Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 76. Memang sakit.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


GUBRAK....!


Terdengar suara benda jatuh yang lumayan keras hingga Dinda segera berlari menghampiri. Di lihatnya lampu tidur yang semula berada di atas nakas jatuh berantakan di lantai. Kacanya pecah berhamburan.


" Diam disitu, jangan banyak bergerak." Perintahnya saat melihat Andra yang terjatuh diantara pecahan kaca.


" Memang aku tak bisa banyak bergerak kan? kakiku sakit Dinda. Maaf aku memecahkan lampu tidurmu. Aku akan menggantinya besok." Ucapnya masih dengan rasa kesal yang sama setelah pertengkaran beberapa menit yang lalu.


" Sakit sekali ya?" Tanya Dinda dengan tangan yang sibuk membereskan pecahan kaca hingga tangannya tak sengaja tergores serpihan kaca.


" Auh....!" Serunya mengaduh perih.


Andra seketika melihatnya dan bergerak untuk membantu. " Mas, diam disitu saja. Aku hanya tergores, aku tidak mau suamiku terluka lagi." Dinda menginterupsi dan menekan bahu Andra untuk kembali duduk.


Apa tadi katanya? Suamiku... Oh, suamiku dia bilang? Itu berarti dia tak sungguh-sungguh marah padaku. Dia hanya bermain-main. Sesungguhnya dia sangat khawatir padaku. Hati Andra meletup-letup kesenangan.


Dinda beranjak dan membersihkan pecahan itu lalu juga menyingkirkan lampu yang sudah rusak itu. Setelahnya dia membersihkan wajahnya dari masker. Terlihat kulitnya yang kenyal dan sehat.


" Mi..." Panggil Andra pada Dinda yang membersihkan ranjang mereka dengan sapu lidi.


" Hem..?" Jawabnya tanpa melihat Andra yang masih terduduk di lantai.


" Aku sudah boleh bangun?" Tanya Andra yang rupanya sedari tadi dia berpikir apakah sudah boleh bergerak atau belum.


" Oh, Astaga!! iya aku lupa Mas.. " Dinda baru ingat akan keberadaan Andra Setelah sedari tadi sibuk sendiri menata kebutuhan tidurnya. " Sini, aku bantu." Dinda memapahnya menempatkan tangan Andra di pundaknya lalu membawanya naik ke sisi ranjang.


" Terimakasih." Kata Andra yang kini lebih tenang dan tak lagi marah-marah seperti tadi.


" Hem...." Lagi-lagi Dinda hanya berdehem dan itu membuat Andra menekuk kedua alisnya.


Dia bingung, apa kata Hem sekarang merupakan kata favorit istrinya?


Dinda tidak langsung naik ke ranjang, tapi malah entah mencari apa. Andra hanya bisa mengamatinya dari kejauhan sebab Dinda kini berada di depan meja riasnya dan membuka laci yang ada guna mencari sesuatu.


" Ah, ketemu." Dinda kembali dengan tersenyum dan menggenggam sesuatu.

__ADS_1


" Mana kakimu yang sakit Bi?" Tanya Dinda dengan raut wajah yang tenang cenderung riang.


Andra mengernyit heran tetapi lebih memilih untuk mengabaikan dan melihat selanjutnya apa yang akan terjadi.


Bi katanya tadi? Apa itu artinya dia memafkanku plus menerimaku? Ah, kesambet apa istriku ini, cepat sekali berubah pikiran.


"Itu yang kanan paha atas." Jawabnya dengan menunjuk bagian yang sakit menggunakan dagunya.


" Ini? sakit sekali? Ah tidak jadi ah, ini ada bekas jahitannya Bi. Tadinya aku mau pijitin Abi, tapi ada bekas lukanya. Takut ah." Dinda bergidik lalu mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih menyelimuti suaminya dan berbaring di sisi ranjang yang lainnya.


Banyak pertanyaan yang hinggap di kepala Andra tentang perubahan sikap Dinda yang begitu cepat. Baru saja beberapa menit lalu mereka saling hujat dan tuding. Dan sekarang? tiba-tiba menjadi sangat baik. Bukankah itu mengerikan??


" Dinda, apa kau sudah memafkanku?" Tanya Andra penuh harapan. Tentunya dia tak mau ada yang meleset perihal harapanya.


Dinda mengangguk dan tertunduk. Terlihat jelas bila dia sedang malu.


" Hei, kau malu? kenapa, tidak biasanya." Andra mengguncang Dinda perlahan.


Alih-alih menjawab, Dinda malah langsung bergerak mendekat dan memeluk erat Andra. Andra yang kebingungan ingin melepaskan pelukan Dinda tapi tak bisa, sudah terlanjur menempel bagaikan lem cina.


" Mas, boleh aku memanggilmu dengan sebutan Bi saja?" Tanyanya dengan mata yang basah yang kini menatap nanar Andra.


" Maaf aku sudah meragukanmu. Aku pikir kau hanya main-main dengan kondisimu. Tapi, kini aku tau betapa sakitnya kau. Kau menahan semua ini sendiri demi bisa kembali padaku kau memaksakan kondisi kakimu sendiri. Itu tidak baik kau tau? biarkan kakimu sembuh secara perlahan dengan sendirinya. Aku yakin kau bisa." Dinda melihat kaki Andra yang sakit.


" Kau tau darimana? hal ini?" Andra terkejut bukan main. Apa yang dia rahasiakan selama ini. Apa yang menjadi bebannya, Andra yang malu jika akan menjadi cacat selamanya berupaya keras untuk bisa berjalan normal.


