
Matahari bersinar sangat terik. Di luar maupun di dalam ruangan di penuhi oleh sinar matahari yang membuat terang seisi dunia. Namun itu tidak bertahan lama, perubahan cuaca berlangsung sangat cepat. Langit biru yang awalnya cerah kini di penuhi gumpalan awan berwarna hitam yang menghalangi sinar matahari untuk mencapai bumi. Angin bertiup sangat kencang, hingga membuat daun-daun kering di jalanan komplek berterbangan layaknya sedang musim gugur.
Cuaca yang berubah dengan cepat, seolah mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Jesica. Bumi menangis, seperti kondisi Jesica kini yang berderai air mata di pipinya.
Di ruang keluarga Rumah Utama keluarga Mahendra. Jesica dan Saka masih pada posisi awalnya, duduk bersimpuh di lantai menghadap Papa Brian dan Mama Nita.
"Pah, Mah, maafin Jesi. Hiks, hiks, hiks." Ucap Jesica menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Namun tidak ada jawaban dari kedua orang tuanya.
"Mah" Jesica meraih tangan Mama Nita yang sebelah kanan, tidak ada penolakan dari Mama Nita.
"Maafin Jesica Mah. Jesi ngelakuin itu sama Kak Saka dalam keadaan nggak sadar." Jelas Jesica menggenggam tangan Mama Nita. Mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"Dalam keadaan sadar atau tidaknya itu perbuatan salah Jes!" Jelas Mama Nita mengelus rambut panjang Jesica.
Jesica semakin mengeraskan suara tangisannya, dan itu menyebabkan sesenggukan Jesica semakin parah sampai tidak bisa bicara. Mata jesica mulai sembab karena sedari tadi menangis.
Saka ikut meneteskan air mata melihat orang yang di cintanya menangis dengan sangat histeris.
Tidak bisa melihat Jesica semakin tertekan, Saka menghapus air matanya jangan kasar dan mulai berbicara. Saka akan membongkar rahasia yang di simpang Papa Brian dan Mama Nita,bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Mereka berdua.
Ini waktunya untuk membongkar semuanya. Bila Aku tidak membongkarnya saat ini, cepat atau lambat pasti juga akan terbongkar. Ini hanya urusan waktu, lebih cepat terbongkar akan lebih baik.
"Pah, Mah. Saka nggak akan minta maaf sama Papa dan Mama. Karena permintaan maaf itu tidak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Yang Jesica butuhkan untuk saat ini adalah sebuah pertanggungjawaban dari Saka. Maka dari itu, Saka meminta pada Papa dan Mama memberi izin pada Saka, untuk Saka mempertanggujawabkan perbuatan Saka terhadap Jesica." Ucap Saka dengan sopan, menatap Papa Brian dan Mama Nita secara bergantian.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Papa Brian dan Mama Nita. Papa Brian dan Mama Nita malah fokus menatap Bik Sri yang sedang meletakan teh hangat pesanan Mereka di Meja.
"Buk" Panggil Saka pada Bik Sri.
Bik Sri terlihat kebingungan. Karena tidak seperti biasanya Saka memanggilnya Buk. Sedangkan bila Saka membagil Mama Nita lebih tidak mungkin lagi, karena Saka mengatakan lebih senang memanggil Mama Nita dengan panggilan Mama.
"Saya Tuan?" Tanya Bik Sri menunjuk dirinya sendiri.
"Iya" Jawab Saka mengiyakan.
Saka, ini pertama kalinya Kamu memanggil Ibuk dengan panggilan Ibu. Ibuk sangat bahagia mendengarnya, rasanya Ibuk ingin memeluk Kami saat ini juga. Namun rasanya tidak mungkin, karena sekarang Ibuk bukanlah siapa-siapa Kamu. Ada seorang perempuan lain yang lebih pantas Kamu panggil dengan panggilan Ibu, ketimbang Ibuk yang sudah tua dan tak pantas menjadi Ibu Kamu.
Bik Sri hampir meneteskan air mata, namun segera di hapusnya supaya tidak ada yang melihatnya menangis.
"Nggak ada yang Saya butuhkan Buk. Saya hanya ingin Ibu duduk di sini sebentar saja." Pintar Saka pada Ibu Sri.
"Tapi Den-" Ucapan Bik Sri langsung di potong oleh Mama Nita.
"Duduk dulu di sini Sri !" Ucap Mama Nita.
"Baik Nyonya." Jawab Bik Sri singkat. Bik Sri memilih duduk di lantai, sama seperti Saka dan Jesica, di lihatnya Jesica yang sedang menangis. Terbesit rasa penasaran pada diri Bik Sri, tentang apa yang sedang terjadi pada keluarga majikannya, hingga menyuruhnya untuk ikut duduk bersama. Namun Bik Sri tidak berani bertanya, Dia memilih untuk memahami situasi yang terjadi sendiri. Dia sadar bahwa posisinya di Rumah keluarga Mahendra tidak pantas untuk bertanya, dia berfikir bahwa menjadi pendengar saja akan lebih baik.
Saka menengok ke arah Jesica sebentar. Di lihatnya Jesica masih berderai air mata. Lalu Saka menekatkan hatinya untuk membongkar semuanya.
__ADS_1
Ayo Saja. Kamu bisa.
"Pa, Ma gimana? Papa dan Mama belum menjawab pertanyaan Saka." Saka menanyakan jawaban dari kedua orang tuanya.
"Kalau Papa dan Mama nggak menjawab karena ada sesuatu yang Papa dan Mama sembunyikan dari Saka dan Jesica. Saka mohon bongkar semuanya saat ini, Pah, Mah. Atau Papa sama Mama mau biar Saka sendiri yang bongkar ini semua?" Saka memberi dua pilihan pada Papa Brian dan Mama Nita. Yang keduanya pilihan itu memiliki tujuan yang sama, yaitu mengungkap kebenaran.
Papa Brian dan Mama Nita yang sedari tadi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Saka, kini buka Suara.
"Sri" Panggil Papa Brian.
"Iya Tuan." Bik Sri mulai merasakan bahwa akan terjadi suatu hal buruk.
"Jesica hamil ! " Sambung Papa Brian.
"Dan Janin yang di sedang di kandung oleh Jesica itu, Milik Saka. Anakmu." Sambung Mama Nita.
"Bisa di ulangi lagi Nyonya, Saya takut telinga Saya salah mendengar." Sebenarnya Bik Sri sudah mendengar jelas perkataan Mama Nita. Namun Dia ingin memastikannya.
"Jesica hamil. Dan yang menghamili Jesica adalah Saka, Anak kandung Mu Sri!" Papa Brian meneteskan air mata. Dia tidak menyangka anak yang di rawatnya sedari kecil bisa merebut kesucian wanita yang belum sah menjadi pendampingnya. Dan yang tambah membuat kecewa Papa Brian adalah Perempuan yang di renggut kesuciannya adalah Jesica, Adiknya sendiri.
Degggg
Bersambung
__ADS_1