Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 64. persalinan.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


...POV Dinda....


Rasa nyeri dan sakit ini sering datang dan pergi dengan sesuka hati. Aku pun tidak tahu dari buku yang aku baca, dari pengalaman yang aku dapat, semua ini adalah normal jika usia kandunganku menginjak tua. Ya..., usia kandungan ku kini memang sudah menginjak 9 bulan hanya tinggal menghitung hari maka aku akan melahirkan Putri Mas Kean dunia ini.


Tapi aku hanya diam, aku merahasiakan rasa sakit ini dari papa aku tidak ingin Papa panik atau semacamnya Aku ingin semuanya santai dan berjalan dengan mudahnya.


Belajar dari masa persalinan Ayman di mana Papa sangat panik bahkan dia membawaku ke rumah sakit 2 hari sebelum proses persalinan berjalan secara normal, Aku tidak mau itu terulang kembali.


Dan pagi ini kulihat putraku Ayman dia begitu tampan dengan setelan celana hitam dan kemeja yang berwarna biru muda. Ya..., itu adalah baju kesukaannya saat ini dia tidak tahu saja jika baju itu yang diberikan oleh Ayahnya sendiri. Mas Andra membelikan baju itu saat dia pulang yang terakhir kali sebelum aku mengusirnya secara halus.


" Wah....! tampan sekali anak Ummi mau ke mana Sayang? " Tanyaku dengan mata membelalak seolah aku takjub dengan dia, tapi harus aku akui memang anakku itu sangatlah tampan.


Ayman putraku yang narsis itu dia suka sekali jika ada orang lain menyebutnya tampan. Terlebih yang memujinya adalah aku, ibunya dia akan tersenyum dan tersipu malu. Itu sungguh lucu, itu membuatku semakin gemas padanya. Dia berharap aku segera mencium pipinya dan itu selalu ku lakukan untuk membuatnya bahagia.


" Iman mau beli mainan balu...! " ujarnya dengan penuh rasa bangga dan tertawa saat aku mencium pipinya.


Y, a mainan baru adalah sebuah tebusan untuk hari kemarin di mana dia merengek tidak mengijinkan Mas Bayu untuk pulang. Kami menjanjikan akan membelikan mainan baru jika dia mengijinkan Mas Bayu untuk pulang. Bukankah itu sepadan?


"Kamu tidak ikut? tidak ingin membeli sesuatu yang lain untuk calon anakmu ini? " tanya ayah padaku dan kemudian matanya beralih menuju pada perutku yang besar.


Aku hanya menggeleng menyembunyikan rasa nyeri yang saat ini tengah kurasakan. Aku tidak ingin saja terjadi kepanikan di jalan nanti saat tiba-tiba aku meringis menahan sakit maka Ayah akan panik panik panik nya.


Sesuai dari buku petunjuk yang aku baca tanda-tanda persalinan salah satunya adalah mengeluarkan bercak darah dan sampai saat ini aku belum mengeluarkan tanda itu. Jadi, aku masih merasa tenang dan aman mungkin untuk beberapa hari ke depan rasa nyeri ini akan sering timbul dan datang.


Setelah berpamitan padaku mereka lantas pergi ya Ayman begitu senang, kata-kata mainan baru itu mampu menghipnotis nya dan melupakan segala kesedihannya.


Sesaat setelah mereka pergi, yang kulakukan hanyalah berbaring di kamar dengan posisi miring ke kiri. Bidan yang memeriksa ku, menganjurkan hal itu.


Tanpa sepengetahuan Papa, aku telah berkomunikasi dengannya. Ini semua untuk mengurai kecemasanku. Belajar dari pengalaman ku saat persalinan pertama, aku tahu akan hal ini. Setidaknya sikap santai ibu akan membantu proses persalinan berjalan dengan lancar nantinya.


Terdengar suara pintu terketuk. Dengan susah payah menahan nyeri yang menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepalaku, membuatku sesekali meringis kesakitan.


Ini bukan nyeri lagi, tapi sudah berpindah pada level sakit. Kuingat, ini belum tanggalnya.


Ku raih gagang pintu lalu membukanya. Nampak sosok yang ku usir beberapa bulan lalu kini tersenyum menyapaku dengan ramahnya.


