Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
bagian 57. Berlutut.


__ADS_3


Ayman sudah lebih tenang setelah melakukan video call dengan Keanu. Keduanya bercanda dan tertawa bersama. Dinda hanya bisa ikut senang melihatnya. Bagaimana tidak jika Keanu sebagai ayah sambung justru bisa lebih dekat dan akrab dengan buah hatinya.


Lelah bercengkrama kini Ayman terlelap di sofa sembari memeluk baju Daddy-nya. Baju yang belum di cuci dan masih menyisakan aroma tubuh khas Keanu. Jujur saja, Dinda pun sama dia akan melakukan hal itu ketika suaminya pergi dinas untuk beberapa waktu. Sebagai pengobat rindu dalihnya.


" Pa, tidak mengecek kebun?" Dinda bertanya kepada snag Ayah yang masih sibuk membaca nota- nota hasil penjualan kebunnya.


" Tidak Nak, Papa sedang memeriksa penjualan kita yang kemarin dan sekarang menghitung lagi berapa banyak yang harus di keluarkan untuk modal menanam lagi." Katanya yang terus fokus memindai kertas-kertas itu.


Dinda hanya ber oh ria dan kemudian dia berpamitan untuk kebelakang. Tepatnya ke warung belakang rumah untuk membeli gula. Dia baru saja hendak membuatkan kopi untuk Papa Dimas namun gulanya kebetulan sedang habis.


Suasana hening dan tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


Papa Dimas mengernyit heran, biasanya kalau hanya tetangga sekitar selalu menyebut namanya atau tidak mereka langsung menuju ke teras belakang karena memang teras belakang lebih teduh saat siang hari menjelang sore seperti ini. Tapi ini siapa? mengapa tidak bersuara juga?


Papa Dimas berdiri di samping jendela mencoba untuk mengintipnya tetapi tak terlihat. Rupanya si tamu tersebut berdiri tepat di balik pintu sehingga tak nampak dari jendela.


Papa Dimas terpaksa membukakan pintu. Dia berpikir mungkin pelanggan yang akan memborong hasil panennya besok.


Tapi harapanya salah besar. Dia terdiam dengan wajah yang merah padam bahkan tangannya mengepal meremas gagang pintu hingga buku-buku tangannya terlihat memucat dengan semburat merah diantaranya.


BRAK! Suara dentuman pintu yang terbanting menutup keras.


Emosinya sungguh meluap kali ini. Luka lamanya kembali menganga. Melihat siapa yang berdiri di depan pintunya membuat kepalanya seketika berdenyut denyut. Dia memutar badannya dan masuk kedalam kamarnya. Tak ingin menegur atau apapun itu, papa Dimas meras sangat kesal.


Dia adalah Andra. Tamu itu adalah Andra. Semalam dia tak bisa tidur dan memikirkan semuanya. Jika Dinda sudah tau dan reaksinya sangatlah halus dan terkesan tak ada penolakan maka setidaknya dia memiliki sisi pemberat di kubunya.


Tapi, satu yang dia lupakan amarah Papanya. Amarah yang sulit diredam apalagi hanya sekedar di lupakan. Tak akan!


Dinda kembali dari warung dan tak mendapati Papa Dimas yang tadinya duduk di meja makan.


" Oh, mungkin sudah tidur. Ya sudah." Dinda bergumam dan mengurungkan niatnya untuk membuat secangkir kopi.


Dia berinisiatif untuk duduk sembari memijit kaki Ayman yang terlelap. Anak kecil itu terlihat kelelahan. Dinda mengusap kening Ayman yang sedikit basah berkeringat.


Suara ketukan pintu kembali terdengar, mengira jika Papa Dimas tertidur dan mungkin saja yang mengetuk pintu adalah tamu penting, Dinda segera membukakan pintu.


Terbelalak matanya dan tubuhnya kaku membatu saat melihat presensi seorang laki-laki yang dulu melindunginya, laki-laki yang pada akhirnya mencampakkannya, laki-laki yang merupakan ayah kandung dari putranya.


" Mas? " Dinda tertegun menatapnya.


" Din..." Andra menyapa dengan kaku. Suaranya tertahan, tatapannya sendu. seolah rindu berat dan ingin segera memeluk erat.


" Ma... masuk mas." Dinda menawari. Bagaikan dayung berambut. Baru beberapa hari lalu Dinda berencana untuk mempertemukan Ayman dengan ayah biologisnya dan sekarang semua itu terwujud.


