Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
81. Terserahmu


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


2tahun berlalu.


" Hoek....! Hoek...!" Dinda mengeluarkan isi perutnya berupa cairan bening.


"Ummi kenapa" Tanya Ayman sembari mengusap punggung Dinda yang terkulai lemas di dekat wastafel.


" Ummi pusing sayang, mungkin masuk angin." Kata Dinda yang hanya sekedar memberikan jawaban sementara. Dia sendiri tidak tau sakitnya apa. Beberapa hari lidahnya terasa pahit dan kehilangan ***** makannya.


" Iman kasih tau Abi ya, kalau Ummi sakit?" Iman bocah itu meminta persetujuan dari Umminya. Pasalnya Andra sedang berada di luar kota untuk menemani Bayu meresmikan cabang baru.


Dinda menggeleng lemah meskipun di keningnya sudah menyembul keringat dingin, dia tetap berkata. " Tidak usah, jangan ganggu Abimu kerja. Ummi baik-baik saja sayang." Dengan tangannya yang mencoba untuk bangkit.


" Kamu muntah lagi?" Tanya Papa Dimas dengan menggendong Keanna. " Papa antarkan priksa ya? siapa tau Keanna sudah mau punya adik lagi." Ucapan Papa Dimas membuat Dinda sedikit terkejut.


Dua tahun, disetiap bulannya Andra selalu mengharapkan kehadiran dari anggota baru keluarga mereka. Mengharapkan satu lagi lahir bayi mungil yang akan mewarnai hidupnya. Dan hasilnya selalu saja nihil.


Tapi kali ini?


Entahlah Dinda sendiri sudah malas untuk banyak berharap dia takut nantinya akan kecewa lagi.


" Tidak usah pa, paling juga seperti biasanya hanya telat dan setelahnya datang haid." Kata Dinda yang merasakan kram di bagian bawah perutnya.


Sebisa mungkin dia menahan dan menyembunyikan rasa yang dideritanya. Dia hanya diam dan menyimpannya takut memberikan harapan palsu dan takut mengecewakan suaminya lagi.


" Sayang, hari ini Abi pulang. Mau di masakin apa ya?" Tanya Dinda yang mencium Keanna yang masih berada dalam gendongan sang Kakek.


" Mi!!" Sahut Keanna yang merupakan penyuka mi instan dan selalu mendapatkan larangan dari Dinda dan selalu mencuri kesempatan untuk memakannya saat ada Andra.


Andra dan Keanna adalah satu kesatuan komplotan pecinta mi instan yang mendapatkan penentangan dari ibu negara. Dinda tidak menyukai bila anak dan suaminya memakan benda yang satu itu.


Selalu dan terjadi perdebatan kecil ketika membahas soal mi instan. Disini Ayman yang jengah pergi begitu saja kembali ke kamarnya melanjutkan kegemarannya mewarnai tugas dari sekolah. Dan Papa Dimas memilih menjadi wasit yang adil.


" Tidak boleh makan mi sering sering sayang. Tidak bagus "


" Boleh Ummi, Ana lihat di TV anak kecilnya setiap hari makan mi." Protesnya yang memang benar iklan mi instan dengan anak kecil yang memakannya itu ditayangkan sehari sampai puluhan kali. Itu yang membuat Keanna berfikiran polos bahwa sah sah saja anak-anak memakan mi setiap harinya.


" Hhh, ini akibat Abi yang selalu memanjakan mu." Desis Dinda yang kemudian mulai memasak makan malam.


" Ummi, masak mie ya? sedikit saja... Ana ingin makan mi dengan Abi." Rengeknya dengan memeluk kaki Dinda.

__ADS_1


" Ouh.... Astaga anak ini....!" Geramnya yang kemudian meletakkan secangkir air dengan cukup keras sehingga isinya bertumpahan.


" Sudah-sudah ayo Ana, ikut Kakek saja ya. Kasian Ummi sedang tidak enak badan." Papa Dimas membawa kemana pergi. Tak mau saja dia bila cucunya terkena amukan sang putri.


Makan malam telah siap. Tadi saat berkomunikasi dengan ponsel, Andra berkata akan tiba saat jam makan malam. Tapi kenyataannya sampai seluruh lampu rumah padam dan Dinda sudah terlelap pun, dia belum juga datang.


Pukul 01:00 dini hari.


Andra masuk kedalam rumah perlahan. Dia baru saja pulang. Andra memasuki kamarnya yang kini telah berubah menjadi kamarnya dan Dinda saja. Sebab Keanna sudah berani tidur sendiri, begitupun dengan Ayman.


Dilihatnya, tak ada seorangpun di dalam kamarnya. Andra tak banyak bicara dan tanpa berganti baju atau sekedar bersih-bersih, dia lantas tidur begitu saja.


Pagi harinya, bibir Dinda sudah maju 5 centi dengan tatapan matanya yang menghujam. Dia menatap Andra penuh rasa benci.


" Kemana semalam!!" Tanya Dinda yang tanpa basa-basi melemparkan bantal kewajah Andra.


Andra yang terkejut sontak terbangun dan duduk meski dengan kesadaran yang rendah karena rasa kantuknya. " Ada apa? kenapa marah-marah?" Tanyanya masih dengan penuh kesabaran.


" Kau kemana saja semalam Mas? Janji mau pulang saat makan malam, malah setelahnya nomormu kenapa tidak bisa di hubungi?" Dinda mengamuk.


