Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
24. Cerita Dengan Ar dan Roby


__ADS_3

"Permisi Tuan dan Nyonya. Mohon Izin untuk memeriksa keadaan Nona Jesica." Sapa Dokter Dina saat memasuki ruangan Jesica.


"Iya. Silakan di periksa putri Saya." Jawab Mama Nita, dengan raut wajah yang datar. Keluarga Mahendra bila bertemu dengan orang baru memanglah seperti itu. Tapi bila sudah kenal lama, sebenarnya keluarga Mahendra adalah keluarga yang tidak kenal bulu.


Papa Brian dan Mama Nita kini sedang duduk di sofa ruang rawat Jesica. Mereka berdua tiba di Rumah Sakit Wirautama dengan di antar oleh supir beberapa waktu yang lalu. Awalnya mereka sangat panik saat mendapat kabar dari Saka bahwa Jesica pingsan. Tapi setelah melihat keadaan Jesica secara langsung Papa Brian dan Mama Nita bisa bernapas dengan lega. Karena kondisinya tidak separah yang di bayangkan.


Dokter Dina berjalan kearah Jesica yang sedang makan di suapi oleh Saka.


"Selamat siang Nona Jesica dan Tuan Saka. Untuk Nona Jesica mari ikut Saya untuk periksa!" Dokter itu berbicara dengan sebaik mungkin, walau tubuhnya bergetar sangat hebat berhadapan dengan Saka dan Jesica yang terkenal dengan kedinginan terhadap orang asing. Atau kalau pemberitaan di TV biasanya di juluki.


'The King and Queen of cold CEO'


(Raja dan Ratunya CEO dingin)


Bukan hanya karena itu, Dokter Dina bergetar hebat karena mengetahui fakta yang sangat besar dari Jesica. Dan fakta itulah yang menyebabkan Jesica pingsan.


Dan untung saja Dokter Dina sudah membicarakan masalah itu dengan Sekertaris Ar dan juga Sekretaris Roby. Dari saran yang di berikan oleh Ar dan juga Roby, Dokter Dina di beri tugas untuk memberitahukan fakta besar itu pada keluarga Mahendra bagaimanapun caranya.


Kejadian beberapa waktu yang lalu.


"By cari Dokter yang menangani Jesica ke ruangannya!" Perintah Saka pada Roby saat keluar ruangan.


"Baik Tuan." Roby berdiri dari posisi awal yang duduk di kursi tunggu Rumah Sakit diikuti oleh Ar. Setelah mendengar jawaban dari Roby Saka kembali masuk ke ruangan rawat Jesica.


"Bang, temenin Roby yuk." Ajak Roby pada Ar.


"Nanti kalau Tuan Saka dan Nona Jesica butuh bantuan gimana?" Jawab Ar ragu.


"Bentar aja." Bujuk Roby.

__ADS_1


"Yaudah, yuk!" Ar menerima ajakan Roby.


Ar dan Roby sudah layaknya Kakak beradik. Selain karena Mereka bekerja untuk sepasang saudara yaitu Saka dan Jesica. Faktor lainnya adalah Roby termasuk orang yang tidak kenal bulu juga dulu waktu masih sekolah SMP. Roby adalah teman baik ke dua Ar, setelah Saka. Sewaktu masih membantu Ibunya mencuci piring di Kantin Sekolah elite tempat Saka dan Roby besekolah. Dan karena pertemuan dengan Roby yang sudah sangat lama membuatnya mudah untuk menyesuaikan diri. Sewaktu sedang berbicara dengan Roby Ar terkesan bukan orang yang kaku, tapi saat berbicara dengan Saka Ar menjadi sangat kaku. Itu di sebabkan karena Ar ingin bekerja secara profesional. Dulu sebelum Ar bekerja menjadi Sekretaris dan Asisten pribadi Saka, Ar bertingkah sama seperti saat bersama Roby. Tapi setelah statusnya bekerja dengan Saka, Ar merubah semua kebiasaan buruknya terhadap Saka. Sedangkan saat bersama dengan Roby Ar bisa kembali lues, malahan Roby memanggil Ar dengan panggilan 'Bang' karena Ar lebih tua dua tahun. Keakraban itu semua didasari karena status Mereka yang sama-sama menjadi pekerja keluarga Mahendra.


Saat Ar dan Roby sudah sampai di depan ruangan Dokter Dina, kepribadian asli keduanya kembali lagi. Yaitu memasabg wajah datar.


Tok, tok, tok. Ar mengetuk pintu.


"Silakan masuk." Jawab Dokter Dina dari dalam ruangan.


Ar dan Roby masuk ke dalam.


Deg,


Jantung Dokter Dina berdetak dua kali lebih cepat saat melihat diapa yang datang.


