
...π·π·π·...
Andra mengetuk pintu kamar Papa Dimas. Tak ada yang spesial, semuanya terlihat biasa saja. Tapi janggal kala ini sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Papa Dimas terbangun lalu membukakan perlahan pintu kamarnya dengan mata yang masih enggan untuk melebar menerima sinar.
" Ada apa malam-malam begini kamu ke kamar Papa?" Papa Dimas membantu memapah Andra untuk berjalan perlahan.
Mereka berhenti dan duduk ditepian ranjang. Suasana hening dan tatapan penuh tanya mulai terlempar.
" Ada apa?" Tanyanya lagi dengan suara serat khas bangun tidur.
Andra merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. " Apa nomor rekening Papa masih sama?" Andra melihat Papa Dimas dengan datar.
" Iya, ada apa?" Papa Dimas terkesan malas menanggapi dan malah menguap lebar menahan kantuknya.
" A... Apa tadi, nomor rekening? kau tanya nomor rekening? Sama?" Papa Dimas terhenyak dan bangun lalu mengguncang bahu Andra.
Andra mengangguk dengan tatapan datarnya." Iya Pa. Aku akan mengganti uang papa yang telah kugunakan untuk segala kebutuhanku." Jawab Andra dengan tenang sementara lawan bicaranya sudah hampir melonjak kegirangan.
Dia bahagia akhirnya ingatan Andra sudah pulih. Begitu tebaknya. " Woah, Kau Sudah ingat? kau sudah ingat semuanya...?" Mata Papa Dimas kini terbuka lebar. Rasa kantuknya menguap ke awan.
Papa Dimas memeluk Andra untuk merayakan kembalinya ingatan Andra. Tapi Andra menggeleng.
" Tidak Pa, tidak sengaja aku tadi melihat ini. Apakah ini nomor rekening Papa?" Andra menunjukkan secarik kertas kecil berwarna kuning. Yup, kertas sobekan buku telepon.
Papa Dimas sontak lesu. " Tapi tadi kau bilang nomor rekening yang sama, itu tandanya kau masih mengingatnya." Papa Dimas kembali mengulang pertanyaan Andra.
" Oh, aku rasa aku hanya salah bicara." Andra mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
" Sshhh...., benarkah? " Papa Dimas terduduk sembari mengusap-usap janggutnya dengan satu tangan dan satunya lagi terlipat ke dadanya.
" Ini." Andra memberikan secarik kertas kecil tersebut.
Papa Dimas membacanya lalu mengangguk. Benar memang benar itu nomor rekeningnya.
" Lalu, apa kau sudah Ingat nomor rekeningmu? pin ATM mu?" Telisiknya lebih dalam.
__ADS_1
" Emmm itu..." Andra terdiam seolah bingung memikirkan jawaban yang pas.
Papa Dimas tertawa kecil. " Papa hapal, kau itu tidak akan bisa berbohong. Tulisan ini terlihat baru. Tintanya saja masih agak basah. Kau sudah ingat kan?"
Andra menunduk. " Iya Pa." Dia berbicara dengan lirih. " Tapi jangan beritahukan hal ini kepada Dinda. Aku melakukan ini hanya semata-mata agar dia mau kembali rujuk denganku." Jujurnya yang membuat senyuman lega merekah di bibir papa Dimas.
" Aastaga, jadi ini trikmu? Sejak kapan, atau jangan-jangan kau memang tidak pernah lupa ingatan?"
" Tidak... tidak..." Andra menggoyangkan tangannya pertanda menolak opini sepihak Papa Dimas.
" Aku... aku baru beberapa hari yang lalu mulai ingat." Jawabnya dengan jujur.
" Semuanya?" Papa Dimas menelengkan kepalanya dan menatapnya antusias.
Andra mengangguk malu, juga merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini dari keluarganya.
" Oke, Papa akan menyembunyikan hal ini dari Dinda. Oh astaga rasanya Papa sedang berselingkuh dari istri Papa saat ini." Lelaki paruh baya itu mengusap wajahnya. " Lalu, apa tujuanmu ke kamar Papa?"
" Pa, aku ingin membayar semua yang Papa telah keluarkan untukku. Juga termasuk membeli rumah ini."
" Tidak, Papa tidak memintamu untuk membayarnya. Hanya saja Papa berharap jika kau sudah Ingat dengan pin ATM milikmu kau bisa membayar biaya terapimu sendiri. Untuk yang sudah terpakai jangan di pikirkan. Kau itu anakku sudah seharusnya aku melakukan semua ini. Tadinya, aku hanya takut jika tidak bisa lagi melanjutkan terapimu. Aku takut jika kamu lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi." Papa Dimas memuntahkan segala uneg-unegnya. Segala ketakutannya yang terpendam.
