Suasana hening sesaat, hanya suara jarum panjang jam dinding yang terdengar.


Setelah beberapa saat.


"Jes" Panggil Saka, masih memeluk Jesica


"Apa Kak? " Tanya Jesica yang masih berada dalam pelukan Saka.


"Ada yang kurang." Tutur Saka.


"Ha? Apa?" Tanya Jesica bingung.


"Kamu nggak respon pelukan Kakak?" Tutur Saka dengan suara semanja mungkin.


"La, Kakak sendiri yang suruh aku diam." Jawab Jesica.


"Maksudnya Kakak suruh Kamu diam itu. Diam, jangan protes dengan omongan. Karena Kakak nggak mau dengar Kamu ngoceh. Kepala Kakak lagi pusing." Jawab Saka dengan wajah cemberut.


"Kirain diam yang nggak boleh gerak." Jawab Jesica.


"Respon dong pelukan Kakak!" Perintah Saka. Saka merasakan bahwa Jesica ragu untuk membalas pelukannya."Tenang Kakak nggak bakal ngapa - ngapain Kamu." Sambung Saka.


"Ya nggak tenang lah Kak. Kenyataannya Kakak udah ngapa - ngapain Jesi." Jawab Jesi. Tidak terasa air mata kembali menetes dari pelupuk mata Jesica.

__ADS_1


"Jes, Kita keluar aja yuk, cari angin. Kamu butuh udara segar, untuk melupakan sejenak kejadian itu." Tutur Saka dengan suara lembut. Saka melepaskan pelukannya dan menatap manik mata hitam Jesica. Dihapusnya air mata Jesica oleh Saka.


"Tapi Ka-" Belum selesai Jesica berkata Saka sudah menyelanya.


"Udah. Nggak usah ada tapi - tapian. Ayuk ikut Kakak." Saka langsung beranjak berdiri. Dan tanpa mendengar jawaban Jesica, Saka langsung menarik tangan Jesica.


"Aaauuuu" Teriak Jesica karena terjatuh.


"Jesi !" Teriak Saka panik. Saka yang panik langsung mengangkat tubuh Jesica, di bawanya ke tempat tidur dan dibaringkannya tubuh Jesica dengan perlahan.


"Kak, nggak usah keluar ya? Jesi jalan ke kamar ini aja tadi penuh perjuangan." Pinta Jesica.


"Jalan penuh perjuangan? Maksudnya?" Tanya Saka belum paham.


"Kakak semalam abis ngapain Jesi?" Tanya Jesica memberi clue pada Saka. Karena Dia tidak mungkin memberi penjelasan dengan detail. Karena penjelasan itu sangat memalukan bagi Jesica.


"Kakak ngelakuin itu. Ya walaupun perbuatan kita itu di luar kendali diri Kita sendiri." Ucap Saka mengingat - ingat kejadian semalam.


"Terus hubungannya sama jalan penuh perjuangan apa?" Sakaadih tidak paham atas arah pembicaraan Jesica.


"Nggak peka gimana sih Jes?" Tanya Saka.


"Au ah. Cari di internet aja sana, maksud dari ucapan Jesi barusan." Ketus Jesica pada Saka. Lalu Jesica mengalihkan pandangan dari Saka, Dia lebih menatap tembok dari pada menatap Saka.


Sedangkan Saka.


Benar saja. Saka langsung mengambil handphone nya yang berada di saku celana. Dan mulai mengetikan pertanyaan di kolom pencarian handphone nya. Setelah beberapa saat Saka mengotak - atik handphone nya. Saka menemukan jawabalan atas pertanyaannya. Saka langsung menatap Jesica yang masih cemberut.


"Jes" Panggil Saka.


"Apa" Jawab Jesica ketus, sembari menatap tajam Saka.


"Masih Sakit?" Tanya Saka pada Jesica.


"Auah. Bete. Jadi Cowok kok nggak peka." Jawab Jesica memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Ya mau peka gimana Jes. Itu kan pengalaman pertama Kakak, jadi Kakak nggak tahu." Jelas Saka.


"Kakak pikir itu bukan pengalaman Jesi yang pertama? Itu juga yang pertama buat Jesi. Tapi sayang pengalaman Jesi yang pertama bukan Suami Jesi yang ambil. Malah Kakak Jesi sendiri yang ambil. Dan apakah Jesi bisa meminta pertanggungjawaban dari Kakak? Nggak. Itu nggak bisa karena Jesi itu adiknya Kakak." Ketus Jesi.


Maaf Kak. Ucapan Jesi pasti nyakitin hati Kakak. Tapi Jesi harus tegasin bahwa perasaan Kakak ke Jesi itu perasaan yang salah. Batin Jesica.


Tanpa kamu meminta pertanggungjawaban dari Kakak, Kakak pasti tanggung jawab. Tapi tunggu Kakak sebentar lagi. Batin Saka.


"Jes kamu kayaknya lagi bener - bener butuh angin segar untuk melupakan masalah itu sejenak." Tanpa menunggu jawaban Jesica, Saka langsung mengangkat tubuh Jesica ke dalam gendongannya. Jesica terus meronta- ronta tapi tak di gubris oleh Saka.


"Kakak turunin. Malu." Kata Jesica saat sudah keluar dari lift menuju loby.


"Kamu diam aja. Nggak usah banyak omong dan gerak. Nanti makin berat." Kata Saka.


"Maksud Kakak Jesi gendut?" Tanya Jesica.


"Siapa yang bilang?" Tanya Saka.


"Itu tadi Kakak bilang aku berat."


"Kakak nggak bilang gitu." Jawab Saka.


"Bilang" Jesica


"Nggak" Saka


" Nggak" Jesica


"Bilang" Ucap Saka keceplosan.


"Kakakkkkkkk" Teriak Jesica.


Bersambung


Note :

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Comment


__ADS_2