Dinda tersenyum lalu menghapus air matanya. "Dari Mas Adi Bi. Tadi dia mengirim chat padaku dia bertanya mengapa nomormu susah di hubungi. Lalu aku yang penasaran akan keadaanmu mulai mencari tau yang sesungguhnya. Dan aku terkejut dengan cerita Mas Adi tentang ambisimu untuk segera pulih demi menikahiku." Dinda menghela nafasnya untuk memulai perkataannya lagi.


" Aku tak memandang fisikmu Bi. Bagiku apapun itu kau tetap Andra Pramudya. Lelaki yang kukenal sedari aku belajar mengenal dunia. Aku hanya belum siap jika harus gagal lagi Bi. Apa kau paham maksudku?" Dinda menuntut pengertian dari mantan suaminya.


" Em ponselku habis baterai." Andra merogoh kantongnya dan menunjukkannya pada Dinda memberitahukan bahwa dia tidak berbohong. " Aku memang menyembunyikan yang sesungguhnya dari kalian. Saat dokter bilang kesembuhan ku untuk bisa kembali berjalan hanya 40 persen, jujur saja itu membuatku runtuh. Aku remuk, aku berfikir mungkin ini akhir dari perjuanganku untuk memenuhi janjiku pada mendiang suamimu KEANU." Andra mulai membuka ceritanya.


Dinda langsung memberikan seluruh atensinya kala nama sang mantan suami disebutkan. " Janji apa?"


" Saat dia dalam masa kritis dan kau terbaring tak sadarkan diri. Dia memintaku untuk menjagamu dan anaknya. Dia sangat mencintaimu, bahkan di ujung nafasnya saja dia terus memikirkan dirimu. Dari hal itu, aku memiliki motivasi. Setidaknya 40 persen juga merupakan harapan yang tinggi. Jika aku lumpuh, jika aku cacat, lalu bagaimana aku bisa menjaga kalian. Kau, Keanna dan juga Ayman? Aku harus kuat dan sehat kan untuk menjaga Sang ratu, putri, dan juga pangeran?" Andra mengusap kepala Dinda yang tertunduk dan tergugu.


" Mana ada di dunia ini kau temui penjaga yang cacat menjaga sang ratu?" Andra mengusap air mata Dinda.


Dinda menggeleng. " Tapi kau bukan penjaga Abi, kau rajanya." Di da menatap sendu Andra.

__ADS_1


Mereka berbaikan dan saling memberikan toleransi atas kesalahan-kesalahan yang lalu. Belajar ikhlas dan Rela itu sungguh suatu hal yang tak mudah.


" Boleh aku memelukmu Mi?" Andra menatapnya penuh harap dengan tangan yang sudah merentang.


Dinda mengangguk. Dia paham sekarang bukan hanya dia yang tersakiti. Bukan hanya dia yang di paksa keadaan. Tapi juga Andra yang terpaksa dan harus berlatih keras untuk bisa lekas pulih.


Kini mereka berbincang di atas ranjang dengan tangan yang saling bergandengan. Andra menciumi tangan Dinda yang ada di genggamannya.


" Kata Mas Bayu, selama jauh dariku kau tak hidup dengan baik?"


" Sseh....,anak itu. Dia sengaja membongkar aibku."


" Berarti itu semua benar? Kenapa, kau memiliki gaji, bukankah seharusnya dengan mudah kau bisa membahagiakan dirimu sendiri?" Dinda tak percaya begitu saja.


" Sayangku, tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. kebahagiaan, rasa nyaman, tak ada yang sanggup membelinya." Andra memberikan pengertian dengan cara yang hangat dan penuh sayang.


" Ahhh..." Andra mendengus. " Aku merasa tidak pantas saja hidup nyaman setelah menelantarkan istri dan anakku."


" Bi... , Maafkan Aku yang sudah menganggap sakitmu hanya pura-pura. Ku pikir kau sudah sangat sembuh dan membaik. Tapi, tadi saat ku melihat hasil lab dari kakimu. Aku... aku menyesal telah membuatmu memaksakan kondisimu." Dinda menangis sedih.


" Aku baru sadar, ternyata sikap acuhku selama ini padamu telah menyakitimu dengan begitu pedih." Air matanya terus saja lolos dan membasahi pipinya.


" Cup!" Andra mengusap air mata istrinya yang jatuh. " Sudah semua sudah berlalu. kini kita lebih saling menghargai. Semua ada hikmahnya."


" Bi..., untuk Hakmu..." Lirih Dinda tak berani menatap suaminya.


Andra tertawa kecil. " Kapan-kapan saja kalau kau benar-benar sudah rela. Sementara ini biarkan aku tertidur dengan memelukmu saja ya?" Andra memohon.


Anggukan persetujuan diberikan oleh Dinda.


" Sini." Andra segera merengkuh Dinda kedalam pelukannya dan menciumi pucuk kepala Dinda.


Damai, tenang dan nyaman. Hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Mahal dan buruh perjuangan untuk menggapainya.


Aku harus berani menerimamu baik cepat ataupun lambat, sebab keadaan yang selalu menyatukan kita Andra Pramudya.



Untuk yang lagi banyak masalah. Jangan berputus asa ya. Jika tidak sekarang maka yakinlah bahagiamu akan semakin banyak tertimbun untuk esok hari.

__ADS_1


__ADS_2