" Dinda... " Sapanya.


aku membalas menyapanya dan tersenyum ramah kepadanya " Mas? "


Jujur saja aku sedikit terkejut sekarang, mendapati dia tengah berdiri tepat di hadapanku. Dia tidak memberitahu sebelum kedatangannya ini, pesan pun tidak dia kirimkan aku hanya bingung bagaimana mengatakannya mungkin saja ini akan membuatnya kecewa. Saat dia datang kemari ternyata putranya tengah keluar bersama Papa.

__ADS_1


" Oh, Mas! Kenapa tidak bilang juga akan kemari? Baru saja Ayman pergi bersama Papa."


Tak dapat disembunyikan nya lagi raut wajahnya yang semula berbinar kini meredup perlahan seiring dengan frasaku yang mulai berakhir.


" Benarkah?" kalimatnya terhenti dengan tatapan matanya yang menunduk barang sesaat, " Oh,maafkan aku yang kemari tanpa memberitahumu. Aku begitu senang kemarin saat kau mengirimkan pesan padaku jika aku sudah bisa mengunjunginya lagi." Dia berucap dengan tangannya yang mengusap tengkuknya yang kurasa tengkuknya itu sama sekali tidak gatal itu hanyalah caranya untuk mengurai kegugupannya saat ini.


Oh tidak nak, jangan sekarang. Kumohon jangan sekarang. Jangan di hadapannya. sesaat lagi ya, oke! nanti sebentar lagi tunggu Kakak dan kakekmu pulang.


Aku berbicara dalam hatiku saat ini aku merasakan sesuatu yang lain aku merasakan jika putriku ini ingin segera keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.


Rasa sakit ini naik berkali-kali lipat hingga membuat tanganku mencengkeram kuat kena pintu yang masih ku pegang kami saat ini masih berdiri di hadapan dengan Mas Andra yang berada di teras rumah dan aku yang berada di dalam rumah.


" Kamu sakit? " Tanyanya dengan raut wajah cemas dia sungguh terlihat cemas bahkan sampai mengerutkan keningnya.


" Iya! ini sangat sakit Aku sudah tidak bisa menahan nya lagi sepertinya aku akan segera melahirkan." Jawabku dengan suara yang tinggi dan sedikit bergetar juga dengan tanganku yang ngasih mencengkram kuat knop pintu.


tak terduga sungguh tak terduga reaksinya begitu hebat dia sangat panik bahkan berlarian sambil menjambak rambutnya sendiri ini lah Mas Andre Yang kulihat di hadapanku saat ini dia bingung dia takut dia panik.


" Ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit, Eoh! jangan tunggu apa-apa lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." katanya dengan segera menarikku perlahan lalu mengunci pintu dan menggiringku menuju ke dalam mobilnya Dia meninggalkan barang-barang yang tadinya dia bawa untuk aiman dia meletakkannya di teras begitu saja dengan sembarangan.


Tak dipedulikannya lagi celotehanku yang menolak. Bukan maksud ingin menolak niat baiknya, Aku hanya ingin mengambil beberapa barangku yang tertinggal di dalam rumah seperti ponsel dan juga peralatan bersalin ku yang lain. Baju-baju bayi yang telah ku persiapkan juga baju ganti ku.


Dia berusaha tetap fokus meski ku tahu sekali betapa paniknya dia saat ini.


" Tenang, tarik nafas. Tenang, Jangan banyak bicara kau hanya perlu tarik nafas. " Ujarnya yang menginterupsi ku seolah Dia sangat ahli dalam hal ini.


" Mas~~~ ini sakit." Rintihku kepadanya tanpa sadar, bibirku berucap begitu saja mengeluh kepadanya. Entah mengapa aku merasa percaya padanya, aku merasa aku bisa bersandar kepadanya. Mungkinkah semua ini hanya rasa terpaksa karena memang tidak ada orang lain lagi disini hanya dia yang bisa kuandalkan?


"Tarik nafas buang perlahan buat dirimu setenang mungkin." katanya yang berusaha menenangkanku berusaha memberikan kenyamanan padaku pada hal apapun yang dilakukan itu sama sekali tidak bisa mengurangi rasa sakitku.


