
Resmi sudah mereka bercerai, kini Andra tengah sibuk memeriksa kembali laporan keuangan di kantornya. Pena bertinta hitam itu terus bergerak kesana kemari membuat goresan tegas sebuah paraf.
Satu bulan setelah perceraian, Andra sering duduk termenung di kantornya. Rasanya setengah jiwanya ikut pergi kala keputusan hakim menggema memenuhi ruang sidang yang mana hanya dirinya yang menghadiri. Dinda tak nampak sama sekali hanya akta cerai yang terkirim ke rumahnya dan setelahnya nomor Dinda sudah tidak aktif lagi.
Rumah yang dahulu mereka sewa telah kosong tak berpenghuni lagi. Andra sering berhenti di depan rumah tersebut dan mengamatinya kembali mengulas dan menerawang apa yang dahulu pernah mereka jalani bersama.
Natasya, kini semenjak keputusan sidang perceraian itu dia tidak berada di samping Andra. Alasan kerja keluar negri membuatnya berpisah tempat. Arumi juga dibawa olehnya dengan jasa baby sitter Andra menjadi tenang dan percaya jika kini Natasya benar-benar sudah berubah dan menyayangi putrinya. Oh ayolah tentu saja dia menyayangi sebab itu adalah darah daging Bastian.
Andra pulang ke apartemen miliknya. Dia sedikit terkejut kala ada seorang wanita berpenampilan tomboy berdiri di depan pintu unitnya.
" Deri...? " Kerutan kening nampak jelas kala Andra memperjelas pandangannya. Objek itu mendekat dan menyeringai.
" Hai Ndra, apa kabar? " Terulur tangan Deri yang siap menjabat.
Andra membalasnya dengan uluran tangan. Sedikit tertanam keraguan tapi juga balutan rasa ingin tahu akan tujuan Deri menemuinya. Ini tak biasanya. " Baik. Ada apa kemari tumben? Tau darimana alamatku? "
Tentu saja Derina lebih peka karena dia sangat terobsesi pada Natasya. Keadaan mereka yang sama-sama menyimpang menjadikan Natasya titik fokus satu-satunya. Hal inilah yang membuatnya tau semua tentang Natasya dan itu termasuk Andra didalamnya.
" Ada yang ingin kubicarakan. Ini penting. " Ujarnya dengan suara yang datar.
Andra mengajak masuk Derina dan kini mereka duduk berdua di sofa. Tak ayal, Deri duduk dengan berjigang mengangkat sebelah kakinya. Tak sopan memang jika itu di lakukan oleh wanita normal. Tapi itu Derina, Deri wanita yang berjiwa lelaki.
" Kamu tau dimana Natasya? "
" Dia, bekerja Kan? Ada fashion show katanya di NY dia sudah ijin dan membawa putri kami. " Andra menyodorkan minuman soda kalengan dingin di hadapan Deri. " Minumlah. " Andra membukakan kaleng minuman tersebut.
__ADS_1
Deri Tertawa remeh dan menatap Andra. Andra menjadi bingung akan tingkah Deri yang berubah cepat. " Kamu yakin? " Deri menaikkan sebelah alisnya. " Kita sudah tertipu Andra....! " Ucapnya lalu menenggak minuman bersoda itu sampai tandas. Panas hatinya membuatnya merasa haus yang amat sangat.
Andra masih terdiam tak bergeming. " Apa maksudmu? " Tatapan Andra meminta penjelasan.
" Natasya, wanita yang kau anggap ibu dari anakmu. Dia bukan wanita baik-baik. Dia ******!! " Kata Deri dengan tatapan mata menyalang bagaikan anjing yang siap menggonggong.
Tak terima dengan ucapan Deri yang merendahkan ibu dari anaknya, Andra lantas berdiri dan mencengkeram kerah baju Deri. Andra hapal siapa Deri dan bagaimana bakatnya dalam membela diri mereka dulu berguru pada satu naungan yang sama.
" Jaga bicaramu!!"
" Hahahah....! Kau tidak percaya? Dia wanita busuk! Dia menikahimu secara siri kan kemarin tepat setelah akta ceraimu keluar? Aku tau semuanya Andra.. !!" Deri Tertawa keras, suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan.
" Tapi itu semua dilakukannya karena memang jadwal kerjanya yang padat. Kau jangan asal bicara, dia sangat mencinta ku dan anak kami." Masih Andra membela Natasya sampai-sampai urat lehernya keluar saat berbicara tegas.
