
Masih dengan tantrumnya telinga Ayman seolah tuli. Kesedihan masih saja menggelayutinya dia menjadi murung dan badmood seharian. Dinda kebingungan dan kehabisan akal dibuatnya.
Makan tak mau, minum susu juga sedikit, Marah saat temannya datang untuk mengajaknya main.
" Sayang, Iman... tadi malam memangnya iman mimpi apa Nak? " Dinda memangku Ayman yang tak lagi kecil dan berbobot ringan. usianya sudah hampir tiga tahun dengan bobot yang lumayan berisi.
Ayman terdiam dan menunduk lalu meremas tangannya yang bertangkup. " Ummi, Daddy akan pulang kan?"
" Iya sayang, Daddy akan pulang. Daddy hanya pergi bekerja seperti biasa. Nanti kalau Daddy pulang pasti akan membawakan mainan bagus untuk iman. Iman mau apa?" Dinda menghibur putranya agar tak lagi merengek mencari keberadaan sang Daddy.
" Iman mau Daddy..." Lagi-lagi Ayman mulai menangis setiap mengingat Keanu. Seolah dia mencari dan berharap Keanu lekas kembali lalu memeluknya dan menggendongnya seperti biasanya.
" Kita Video call dengan Daddy mau? " Dinda menawarkan bervideo call dengan Keanu dengan harapan buah hatinya akan tenang dan tau bila daddy-nya pergi bekerja.
Tapi satu dua kali menghubungi, tak mendapatkan respon membuat Dinda berfikiran mungkin saja Keanu sedang rapat. Penjelasan sederhana kembali diberikannya dimana putranya kembali kecewa setelah sebelumnya merasa senang karena akan bervideo call dengan sang Daddy.
Ayman murung dan lesu.
Bunyi dari Manang penjual cilok mengalihkan atensi bocah kecil yang sedang buruk suasana hatinya itu. Dia melongok lalu berlari meriaki si penjual cilok. " Mang beli....!!" Teriaknya kencang sambil berlari padahal dia tak membawa uang sepeserpun. Dia tenang sebab tau sang ibu mengikutinya dari belakang yang tentu saja dengan uang receh di setiap sakunya.
" Mang beli ya, tidak pakai saus seperti biasa." Kata Dinda yang mengira jika itu adalah penjual cilok langganannya.
" Ummi, olangnya beda..." Desis Ayman yang mengamati si penjual cilok yang terkesan pendiam dan penampilannya agak aneh dengan topi yang menutupi bagian matanya.
Dinda kemudian mengamati si penjual cilok dengan seksama. Kenapa berbeda padahal gerobaknya sama? Dinda mengernyit heran lalu bertanya kepada si penjual. " Bukan mang Edi ya?" Cetusnya membuat si penjual cilok lalu menjawabnya dengan suara yang besar.
" Bu... bukan Bu. Saya keponakannya yang menggantikan mang Edi."
" Oh, memangnya mang Edi kemana Pak?"
" Mang Edi sedang tidak enak badan Bu. Jadi saya yang menggantikan ya itung-itung untuk membeli obatnya." Jawab si penjual yang terlihat kikuk saat meladeni para pembeli cilik yang mengerubunginya.
" Mang Edi sakit apa pak?" Dinda kembali bercicit.
" Oh, tidak tau tapi tadi badannya panas dan batuk-batuk." Jawabnya sembari meladeni para bocah yang antre membeli dagangannya.
" Adek mau yang apa? Pakai sambel kacang atau tidak? Mamang baru dek, jadi tidak tau kesukaan adek yang mana." Ucapnya menanyai Ayman yang sibuk menunjuk dagangan yang akan dibelinya.
Si mamang dengan telaten meladeni Ayman bahkan terkesan berlama-lama, bahkan terik matahari tak menyurutkan semangatnya untuk terus bercuap dan bertanya pada Ayman.
" Pakai kecap saja Pak, juga sekalian baso aci ya, sambalnya sedikit saja." Pinta Dinda yang juga meminta apa yang diinginkannya.
Baso aci dan juga cilok menjadi kegemaran ibu dan anak ini. Mereka kompak menyukai makanan yang berbahan dasar tepung tapioka itu. " Pak, ini kebanyakan." Protes Dinda yang biasanya hanya sedikit tapi kali ini terlalu banyak.
" em... tidak apa-apa Bu. bonus untuk ibu hamil, juga inikan hari jumat, baik untuk bersedekah." Ucap si penjual cilok.
Dinda mengulurkan uang seratus ribu rupiah dan menggenggamkanya di tangan si penjual cilok. " Ini saya titip Pak, tolong berikan untuk mang Edi ya. Untuk tambah beli obat. Jangan ditolak Pak, saya juga ingin bersedekah." Ucap Dinda sebelum si penjual cilok mengutarakan ketidak enakan hatinya menerima pemberian Dinda.
" Dan ini untuk cilok dan baso acinya." Lagi Dinda membayar lebih.
