
...🌷🌷🌷...
Viewers puluhan ribu tapi yang kasih love ( favorit ) hanya beberapa insan. Boleh ga Author mengsedih dan berguling-guling sambil nangis?
Aku tuh ya juga capek, kadang juga otak sampe ngebul buat nyusun adegan dan kata. Tapi kalian, dukungannya mana? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Ingin ku teriak! ingin ku menangis!! tapi air mata....
Ga bakal liat juga kalian Hu hu hu hu!!
Segitu ajalah curcolku. Makasih!
Seharian, Dinda mendiamkan Andra. Andra mati kutu, dia kehabisan akal untuk merayu istrinya. Andra melihat jam tangannya, dilihatnya sudah menunjukkan pukul 13:00 sudah jam makan siang dan perutnya mulai keroncongan.
Apapun yang ditanyakannya dari tadi tak mendapatkan jawaban dari istrinya.
Masih dengan bantuan satu tongkat yang membantu menopang berat tubuhnya dia mendekat pada Dinda.
" Sayang, Apa kamu tidak lapar?" Andra yang tau bila sedari pagi Dinda sama sekali tak keluar kamar ataupun memasukkan makanan kedalam mulutnya. Segala apa yang Andra belikan untuknya masih utuh tanpa tersentuh di meja.
" Sayang...." Andra memeluknya dari belakang. Dinda yang masih marah menyimpan rasa dongkol di hatinya masih terdiam bak patung.
Andra takut saja jika istrinya akan sakit jika mengabaikan jam makannya. " Nanti kau sakit, aku takut kau sakit. Makan yuk?" Lagi Andra membujuknya.
Dinda mendengus kesal lalu mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.
* Aku puasa!!!*
Andra yang membacanya seketika melotot dan melepaskan pelukannya. Dia siap dengan segala protesnya.
" Kau puasa? Hari ini? " Raut ketidak sukaan dari Andra sudah terbit.
Pengantin baru yang seharusnya bermesraan dan bermanja-manja malah berpuasa? itu artinya dia tak bisa melakukan apapun bersama. Makan, jalan-jalan, bermesraan. Ahhh...., semuanya hanya angan.
" Untuk puasa sunah kau harus minta ijin dari suamimu kan? Dan aku tidak mengijinkannya. Aku tidak ridho! Sekarang juga aku akan membuat puasamu batal." Ancam Andra yang menjadi kekanak-kanakan.
Dinda tak tinggal diam, dia yang masih marah level akut kembali mengetikkan kata.
* Jika kau melakukan itu, berarti kau itu termasuk golongan syaiton!!! dzalim!!!*
Andra semakin melotot tak percaya dan mengacak rambutnya frustasi. Di usapnya wajahnya kasar.
" Astaga, Adinda Pramudya!!" Geram Andra yang kemudian terduduk di tepi ranjang.
Andra sungguh kehabisan akal. Ancaman Dinda sungguh halus, tak terasa tapi mematikan membuat Andra tak berkutik dibuatnya.
" Kau benar-benar marah heum?" Tanyanya sembari berkacak pinggang.
Dinda tak melihatnya barang sedetikpun. Dinda hanya menatap pemandangan keluar jendela.
" Oke, iya aku salah. Tapi ini caraku agar kau mau rujuk. Jika kau tau ingatanku sudah pulih dari beberapa hari yang lalu, sudah pasti kau akan mengusirku dan tak mau lagi merawatku. Sayang, aku hanya ingin kita bersama. Maafkan aku ya?" Andra membujuk Dinda dengan suaranya yang lembut.
__ADS_1
Dinda tak terpengaruh. Tak ber- efek sama sekali.
" Jangan marah ya?" Andra menangkupkan kedua tangannya memohon dan memeluk Dinda dari depan.
Karena hal itu Andra sampai melupakan peranan tongkatnya dalam permainan ini yang dimana keseimbangannya juga sudah membaik. Andra sudah bisa berjalan dengan baik meski masih sedikit pincang. Hanya saja kan selama ini dia selalu mengeluh, mengaduh sakit akan kakinya. Jika tiba-tiba sembuh, siapa yang tak curiga? tapi kali ini dia malah lupa.
Hemhh, sungguh tercium aroma pertengkaran di sini.
* Profesional lah dalam berakting, kau melupakan perlengkapanmu. Jangan lupakan tongkatmu!!* Ketik Dinda di ponselnya lalu menunjukkannya pada Andra.
" Kenapa? kau anggap kakiku yang sakit juga bohong? ini masih sakit, hanya saja selama ini aku berusaha keras untuk sembuh. Aku berlatih keras setiap malamnya. Aku berfikir alasanmu menolakku dulu adalah karena keadaanku Dinda! Aku menahan sakit ini demi kau!!" Andra berbicara dengan berapi-api. Dia meluapkan segala kemarahannya.