" Dasar! selalu saja kau menjadi pemaksa." Ucap Papa Dimas yang pasrah sembari melihat pesan masuk dari M-banking miliknya.
" Aku tau ini tidak gratis, untuk bersantai di hari tuaku.... aku rasa aku harus bekerja keras untuk menyatukan kalian kembali." sindiran dalam tepat mengenai sasaran dan membuat Andra menyeringai malu.
" Iya Pa. Aku mohon bantuanmu Pa. Papa tentu ingin cucu Papa bahagia bersama Ayah dan ibunya kan?" Andra tersenyum.
" Mengerikan sekali senyumanmu itu. Baiklah aku akan berusaha membuatnya mau rujuk denganmu. Tapi...." Papa Dimas berhenti bicara lalu menaruh kembali ponselnya ke nakas.
" Apa aku bisa memegang kata-kata mu?" Papa Dimas menepuk pundak Andra membuat jantung Andra berdetak lebih kencang. " Apa kau bisa menjaga dan memperlakukannya bagaikan ratu?" Penuh afeksi dan penekanan dalam setiap katanya.
" Aku berjanji Pa, aku tidak akan mengulang kebodohanku. Dia yang terakhir bagiku." Kata Andra tegas dan matanya bersorot teguh tanpa keraguan.
" Baik, aku percayakan anak dan cucuku kepadamu Andra Pramudya." Ucapnya seakan mereka berdua tengah mengikat janji.
...π·π·π·...
" Alhamdulillah Sahh.....!!!" Paman Sam menangkupkan kedua tangannya lalu membasuhkanya ke wajah.
__ADS_1
Seminggu berlalu dan akhirnya Dinda luluh juga. Dia mau kembali rujuk dan kali ini tetaplah paman Sam yang berperan sebagai penghulu.
" Sudah kedua kalinya ya, jangan sampai yang ketiga kalinya atau kalian akan mendapatkan gelas cantik." Paman Sam berseloroh tanpa sekat.
" Iya Paman aku berjanji akan membahagiakan Dia sampai akhir hayatku." Ucap Andra tulus membuat Paman Sam lalu menepuk pundaknya dengan artian dia berusaha mempercayai apa yang Andra ucapkan.
" Senyum dong! Masa iya pengantin kok mukanya lecek begini." Bibi Nur berbisik sembari membenarkan hijab Dinda.
" Hem...!" Dinda tersenyum penuh dengan paksaan dan menunjukkan barisan giginya. Membuat Bibi Nur reflek menepuk pundaknya kuat. " Astaghfirullah, Dinda! hanya senyum malah jadi mirip boneka chucky begini." Bibi Nur kesal.
Lalu dimana kedua bocah kecil yang biasanya ramai itu?
Mereka tentu saja sudah menempel di pangkuan sang Abi dengan senangnya. Rasanya seperti mereka saja yang menikah hari ini.
Andra juga tak kalah bahagia. Dia tak habis-habisnya menciumi kedua anaknya secara bergantian.
Malam hari.
Sedari tadi inilah hal yang paling Dinda takuti. Entah mengapa bahkan sampai dia beberapa kali meringis sendiri menahan ngilu entah bagian mana yang ngilu author juga tak tauπ€£π€£.
" Tidur!" Andra menepuk-nepuk kasur di sebelahnya yang kosong.
" Belum ngantuk." Jawab Dinda asal yang masih berdiri di depan lemari untuk memilih daster favoritnya.
" Terpaksa banget kamu mau rujuk sama aku Nda." Sindir Andra.
Dinda mencibirkan mulutnya. " Hhh, Mas sudah malam jangan ada pertengkaran diantara kita. Oke?"
Andra terdiam dan mulai merebahkan dirinya dengan cuek. Dinda juga tak kalah acuh dan masuk kedalam kamar mandi begitu saja.
" Menikah lagi, dengan dia? Secepat ini?" Gumam Dinda sembari menyikat giginya.
Menatap dalam pantulan dirinya di cermin Dinda berucap dalam hatinya. Mas Kean, maafkan aku. Aku kini tak lagi menjadi istrimu. Kau lebih pantas bersama dengan para bidadari disana.
Selesai dengan ritualnya, Dinda kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati Andra sudah terlelap. Dia tersenyum tipis lalu menaiki ranjang. Tak terlalu dekat, mungkin Dinda sedang mematuhi protokol kesehatan untuk sosial distancing.
Dinda merebah menghadap kepada Andra. Dia bergumam lirih. " Iman, kau memang duplikatnya. Lihatlah, alisku, hidung, dan mata kau sama dengannya. Tampan..."
Jantung Andra berdegup kencang kala mendapatkan sematan kata TAMPAN. Hayo, kira-kira Andra sudah tidur atau dia hanya pura-pura?
__ADS_1