" Tapi ini kebanyakan Bu. " Si penjual kini melihat Dinda dengan sedikit mengangkat topi bundarnya.
" Tidak apa-apa pak, terima saja lebihnya untuk bapak yang sudah sabar meladeni anak saya. " Jawab Dinda dengan tulus.
Ayman berlari kecil dengan kakinya yang pendek masuk kedalam rumahnya dan kembali lagi bahkan sebelum si penjual cilok pergi.
" Mang cilok!!" Seru Ayman memanggilnya. Ia menghampiri dan semakin mendekat lalu memberikan air minum kemasan yang berbentuk gelasan.
" Ini sedekah iman, buat mamang minum dijalan ya. " Ucap Ayman dengan suara imut dan juga khasnya yang cadel. membuat si penjual cilok terlihat tersenyum meski hanya matanya yang terlihat sebab ia menggunakan masker.
Si penjual cilok tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Ayman dengan lembut dan sekilas melirik Dinda yang juga melihat kejadian itu.
" Terimakasih anak pintar." Ucapnya.
Ayman tersenyum memamerkan barisan giginya yang putih " iya, iman memang pintar ya kan ummi?" Atensinya mengarah kepada sang ibu yang masih memantau anaknya yang mulai tampak narsis Setelah mendapatkan pujian.
Matahari kian terik membakar bumi membuat Dinda dengan segera mengajak Ayman masuk kembali kedalam rumahnya. Si penjual cilok terus mengamati sampai pintu rumah Dinda tertutup kembali dengan rapat.
__ADS_1
...🌷🌷🌷...
" Ini mang saya kembalikan, dan ini uang sewanya." Andra mengembalikan grobak cilok lengkap dengan isi dan juga uang hasilnya berkeliling.
Mang Edi beranjak dan melongok isi dandang jualannya. " Hebat Mas ini, sampai bersih loh. " Pujinya setelah melihat isi di dalam dandang yang bersih tak bersisa.
" Apa mamang lupa memang tadi isinya hanya tinggal dua porsi saja kan?"
" Hehe iya. lalu kenapa uangnya sebanyak ini?" Mang Edi terkejut setelah menghitung uang yang jumlahnya tak sedikit.
" Ini tadi dapat titipan dari Bu Dinda." Andra memberikan selembar uang merah. "dan ini uang sewa Dari saya." Andra memberikan 4 lembar uang ratusan ribu.
Berlebihan memang untuk sewa grobak cilok yang lusuh dan peok, Tapi itu semua setimpal karena grobak usang tersebut juga Andra bisa bertemu dan menyentuh putranya.
Sungguh rasa rindunya kini telah terobati dan nampaknya dia akan ketagihan menjadi penjual cilok menggantikan mang Edi.
Andra tersenyum melihat dan kemasan air mineral yang kini berada di tangannya. Tatapan matanya sungguh cerah saat ini. Sampai-sampai mengacuhkan Bayu yang berada di sebelahnya.
Dia akan menyimpan kemasan air mineral itu dan membawanya kemana-mana. Hal itu aneh memang tapi itulah penawar rindunya.
" Senang sekali?" Bayu berdecak sembari menyenggol bahu Andra.
Andra tak bergeming dan masih tersenyum menatap kemasan air minum tersebut. " Lihat ini, ini sedekah dari Anakku Bay. Anakku!" Antusias Andra mencuat. " Dia berhati mulia seperti ibunya."
" Eumph..." Bayu hampir tersedak " Kau berhasil bertemu dengannya?"
" Aku bahkan tadi mengusap lembut kepalanya Bay." Tutur Andra senang.
Bayi berdecih lalu mendekati Andra dan duduk tepat di hadapan Andra dengan kakinya yang menyilang dia tas sofa. " Aku lupa memberitahukan mu sesuatu." ucapnya yang menatap serius Andra.
" Apa?" Andra memiringkan kepalanya.
Bayu menatap sendu Andra, dia seperti menimang akan berucap jujur atau tidak.
" Apa?" Andra mendesak dan menepuk keras paha Bayu.
" Aduh!" Bayu meringis, pedas yang menjalar dipahanya membuatnya tersadar. " Sial!" Umpatnya kesal.
" Siapkan mentalmu."
" Apa?" Andra mengguncang bahu Bayu.
" Dinda sudah tau jika kau yang memberikan semua hadiah tempo hari padanya. Dia bahkan menutup salam untuk si mata elang. Mata elang itu kau kan?"
Andra terdiam lalu menunduk, dia berpikir kembali. Jangan-jangan tadi sebenarnya Dinda tau jika dia menyamar sebagai tukang cilok?
" Bagaimana dia bisa tau?" Cecar Andra tak percaya, lebih tepatnya dia takut ketahuan dan Dinda akan semakin menjauh lagi.
Bayu menggidikan kedua bahunya. " Dia hanya bilang masih ingat dengan baumu." Ucapnya menerawang " Apa dia sejenis srigala atau apa, hingga pandai mengendus dan mengenali bau?"