Kondisi berbalik dan kini justru Andra yang sedari tadi melunak ikut mengeras dan juga ikut-ikutan marah.
" Percuma saja pengorbananku menahan segala sakit ini. Baik, jika kau ingin kita saling diam. Aku tidak akan merengek lagi. Akan kuturuti kemauan mu!!" Andra berjalan dengan pincang dan meninggalkan kamarnya.
" Kenapa dia yang marah? yang di bohongi itu aku, bukan dia. Aku yang berhak marah disini. Bukan dia." Gumam Dinda bermonolog.
Baru saja Dinda mendaratkan pantatnya di sofa, Andra sudah kembali masuk dan menutup pintu kamar dengan kasar.
" Bereskan bajumu! Tak ada gunanya juga kita disini. Buang-buang uang saja, buang buang waktu!! Terserah kau mau ikut pulang atau tidak." Kata Andra kasar dan mulai menenteng tasnya dan kembali memakai tongkatnya.
Andra berjalan dengan pincang yang sebenarnya dia sungguh kesakitan. Memang kakinya belum sembuh benar dan membutuhkan waktu untuk recovery.
Dinda yang masih marah pun sama, dia langsung membereskan bajunya dengan asal-asalan tak lupa dengan bibirnya yang manyun dan setia mendumel tanpa henti.
Sepanjang perjalanan, mereka tak saling bicara. Keduanya enggan melihat satu sama lain. Andra merasa tak dihargai segala perjuangannya, sedangkan Dinda merasa hanya di bohongi dan menjadi dungu dalam situasi ini.
...🌷🌷🌷...
" Iya Pa, besok Andra sudah harus kerja. Besok Papa bisa beristirahat di rumah. Bayu baru saja menghubungi Andra. Ada klien lama kami yang hanya mau bertemu denganku untuk satu peluncuran produk." Bohong Andra.
Tapi Papa Dimas tentu saja tau, dia mencium adanya keanehan dengan mimik muka kedua anaknya ini.
Tak mau bertambah runyam, Papa Dimas hanya diam.
" Anak-anak dimana pa?" Tanya Dinda yang kini mulai mengeluarkan suaranya Setelah seharian terdiam.
Papa Dimas dengan kaku menjawab. " Emm.... apa kamu lupa? Bibi Nur membawa mereka ke Bogor ? Dua hari lagi baru pulang kan?" Papa Dimas mengingatkan Dinda.
" Oh iya, maaf aku lupa Pa. Kami beristirahat dulu ya Pa." Pamit Dinda yang kemudian masuk kedalam kamarnya.
" Aku juga pa." Andra menyusul.
Kasihan Papa Dimas, dia terkena imbas dari kedua pengantin baru yang masih berseteru.
Masuk kedalam kamarnya, Andra langsung mengganti bajunya dengan baju kerja. Dinda membelo dan terkejut.
" Kau mau kemana Mas?" Tanya Dinda yang memegang tangan Andra yang sedang mengancingkan bajunya. " Kita baru sampai, istirahatlah." Kata Dinda yang sebenarnya dia juga tak tega melihat sedari tadi Andra yang berjalan dengan pincang kesana-kemari memakai segala perlengkapannya.
Tak melihat wajah Dinda, Andra lebih memilih untuk menyisir rambutnya. " Apa pedulimu? bukanya kau tak percaya padaku? Percuma juga aku berada di dekatmu jika tidak kau anggap. Lebih baik pergi jauh kan? agar kau senang'." Sarkas Andra, tepat sasaran dan membuat Dinda kini tersudut.
Ya, walaupun marah. Tapi tidak sampai seperti itu juga kemauan Dinda. Dinda tak mau saja jika dia di bohongi, tapi dia juga tak mau jika membuat suaminya pergi meninggalkan rumah dalam keadaan marah.
__ADS_1
" Bukan seperti itu!" Pekik Dinda yang kemudian berdiri di hadapan Andra dan merebut sisirnya. " Aku hanya tidak suka saja kau berbohong."
Andra menyahuti dan merebut kembali sisirnya. " Kalau aku tidak berbohong, apa kau akan mau rujuk? Kalau aku tidak berusaha keras untuk pulih apa kau mau denganku? Itu.... itu yang selalu memenuhi kepalaku! Asal kau tau itu."
Dinda menunduk. Perasaan apa ini? perasaan bersalah, marah, tersudut, senang karena di merasa diperjuangkan. Entahlah dengan apa harus menyebutnya tapi Dinda sekarang justru tersipu dan menundukkan pipi merahnya agar Andra tak melihatnya.