" Tangan, tangan, mana tangan! " Teriaku yang sudah tidak bisa lagi mengontrol apa yang kurasakan. Jujur saja aku malu, tapi di sisi lain Aku sangat butuh hal ini aku butuh mengeluarkan sesuatu. Aku ingin mencengkeram sesuatu, Aku ingin meremasnya dan menancapkan kuku pada benda tersebut.


Dia kebingungan bahkan dia celingak-celinguk lihat kesana kemari mencari tangan. Yang ku tahu sekarang tangannya dua-duanya sedang sibuk mengemudi.


" Tangan!!" Teriaku lagi penuh dengan afeksi sorot mataku begitu tajam menatapnya aku tahu sekarang aku sedang terbawa suasana. Rasa sakit yang memenuhi tubuhku ini membuatku menatapnya seperti itu.


Dia menjulurkan tangannya lalu aku mencengkram kuat mungkin ku ku ku sekarang sudah menancap aku berubah menjadi Wolverine sekarang.


...🌷🌷🌷...


...POV Author....


" Aduh, aduh! ini sakit. tolong Dinda, jangan seperti ini. Ini sakit!" Andra mengeluh mengaduh kesakitan karena cengkraman tangan Rinda yang begitu kuat pada pergelangan tangannya sungguh Dinda sekarang terlihat sangat mengerikan dia seperti manusia serigala jadi-jadian.


" Diam! aku lebih sakit daripada ini kau tahu! " Dida menyahuti penuh dengan emosi yang menggebu Dia sangat kesal akan penolakan Andra yang mengeluh kesakitan.

__ADS_1


" Iya, Iya, aku tahu. Tapi tolong, jangan seperti ini ini sangat sakit, bolehkah aku hanya mengusap perut mu saja untuk mengurangi rasa sakitnya?" Tatapan Andra begitu sayu dan sendu. Sepertinya dia berfikir pada kilasan masa lalu, seperti inilah mungkin kira-kira ketika mantan istrinya ini, melahirkan putranya ke dunia menahan sakit, menahan air mata, bercucuran peluh dan keringat serta tenaga yang terkuras habis. Mempertaruhkan nyawanya demi Putra mereka.


" Sabar kumohon bersabarlah sebentar lagi kita sampai." Kata Andra yang berusaha bersikap tenang meski saat ini kepanikan telah menyerangnya hingga ke ujung kaki.


Tanpa sadar dan terbawa suasana, tangan Andra mengulur, tangannya mengusap perlahan perut besar Dinda. Dan, reaksinya sungguh mengejutkan. Rasa sakit itu berangsur berkurang, Dinda tidak bisa bernafas dengan lebih teratur sekarang. Dia merasakan kenyamanan dan ketenangan mungkin ada sesuatu yang dia rindukan dari sosok almarhum suaminya. Ya, dia ingin dalam proses persalinannya ditemani oleh Keanu dan sekarang Yang ada dihadapannya hanyalah sosok Andra. Mungkin secuil perhatian ini bisa menggantikan apa yang selama ini dia rindukan.


" Mas pecah! " Kata Dinda dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya dan tatapannya, dia membelo, dia tertegun menatap kearah Andra.


" Apanya yang pecah Dinda? tidak ada yang pecah ban mobilku baik-baik saja. Rasanya masih sama seperti kemarin." kata Andra menyahuti setelah merasakan jika mobil yang ditungganginya dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


" Bukan ban mobil mu. Siapa yang mengkhawatirkan ban mobilmu? ketubanku pecah, ketubaaaaaan!!" Dinda memekik keras tepat ditelinga Andra dengan 1 tangannya yang menjambak rambut Andra kuat-kuat.


sungguh adegan ini lebih mirip dengan adegan kekerasan di dalam rumah tangga di mana Dinda sebagai pelakunya. sementara Andra dia hanya pasrah saja dia memaklumi segala apapun yang Dinda lakukan demi mengurangi rasa sakitnya.


" Iya iya, ampun! ampun sayang! " Celetuk Andra tanpa sengaja yang menyebut Dinda dengan Panggilan sayang. Namun itu pun tidak berpengaruh apapun kepada Dinda yang saat ini mungkin telinganya sudah tuli karena menahan rasa sakit di area perutnya.