Ya tuhan. Tadi aku menghadapi satu sekertaris dingin saja ancamannya sudah membuat jantung Ku hampir berhenti berdetak. Sekarang Aku di hadapkan lagi dengan sekertaris yang mengancam Ku itu. Malah beli satu gratis satu lagi ni Sekertaris. Satu aja udah nyerah. lah di kasih dua model Sekertaris yang beginian.


"Sebentar. Saya ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting dengan anda berdua." Walaupun tubuh Dokter Dina bergetar. Dia memberanikan diri untuk menghentikan Ar dan Roby yang sudah berbalik badan hendak keluar ruangan.


"Jangan membuang-buang waktu Kami untuk mendengarkan omonganmu yang tidak penting itu. Ayo cepat ikut." Ucap Roby ketus.


Apa yang Dokter kudet ini ingin bicarakan. Kenapa raut wajahnya tegang sekali. Dan lihatlah itu, tubuhnya bergetar hanya karena memberhentiksn Ku dan Bang Ar.


"Cepat bicara. Jangan membuat Ku kecewa karena omongan yang Kau berikan tidak berkualitas." Ar penasaran dengan apa yang akan di bicarakan Dokter Dina. Maka dari itu Dia memberi kesempatan Dokter Dina untuk berbicara.


"Kalau beritamu itu tidak berkualitas bagi Kami, siap-siap besok mencari Rumah Sakit baru untuk praktek kedokteran Mu itu." Sambung Roby, melemparkan bom kepada Dokter yang umurnya seumuran dengan Jesica itu.


Cih, menyebalkan sekali.

__ADS_1


"Saya bisa menjamin bahwa sesuatu yang akan Saya bicarakan ini adalah berita yang sangat berkualitas dan sangat penting bagi Kalian berdua. Maka dari itu silakan duduk terlebih dahulu." Dokter Dina berucap sembari mempersilakan Ar dan Roby duduk di kursi Pasien.


Lalu Ar dan Roby duduk.


"Anda yakin dengan yang Anda ucapkan tadi? Jangan sampai membuat berita bohong." Roby terkejut mendengar sesuatu yang di ucapkan oleh Dokter Dina.


"Saya yakin. Dan Saya bisa membuktikan ucapan Saya." Dokter Dina menjawab dengan penuh keyakinan.


"Itu tidak mungkin." Jawab Roby masih belum percaya. Sedangkan Ar terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius hingga tidak menanggapi cerita Dokter Dina.


"Sudah Saya bilang. Bahwa Saya bisa membuktikan ucapan Saya." Ucap Dokter Dina meyakinkan Roby.


"By, itu mungkin terjadi. Karena ada suatu kejadian sewaktu di Bali yang Kamu belum ketahui." Ar buka suara. Dia menghentikan perdebatan antara Roby dan Dokter Dina.


Lalu Ar menceritakan semua yang terjadi sewaktu keluarga Mahendra berlibur ke Bali kepada Roby dan Dokter Dina. Cerita yang keluar dari mulut Ar sungguh membuat Roby terkejut. Sedangkan Dokter Dina terbengong saat mendengar cerita Jesica dari mulur Ar.


"Dokter Dina, bila sampai cerita ini tersebar ke publik, Saya akan mencari Anda ke manapun Kau pergi. Walaupun Kau pergi ke sarang tawon sekalipun. Karena tidak ada orang luar yang tahu selain Kau." Roby memperingati Dokter Dina dengan nada bicara penuh penekanan.


"Benar yang Roby katakan. Hanya Kau orang luar yang tahu tentang masalah ini. Bila sampai ini tersebar Kau tidak akan bisa kabur dari Kami berdua." Sambung Ar memperingati Dokter Dina.


"Saya berjanji tidak akan menceritakan ini kepada siapapun." Jawab Dokter Dina meyakinkan Ar dan Roby.


"Saya pegang janji Anda. Sekarang ayo ikut Kami ke ruangan Nona Jesica. Periksa Nona Jesica dengan baik, sekaligus buktikan ucapan anda barusan kepada Kami. Dan satu lagi, bila sampai yang Kau bicarakan tadi adalah kebenarannya, bicarakan semua itu di hadapan semua anggota keluarga Mahendra. Apapun cara yang Kau gunakan untuk memberitahukan kabar itu, Kami tidak bertanggung jawab." Jelas Ar kepada Dokter Dina.


Untuk sekarang lebih baik menjawab secara singkat. Dari pada Aku berurusan lebih lama dengan orang-orang ini. Untuk urusan memberi tahu kabar ini ke anggota keluarga Mahendra di pikir nanti saja. Dina pasti Kamu bisa.


"Baik." Jawab Dokter Dina Singkat.


Lalu Ar, Roby, dan Dokter Dina keluar ruangan, menuju ruang Jesica di rawat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2