" Oh ayolah bukan itu... Dia sengaja ingin membuangmu Andra. Dia membalas dendam padamu. Kau ingat bagaimana kau menceraikannya dulu dan menilai bahwa dia gila? Dia tidak melupakan itu. Dihatinya sedari dulu hanya ada Bastian. Kau tentu sangat familiar dengan nama itu."
" Bastian? " Andra lemas dan terduduk di sofa pikiranya sibuk mencerna setiap perkataan Deri.
" Kau, jangan asal bicara!" Serunya beriring dengan sebuah tinjuan yang mendarat mulus di sudut bibir Deri.
Deri berdiri dan melotot, " Sialan... Berani kau memukulku? " Deri bangkit dan menyalang. Keduanya terlibat baku hantam. Tap perduli dengan gender nyatanya Deri sama kuatnya dengan Andra.
Setelah mereka terkulai lemas barulah Deri mengeluarkan semua bukti yang dimilikinya. " Buka matamu lebar-lebar dan pahami semua ini. " Deri menyerahkan amplop coklat besar kepada Andra.
" Auh...! Dimana kompresmu? Kamu masih sama seperti dulu ganasnya." Keluh Deri yang berjalan mendekati kulkas dan mengompres lebam di bagian wajahnya.
" Jadi sewaktu menikah denganku, ternyata dia juga menikah dengan Bastian secara siri? Di... dia memiliki dua suami? " Andra membaca tanggal pernikahan dari secarik kertas yang di dapat Deri dengan harga yang mahal tentunya.
__ADS_1
" Ehem..." Deri mengangguk. " Bukan itu saja, dia juga menjalin hubungan denganku Ndra." Tutur Deri ringan tanpa ada beban. Seperti tiada dosa.
" Kalian... Kalian Lesbi?"
" Em... em...! " Deri menggeleng. " Natasya jauh lebih gila daripada itu. Dia biseksual. Aku juga merasa tertipu disini. Kau tak usah marah, posisi kita sama."
" Pergi kau sekarang juga sebelum kulempar asbak ini kekepalamu! " Geram Andra setelah mendengar pengakuan Deri.
Sebuah asbak besar dari kristal sudah melayang di udara. Jika saja Deri tak pandai mengelak dan berlari kencang, mungkin saja mereka berdua sudah masuk dalam siaran berita pembunuhan.
Lelaki mana yang mau dipermainkan seperti ini? Dia sungguh merasa direndahkan dan diinjak-injak harga dirinya oleh Natasya.
" Argh....!! " Andra geram, dia mengamuk sejadi-jadinya dan melampiaskan kemarahannya pada benda-benda disekitarnya.
Rumahnya seperti kapal pecah, Dunianya runtuh kala Deri datang menjabarkan segala bukti yang ada. Dibalik semua itu Deri Tertawa puas. Dia senang karena bukan hanya dia yang hancur tapi juga Andra. Teman dalam kehancuran itulah maunya.
...🌷🌷🌷...
...POV Dinda...
Mas, jujur saja aku merindukanmu. Tak atau ataukah aku atau anak kita. Tapi, ku harap kau bahagia disana bersama anak dan istrimu. Aku sudah mendengar kabar pernikahanmu dari Natasya. Akta kita keluar dan belum sampai padaku, kau sudah melakukan ijab qobul dengan wanita lain.
" Nak, sedang apa? " Aku mengusap perutku yang sudah agak membuncit. Kehamilanku menginjak 4 bulan. itu berarti sewaktu kami bercerai aku sudah hamil 2 bulan.
" Kamu anak yang kuat Sayang, kamu anak pintar. Umi sayang sama adek. " Ucapku dengan terus mengusapnya yang masih berada di dalam perutku. Menstimulasi perkembangannya dengan sentuhan lembut yang kuberikan dan komunikasi yang menyenangkan, aku ingin anakku tumbuh dengan baik.
Kututup semua lembar kelam kisah kita, menghapus segala kenangan kita bersama. Sedari kecilku kau yang menjaga, tak pernah terbersit sedikit pun kecurigaan jika kau akan menyakitiku seperti ini.
__ADS_1
Tapi, aku tak pernah menyimpan dendam padamu, bagiku apapun itu kau tetap ayah dari anakku. Berbahagialah Mas. Bahagiamu bersamanya adalah sebuah bukti bahwa aku tak salah mengambil keputusan.