" Cepat Apa kau ingin aku melahirkan disini? Kau ingin aku melahirkan di mobil mu yang bagus ini? Kau ingin mobilmu kotor? Kau ingin mobil mau bau amis darah? Cepaaaaat!!!" lagi-lagi omelan Dinda tepat mengenai sasaran, karena dia berbicara keras tepat di telinga Andra dengan menjambak lagi rambut Andra. Berkali-kali luapan emosi itu terjadi dan mungkin sekarang Andra sudah ingin melambaikan tangannya ke kamera?


Tidak! itu bukan gaya Andra. Nampaknya, sekarang andra menikmati rasa sakit itu. Setidaknya dengan tindakan Dinda yang seperti itu, dia kembali bisa lebih dekat dengan adik juga sekaligus Mantan istrinya ini yang merupakan ibu dari Putra tersayangnya.


lakukanlah dilakukanlah apapun yang ingin kau lakukan bila itu semua mampu mengurangi rasa sakitmu lakukanlah Aku siap menjadi bahan pelampiasanmu. Kata Andra dalam hatinya dia banyak berkata-kata meluapkan segala kesenangannya saat ini. Tak apa walaupun nantinya akan banyak bekas cakaran di pergelangan tangannya.


...🌷🌷🌷...


Di rumah sakit.


" Keluarga Ibu Adinda!!" Seru sang perawat di bagian resepsionis memanggil anda yang sedari tadi gelisah berjalan kesana kemari menunggu persalinan Dinda selesai.


" Iya Sus saya, saya kakaknya." Andra menyahuti dan segera berjalan dengan tergopoh-gopoh menghampiri si perawat.


" Bapak boleh masuk, bayi sudah boleh diadzani sekarang bapak bisa mengajaninya sekarang." kata si perawat dengan sumringah dia sangat senang melihat proses persalinan yang berjalan dengan cepat dan lancar.


" iya sus Terimakasih." kata Andra yang meluapkan kebahagiaannya dengan sumringah seolah banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam dadanya dan menggelitik nya perlahan membuatnya tertawa kegirangan. seakan-akan dia adalah ayah kandung dari si bayi yang baru saja membuka mata melihat dunia itu.


Bercucuran air mata saat Andra menggendong bayi mungil yang masih berkulit merah itu. Ya, bayi mungil itu begitu cantik dia mewarisi wajah Keanu. Seutuhnya Keanu. Andra menangis terharu dia sedih kala mengingat wajah dari Keanu yang begitu mirip dengan bayi yang saat ini digendong nya. Lelaki yang banyak berjasa padanya. Lelaki yang dengan ikhlas hati mengurus putranya dari sejak berada dalam kandungan Adinda, sampai dengan akhir dia menutup Mata. Keanu adalah satu-satunya lelaki yang mengorbankan nyawanya demi menolong putranya.


" lihat Dinda Putri mu begitu cantik dia sangat mirip dengan Ayahnya." Niat hati Andra ingin memuji kecantikan dari bayi mungil itu justru berbuah lain, pujiannya itu kembali mengingatkan Dinda seolah Andra tengah mengelupaskan lagi luka lama yang berusaha Dinda sembuhkan dengan sekuat tenaga.


" Iya Mas Dia sangat mirip dengan almarhum suamiku." Sahut Dinda yang sengaja menekankan kata almarhum agar Andra tersadar dengan ucapannya.


" Oh maafkan aku. " Andra sungguh tak enak hati bukan itu niatannya dia hanya benar-benar tulus mengagumi kecantikan Putri kecil itu. " aku tak berniat untuk mengingatkanmu akan kepergiannya tapi putrimu ini memanglah sangat cantik akan kau beri nama siapa dia? "


" Aku belum memiliki nama Mas. Bahkan Suamiku belum sempat memilihkan nama untuknya, tapi dia sudah pergi terlebih dahulu." kata Dinda yang sudah tidak kuasa lagi menahan kesedihannya yang membuncah dia menangis tersedu saat ini mengingat kembali akan kebersamaannya dengan Keanu sewaktu dulu.


__ADS_1


__ADS_2