Separuh hatinya senang dan menggebu, tapi sebelah hatinya lagi takut akan terjadi keributan sebentar lagi. Dinda clingukan menatap pintu kamar Papanya. Dia takut jika Papa Dimas akan mengamuk dan kambuh lagi penyakitnya.


" Din..." Andra masuk beberapa langkah dan duduk Setelah Dinda mempersilahkannya.


Dinda meninggalkannya, dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Minuman telah disuguhkan dan kini mereka duduk berhadapan dengan rasa canggung yang luar biasa. Dinda hanya menunduk tak berani menatap, sedangkan Andra menatapnya sendu dan penuh penyesalan.


" Maaf.." Lirih Andra.


" Tidak ada yang perlu di maafkan Mas. Semuanya sudah berlalu. Mana istri dan anakmu?" Dinda memindai keluar pintu yang masih terbuka dia mengira Andra datang bersama Arumi. atau bahkan Natasya. Bagaimanapun juga mereka dulu pernah dekat dan berkerabat.


" Bagaimana kabar Arumi?"


" Din, aku tidak jadi menikah. Arumi bukan.... dia bukan..." Andra menyembunyikan tangisnya " Aku dibohongi Din. Arumi bukan anakku dia anak dari Bastian. Kau pasti mengenal Bastian kan?"


Dinda merasa iba tapi juga tak begitu saja percaya. Dia hanya iba saja saat ini. Melihat kondisi Andra yang jauh lebih kurus dan tak terurus membuatnya kasihan.


Benar dia pernah beberapa kali berbincang dengan Bayu. Tapi Dinda tak pernah sama sekali mengusik atau mengorek informasi mengenai kehidupan Andra. Dia hanya berharap Andra hidup dengan baik dan bahagia.

__ADS_1


" Mas, aku tidak tau itu benar atau tidak. Aku hanya tidak mau menggali luka lama. Aku selama ini hanya berharap kau bahagia. " Kata Dinda memotong cerita Andra yang mengiba memohon perhatian.


Mata Andra terfokus pada Ayman yang tertidur di depan televisi dengan memegang sesuatu dalam pelukannya.


" Di... dia? "


" Dari mana Mas tau alamat kami?" Tanya Dinda sedikit terdengar tegas dan seakan tak suka.


Andra menghela nafasnya. " Kau pasti sudah tau, Tentu saja dari Bayu. "


itu hanya basa-basi untuk mengurai kecanggungan. Dinda tentu sudah mengira bila Andra entah cepat atau lambat pasti akan datang menemui mereka semua.


" Dinda apa dia putraku?" Andra menatap nanar Ayman yang bahkan tatapannya sudah memburam karena tertutup air mata.


Dinda kini tak kuasa menahan tangisnya. Dia mengangguk dan menangis. " Iya Mas, dia anak kita." Lirihnya penuh penyesalan.


Penyesalan karena telah kabur, penyesalan karena telah mengajarkan putranya hal buruk untuk menghindari ayahnya sendiri.


" Anak kita? " Suara Andra bergetar, pelupuknya basah dan sendu.


" Boleh aku memeluknya? " Tatapan mata Andra sungguh mengiba dan memohon belas kasihan yang amat sangat.


Tentu saja Dinda membolehkannya. Andra beranjak dan hampir saja jari jemarinya menyentuh rambut Ayman. Tapi semua itu terhenti tatkala amukan liar papa Dimas menguar.


" Jangan berani kau sentuh cucuku! "


Andra menghentikan gerakannya. Tangannya kembali lemas berada setia di sisi pahanya kanan dan kiri.


"Pa.... " Andra mendekati papa Dimas dan berlutut di hadapannya.


Andra, lelaki itu telah mempertaruhkan harga dirinya demi bisa kembali dekat bersama Keluarganya dan juga anaknya.


Tangan Andra hampir menyentuh celana bahan sang Papa. Dia hendak bersimpuh. Namun, penolakan keras terjadi dan kejadiannya begitu cepat sekejap mata.


Andra tersungkur.


" Jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumahku ini! Jangan pernah!" Papa Dimas yang emosi menendang tangan Andra yang hendak menggapainya.


" Mungkin, mungkin saja jika waktu itu Dinda jujur tentang kehamilan Dinda, dia akan membatalkan perceraian kami." Ucapnya bohong yang hanya semata-mata ingin meredam emosi sang Papa. Dinda masih ingat betul bagaimana dahulu berkali-kali Andra selalu memastikan jika benihnya tak tumbuh di rahim Dinda dan semua itu demi kelancaran proses perceraian mereka.