" Sayang, baterai ku habis." Jawabnya terdengar klise.


Dinda semakin marah dan melipat tangannya ke dada. Tak logis saja jika bicara soal habis baterai sedangkan di bandara bisa mengecasnya. Di mobil juga bisa.


" Alasan!! " Seru Dinda menolak penjelasan Andra.


Sedangkan Andra yang sebagai lelaki merasa tak dihargai juga kian meninggikan nada bicaranya. " Apa mau marah? terserah!! Aku lelah dan ingin tidur, sekarang keluar dan jangan ganggu!!"


" Oh, Ok!! kuturuti apa maumu!" Sahut Dinda dengan suara yang tak kalah tinggi.


Dinda sontak menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan kamar dengan bermuram durja.


Menyebalkan sekali dia!


Mulai banyak alasan, inilah, itulah! tidak tau dia yang dirumah penuh perasaan was-was menunggunya.


" Dinda ada apalagi? suami baru pulang kerja kenapa sudah ribut-ribut? Kasihan lah, Andra lelah." Kata Papa Dimas yang melihat Dinda murung juga tadi tak sengaja mendengar keributan yang mereka buat.


" Papa, Papa selalu membela Mas Andra. Yang anak Papa itu aku, bukan Mas Andra. Semua, semua yang di rumah ini Mas Andra, Mas Andra, Mas Andra. Mas Andra terus!!" Amuknya kesal.


" Bukan begitu, tapi tolonglah di maklumi. beri sedikit toleransi, dia itu lelah habis perjalanan jauh. Lagian dia bekerja juga demi kalian."


" Terus saja bela anakmu itu Pa. Terus saja, abaikan saja aku!!" Marahnya.

__ADS_1


Tak biasa memang Dinda bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Dia bahkan sampai merajuk dan menangis di kamar Keanna dan Ayman.


Papa Dimas melongo dibuatnya. Dia bingung sekarang hanya sekedar nasihat kecil apakah itu sangat melukai perasaan Dinda?


" Pa, Mana Dinda?" Tanya Andra yang keluar dari kamarnya.


" Dia di kamar anak-anak. Yang sabar, dia akhir-akhir ini moodnya acak-acakan. Suka marah marah tidak jelas." Pesan Papa Dimas.


" Kau tidak jadi tidur?"


Andra menggeleng lalu merapikan kerah baju polo shirt " Tidak pa, kantukku hilang setelah dia mengamuk tadi."


Iya juga, bebal saja jika setelah diamuk masih bisa memejamkan mata. Andra lantas menyusul Dinda di kamar anaknya.


Pintu terbuka dan Dinda masih menangis sembari memeluk guling. Andra tersenyum tipis. Kebiasaan yang tak pernah hilang, sedari kecil selalu seperti itu.


" Apa!!" Bentaknya kala mendengar derap langkah kaki Andra yang mendekatinya perlahan.


Andra bukannya marah, tapi justru tertawa kecil tanpa suara. Lucu saja melihat istrinya sedang merajuk. " Sayang, jangan marah." Katanya yang tiba-tiba ikut menaiki ranjang dan memeluk Dinda dari belakang dan menciumi tengkuknya.


" Kenapa kesini? Kau bilang tak mau di ganggu aku lagi kan? Semua orang di rumah ini selalu saja membelamu. Aku... aku selalu saja diabaikan."


Andra tertawa mendengar ocehan istrinya. Ini adalah perasaan cemburu atau kesal karena tak memberi kabar? dia bingung dan memilih tertawa untuk menikmatinya." Jangan suudzon. Siapa yang mengabaikan kau sayang. Semua yang ada di rumah ini mencintaimu. Terlebih-lebih aku. " Lembut Andra berbicara dengan mendaratkan kecupan hangat di pundak Dinda.


Saat tangan Andra memeluknya tak sengaja menyenggol benda kecil, pipih dan panjang di saku piyama Dinda. Dia merogohnya dan melihatnya. Matanya terbelalak dan kemudian tertawa senang. Dia menemukan alat penguji kehamilan yang bertanda plus berwarna merah. !


" Sayang, kau hamil?" Tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.


Masih kesal, tapi sudah terlanjur ketahuan Dinda memilih untuk jujur. " Iya, aku sebel sama kau ya Mas!! Dari semalam aku menunggu untuk memberikan kejutan ini tapi kau malah tidak ada kabar dan pulang telat. Eoh, menurutmu kau pantas di apakan?" Ujarnya dengan tatapan menikam.


" Apakan saja terserahmu, yang jelas aku bahagia sekali sekarang. Terimakasih Sayang." Katanya yang kemudian menciumi seluruh wajah Dinda dan mengabaikan tatapan yang menghujam.


Hilang sudah kemarahan mereka berganti dengan kebahagiaan. Hal yang dia tahun dinantikan akhirnya terwujud juga. Ini merupakan babak baru dalam langkah mereka.


...🍁🍁🍁...


Di suatu rumah sakit.


Hanya Mas Andra, hanya dia yang bisa membantuku saat ini. Gumam Natasya di dalam sebuah kamar mandi rumah sakit.


Duh, Nat. lu muka tembok ape begimane? udah buat masalah eh kini mau seenaknya meminta pertolongan Andra.


Coba kita lihat gimana, Andra mau ga nolong elu?

__ADS_1


__ADS_2