Tak mau saja dia jika tiba-tiba Andra besar kepala karena melihat perubahan mimik wajahnya.
" Sekarang kutanya padamu, apa maumu? Aku sudah jujur mengatakan semuanya. Aku berbohong bukan merugikan siapapun! Aku berbohong demi anakku! Aku.... aku hanya tak ingin anakku tumbuh berjauhan dari orang tuanya! apa kau paham? Aku ingin iman tidak menjadi sepertiku yang merasa terbuang!" Afeksi meledak dan Andra menitikan air matanya. Menyebutkan bahwa dirinya adalah anak yang terbuang, secara tidak sengaja menorehkan kembali luka lamanya.
Dinda mengangguk beberapa kali dia paham sekarang apa tujuan Andra terus memintanya untuk rujuk.
" Minggir, biarkan aku pergi biar kau senang." Andra menggeser perlahan tubuh Dinda. Tapi Dinda tetap diam saja.
" Kau mau pergi? Ok, silahkan pergi! Tapi nanti setelah makan. Setidaknya jangan pergi dengan perut kosong. " Kata Dinda yang sungguh semakin membuat Andra dongkol.
Dinda meninggalkan Andra dan berjalan ke dapur untuk membuatkannya makan meski jam makan siang sudah berubah menjadi jam makan malam.
Anehnya Andra, dalam mode marah masih saja menuruti kemauan wanitanya. Kini dia tengah duduk di meja makan dengan memakan masakan Dinda dan tetap dengan mengenakan baju kerja. Papa Dimas sampai melongo tak percaya.
" Kau akan berangkat malam ini?" Tanyanya melihat Andra yang makan tanpa selera.
" Iya Pa, Setelah selesai makan." Jawab Andra datar.
" Malam-malam memang kantormu buka?" Tanya Papa Dimas lagi yang bergantian menatap Dinda.
Andra menggeleng.
" Lalu, kenapa berangkat sekarang? besok pagi kan bisa?" Papa Dimas sungguh tak tau jika posisinya kini berada di ujung tanduk. Dia sedang terancam tapi justru malah banyak bicara.
" Lebih baik begitu Pa, daripada di rumah tapi tak di anggap oleh istri sendiri." Ketus Andra menatap tajam Dinda.
Papa Dimas menepuk jidatnya. " Astaga....!" Gumamnya dan melihat anak-anaknya bergantian dengan berjuta makna.
" Eh, ralat! Bukan begitu ya Mas. Bukan aku tidak menganggapmu! Aku kesal denganmu kau tau! kau membohongiku!" Dinda mengungkit lagi. Sepertinya tak akan ada ujungnya.
" Lalu apa? Apa kalau kau tidak menganggapku? Semuanya sudah berlalu dan aku sudah mengakui, sudah juga minta maaf Padamu lalu apa lagi? Apa kurangnya aku? Apa karena aku pincang?" Meleber kemana-mana dan menyinggung soal fisik tentu saja membuat Dinda juga semakin tersulut. Api yang hampir padam, kini seperti tersiram bensin, minyak tanah, Pertamax, dan pertalit. Semuanya membaur dan membuat kobaran besar.
" Aku tidak memandang fisikmu! aku hanya tidak suka saja dengan caramu!!" Dinda menyahuti.
Papa Dimas hanya terdiam melihat kanan dan kirinya yang saling bersahutan memekakkan telinga dan membuat kepalanya berdenyut. Lelaki tua itu kini tengah menuai imbasnya.
" Diam!!! Tidak anak tidak menantu sama saja!! Kalian semuanya pergi dari rumah Papa!!" Bentak Papa Dimas kuat kuat sampai keduanya terdiam.
Andra terdiam tapi Dinda lantas bercakap. " Papa juga mengusirku? mengusir anak semata wayangmu yang cantik dan aduhai ini?" Dinda kembali duduk Setelah sebelumnya dia sampai berdiri mengimbangi Andra yang juga berdiri dan mereka berdebat bersama.
" Cih! cantik? Aduhai?? " Andra menatap remeh Dinda dan berdecih.
" Iya, kenapa? sakit kupingku kalau aku bilang seperti itu? fakta kan? kau saja sampai tergila-gila padaku, akui saja!!" Gantian Dinda memandang remeh Andra.
Ingin mengelak, tapi tepat sasaran. Andra hanya menahan kekesalannya dan melonggarkan dasinya yang tadinya sudah terpasang rapi dan menawan.
Cih,! percaya diri sekali dia. Ketus Andra kesal.
__ADS_1