Andra terenyuh melihat Dinda yang ikut berlutut meski dengan kondisi hamil besar. Dinda membelanya dan meminta maaf juga untuk kesalahan yang tak pernah di lakukanya.


Aku tersadar, kau Dinda...


Kau wanita istimewa. Hatimu sungguh tulus. Salahku yang dulu menyia-nyiakan semua ketulusan mu. Salahku yang selalu mengabaikan mu.


" Bangun Dinda! jangan kau berkorban lagi demi laki-laki tak tau diri ini. Dia telah mempermainkan mu, dia membuang kita semua!" Nada suara yang kian tinggi menggema memenuhi ruang tamu membuat Ayman kaget dan terbangun dan langsung menangis ketakutan.


Dinda seketika beranjak meski susah payah lalu mendekap putranya. Dia memutar pandangan Ayman agar tak melihat kemarahan sang kakek yang meledak-ledak.


" Papa, sudah. Dinda mohon Pa. Dia Ayah Ayman yah, mau bagaimanapun juga Dinda juga salah." Dinda tak tahan lagi dia juga meluapkan semuanya.


Bocah itu masih menangis terkejut juga ketakutan dalam waktu yang bersamaan. Dia tak mengerti apa isi pembicaraan orang-orang dewasa itu.


" Pa, maafkan Andra. Andra ingin memperbaiki semuanya. Andra ingin menebusnya."


" Apa yang ingin kau perbaiki? Semuanya sudah berakhir. Kau lihat cucuku." Papa Dimas menunjuk Ayman yang menangis dalam pelukan Dinda. " Lihat dia, tanpamu dia bisa tumbuh dengan baik. Kau tau apa artinya itu ada atau tidaknya kamu di dunia ini tidak akan berpengaruh terhadap cucuku!"


" Papa hentikan! Mau papa menolak atau bagaimana pun juga, semua itu tak bisa mengganti nasabnya! Darah yang mengalir di tubuh anakku itu darahnya." Tatapan mata Dinda menghunus rapat di jantung Andra membuat Andra senang sekaligus teriris.


" Oh, begini balasmu terhadap Papa? begini bentuk hormatmu terhadap orang tua?" Papa Dimas kecewa. " Papa tidak mengerti Dinda, seharusnya kamu membencinya, seharusnya kamu mendendam padanya!"


Dinda dengan wajah sembabnya. " Apa Papa lupa, aku seperti ini karena dirikan papa? Papa orang baik yang selalu mengajarkanku untuk ikhlas, yang mengajarkanku untuk memaafkan. Lantas sekarang papa?" Dinda tersengal " Biarkan dia pa, dia juga punya hak penuh atas Ayman. Dia ayahnya."


Papa Dimas memijit pangkal hidungnya, kepalanya sungguh terasa mau pecah. " Terserah! ingat Andra aku akan tetap membencimu! Jangan harapkan lagi ridhoku untukmu! CAMKAN ITU!!!"


"pa..." Lagi-lagi Andra mengiba dan tak patah asa.


GUBRAK!!

__ADS_1


Andra tersungkur lagi dan kali ini lebih kencang hingga sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah yang mungkin akibat tendangan Papa Dimas.


" Iman Takut Ummi. Kakek kenapa? "Tanya Ayman dengan matanya yang basah. Tersirat ketakutan yang kental dimatanya.


" Tidak apa-apa Sayang. Ayman ke kamar dulu sama ummi ya." Bujuknnya demi mengalihkan atensi putranya terhadap adegan kekerasan itu.


Dinda beranjak ke kamar.


" Pukul aku Pa, Pukul! Puku l aku jika itu bisa membuat Papa lega dan maafkanku!"


" Diam!! Tak ada hak lagi mulutmu menyebutku dengan sebutan itu. Kau bukan anakku, tak ada darahku dalam nadimu!"


" Pa..." Andra memohon untuk kesekian kali meraih tangan Papa Dimas.


Lelaki mantan pemain bola kelas kabupaten itu pun semakin marah dan melampiaskannya. Kali ini pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah Andra. Tapi tak sekalipun Andra membalasnya.


Tak tahan dengan apa yang terjadi di luar kamar, Dinda memakaikan headphone di telinga Ayman lalu menyalakan kartun kesayangannya dan memberikannya susu. Ayman masih minum melalui dot. Mudah saja atensi bocah kecil itu teralihkan.