Bauku?
Dia masih ingat aroma parfum, dan mist yang sering kupakai di telapak tanganku.
Aku lupa. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?
Gawat, setelah ini apakah dia akan semakin menjauh?
Dinda kumohon, jangan kau pergi lagi membawa anak kita. Aku... aku hanya ingin menebus kebodohan dan kesalahanku saja.
Aku tidak akan menganggu rumah tangga kalian.
Jika saja kau tidak sedang dalam kondisi hamil, sudah tentu aku akan datang dengan terang terangan dan menemui kalian.
Aku menundanya sampai kau melahirkan nanti. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu karena terbebani pikiran saat aku hadir.
Andra menelan salivanya getir, kini dia ketakutan dan bingung bukan main. Dia ingat bagaimana dia sendiri yang mengemas hadiah hadiah itu dengan tangannya. Dia lupa jika mist mahal yang di pakainya di telapak tangan akan menempel baunya di setiap bungkusan kado yang disentuhnya.
" Argh...! sial! kenapa aku bisa sebodoh itu?"
__ADS_1
" Memang!" Sahut Bayu dengan satai sembari menonton televisi. " Kau memang sangat bodoh! sudah tau Dinda itu mutiara, kau malah memilih gundu seperti Natasya yang banyak dimainkan pria." Bayi mencibir sesuka hati yang pada akhirnya dia mendapatkan lemparan banyak yang tepat mengenai kepalanya.
Andra melotot tajam bak laser " Sialan! " Umpatnya geram mengingat segala kebodohannya sendiri.
...🌷🌷🌷...
Mas kean, kau tau seharian ini iman mencarimu?
^^^benarkah?^^^
Em, dia tantrum. Semenjak bangun dan mendapati kau tidak ada, dia menjadi rewel.
^^^Tak apa sayang, biasakan anak kecil. Lalu mana dia sekarang?^^^
^^^Dinda lalu mengarahkan kamera ponselnya pada Ayman yang terlelap pulas.^^^
^^^Tampan sekali anak Daddy.^^^
^^^pujinya dengan tersenyum.^^^
^^^Lalu istriku yang cantik hari ini sudah makan?^^^
^^^Sudah pergi ke Dokter?^^^
Belum Sayang.
Besok saja kalau kau pulang.
^^^Mungkin besok aku sudah kembali pulang,^^^
^^^ tapi hanya aku saja. ^^^
kenapa?
hanya kau sendiri, yang lain?
^^^Yang lain mau sekalian berlibur katanya. Aku akan ikut penerbangan pagi, mungkin sekitar jam 8 pagi dari sini. ^^^
Oh, hati-hati ya sayang.
^^^Yang harus hati-hati pilotnya sayang. Kalau aku sendiri hanya penumpang, mati hidup tergantung kendali pilot.^^^
Dinda tersentil, dia tak suka dengan gaya bicara Keanu yang asal asalan seperti itu. Apa maksudnya mati hidup tergantung pilot? Mendengar perkataan Keanu membuat konsentrasi Dinda hilang, kini pikirannya melayang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.
Ya sudah, selamat malam sayangnya Abi! mimpikan Abi ya Sayang.
^^^Iya Abi!^^^
Jawab Dinda yang kemudian mengakhiri panggilan Video call.
malam semakin mengerikan, malam ini hujan lebat, angin kencang menghamburkan sesuatunya yang terhempas setelah diterjang. Dinda pun gelisah di kamarnya. Angin yang berhembus dari ventilasi behasil menerobos masuk dan menggoyangkan bingkai foto pernikahan mereka.
gambar itu terjatuh dan membuat Dinda terlonjak dan memegangi dadanya. Dia sungguh ketakutan sekarang, sedangkan Ayman di dekapnya erat-erat.
" Daddy....!" Rengek Ayman yang justru memanggil Keanu disaat ketakutan seperti ini.
" Tenang ya sayang, ada Ummi." Ujarnya lembut menenangkan sang putra yang terisak dalam dekapannya.
Pertanda apa itu, kenapa bingkai foyo kami sampai jatuh? padahal aku sangat ingat bagaimana bagian belakangnya ku ikat erat.
Mas, semoga kau baik-baik saja. Semoga ini bukan apa-apa...
Tuhan, lindungilah suamiku...
"Ummi, Daddy...!" Rengek Ayman.
Entah mengapa sedari kecil Ayman lebih suka bersama Keanu daripada dengan yang lainnya. Dia merasa aman dan nyaman ketika berada dalam jangkauan Keanu. Tapi kini Keanu pergi bekerja lumayan jauh membuat Ayman menjadi tak tenang.
Seharusnya Ayman sudah terbiasa karena memang sedari dulu pekerjaan Keanu begitu. Perjalan dinas menuntut untuk pergi meninggalkan keluarga meski hanya beberapa hari. Tapi saat ini? Ayman mencarinya yang seolah Keanu tak akan kembali lagi.
__ADS_1