Dinda kembali keluar dan kali ini menghadang pukulan Papa Dimas yang hampir saja mengenai pundak Dinda jika tak segera berhenti.


Ya, Dinda meringkuk memeluk Andra yang pasrah. Andra mengaku salah dan pasrah. Dia bersikap jantan kali ini. Cepat atau lambat memang semua ini akan terjadi.


" Dinda!" Papa Dimas mengerang kesal. Bayangannya kembali ke masa lalu masa dimana kedua anaknya itu tumbuh dengan saling melindungi meski terkadang mereka saling usil satu sama lain.


Bergetar hatinya melihat pemandangan itu, papa Dimas memutuskan untuk pergi. entah kemana.


" Mas? Mas..." Dinda mengguncangkan tubuh Andra yang terlihat lemas. Kesadarannya masih ada tapi fokus pandangannya entah kemana, penglihatannya memerah sebab darah mengalir membuat penglihatannya buram dan merah.


Entah apa yang digunakan untuk menghantamnya, yang jelas sekarang kening Andra terluka. Dinda panik juga bingung. Jika tetangga tau, jika tetangga melihat ini. Ini semua akan ramai menjadi bahan pergunjingan. Dinda tak mau itu.


" Ikut aku Mas." Dinda menarik tangan Andra dan membawanya ke kamar Ayman dimana kamar itu kosong.


Dengan cepat dan sigap meski nafasnya terengah-engah Dinda mengobati luka Andra. Andra senang sekarang dalam hatinya sungguh bahagia. Sentuhan hangat mantan istrinya dulu kembali.


Sentuhan hangat adik kecil yang dirindukannya kembali.


Meski ini salah sebab Dinda sekarang tak ada ikatan dengannya karena telah bersuami, tapi sungguh Andra suka di perlakukan begini.


Dia rela meski akan di hajar lagi dan lagi. Baginya sakit fisiknya tak ada apa-apanya dibanding dengan sakit hatinya saat jauh dari mereka semua.


" Sakit Mas?" Tanya Dinda yang ketakutan sebab dari tadi Andra hanya terdiam.


" Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."


" Baik-baik saja apanya. Lihat hidungmu yang mancung itu kini bengkok!" Dinda mendengus kesal sembari memasang plester di hidung Andra. hidungnya pun tak luput dari serangan maut di kakek Ayman itu.


" Ini belum setimpal dibandingkan dengan luka yang telah kuberikan kepada kalian semua."


" Diamlah! " Dinda menekan keras luka di ujung bibir Andra hingga Andra meringis kesakitan. perih lebih pasnya.


" Setelah ini pulanglah Mas, adeganmu berlutut tadi tak akan membuat Papa luluh. Percaya padaku."


" Lalu aku harus apa?" Andra sungguh tak mengerti akan sikap Papanya yang terlampau keras hati.


Dinda merapikan p3k " Tunjukkan saja kesungguhanmu pada Ayman. Cari cara agar Ayman dekat dan nyaman bersamamu dan perlahan tau siapa kamu sebenarnya. Jangan melakukan sesuatu yang mendadak seperti ini. Aku tak mau ada berita di TV tentang Pembunuhan di rumah ini."


" Lama tidak bertemu, mulutmu semakin tajam." Susana mencair dan Andra mengacak kepala Dinda.


Dinda memutar bola matanya malas lalu beranjak. "Ayo ikut aku, kita temui anak kita." Ucapnya tanpa sadar.


" Anak kita? Oh, iya dia memang anak kita kan? ceritakan padaku bagaimana dulu saat dia baru lahir. Apa kesukaannya dan apa yang di bencinya." Antusias Andra menyihirnya menguapkan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia lupa akan yang baru saja di alaminya. Baginya semua itu sepadan.


" Kau belum amnesia kan? Dia duplikatmu, apa yang kau suka dan apa yang kau benci semuanya sama dengan dia. Hanya saja dia tak keras kepala sepertimu." Ucap Dinda malas karena Andra terlalu berantusias.


Andra tersenyum bangga. Dia sangat bahagia meski wajahnya babak belur dan sekujur tubuhnya terasa remuk redam.


" Temui dia, tapi jangan langsung bilang jika kau adalah Ayahnya. Setelah itu segeralah pulang. Bukan aku mengusirmu, tapi suamiku tak sedang berada di rumah. Ini tak baik." Dinda berpesan sembari membukakan pintu kamarnya.


Andra mengangguk paham. Ucapan Dinda secara tak langsung mengusirnya secara tegas.

__ADS_1



__ADS_2